Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 50


Perjalanan Mazaya membawa tubuh Caroline ke atas bukit rupanya tidak mudah. Mereka harus melewati jalanan yang terjal. Tak ada lagi aspal mulus yang dilewati Mazaya saat ini. Sementara mobil di belakangnya terus membuntuti di belakang.


Cuaca mulai mendung, auara gemuruh pun mulai terdebgar menggelegar. Tampaknya, hujan badai akan segera turun.


“Di mana lokasinya?” tanya Mazaya yang mulai tak nyaman dengan jalanan yang mereka lalui saat ini.


“Kamu bisa berhenti di bawah pohon itu!” jawab Raffaello sembari menunjuk sebuah pohon besar yang dia maksud. “Biar mobil ini berhenti di sana. Kita akan bawa tubuh Caroline naik sedikit menuju puncak.”


Mazaya mengerti dan segera menghentikan mobil begitu sampai di pohon besar yang sangat rindang. Cuaca semakin mendung. Langit semakin gelap dan mereka harus berjalan ke puncak sesuai instruksi yang dikatakan oleh Raffaello.


Akhirnya, Mazaya berusaha mengeluarkan tubuh Caroline dari mobil ambulans. “Gimana cara bawanya kalau pakai alat-alat gini?” tanya Mazaya dengan ragu.


“Lepas saja semuanya. Dia bisa bertahan kok!”


Mazaya mengerutkan kening. Tak percaya dengan apa yang Raffaello katakan barusan. “Kamu gila ya? Kalau tubuh aku mati gimana?”


Wanita itu sepertinya tak paham dengan jalan pikiran Raffaello. Jika tubuhnya dibiarkan tanpa penopang tubuh, maka bisa saja Caroline akan mati.


“Jangan buang-buang waktu Carol! Kalau kamu nggak percaya sama aku, kenapa kamu setuju bawa tubuh kamu ke sini! Ayo cepat kita harus segera selesaikan semua sebelum petir datang!”


Raffaello sekarang tidak lagi berwujud manusia. Dia sudah kembali ke wujud aslinya sebagai malaikat yang tampan dengan cahaya di wajahnya.


Mazaya terpaksa melepaskan alat-alat penopang kehidupan itu dari tubuh Caroline. Dia lalu memindahkan tubuh wanita koma itu ke kursi roda dan berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Caroline.


Saat tubuhnya berjuang untuk bisa kembali lagi, jiwa Mazaya justru menatap bingung pada Raffaello.


Raffaello menatap jiwa Mazaya dengan kesal. “Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain bertanya? Sudahlah kamu diam saja. Kalau bisa kamu konsentrasi biar tubuhmu bisa mendorong tubuh Caroline ke atas.”


Mazaya cemberut, tapi akhirnya menurut.


Usai melalui perjuangan panjang dan berat, akhirnya mereka bertiga sampai di puncak bukit. Keadaan Caroline terlihat semakin parah dan wajahnya juga pucat.


Sementara itu, di belakang mereka, seseorang tengah mengamati Mazaya yang membawa tubuh koma Caroline ke atas bukit. Sejak tadi dia menahan amarah karena tindakan kriminal yang dilakukan oleh Mazaya, tapi demi mengetahui tujuan sebenarnya, dia memilih diam.


Saat ini, ekor matanya menangkap pemandangan yang tak biasa. Bukit itu sebenarnya sangat indah, sayangnya hujan yang sebentar lagi turun membuat keadaan di sekeliling terasa sangat menyeramkan sehingga membuat bulu kuduk meremang.


Mazaya berjongkok di depan tubuh Caroline dan mengucapkan kata-kata untuk menyemangati tubuhnya sendiri.


“Carol, kamu pasti kuat. Bertahanlah! Setelah ini kita akan kembali bersatu.”


Kata-kata yang keluar dari mulut Mazaya itu membuat orang yang mengikutinya dari belakang menjadi bingung. Dia pikir, Mazaya penyuka sesama yang menjadikan tubuh tak berdaya sebagai korban. Dia tak bisa menahan lagi. Dia ingin menghampiri Mazaya dan Caroline yang sangat mencurigakan.


Namun, belum sempat dia melangkah, Raffaello telah membaca pikirannya. Malaikat itu lalu mengeluarkan sebuah energi yang bisa membuat seseorang itu melihat apa yang terjadi. Daripada mengacau dan membuat rencana menjadi gagal, cara ini adalah yang terbaik menurut Raffaello.


“Ke-kenapa aku melihat bayangan Mazaya berkeliaran? Bukankah itu bayangan Caroline? Kenapa menempel pada tubuh Mazaya? Apa yang sebenarnya terjadi?”


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋