Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 69 - Xin Zhan yang Berubah


Ye Long mengendap-endap masuk ke dalam sebuah bangunan di mana dia bisa mencium aroma familiar yang diberikan Xin Zhan sebelum mereka turun ke markas. Dengan sayap yang dia miliki bukan hal sulit lagi untuk pergi ke sembarang tempat tanpa ketahuan.


Dimasukinya jendela sebuah bangunan yang terbuat dari kayu. Sayang tubuhnya terlalu besar, dia memaksa masuk membuat kayu-kayu berderit kencang. Tak peduli akan sekitarnya, naga itu memaksa kian kencang hingga akhirnya dia masuk dengan tubuh terpental menabrak dinding.


Naga itu mengendus cepat, bergerak sana-sini sambil memutarkan pandangan ke segala arah. Dia dapat mencium bau obat yang sama dengan yang diberikan Xin Zhan tapi bau itu sangatlah samar hingga kadang-kadang menghilang. Di tengah pencariannya, Ye Long dikagetkan oleh kehadiran sesosok wanita dalam jubah yang begitu besar. Wanita itu membawa sebuah kepala yang telah dipenggal, melemparkan kepala itu ke arahnya dan menggelinding hingga menabrak kaki Ye Long.


"Siapa kau?" Ye Long menurunkan kepalanya, merasakan ancaman besar sedang mengincarnya. Orang itu tertawa kecil.


"Seharusnya kau tahu siapa aku."


Ketika sosok itu membuka topengnya, Ye Long segera berdesis. Dia tahu wajah itu, ketika dirinya masih berada di alam bawah sadar Xin Chen dan orang itu membuka topeng gagaknya.


Fu Qinshan. Wanita itu lagi. Sepertinya mereka diikuti semenjak kemarin.


Dan kepala yang tergeletak di lantai itu, Ye Long mulai menduga bahwa target musuhnya adalah orang yang sedang mereka cari.


"Kalian mencari Ahli Obat Yan She?" Senyum licik terpatri di wajahnya yang menyeramkan, noda darah terlihat di sana. Tak terlihat sedikit pun rasa berdosa di wajah wanita itu.


"Aku membawanya untuk kalian."


Ye Long menggeram. Dia mengamuk sejadi-jadinya dan langsung menghancurkan segala barang di tempat itu, Fu Qinshan menghindar begitu cepat sehingga dia tak mampu menangkap perempuan itu. Jeritan Ye Long terdengar begitu kesal.


Padahal, hanya itu satu-satunya harapan yang mereka punya. Ye Long juga tak mengharapkan kematian Shui terjadi, Yan She adalah satu-satunya kunci untuk menyelamatkan naga itu. Tapi apa yang dilakukan wanita ini, mengambil satu-satunya kunci itu dan menghancurkannya tanpa belas kasih.


Shui telah melakukan banyak hal untuk Ye Long, meski dia sendiri sedikit membenci Naga Air itu. Dan untuk menyelamatkan Xin Chen, Ye Long gagal membawa Yan She. Laki-laki tua itu telah meregang nyawa semenjak satu jam lalu di tangan Fu Qinshan. Mereka ketinggalan satu langkah dari musuh. Fu Qinshan, wanita itu membuat amarahnya meledak.


Ye Long berhasil menggigit lengan Fu Qinshan yang dilindungi armor besi, dengan entengnya wanita itu menepis Ye Long dan membuatnya terpental. Ye Long tak langsung mundur, dia justru melompat tinggi dan menghantam lawannya dengan ekor.


Hantaman itu membuat mereka terjatuh dari ketinggian. Kini mereka sudah berada di luar bangunan, puluhan penjaga mendekat. Ye Long mengejar lawannya tanpa melihat sekitar. Tubuhnya mulai diserbu oleh anak-anak panah dan tombak lawan.


Sementara dari kejauhan Xin Zhan yang mendengar kegaduhan itu segera datang, melihat Ye Long berlumuran darah mengejar seseorang yang langsung dapat dikenalinya.


Mata keduanya bertemu. Fu Qinshan sempat tersenyum penuh arti ke arah Xin Zhan. Tak berpikir dua kali dia segera mengejar wanita itu, tak mungkin Ye Long mengamuk tanpa alasan. Lalu sebelum dirinya mengejar Fu Qinshan, seseorang berteriak dari dalam bangunan.


"Ahli Obat Yan She telah terbunuh!"


Xin Zhan mendengarnya sekilas dalam keterkejutan. Semua itu menjelaskan arti kemarahan Ye Long sekarang. Naga itu ingin membalaskan kemarahannya kepada wanita itu, wanita yang kini tertawa sangat lebar sembari mengenakan kembali topeng gagaknya.


"Kalian sangatlah ceroboh."


Xin Zhan yakin mereka sama sekali tak diikuti. Apakah tanah di Lembah Para Dewa memiliki mata dan telinga sehingga musuh tau rencana yang mereka buat. Lalu bagaimana bisa Fu Qinshan dapat mengejar mereka dan langsung menemukan Yan She untuk membunuhnya.


Wanita itu sudah kabur ke hutan. Ye Long berhasil merobek jubahnya. Geraman naga itu menjadi makin berat, menandakan kemarahannya sudah berada di tingkat terakhir. Fu Qinshan tak bisa diraih dengan mudah, kadang wanita itu menghilang dan muncul di tempat berbeda.


Ketika Fu Qinshan menampakkan diri, Xin Zhan segera menebaskan senjata. Punggung wanita itu terkena sayatan miring begitu sempurna. Lalu Fu Qinshan mundur, masih dapat tersenyum seperti sebelumnya.


"Misiku sudah selesai. Sampai bertemu lagi."


Lalu tanpa meninggalkan sedikit pun jejak, Fu Qinshan menghilang di tengah gelapnya hutan.


Sontak Ye Long mengamuk membakar hutan tersebut hingga dia nyaris melukai dirinya sendiri. Xin Zhan berusaha menenangkan tapi yang terjadi justru dirinya hampir terkena sambaran api tersebut, Ye Long kehabisan napas. Lalu dia menjatuhkan diri ke tanah dengan murungnya.


"Aku tidak bisa kembali ..."


Selama perjalanan ini, sepertinya baru sekarang Ye Long mengeluarkan suaranya. Mata naga itu berkaca-kaca.


"Aku sama sekali tidak bisa membantu apa-apa, majikan tidak mau mengeluarkan ku dan lebih sering mengurungku. Menurutmu, aku tidak berguna juga, bukan? Setidaknya dalam pertempuran ini aku ingin membantunya. Tapi sekalinya diberi kesempatan inilah yang kulakukan."


Masih banyak kata-kata yang ingin dikeluarkan naga itu, dia menutup wajahnya dengan sayap dan melingkarkan tubuhnya. Tak mau Xin Zhan melihat dirinya.


Xin Zhan mengelus kepala naga itu. "Kita sudah melakukannya, hanya saja musuh bergerak lebih cepat dari pada kita."


Xin Zhan memungut bekas jubah Fu Qinshan yang sempat dirobek oleh Ye Long.


"Seandainya aku bisa mengikuti ke mana orang ini pergi ... Kemungkinan besar kita akan mendapatkan petunjuk tentang keberadaan dalang di balik ini semua, Qin Yujin. Dia sudah merencanakan perang hingga sejauh ini dan perempuan tadi setahuku adalah tangan kanannya. Seharusnya mereka akan lebih sering bertemu."


Ye Long membuka sayapnya sedikit untuk mengintip, pergerakannya membuat Xin Zhan menoleh sesaat.


"Kita baru melewati satu hari, kan? Itu artinya kita masih memiliki dua hari untuk mencari orang ini. Apa pun caranya, yang penting jangan sampai kita berhenti di sini." Xin Zhan hendak menyimpan bekas sobekan itu.


Ye Long mengendusnya cepat-cepat, "Mungkin aku bisa melacak bau ini jika orang itu tak pergi begitu jauh."


"Seberapa besar kemungkinan mu untuk melacaknya?"


"Hanya delapan persen."


"Masih ada harapan. Kita berangkat."


Xin Zhan baru berdiri saat sebuah dentuman kembali terasa. Pertarungan Naga Kegelapan di Lembah Para Dewa, tidak ada yang lain. Selalu membuatnya khawatir akan Xin Chen. Kakak mana yang bisa tenang ketika meninggalkan adiknya bertarung dengan nyawa di ujung tanduk?


Sembari melakukan perjalanan Xin Zhan menyembuhkan lukanya sebaik mungkin. Sambil mempersiapkan diri untuk kembali ke Lembah Para Dewa. Ye Long terbang cepat sambil melihat daratan di bawahnya. Mereka lewat di atas aliran sungai panjang yang memisahkan satu tempat dengan tempat lainnya.


Hingga tanpa sadar, mereka mulai berdekatan dengan Lembah Para Dewa dan hanya berjarak beberapa kilo meter dari sana.


Tanah itu adalah kawasan Kekaisaran Qing yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran Shang. Ye Long terus mengikuti bau itu, meski dia sendiri tak yakin dengan penciumannya.


Tapi Fu Qinshan tampaknya menghilang dan muncul lagi di tempat yang tak begitu jauh saat terakhir kali mereka melihatnya.


Tiba-tiba Ye Long menukik tajam ke bawah, merasakan bau jubah Fu Qinshan terasa amat dekat dengan nya. Mereka berhenti di sebuah hutan yang di depannya di aliri sungai deras.


"Apalagi ini? Sebuah persembunyian lainnya?"


Ye Long mendengus, mencium aroma itu kembali lenyap. Lalu muncul kembali. Ketika wanita itu menghilang diri, baunya akan ikut menghilang. Lalu Fu Qinshan akan memunculkan diri kembali. Dia memiliki jeda waktu untuk menghilangkan diri.


Hari yang panas ketika itu menjadi pertanda akan turun hujan lebat, disebuah tempat yang jauh dari keramaian berdiri sebuah markas kecil yang bahkan sama sekali tak menarik untuk didatangi. Hanya berdiri tenda-tenda lusuh. Lalu beberapa rumah kayu yang hampir roboh.


Acara api unggun di sana tiba-tiba terhenti karena derasnya air hujan yang memadamkan api tersebut. Gu Xiyi-salah satu di antara mereka beserta yang lainnya segera kembali ke rumah kayu tak jauh dari sana untuk mengeringkan diri. Dia mengumpat kesal karena tidak bisa menikmati acara ini.


"Hujan ini sangat menyebalkan! Aku sampai bosan melihat hujan air seperti ini setiap hari!" umpatnya ketika berteduh, dia terus menatap ke genteng di mana air hujan mengalir deras di sana.


"Hei, daripada kesal bukankah lebih baik menikmati malam ini dengan arak?"


Seseorang berkata di belakang Gu Xiyi membuatnya membalikkan badan sangat kaget.


"Ah, kau rupanya! Hahaha ide bagus!"


Lelaki itu bahkan tak mengenal siapa orang yang mengenakan jubah putih. Tapi dia menggunakan topeng gagak di wajah yang menandakan bahwa dirinya adalah bagian dari mereka.


Xin Zhan menarik senyumnya lebar-lebar, dia seperti ingin mengatakan sesuatu. "Bagaimana kalau pemandian air panasnya diganti dengan pemandian darah?"


Gu Xiyi menelan ludah sambil mundur beberapa langkah, sikap refleks itu spontan dilakukannya saat melihat hawa Xin Zhan berbeda dari sebelumnya. Hawa wajah pembunuh itu menggetarkan kakinya selama beberapa detik.


"Apa–"


Saat mulut Gu Xiyi baru saja hendak berbicara sedetik kemudian kepalanya melayang membentur dinding. Lehernya yang terpotong mengalirkan darah deras bak air terjun, tidak ada orang lain selain mereka berdua di tempat itu sebab teman-temannya yang lain tanpa dia sadari telah pergi ke rumah lain meninggalkannya sendirian dengan orang asing yang tak tahu asalnya dari mana.


Xin Zhan berdiri tepat di bawah tetesan air hujan, pedangnya meneteskan darah korban bersama air hujan.


"Seharusnya dua orang itu di sini, aku harus mencari mereka."


Xin Zhan berlari kencang tidak memedulikan beberapa penjaga melihatnya, mereka tidak menaruh curiga karena topeng yang dikenakannya adalah milik penjaga markas dan menganggapnya sebagai bagian dari mereka.


**


"Bagaimana? Apa kalian berhasil membunuhnya?" Wu Guan mengangkat cangkirnya lalu menopang siku di meja, dia menanti jawaban se orang di depannya ini agak lama.


Terdengar jawaban yang begitu patuh. "Dia sudah mati seperti permintaan, tolong beritahu Tuan aku sudah kembali."


"Padahal jika Tuan tak berkeberatan aku bisa membunuh si ahli obat itu jauh lebih cepat daripada dia." Seorang laki-laki dewasa dengan ikat kepala dan pedang besar berbicara lantang.


"Hah padahal dengan itu Aku bisa membuat laporan pada Tuan karena telah memberantas satu cecunguk ini! Tidak lama lagi aku pasti akan merebut posisi tertinggi Empat Unit Pengintai!"


Dua temannya tidak mau memberikan tanggapan lebih jauh, dan larut dalam pikiran masing-masing.


Wu Guan angkat bicara. "Tapi kurasa orang yang kumaksud itu tidak semudah itu dibunuh... Maksudku, paling tidak orang yang mencarinya akan mengejarmu. Apa kau yakin tak meninggalkan jejak, Fu Qinshan ?"


Brak!


"Apa kau meragukan kekuatanku!? Aku ini salah satu petinggi!" Fu Qinshan itu menggebrak meja begitu kuat hingga menimbulkan retak, matanya berubah padam ingin membunuh.


"Ma-maafkan kelancanganku, aku tidak meragukan kekuatanmu hanya saja..."


Tentu saja Fu Qinshan marah besar. Jika dia diturunkan jabatan karena ketidakmampuan nya menyelesaikan misi, tentu Tuannya akan kehilangan kepercayaan padanya. Itu hal paling mengerikan dalam hidupnya yang tak mampu Fu Qinshan bayangkan.


Wu Guan tidak memiliki kata-kata lagi untuk melanjutkan, dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Aku memiliki firasat buruk tentang hal ini."


"Sudahlah apa yang perlu kau takutkan?! Orang itu sudah mati, kalaupun orang yang mengejarnya ingn membunuhku aku sendiri yang akan memotong lehernya!"


Pintu terbuka lebar.


"Aku menemukan mu."


Ketiga orang itu menoleh ke arah suara tergesa-gesa, di depan sana terlihat seorang pemuda dengan pedang dilumuri darah. Dapat dilihat di belakang sana para penjaga telah tewas terkapar. Dia berhasil membunuh puluhan penjaga tanpa menimbulkan suara bising.


Xin Zhan mengangkat pedangnya ke arah perempuan itu. "Katamu kau ingin memotong leherku?"


Fu Qinshan kabur begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Xin Zhan tak sempat mengejarnya dan kini harus berhadapan dengan musuh yang lain.


"Rupanya kau-!?"


Wu Guan melebarkan matanya saat melihat orang yang dia takuti benar-benar datang. Nyaris tak percaya. Padahal selama ini Fu Qinshan selalu menyelesaikan misinya dengan sempurna, tanpa meninggalkan jejak dan sekarang untuk pertama kalinya wanita itu mengundang musuh mereka ke kandang sendiri.


"Sekarang daripada kau terbengong seperti itu lebih baik cepat-cepat pergi ke neraka, kesabaran ku yang seluas lautan telah habis karena ulahmu."


Laju langkah seperti membelah udara ini sontak membuat wanita itu awas dan buru-buru mengambil posisi, pedangnya dan Xin Zhan beradu tajam hingga deritanya terdengar seperti jeritan.


Namun siapa sangka pedang milik petinggi Empat Unit Pengintai itu mulai terpotong ketika menahannya, pedang pusaka di tangan Xin Zhan berhasil membelah pedang tersebut dan kini hendak menghantam leher lawan.


Senjata lain melesat tajam, tombak tengkorak menghentikan laju pedang Xin Zhan tanpa ampun, si petinggi nomor lima mengangkat wajahnya hingga bisa menatap Xin Zhan secara langsung.


Mereka adalah sisa-sisa Empat Unit Pengintai yang selamat dari pembantaian Xin Chen saat itu dan bersumpah akan mengambil kembali tanah Lembah Para Dewa dari mereka. Dengan atau tidaknya perang. Menyamar di tempat seperti ini sambil memantau keadaan dan membantu sebisa mereka. Juga bertujuan untuk melindungi 'seseorang' yang berperan penting untuk tujuan mereka memperebutkan tanah tersebut.


Kedua pihak memiliki ambisi sama dan bekerja sama. Karena itu tugas yang telah dipercayakan tuannya pada Fu Qinshan akan dilakukannya sebaik mungkin. Tapi wanita itu tak menyangka bahwa Xin Zhan dapat mengikutinya sampai sejauh ini.


"Jangan-jangan naga itu ..."


Dugaannya tak meleset. Tapi ke mana perginya naga itu sekarang dia tak tahu.


"Kau..." geramnya. "Jangan meremehkan kekuatan para petinggi Empat Unit Pengintai!" Libasan tongkat memukul pedang. Wu Guan dan dua petinggi itu mulai memasang formasi serang demi menghadapi lawan yang nampaknya sangat kuat. Mereka yakin dengan menggabungkan kekuatan seperti ini mengalahkannya bukanlah hal sulit.


Tetapi setelah bertukar jurus beberapa lama rasanya hal itu sangat mustahil, Xin Zhan tidak tersentuh sedikitpun namun pedangnya mengincar terus menerus tanpa ampun. Gaya bertarung yang nyari sama dengan milik Pedang Iblis yang mematikan itu hanya bisa mereka temukan pada orang-orang tertentu. Yang mengabadikan dirinya untuk keterampilan pedang.


"Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Apa Fu Qinshan yang membawamu kemari!?" tanya petinggi yang menggunakan tombak, sedari tadi tampaknya Xin Zhan terus mengincar nyawanya dibanding dua temannya ini.


"Apa itu perlu?"


"Jangan bertanya balik!"


"Cara kalian bertanya saja tidak sopan." Xin Zhan menggerutu kesal, dia menarik kembali pedangnya dan bersiap melepaskan satu jurus mematikan.


"Tidak akan kubiarkan kau menyentuh Tuan!" Si petinggi satu laginya segera mengejar temannya dan Xin Zhan yang berjarak cukup jauh, dia melihat jelas Xin Zhan ingin membunuh temannya.


"Kitab Tujuh Kunci - Angin Desa Daan!"


Pergerakan lawan yang hendak menghentikannya terhenti ketika ratusan pisau cahaya datang, bahkan jumlahnya cukup untuk memenuhi satu ruangan ini hingga sesak. Wu Guan berniat kabur dan meminta bantuan pada yang lain namun sayangnya melarikan diri saja dia sudah kesusahan.


Wu Guan mundur sambil berteriak marah. "Kalau sampai kau Fu Qinshan berkerja sama dengan mereka, kupastikan nyawamu dan adikmu takkan selamat!" Dia mencoba menengok ke belakang dan mendapati satu petinggi telah tertancap bersama ratusan pisau cahaya di dinding dan satunya lagi merangkak dalam keadaan kepala bocor.


Xin Zhan menunjuk petinggi dengan kepala bocor itu dengan pedangnya, "Lihatlah dia ingin mengajakmu pergi ke neraka bersama-sama."


"Ti-tidak mau!"


Pisau cahaya dengan jumlah dua kali lipat terbang di belakang pemuda itu hingga membuat kaki Wu Guan bergetar hebat, dia yakin pisau itu bisa mencabik-cabik dagingnya sampai ke bagian terkecil.


"Tapi aku tidak akan membunuhmu sekarang," Xin Zhan memasukkan kembali pedangnya. Dia berlalu begitu saja setelah membuat Wu Guan hampir kencing di celana.


"Sial...!" Wu Guan mengumpat keras dan segera pergi meminta bantuan. Dia menyadari dua orang petinggi Empat Unit Pengintai telah mati sekejap tanpa melakukan perlawanan berarti.


Hal ini adalah sesuatu yang cukup memalukan baginya. Namun mau bagaimana lagi, lawan yang mereka hadapi kali ini tidak terlihat seperti manusia. Aura yang dikeluarkannya memang terang dan bersinar layaknya cahaya, tapi bisa mematikan seratus kali lipat dari kekuatan hitam sendiri


***