Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 51


Mazaya dan Caroline sedang menunggu badai yang akan membawa petir. Sementara seseorang yang sejak tadi mengintip juga berkonsentrasi untuk melihat dan mendengar apa yang akan terjadi.


Raffaello menyuruh Mazaya untuk terus menggandeng tangan Caroline sembari menunggu petir datang. Lalu, setelah kedua tangan mereka saling bertautan, tiba-tiba awan semakin gelap. Di tengah siang itu, seolah bumi berubah menjadi malam dan semua orang berdebar menanti apa yang terjadi.


Jiwa Mazaya menggenggam tangan kiri Caroline, sedangkan tubuh Mazaya yang dirasuki jiwa Caroline menggenggam tangan kanan tubuh lemah itu.


Awan semakin gelap dan angin bertiup dengan kencang. Seseorang yang sejak tadi mengintip pun semakin kebingungan dengan apa yang disaksikannya saat ini. Dia merasa seperti sedang memasuki dunia sihir yang tak nyata. Semua terasa seperti mimpi buruk baginya, tapi rasa penasaran membuatnya tetap bertahan di tempat itu dan mengawasi apa yang terjadi.


“Kalau kalian berhasil bertukar jiwa. Kalian akan terbangun di tempat kalian seharusnya. Sebagian ingatan mungkin akan hilang, jadi kalian akan kebingungan. Tapi, Mazaya. Kamu harus bersikap seperti apa yang dicontohkan Caroline selama ini!” kata Raffaello.


Beberapa saat setelah Raffaello mengatakan itu, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Tanpa percobaan sebelumnya, air yang turun itu akhirnya membuat tubuh mereka basah kuyub. Embusan angin semakin kuat menerpa tubuh dan akhirnya petir yang ditunggu pun tiba.


Saat kilatannya menyambar tubuh Caroline dan Mazaya, keduanya memejamkan mata dan menghilang seiring dengan hilangnya kilatan tadi. Sementara orang yang menyaksikan mereka pun berteriak dengan sangat kencang.


“Tidaaak!”


Suara teriakan itu pun tak bisa mencegah pertukaran jiwa yang sudah terlanjur terjadi. Dia berlari kencang dan menghampiri tempat pertukaran tubuh itu. Sayangnya, mereka telah hilang dan hujan badai itu juga mendadak berhenti.


Perlahan-lahan, awan mulai berubah cerah dan orang itu menjadi kebingungan. “Apa tadi aku berhalusinasi?” gumamnya sembari mengusap wajahnya yang basah kuyub.


Jika memang yang dilihat tadi adalah halusinasi, lalu kenapa sekarang dia menjadi basah kuyub? Dan kenapa semua terasa nyata? Namun, jika memang itu nyata, kenapa Mazaya dan Caroline menghilang? Ke mana mereka?


Sementara itu, mama Caroline pulang ke rumah dengan perasaan kacau. Putrinya menghilang bersama mobil ambulans yang belum ditemukan sampai saat ini. Dia duduk di sofa dan menumpahkan air mata. Ke mana lagi harus mencari putrinya?


“Mama!”


“Carolinw!” Tanpa berpikir panjang, Mama Caroline langsung menghampiri sang putri dan memeluknya. “Kamu kok bisa di sini, Sayang? Kamu sudah sadar? Kamu ke mana?”


Tangisan wanita itu pun pecah saat mendekap hangat tubuh putrinya yang sebelumnya menghilang.


Caroline merasa ada yang aneh dengan ibunya. Dia tidak pergi ke mana-mana, tapi sang ibu begitu sedih seolah terjadi sesuatu dengannya.


“Aku dari kamar, Ma. Aku baru bangun. Mama kenapa nangis sih?” tanya Caroline yang memang tak bisa mengingat apa yang terjadi setelah peristiwa kecelakaan itu.


“Kamu kapan bangunnya? Kenapa langsung keluar dari rumah sakit? Kita harus cek dulu keadaan kamu, Sayang!” Mama Caroline memegangi kedua lengan sang putri untuk memastikan bahwa anak gadisnya itu baik-baik saja.


“Rumah sakit?” Kening Caroline tampak berkerut. Yang dia ingat, sebelumnya dia memang mengalami kecelakaan mobil. Lalu, dia terbangun dan sudah berada di kamarnya. Sama sekali tidak mengira jika kecelakaan yang menurutnya tidak parah itu harus membuatnya dirawat.


“Iya, Sayang. Sebelumnya kamu koma, terus mama dapat kabar kalau kamu hilang dari rumah sakit. Sekarang kamu di sini. Tapi, apa pun itu, mama bersyukur kamu masih bisa sadar dan kembali sama mama.”


Lagi-lagi mama Caroline memeluk tubuh putrinya, sedangkan Caroline mulai berpikir keras.


‘Koma? Kalau memang aku koma, kenapa aku bangun di kamarku? Kenapa juga aku menghilang dari rumah sakit?’


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋