
"Sepertinya hanya sampai di sini tugasku. Semoga saja anak itu mengingat janjinya padaku."
Roh Dewa Perang berbicara pada dirinya sendiri, meski begitu Fu Hua dapat mendengar jelas apa yang dia katakan. Gadis itu menyerobot bicara sebelum Roh Dewa Perang benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Terima kasih sudah melindungi ku."
Roh Dewa Perang tersenyum, menunduk dengan sebelah tangan di dada. "Sama-sama Nona cantik. Pastikan kau menjaga orang itu, seperti ketika kau menyelamatkannya dari kematian."
Fu Hua sebenarnya tak menangkap apa yang dimaksud Roh Dewa Perang tapi kepalanya mengangguk refleks. Hingga bekas-bekas kekuatan roh telah lenyap dari pandangannya. Fu Hua berencana bergabung dengan semua orang. Dan juga memastikan bahwa Pedang Iblis selamat setelah mantra yang diberikan Yan She bekerja. Luka tusuk di perut gadis itu membuatnya berjalan lebih lamban. Selebih dari itu, hawa panas di Lembah Para Dewa telah menghilang. Hal itu membuatnya bebas bergerak tanpa harus memikirkan armor anti panas lagi.
Langkah Fu Hua terhenti seketika saat lehernya merasakan benda tajam berusaha merobek kulitnya. Jantung gadis itu berdetak tak karuan, pikirannya mulai menerka-nerka hawa pembunuh yang berasal dari belakangnya ini adalah milik siapa. Terasa tak asing.
"Kau mengkhianati tuan kita."
Suara wanita tersebut lebih terdengar seperti geraman, kentara akan kebencian. Andai saja sosok itu tak pandai mengendalikan emosi sudah dipastikan leher tersebut akan terpotong. Meski yang dibunuhnya adalah saudara sedarahnya sendiri.
"Kau terlalu dibutakan oleh kesetiaanmu, Kakak."
"Justru kaulah yang tidak tahu terima kasih." Dari belakang Fu Qinshan menarik rambut Fu Hua dengan sebelah tangan.
"Aku berusaha melindungimu. Dan kau menjebak ku dalam satu keputusan yang menyakitkan. Yaitu membunuhmu."
Mata gadis itu berkaca-kaca, tatapannya begitu tak percaya. Fu Hua ingin sekali berbalik badan dan memeluk Kakaknya. Sambil mengatakan bahwa apa yang diikuti wanita itu selama ini salah.
Akibat pengabdian Fu Qinshan, Fu Hua merasakan penyesalan yang tidak ada habisnya.
Fu Hua tahu, kakaknya berperan besar dalam peperangan tujuh tahun yang lalu. Peperangan yang membuat penolong nyawanya terjatuh begitu dalam. Dia terpuruk dan mengurung diri di lautan api. Dan Fu Hua sendiri tak bisa melakukan apa-apa selain menerima misi yang diberikan kakaknya. Bahkan sampai menjadi wanita penghibur di sebuah rumah bordil. Hanya untuk memata-matai, demi Tuan mereka yang egois.
"Kau akan melakukannya?"
"Jika itu untuk Tuan."
Entah pisau dari mana yang baru saja menusuk hatinya, rasa sakit itu terasa nyata. Yang membuat mata Fu Hua menghangat, air matanya jatuh begitu saja membasahi tangan Fu Qinshan. Tak peduli akan tangisan adiknya Fu Qinshan justru menyeret adiknya untuk maju.
Xin Chen menyadari ada yang salah dan langsung menangkap permasalahan lainnya. Fu Hua tengah disandera oleh kakaknya sendiri. Sangat tidak masuk akal baginya apalagi melihat wanita itu dengan tega menodongkan benda tajam di leher gadis itu. Xin Chen sendiri paham apa yang diperbuat Fu Hua telah menyakiti hati kakaknya. Mengkhianati dirinya dan berkemungkinan membuat Tuan mereka marah besar.
Tapi apakah semua itu impas dengan mengorbankan nyawa saudaranya sendiri?
Xin Chen sudah berada tepat di hadapan mereka.
Seseorang di balik bilik jendela tersenyum puas. Seperti dugaannya, Xin Chen akan mengikuti alur permainannya.
"Kau lihat itu? Laki-laki mana pun tak akan tega melihat gadis secantiknya dibunuh." Karena begitu puasnya Qin Yujin sampai menggumam sendiri. Walaupun dia tahu tak ada satu pun bawahannya yang berani menyahut.
"Aku tahu kau begitu setia padaku, Fu Qinshan. Lakukan tugasmu dengan baik."
Di tempatnya Fu Qinshan tetap tak bereaksi, tapi di waktu yang sama pula matanya masih memindai Xin Chen. Takut sewaktu-waktu pemuda itu merebut Fu Hua dari tangannya.
"Menyerahlah."
"Aku masih ingat wajahmu yang begitu angkuh tempo hari lalu. Menakut-nakuti ku dan mengatakan bahwa kemenangan berada di tangan kalian. Lalu sesuatu yang besar telah datang, tapi kami berhasil melewatinya," tuturnya pelan-pelan, mengintimidasi wanita itu dengan ketenangannya. "Dan tiba-tiba saja, kau datang lagi-setelah keadaan berubah telak dan pihakmu hampir kalah-memintaku untuk mundur?"
"Aku akan membunuhnya!" Dia menggertak sampai melekatkan belati di leher Fu Hua, gadis itu sudah bersusah payah menahan air matanya. Takut hal itu akan membebani Xin Chen.
Tapi nampaknya Xin Chen tak begitu peduli akan nyawanya yang sudah berada di ujung tanduk.
Monster biru itu tak memiliki hati.
"Kau tak peduli dengan nyawa orang yang telah menyelamatkan nyawamu?!"
"Itu yang kau harapkan, bukan? Sayangnya aku bukan tipe orang yang dengan suka rela mengikuti permainan musuhku." Xin Chen duduk bersila, mengeluarkan sekarung penuh koin emas di depannya. Membuat hati Fu Qinshan semakin sakit, dia dihina sedemikian rupa oleh pemuda itu.
"Barangkali seribu saja tak cukup. Aku menambah lima ribu."
"Kau ... Kau iblis ..."
Fu Qinshan memaki Xin Chen setelahnya. Kini bergantian Fu Qinshan lah yang menangis. Dia benar-benar hancur tapi tak tahu sumber kehancuran itu dari mana.
"Kau telah membuang adikmu selama ini. Sementara dia mati-matian menyadarkan mu. Kau menutup telinga terhadapnya. Dan membuka mata lebar-lebar hanya untuk tuanmu. Yang kau lihat hanya baj*ngan itu. Tidak lebih."
"Diam, mulut sampah!"
"Terima kenyataan bahwa sekarang adikmu sudah membencimu. Dan dia kehabisan cara untuk menyadarkan kakak berkepala batu seperti mu."
Dada Fu Qinshan naik turun. Jelas sudah wanita itu tengah berperang dengan isi kepalanya sendiri.
"Jika ada yang harus kau bunuh, akulah orangnya. Lepaskan Fu Hua dan bunuh aku. Sepertinya lebih gampang membunuhku daripada membunuh adikmu sendiri."
Fu Qinshan tak berkata apa-apa tapi dari gerakannya yang tengah bersiap untuk menarik pedang, wanita itu memang ingin membunuh Xin Chen.
Fu Qinshan menggencarkan tebasan horizontal dua kali, sama sekali tak mengenai lawannya yang malah mundur memberikan jarak. Wanita itu terus mendesak, hingga serangan balasan masuk dan hampir mengenai bahu kirinya.
Dilalap gejolak kemarahannya sendiri, wanita itu tak mempedulikan lagi langkahnya dan hanya menyerang brutal. Jubah hitamnya tergores di beberapa tempat, darah mengucur dari tangannya. Adu tangkis dan serang berjalan hampir sepuluh menit, Fu Hua masih meneteskan air matanya. Dia mengeratkan kepalan tangan, ingin mengakhiri pertarungan di depannya dan mengambil pedangnya sendiri.
Xin Chen memiringkan tubuhnya ketika Fu Qinshan menusuk lurus dari depan, bahunya didorong ke depan oleh musuh. Wanita itu nyaris terjerembab karena kehilangan keseimbangan. Namun Fu Qinshan berhasil berdiri tegak kembali, mengejar Xin Chen yang mundur darinya.
Sebelum serangan Fu Qinshan mengenainya, Xin Chen berpindah cukup jauh. Dia baru menyadari kehadiran sosok lain di balik punggungnya hendak menusuk dari belakang.
Tepat ketika dirinya menjauh, Xin Chen melihat Fu Hua sudah menusuk Fu Qinshan dengan sebelah tangan. Dan sebelahnya lagi memeluk erat wanita keras kepala itu.
"Maafkan aku, Kakak," bisiknya kecil. Tangisannya samar-samar terdengar.
"Hua'er ... Apa yang ... K-kau laku-"
Fu Qinshan memuntahkan darah sangat banyak, jantungnya tertusuk. "Kau menderita karena ingin melindungiku. Hanya itu, aku mengerti penderitaanmu, Kakak. Aku sudah memintamu berhenti, berulang kali ..." Isak Fu Hua menjadi satu-satunya suara di tengah keheningan itu.
"Tapi kau menghiraukan ku. Bergantung pada Tuan. Agar aku bisa mendapatkan baju yang bagus, rumah yang nyaman dan makanan yang layak. Aku tidak butuh semua itu!"
Pundak Fu Hua bergetar. Dia mencabut pedang di tubuh Fu Qinshan yang langsung ambruk ke tanah. Dielusnya kepala Fu Qinshan dengan sayang. "Aku ingin kau hidup dengan tenang. Dan sekarang lah saatnya. Tidurlah ... Kau sudah berlari sangat jauh, sampai babak belur begini. Aku akan memastikan aku akan baik-baik saja, tapi ku mohon, berhenti menyiksa dirimu sendiri."
Fu Qinshan menatap nanar ke atasnya, tangannya berusaha meraih pipi adiknya yang begitu dia sayangi itu.
"Aku ... selalu mendoakan kebahagiaanmu," ucapnya serak. Air mata Fu Hua jatuh membasahi wajahnya, Fu Qinshan dapat merasakan itu.
"Aku ... Senang ... Kau mengkhawatirkan diriku-"
Fu Qinshan menghembuskan napas terakhirnya. Fu Hua menggigit bibirnya, dia tak bisa menampung kesedihannya lagi. Isak tangisnya terdengar pilu, gadis itu juga harus kehilangan.
Bahkan ketika sebuah tangan menepuk pelan kepala gadis itu, berusaha menenangkannya Fu Hua sama sekali tak menyadari. Yang gadis itu ketahui, dia juga kehilangan satu-satunya keluarganya yang tersisa. Yaitu Kakaknya.