
Arnold akhirnya menyelesaikan urusannya di Amerika. Sebelum pulang, laki-laki itu ingin menghadiahi sesuatu untuk Caroline. Dia masih berusaha membuat Caroline mengingatnya walaupun Arnold tak punya banyak waktu.
Dengan membawa kotak yang dihias rapi layaknya kado spesial, Arnold menghampiri Caroline di tokonya. Tentu saja Caroline merasa heran, sedangkan ibunya tampak biasa saja bahkan terkesan memberi jalan untuk Arnold mengungkapkan perasaannya.
“Caroline, ini buat kamu! Tapi, sebelumnya, aku mau ajak kamu jalan sebentar, kamu mau nggak?” tanya Arnold sembari menyodorkan hadiah yang sudah dia siapkan.
Kening Caroline berkerut mendengar pertanyaan bernada ajakan yang Arnold lontarkan. Mamanya yang terlihat antusias sedikit mendorong tubuh Caroline dan mau tak mau membuat wanita itu menerima ajakan Arnold.
Laki-laki yang tak lama lagi akan menyandang status duda itu pun tersenyum senang dan mengajak Caroline untuk pergi. Dia berjanji pada diri sendiri akan mengungkapkan perasaannya pada Caroline yang selama ini dia pendam sendiri.
Mereka tidak pergi jauh, hanya berjalan santai di tepi jalan yang tak cukup ramai. Matahari yang mulai turun menemani Caroline dan Arnold yang sejak tadi saling diam.
“Carol, aku mau jujur sama kamu,” kata Arnold setelah ragu-ragu untuk membuka obrolan.
“Hem, ada apa?” tanya Caroline yang masih terlihat cuek.
“Sebenarnya, aku udah punya perasaan sama kamu jauh sebelum aku menikah dengan Mazaya. Waktu kita masih sama-sama di kampus, aku … terlambat bilang kalau aku sebenarnya suka sama kamu. Dan kamu keduluan sama yang lain,” jelas Arnold.
Caroline diam seribu bahasa. Ia mencoba mencerna apa yang dimaksudkan Arnold dengan berkata demikian.
“Kita punya beberapa kenangan yang kamu lupakan. Mungkin, dengan hadiah yang aku kasih tadi, kamu bisa berusaha ingat. Mazaya juga sudah jelaskan semuanya. Cuma, aku minta, kalau kamu bisa ingat aku dan mau terima perasaanku, tolong hubungi aku. Aku akan tetap nunggu jawaban kamu, sambil menyelesaikan masalah perusahaan.”
Caroline sama sekali tidak mengerti apa yang Arnold maksud. Dia tidak ingat kenangan apa yang pernah Caroline ukir bersama Arnold.
“Kalau aku nggak ingat, gimana?” tanya Caroline kemudian.
Arnold menundukkan kepala sejenak dan akhirnya kembali menatap Caroline dengan senyum mengembang. “Kalau kamu nggak ingat, berarti itu emang takdir terbaik kita. Artinya, Tuhan yang mengatur itu dan itulah takdir yang harus kita jalani. Aku akan tetap menemui kamu, dan terus berharap menjadi jodoh kamu sampai aku yakin ada orang yang tepat yang mencintai kamu sama seperti aku mencintai kamu,” jawab Arnold panjang lebar.
Mama Caroline pun turut penasaran dengan hadiah yang Arnold berikan untuk putrinya. Saat tangan Caroline berhasil menyingkirkan bungkus kado yang cantik itu dan memperlihatkan isinya, Mama Caroline hanya bisa melongo dan mengerutkan kening.
“Corong ini emang beda warna, tapi aku harap kamu bisa mengingatnya lewat foto-foto ini!” ucap Mama Caroline yang dengan lantang membaca tulisan tangan Arnold.
“Mama! Mama apaan sih, kepo banget?” sahut Caroline tak terima dan kemudian menyembunyikan kado miliknya.
“Nggak kok, cuma ngintip dikit aja!” balas sang ibu yang kemudian melarikan diri meski hatinya masih sangat penasaran.
Caroline menyimpan hadiahnya dan saat malam tiba, dia kembali membuka itu. Beberapa lembar foto hasil masakan yang menurutnya cukup aneh, tapi itu juga terasa tidak asing. Entah apa tujuan Arnold mengirimkan hadiah itu, Caroline masih belum bisa menerka-nerka.
***
Enam bulan telah berlalu semenjak pertemuan terakhir Arnold dan Caroline di Amerika. Selama itu pula, Arnold hanya bisa menunggu karena Caroline tak jua memberinya kabar.
“Apa Carol benar-benar nggak ingat aku ya? Ini sudah enam bulan dan dia masih saja belum hubungi aku,” gumam Arnold sembari menatap nanar pada kalender duduk di mejanya.
Sementara itu, di kamarnya, Caroline baru akan tidur dan mengamati kotak hadiah pemberian Arnold yang masih disimpannya. “Apa kamu masih menungguku? Bandiit, aku udah ingat sekarang, tapi aku nggak mau dicap sebagai alasan perceraianmu dengan Mazaya. Lagipula, saat itu aku sudah bersalah karena mencintai suami orang,” batin Caroline sebelum menyimpan kembali kotak hadiah pemberian Arnold.
Wanita itu mengembuskan napas dengan kasar. “Apakah aku harus mulai membuka hati untuk pria lain, atau membiarkanmu mencariku kembali?”
***
Terima kasih dukuungannya gaess, aku akan kasih 10 pemenang masing² pulsa/saldo 25rb ya, untuk 10 komentar terpilih secara acak di bab ini 😘😘😘