
Mazaya memantapkan diri untuk memilih cara kedua. Walaupun sangat sulit dan berisiko, tapi Mazaya akan berusaha melakukannya dengan baik.
Saat ini, Arnold sudah kembali dari kantor dan melihat istrinya yang tengah melamun di ujung kasur dengan kaki bersila. Sepertinya, pikiran yang sedang kacau membuat wanita itu tak menyadari kehadiran sang suami yang telah pulang dari kerja.
“Mazaya!” panggil Arnold usai menutup pintu kamar. Sayangnya, sang istri sama sekali tak menyahut dan terus mengabaikannya.
Wanita itu masih melamun dan memikirkan banyak cara untuk mulai menyusun rencana. Yang paling sulit baginya, tentu saja mengeluarkan tubuh Caroline dari rumah sakit.
“Mazaya!” Arnold menepuk pundak sang istri dan membuat wanita itu tersadar dari lamunan.
“Banddit, kapan kamu pulang?” tanya Mazaya yang tentu saja terkejut setengah mati saat melihat sang suami yang sudah berada di depan mata.
Arnold menoyor kepala Mazaya hingga membuat wanita itu terjatuh di kasur. Dengan secepat kilat, dia pun bangun dan balas memukul lengan Arnold.
“Jangan sentuh kepala orang sembarangan!” sentak Mazaya dengan galak. Dia melotot dan kedua tangan diletakkan di pinggang. Tak lupa ekspresi garang yang justru membuat Arnold kian merasakan hatinya berdenyut.
“Apa yang boleh aku sentuh?” Laki-laki itu sama sekali tidak marah dan malah mengukir senyum indah yang membuat wajahnya semakin terlihat tampan.
Arnold dan Mazaya kini berdiri sejajar dan saling bertatapan. Hal itu membuat Mazaya kian menyadari, waktunya bersama Arnold hanya tinggal dua hari saja. Setelah ini, walaupun dia bangun dari koma dan menjalani kehidupan sebagai Caroline, dia tidak akan mengingat apa pun lagi. Begitupun dengan Arnold yang akan dilupakannya beberapa waktu lagi.
“Nggak ada! Aku akan siapkan air untuk kamu mandi!”
Sebisa mungkin Mazaya harus menjauhi Arnold agar perasaan di hatinya tidak semakin dalam. Dia berjalan melewati laki-laki itu, tapi Arnold dengan cepat mencekalnya.
“Kamu juga ganti baju. Aku mau ajak kamu pergi habis ini!” ucap laki-laki itu dengan senyum menggoda.
Sejak mengatakan perasaannya, Arnold merasa lebih leluasa dan ekpresif. Dia ingin menunjukkan pada Mazaya bahwa cintanya memang nyata.
Mazaya mengabaikan itu dan hatinya semakin sakit. Dia harus berjuang untuk mengubur perasaannya.
‘Bertahanlah Carol, tinggal dua hari saja. Dia bukan suamimu, dia suami Mazaya!’
Mazaya menitikkan air mata di saat menyiapkan keperluan mandi suaminya itu. Sampai akhirnya, Arnold pun siap untuk mandi dan Mazaya juga harus bersiap untuk pergi.
Saat Mazaya memoles bedak di wajahnya, jiwa Mazaya asli muncul bersama Raffaello.
“Carol, kamu yakin mau pakai cara kedua?” tanya jiwa Mazaya yang sebenarnya merasa ragu.
Caroline mengangguk. Dia yakin keputusannya ini adalah yang terbaik untuk semua orang.
“Arnold sudah mulai bersikap baik sama kamu. Sekarang, kamu harus bisa berubah dan menghilangkan ketakutan kamu, Mazaya. Jangan sampai Arnold benci sama kamu kalau kamu kembali lemah,” jawab Caroline.
“Berhasil atau gagal, aku akan tetap mati kok kalau tubuhku mati. Jadi, berjanjilah untuk berubah lebih baik, Mazaya. Aku sudah membukakan jalan untuk cinta suamimu, tolong jangan buat usahaku sia-sia!”
Raffaello hanya diam menyaksikan kedua wanita yang berbeda pendapat itu. Saat melihat dua wanita yang berdebat, memang seharusnya diam saja karena siapa pun yang dibela akan berujung dengan masalah.
“Tapi, kamu cinta sama Arnold, ‘kan?” tanya Mazaya.
Caroline tersenyum kecut. “Nggak penting sama perasaanku. Kamu tenang aja, Mazaya, aku bukan pelakor yang akan mengambil suamimu. Aku yakin, aku akan menemukan laki-laki yang lebih baik dari suamimu.”
Dari jawaban Caroline, Mazaya bisa merasakan bahwa Caroline memang memiliki perasaan untuk Arnold. Dalam hati, dia berjanji tidak akan membuat pengorbanan Caroline sia-sia.
***
Arnold melongo saat melihat istrinya memakai celana panjang dan hem warna putih dan membiarkan rambutnya tergerai. “Kenapa pakai baju gitu?”
Mazaya juga sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya itu. Celana jeans dengan kaos dan jaket berwarna hitam.“Kita mau jalan-jalan, ‘kan? Jadi pakai pakaian gini aja. Jangan suka pamer kalau kamu seorang bos! Hari ini kamu nyetir sendiri, ‘kan? Atau mau aku yang nyetir?”
Arnold memicingkan mata. Sejak kapan istrinya bisa menyetir mobil? Atau jangan-jangan memang sudah lama, tapi Arnold tidak pernah tahu?
“Udah, cepetan! Jangan melamun!” Mazaya mendorong tubuh laki-laki yang hanya mengenakan handuk sepinggang itu ke ruang ganti agar tak berlama-lama menodai matanya.
Setelah Arnold siap, mereka turun dari kamar bersama-sama. Mazaya terlihat ceria seperti kemarin-kemarin, dan tak menunjukkan tanda-tanda punya masalah. Padahal, jelas-jelas tadi Arnold melihatnya melamun.
“Kita mau pergi berdua, Dion. Kamu pulang saja!” kata Arnold saat Dion menghampiri mereka.
Lalu, mereka pun sama-sama ke garasi untuk mengambil mobil. Saat baru turun dari anak tangga, Mazaya mendengar suara motor yang sedang dipanasi di garasi dalam yang selama ini belum pernah dia lihat.
“Band, itu motor kamu?” tanya Mazaya yang tiba-tiba memiliki ide. Biasanya orang kalau boncengan naik motor berdua, pasti lebih romantis. Dia berharap cinta Arnold semakin tumbuh jika melakukan hal-hal romantis.
“Kita naik mobil aja, ini udah sore!”
“Tapi, aku mau naik motor. Boleh ya!”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
tengokin nupel barunya dedek si Ratu Anu ya gaess 💋💋 salam dari Carol 😘😘😘