
Masa datang bulan Mazaya kini telah usai. Dengan tampang takut-takut dan ragu, dia menghampiri suaminya yang baru selesai mandi. Wanita itu merasa harus membicarakan masalah perasaannya pada Arnold.
“Ar, kamu sibuk?” tanya Mazaya sembari duduk di sofa, tepat di samping suaminya yang sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.
“Nggak kok. Kenapa?” Laki-laki itu menoleh pada Mazaya yang tengah memainkan kedua ujung jarinya.
“Em, aku ... aku mau bicara sama kamu!” Jelas terlihat raut wajah Mazaya yang kini tampak ragu-ragu.
Arnold meletakkan handuknya dan mulai fokus pada istrinya itu. Dia pun memperhatikan Mazaya lekat-lekat dan bersiap mendengarkan apa yang mau wanita itu ucapkan. “Ada apa? Ngomong aja nggak usah ragu!”
Tangan Arnold berusaha terulur pada rambut Mazaya, meski perasaan cinta itu mulai pudar dari hatinya, tapi tetap saja Arnold menghargai Mazaya sebagai istri.
“Aku mau jujur, kalau sebenarnya, aku nggak bisa paksain perasaan aku buat kamu. Selama ini, aku berusaha bertahan karena permintaan kakek, dan aku masih nggak bisa mencintai kamu.” Mazaya menundukkan kepala dan merasa takut untuk menatap suaminya.
Arnold cukup terkejut dengan pengakuan Mazaya itu, tapi dia sendiri juga merasa aneh karena tidak merasakan kekecewaan. “Apa karena kamu sudah bertemu dengan mantanmu itu?”
Mazaya mengangjat sedikit wajahnya dan memperhatikan ekspresi wajah Arnold dengan seksama. Dia takut laki-laki itu akan marah dan memukulnya.
“I-iya. Ternyata dia belum meninggal. Dan, soal yang kamu lihat di bukit itu ... sebenarnya itu bukan halusinasi. Tapi, aku nggak bisa jelaskan banyak sama kamu. Yang jelas apa yang kamu lihat waktu itu adalah sebuah kenyataan.”
“Mazaya jelaskan apa yang kamu maksud. Aku benar-benar tidak mengerti Mazaya!” Arnold mulai menggoyangkan tubuh Mazaya dengan kedua tangannya yang mencengkeram kuat pundak Mazaya.
Wanita itu memejamkan mata dan meminta Arnold untuk berhenti melakukannya. “Kamu harus ngerti dengan caramu sendiri, Arnold. Aku nggak bisa kasih tahu kamu, karena aku nggak punya wewenang buat kasih tahu kamu! Kamu juga nggak akan paham dan akan berpikir kalau aku menghayal. Jadi, berpikirlah dengan caramu sendiri!” seru Mazaya yang menciptakan tanda tanya besar di pikiran Arnold.
“Menurutku, lebih baik kita berpisah. Toh, dari awal ini pernikahan paksa. Kamu terpaksa menikah sama aku karena tanggung jawab. Pernikahan kita juga nggak bisa bikin ayahku hidup lagi, jadi biarkan aku cari kebahagiaanku sendiri. Kita akhiri saja pernikahan ini!” putus Mazaya yang kini bangkit dari sofa dan berniat keluar dari kamar Arnold.
Namun, laki-laki itu dengan sigap mencegahnya pergi. “Kamu yakin, kamu akan kembali dengan laki-laki yang kamu cintai itu? Jika setelah bercerai, kamu tidak bisa kembali dengannya bagaimana?” tanya Arnold.
Mazaya sudah memikirkan ini matang-matang selama beberapa hari. Dia yakin, walaupun dia dan Deriel tidak berjodoh, tapi perpisahan itu akan lebih baik daripada seumur hidupnya tersiksa karena Mazaya tahu, yang Arnold cintai hanyalah Caroline.
“Ar, kamu sendiri harus yakin dengan hati kamu. Pernikahan tanpa cinta itu sama dengan neraka, dan orang yang kamu cintai sampai detik ini bukanlah aku. Coba jujur sama hati kamu. Kalaupun seandainya kita tetap berjodoh, pasti takdir sendiri yang akan menuntun kita!”
***
Nuntun pakai tangan kanan, sambil nyanyi, lalalalalala 😭😭
Kembang kopinya jangan lupa, komen boleh banget beda pendapat, asal jangan berantem yak, bu gulu nanti nangis loh 🤣🤣 komen yang banyak 😍😍