
Caroline menyeret tubuh Arnold agar menjauh dari ibunya. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Arnold yang ingin menikah dengannya dalam kurun waktu satu minggu saja.
Bukannya melayangkan protes, Arnold justru merasa senang dan terus menatap tangannya yang saat ini sedang digenggam oleh Caroline.
“Kamu bisa nggak sih, nggak bikin aku kesel? Terlalu maksa malah bikin aku kesel, tau nggak!” oceh Caroline berusaha menumpahkan segala kekesalannya pada Arnold.
Laki-laki itu akhirnya diam dan mendengarkan gadis cantik itu memarahinya. Bagi Arnold, ini adalah pertengkaran yang sangat manis antara dirinya dan Caroline.
“Orang kalau mau nikah itu seenggaknya ada persiapan. Berkas-berkas, undangan, tempat nikah, gaun pengantin, makanan, dan banyak lagi. Kamu pikir ngurus kayak gitu gampang?” omel Caroline pada laki-laki yang sejak tadi senyum-senyum bahagia.
Wajah Caroline seketika berubah datar saat menyadari bahwa Arnold terus senyum-senyum padahal dia sedang marah-marah. “Kamu dengar aku nggak sih?”
Arnold mengangguk dan memegang kedua pundak Caroline. Laki-laki tampan itu kemudian berkata, “Oke, aku akan urus semuanya dalam dua minggu!”
Kata-kata Arnold benar-benar membuat Caroline tercengang. Sepertinya memang Arnold akan melakukan hal apa pun agar tujuan menikahinya bisa tercapai.
“Aku nggak mau nikah sama kamu kalau mantan istri kamu belum menikah!”
Sebuah keputusan yang membuat Arnold terdiam. Meski Caroline terlihat mengulur-ulur waktu, tapi sepertinya itu memang jalan terbaik. Yang penting dia dan Caroline tetap menikah, bukan?
Caroline sudah membuat keputusan. Dia juga bosan untuk terus berpura-pura mengabaikan Arnold. Ya, dalam hati kecilnya memang Caroline sudah meyakini perasaannya pada lelaki itu.
*
*
Setelah melamar Caroline, laki-laki itu membawa sang calon istri pulang untuk mengurus pernikahan mereka. Sementara mama Caroline masih bertahan di Amerika dan akan kembali saat mendekati hari pernikahan.
Sesampainya di tanah air, Arnold membawa Caroline ke rumahnya untuk bertemu dengan sang kakek. Rupanya, kakek Arnold juga hanya bisa pasrah dan memberikan restu pada pilihan cucunya itu.
“Kakek harap, ini akan menjadi pernikahan terakhir kamu, Arnold!” seru sang kakek memberi petuah.
Arnold mengangguk setuju. “Iya, Kek. Aku juga berharap Caroline yang akan menemaniku selamanya.” Arnold melirik Caroline dan kembali berkata, “Sebentar lagi status duda rasa perjaka yang selama ini aku sandang akan segera berakhir.”
Caroline merasa malu mendengar pernyataan calon suaminya itu. Dia melarikan diri ke dapur untuk membuat masakan sebelum pulang ke rumahnya sendiri.
Setibanya di dapur, tentu dia sudah tidak asing lagi dengan tempat itu. Dia tahu di manapun peralatan dapur disimpan karena dulu saat menjadi Mazaya, Caroline sangat mengusai wilayah itu.
“Kenapa calon istri Tuan Arnold mengeluarkan benda keramat itu?” gumam salah seorang pelayan dengan nada berbisik pada temannya.
“Aku juga tidak tahu. Bukankah corong itu andalan Nyonya Mazaya saat memasak. Jangan-jangan, wanita ini juga akan menghancurkan dapur seperti Nyonya Mazaya saat amnesia?” sahut pelayan yang lain.
Tentu saja Caroline mendengar percakapan para pelayan itu meskipun mereka mengucapkannya dengan sangat pelan, bahkan berbisik.
“Kalian tenang saja! Aku tidak akan menghancurkan dapur kok. Tapi ... sepertinya kalian harus cuci piring lebih ekstra nanti!”
***
Kwmbang kopinya jangan lupa,😘😘 siapa yg gak sabar pengen di part Arnold nikah, apa jangan² malah nunggu malam buka segel 🤣🤣🤣