
Arnold membonceng Mazaya dengan motor kesayangannya. Setelah sekian lama tak menyentuh kendaraan roda dua itu, akhirnya kini Arnold bisa merasakan lagi sensasi naik motor.
Mazaya merentangkan kedua tangan dan membiarkan embusan angin menerpanya dengan bebas saat motor melaju. Hal itu membuat Arnold khawatir dan mengurangi kecepatan agar Mazaya bisa lebih menikmatinya.
“Band, ini tuh enak banget loh!” teriak Mazaya dengan suara kencang.
Arnold hanya bisa tersenyum dan mengingatkan Mazaya untuk berhati-hati. Sampai akhirnya, wanita itu pun merasa puas dan kembali duduk dengan tenang.
Namun, Arnold tak sepenuhnya membiarkan Mazaya tenang. Laki-laki itu menarik tangan Mazaya agar memeluknya. “Pegangan yang kenceng. Aku mau ngebut!” kata Arnold yang kemudian menutup kaca helmnya.
Jantung Mazaya seakan hendak melompat saat terpaksa memeluk tubuh laki-laki itu. Walaupun Arnold adalah suami Mazaya yang harus terus mencintai istrinya, tapi tetap saja kenyataan itu menaampar perasaan Caroline. Sekuat apa pun dia menahan hatinya, rupanya perasaan itu tetaplah ada.
Dalam pelukan itu, Mazaya diam dan merasakan sendiri kegundahan hatinya. Waktu mungkin akan segera berlalu, dan perasaan itu mungkin juga akan hilang. Namun, Mazaya tetap saja merasa galau.
Mereka akhirnya tiba di sebuah kafe. Tempatnya sangat nyaman dan banyak anak muda yang tengah "nongkrong" di sana.
Arnold mengajak Mazaya duduk di salah satu meja dan memesan makanan. Keduanya tampak bahagia saat ini dan menikmati kencan pertama mereka.
Sampai akhirnya, mereka selesai makan dan menikmati suasana kafe sejenak sebelum pulang. Mazaya celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri seolah dirinya sedang mencari seseorang. Tentu saja hal itu membuat Arnold merasa kesal dan memandangi istrinya itu dengan tatapan dingin.
“Cari siapa sih? Caper sama mas mas waiters?” tanya Arnold dengan perasaan kesal.
Mazaya kembali fokus pada Arnold dan menatapnya dengan bingung. “Nggak cari siapa-siapa kok. Tapi, aku lagi jaga-jaga aja, siapa tahu nanti ada perempuan muncul kayak di film atau novel gitu, terus ngaku-ngaku jadi mantan kamu!” jawab Mazaya.
Arnold mengambil tisu dan menggulungnya, lalu melemparkan tepat di wajah Mazaya. “Jangan ngarang! Mantan siapa yang mau datang ke sini! Aku nggak punya mantan!”
Balasan yang keluar dari mulut Arnold membuat Mazaya membelalakkan mata lebar-lebar. “Serius? Berarti aku perempuan pertama yang punya hubungan sama kamu? Pantes aja kamu kaku banget, Band!”
Wanita itu menertawakan kepolosan Arnold yang rupanya belum pernah menjalin hubungan. Akan tetapi, Mazaya jadi sadar bahwa dirinya bukanlah Caroline saat ini, dan wanita itu juga tidak tahu masa lalu Mazaya asli bagaimana.
“Nggak ada yang lucu! Emang semua orang harus pacaran? Emang pacaran itu penting? Udahlah, mending kita pulang sekarang!” Arnold mendadak kesal karena ejekan dari sang istri.
“Pulang nggak? Kayaknya bentar lagi hujan!”
Keduanya pun berhenti berdebat saat melihat cuaca yang memang sedang mendung. Sepertinya, jalan-jalan dengan motor memang tak selalu bagus. Apalagi, saat cuaca tidak bersahabat seperti saat ini.
Benar saja, saat baru di pertengahan jalan, hujan pun mulai turun. Arnold terpaksa membelokkan motornya dan berhenti di sebuah warung yang sedang tutup.
“Ah, kenapa hujannya harus sekarang!” Mazaya merapikan rambutnya yang berantakan setelah memakai helm.
Hal itu rupanya menarik perhatian Arnold. Laki-laki itu memandangi istrinya yang sedang sibuk memperhatikan sekitar. Kalau saja mereka tadi naik mobil, pasti tidak akan ada cerita berteduh seperti saat ini.
“Duduk sini!” perintah Arnold sembari menepuk bangku pendek di sebelahnya.
Mazaya menghela napas dan menurut. Dia duduk tepat di samping Arnold dan menikmati hujan yang turun semakin deras.
“Mazaya, gimana perasaan kamu ke aku?” tanya Arnold dengan pandangan yang tak lepas dari sang istri.
Wanita itu pun menoleh ke samping dan menatap Arnold yang sejak tadi menatapnya. Tatapan mata itu selalu saja bisa menembus sampai ke perasaanya.
“Aku nggak bisa jawab sekarang. Tapi, kalau kamu terus bersikap manis. Mungkin aku akan mencintai kamu pelan-pelan.”
Mazaya tidak bisa memberi harapan palsu pada Arnold, karena dia sendiri tidak yakin dengan perasaan Mazaya asli pada suaminya itu.
Arnold menatap Mazaya lekat-lekat. Cinta itu mungkin memang berproses dan butuh waktu, tapi bukankah sebuah aksi bisa lebih mempercepat prosesnya?
Dia pun mendekatkan wajahnya pada Mazaya dan berniat untuk mencium wanita itu. Tentu saja hal itu membuat perasaan Mazaya kian bercampur aduk. Bisakah dia menolak Arnold dalam dua hari ini? Bisakah dia menghindari kontak fisik yang inntim itu sampai Mazaya asli kembali?
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋