
Caroline dalam tubuh Mazaya menatap nanar wajah Arnold yang kini tengah emosi karena rasa cemburu yang melandanya. Pikiran wanita itu melayang dan mengingat bahwa dia bukanlah Mazaya yang asli. Lalu, jika dia menggoda Arnold untuk melakukan hubungan suami istri, itu berarti Arnold bersedia karena dirinya, bukan karena rasa cinta pada fisik istrinya.
Lalu, jika itu terjadi, maka bisa dipastikan bahwa misinya gagal. Mazaya tak ingin membuang waktu untuk hal demikian. Kondisi tubuh Caroline saat ini sedang kritis, dan dia tidak boleh mengulur waktu lagi. Dia harus bicara dengan Raffaello tentang rencana kedua untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala.
“Mazaya kamu dengar aku?” sentak Arnold yang membuat lamunan wanita itu buyar seketika.
Mazaya menatap Arnold dan merasakan perasaannya di ambang keraguan. Jujur, dia mulai tertarik dengan laki-laki arogan di hadapannya itu. Namun, sebagai Caroline yang bukan siapa-siapa, ia cukup sadar diri dan tak ingin merusak mahligai pernikahan orang lain.
“Kenapa? Kenapa kamu marah? Bukannya kamu dulu bersikap kasar agar istrimu ini mengajukan gugatan?” tanya Mazaya yang mulai berkaca-kaca.
Mata Arnold terasa panas mendengar pertanyaan Mazaya padanya. Dia merasa darahnya mulai mendidih dan hatinya berontak agar mulutnya mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
“Maksud kamu? Kamu ingin kita berpisah, hah?”
Tatapan mata Arnold begitu dalam sampai-sampai Mazaya merasakan sakit dalam hatinya. Wanita itu menyerah, dia tak bisa lagi menjadi Mazaya yang mungkin akan menjerumuskannya pada cinta terlarang. Cinta pada suami orang.
“Aku nggak mau pisah!” Dua tangan Arnold meraih tangan Mazaya yang terasa dingin. Tatapan laki-laki itu tetap terkunci pada Mazaya yang kini mulai meneteskan air mata. “Aku mencintaimu, Mazaya!”
Sebuah kalimat indah yang terdengar menyakitkan hingga membuat kuping wanita itu terasa terbakar. Namun, bibirnya tak bisa membalas kalimat cinta itu.
“Aku butuh suami yang baik, yang memperlakukanku dengan lembut. Saat ingatanku kembali, dan aku kembali lemah, apa kamu akan kembali memperlakukanku seperti dulu?” ucap Mazaya dengan tangis kesedihan yang meluncur dari matanya.
Caroline ingin memastikan bahwa Arnold akan tetap memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan, jika nanti tubuh serta jiwanya mati dan Mazaya kembali ke tubuh aslinya.
Arnold terdiam. Yang dia suka memang karakter Mazaya yang sekarang, tapi apa pun itu, Arnold tidak mau kehilangan istrinya. Secara emosional, Arnold memeluk Mazaya dan mendekapnya dengan sangat erat.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi nanti, dan aku juga nggak bisa janji, tapi apa pun itu bertahanlah untukku Mazaya.”
Air mata Mazaya mengalir kian deras. Tangis wanita itu benar-benar pecah sekarang. Setidaknya, meski nantinya tubuh Caroline mati dan dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi Mazaya bisa dipastikan akan selalu dibahagiakan suaminya.
“Tolong jangan paksa aku untuk menjadi yang kamu mau. Aku butuh banyak waktu dan adaptasi,” ucap Mazaya di sela isak tangisnya.
Arnold mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Mazaya. Keduanya larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Cinta mereka memang sudah tercipta, tapi sayangnya keduanya tak bisa saling membagikannya karena ada jurang dalam yang memisahkan mereka.
**
Di saat seperti ini, Raffaello tak kunjung muncul seperti biasa. Wanita itu pun mulai memanggilnya dengan lirih dan menggerutu karena di saat dicari tak jua ada, giliran tak dicari malah muncul dan membuat jantungnya tidak aman.
“Iya, aku di sini!” ucap Raffaello yang baru muncul setelah Mazaya lelah memanggilnya.
“Ke mana aja sih? Lama banget!” omel Mazaya yang lagi-lagi dibuat kesal oleh si tampan itu.
Raffaello mendekatkan wajahnya pada Mazaya dan menangkap mata gadis itu yang terlihat sedikit bengkak usai menangis.
“Cie-cie, nangisin suami orang!” kata Raffaello yang jelas tahu alasan Mazaya menangis.
Meski secara fisik wanita di hadapannya berwujud Mazaya, tapi di mata Raffaello, wanita itu tetaplah Caroline yang tampil cantik dan modis seperti aslinya.
“Nggak usah banyak omong! Cepat kasih tahu, apa cara kedua yang bisa aku lakukan untuk kembali. Aku nggak mau pakai cara pertama!”
Raffaello menatap Mazaya lekat-lekat. Cara kedua sangatlah berisiko meskipun keberhasilannya sangat pasti.
“Kamu yakin mau lakuin cara kedua? Aku khawatir sama tubuh kamu yang sedang lemah. Ini akan menjadi perjuangan terakhir kita. Tapi, kalau kamu gagal tubuhmu yang akan jadi taruhannya!”
Mazaya menghela napas berat. Dia sudah sejauh ini berkorban dan ini akan menjadi pengorbanan terbesarnya. Namun, apa pun yang terjadi nanti, dia tidak menyesal karena dengan kecelakaan itu, dia bisa membongkar perselingkuhan tunangannya dan menyelamatkan diri dari pernikahan dengan laki-laki tak bertanggung jawab.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Mazaya dengan ekspresi datar.
“Dua hari lagi, bawa tubuh Caroline ke sebuah bukit. Di sana akan ada hujan badai, dan kamu harus membawa tubuh itu ke sana. Kalau kamu berhasil sampai di sana, jiwa kalian akan kembali dan kamu akan bangun dari koma. Begitupun dengan Mazaya yang akan hidup kembali bersama suaminya. Apa kamu bisa melakukannya?”
***
Kembang kopinya dulu 😂😂