
Caroline memicingkan mata kala sesosok makhluk yang dulu sangat dia kenal muncul secara tiba-tiba. Rupa laki-laki bernama Raffaello itu memang sangat mirip dengan Keano, tapi tetap saja Caroline bisa membedakan keduanya.
Raffaello tersenyum mengejek setelah sekian lama membiarkan Caroline dan Mazaya menyelesaikan masalah mereka sendiri, kini malaikat tampan itu kembali datang untuk memastikan semua berbahagia.
Melihat laki-laki itu tersenyum tanpa dosa, ingin sekali rasanya Caroline mencubit pipinya, atau menjewer telinga yang sudah membuatnya kesusahan itu. Namun, Caroline sadar betul bahwa saat ini Raffaello tak bisa dilihat orang lain selain dirinya.
“Tante sih, menyerahkan semuanya sama Caroline. Kalau memang dia bersedia, tante ngikut aja!”
Suara sang ibu membuat konsentrasi Caroline kini terpecah. Dia baru sadar bahwa Arnold sejak tadi membahas keinginannya untuk menjadi suami Caroline.
“Aku nggak mau punya suami yang temperamen. Aku dengar, kamu dulu sering menyiksa Mazaya! Mungkin saja itu menjadi alasan utama perpisahan kalian!” sahut Caroline.
Sontak saja fakta yang baru saja diungkap putrinya itu membuat kening mama Sela berkerut. Ibu kandung Caroline itu baru mengetahui fakta tentang sifat temperamen Arnold. Jika memang itu benar, bukankah kemungkinan laki-laki itu akan melakukan hal yang sama pada putrinya?
“Menyiksa? Maksudnya KDRT?” tanya mama Caroline dengan sikap waspada.
Arnold menelan ludah dengan susah payah. Dia tahu cepat atau lambat keluarga Caroline pasti akan tahu, dan kesalahan masa lalunya itu hanya mereka yang berhak menentukan apakah akan menerima atau tidak.
“Sebenarnya, itu memang kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada Mazaya. Saya sangat salah dan saya menyesali semua itu.”
Arnold mulai menceritakan permasalahan awalnya dengan Mazaya. Saat dia mulai berpikir bahwa Mazaya hanya ingin mendapatkan hartanya dengan memanfaatkan kematian sang ayah. Arnold sangat menyesali semua itu bahkan setelah berpisah dengan Mazaya.
Tak hanya tentang kesalahan masa lalunya saja yang Arnold ceritakan, laki-laki itu juga menceritakan alasan perpisahannya dengan Mazaya yang ingin memulai hidup baru dengan laki-laki lain.
Mama Caroline memperhatikan sang putri yang juga tengah diam memikirkan semuanya.
“Semua manusia itu punya kesalahan, dan banyak di antara mereka yang memiliki masa lalu buruk. Tapi, semua orang juga punya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik!” seru Raffaello yang kemudian menghilang dengan senyum yang menawan.
Mama Caroline menepuk pundak putrinya. “Kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri, Sayang. Kalau kamu merasa Arnold tidak akan berubah dari kesalahan masa lalunya, kamu bisa menolaknya dengan baik-baik. Tapi, kalau kamu percaya dengan manusia yang bertaubat, maafkanlah dia dan mulai kebahagiaan kalian sendiri!”
Caroline kini menatap ibunya dan juga Arnold secara bergantian. Dalam hati kecilnya memang masih menyimpan perasaan untuk laki-laki itu, tapi entah bagaimana cara yang tepat untuk mengatakannya.
“Jalani aja, Ma. Kalau emang jodohnya dia, ya mau gimana lagi!” balas Caroline setelah diam cukup lama.
“Kamu nggak mau nikah dalam waktu dekat?” tanya Arnold yang membuat Caroline dan ibunya sama-sama terkejut. “Aku nggak bisa di sini lama-lama, tapi aku juga nggak bisa kehilangan kamu ataupun melihat kamu sama orang lain. Gimana kalau kita menikah di sini sebelum aku balik minggu depan?”
“Apa!? Bandiit ini terlallu cepat. Memangnya, kamu pikir nikah itu main-main?” tanya Caroline yang sangat terkejut dan hampir tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
“Yang sudah direncanakan matang-matang seperti kamu dan Romy saja bisa gagal, kenapa kita harus membuang waktu terlalu lama kalau memang kita saling mencintai?”
***
Kembang kopinya jangan lupa, tetap ramaikan komen ya gaess 😘😘😘