
Malam datang begitu cepat. Xin Chen baru saja menggadaikan beberapa barang perhiasan dari cincin ruangnya. Bisa jadi dia sedang jatuh miskin perkara mau masuk ke dalam lelang. Dia membutuhkan uang Kekaisaran Wei, satu-satunya cara hanyalah menjual barangnya daripada meminta penukaran. Takutnya dia dicurigai, apalagi penjagaan di Sentral Pusat tergolong ketat. Berjalan aneh sedikit langsung didatangi petugas.
"Masih ada dua bulan lagi, belum-belum sudah mendekati kemiskinan."
Xin Chen menggerutu dalam hati. Dia berharap, walau hanya sedikit salah satu yang dicarinya selama ini ada di tempat ini. Meski hanya kemungkinan kecil tak apa. Dia terlalu putus asa sebab tak ada petunjuk lain yang didapatkannya. Xin Chen menunda pencariannya terhadap Qin Yujin dan kotak itu sementara.
Mungkin di dalam acara lelang itu dia bisa mendapatkan petunjuk juga terhadap keberadaan lelaki itu. Andai ketemu di sana, Xin Chen ingin sekali menonjok wajahnya.
Sambil menunggu besok datang, Xin Chen memilih menginap di salah satu penginapan yang harganya begitu mahal baginya-tapi paling murah di antara yang lain. Andai dia di Kekaisaran Shang, biaya sekali menginap di Sentral Pusat setara dengan biayanya menginap sampai dua bulan.
Xin Chen menunggu malam berlalu, duduk di dekat jendela melihat lalu lalang di depan. Penjagaan tak pernah berhenti. Sesekali matanya menangkap sebuah pemandangan ganjil di daerah hutan. Terlihat sebuah burung besar yang kemungkinan besar adalah siluman terbang tinggi, dia mungkin merasa terancam dan terbang begitu cepat. Tapi dalam satu kali tembakan, sebuah tombak tajam berisi racun langsung tembus di jantungnya.
Kini dia membayangkan apa yang terjadi jika Ye Long ikut bersamanya. Dan perkataan Lang sebelum pergi ke sini.
"Kekaisaran Wei bukan rimbanya." Xin Chen tersenyum pahit. "Dan sebenarnya bukan rimbaku. Tempat ini sebelas dua belas dengan sebuah goa berhantu. Belum masuk sepenuhnya saja sudah membuat merinding."
**
Dinginnya udara seolah-olah ingin membekukan darah, pagi datang di Sentral Pusat yang dipenuhi oleh kehidupan ratusan ribu orang di dalamnya. Xin Chen menatap ke luar, rasanya langit tak begitu bersahabat hari ini. Hujan deras turun tak berapa lama, membuat para manusia yang memenuhi jalan di bawah sana seketika bubar mencari tempat berteduh.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang terhormat, terlihat dari perumahan di Sentral Pusat yang mewah-mewah. Nyaris tak ada orang kalangan menengah ke bawah di tempat ini, untuk menginap di tempat ini saja Xin Chen berulang kali ditanyai soal identitasnya. Terutama nama klan yang dibawanya.
Xin Chen keluar dari penginapan, payung di tangannya meneteskan air begitu deras. Hanya beberapa orang mau melewati derasnya hujan. Dia berniat pergi ke acara lelang, seharusnya tak begitu jauh dari sini.
Pandangannya terkunci pada sebuah rombongan dengan kereta kuda yang terlihat sangat mewah, melaju cepat menuju satu tempat.
Dua ibu-ibu di sebelahnya berbisik dari teras rumah mereka.
"Putra tunggal Kaisar sepertinya akan melakukan kudeta besar-besaran lagi. Lebih baik menutup pintu dan jendela, pembantaian bisa terjadi kapan saja ..."
"Ini menakutkan. Apakah dia tidak cukup senang dengan kedamaian sekarang? Malah sok sibuk memikirkan nasib orang di luar sentral. Sudah sinting sepertinya."
"Begitulah kalau sudah banyak uang. Ssst ... Hati-hati nanti ada yang mendengar kita." Wanita itu menengok Xin Chen yang berjalan pelan di depan mereka dengan mata was-was.
'Kudeta? Putra tunggal?' Xin Chen hanya bisa menebak dalam hati. Jika benar seperti yang dua wanita itu katakan berarti pangeran mengharapkan lengsernya ayahnya, apalagi lewat jalur berdarah dipastikan pertarungan sengit akan terjadi hingga salah satunya tumbang.
Masalah politik di Kekaisaran Wei agaknya sedikit ditutup-tutupi, bahkan hanya orang-orang yang tinggal di Sentral Pusat yang tahu akan hal ini. Tidak dengan di luar sana, mereka tak sempat memikirkan politik karena terlalu sibuk memikirkan isi perut di tengah situasi krisis.
Tiba di tempat yang dimaksud Xin Chen langsung menyerahkan uangnya, mendapatkan tiket masuk dengan begitu mudah tanpa banyak prosedur yang bisa membuat kepalanya pusing. Semua orang di sana bebas masuk asal memiliki uang. Itu sudah jelas, bahkan banyak dari mereka yang memakai topeng untuk menyembunyikan wajah serta identitas.
Xin Chen menatap seluruh barang yang akan dilelang dua jam lagi. Pernak-pernik di atas meja yang harganya bisa menembus angka miliyaran sama sekali tak membuatnya tertarik, kecuali jika matanya diganti dengan mata Ye Long. Sudah pasti naga itu akan memeluk semua barang tersebut.
Xin Chen mulai mengkhawatirkan kamarnya di Kota Fanlu. Bisa jadi pakaian dan barang-barangnya dibuang karena kamarnya sudah penuh dengan perhiasan.
Satu jam berlalu dengan dirinya yang masih berputar-putar dari lantai satu ke lantai tiga, berbaur dengan orang asing yang sibuk bercengkrama soal harta. Kebanyakan dari mereka tak mempedulikan sekitar, hingga di seperempat jalan kembali Xin Chen mendapati sebuah pakaian yang amat familiar.
Topeng gagak dan jubah hitam besar. Begitu mirip dengan pakaian Fu Qinshan dan anak buah dari Qin Yujin. Xin Chen berlari memecah kerumunan, sialnya orang itu sudah lebih dulu masuk ke sebuah ruangan ketat penjagaan. Dan lagi, penjaga di pojokan bergerak untuk menangkapnya.
"Hei, hei. Apa yang kau lakukan berlari-lari seperti maling! Mana tiketmu?!"
Xin Chen menunjukkannya buru-buru, kesal setengah mati ditahan di saat yang tidak tepat.
"Cepat lepaskan aku, sahabatku akan lari. Aku mau menagih utang."
"Oh, menagih utang. Perkara sulit, nah pergilah. Ku doakan yang ditagih tidak lebih galak darimu."
Xin Chen langsung mengejar, tapi sayangnya dia kehilangan jejak. Sudah memakai tubuh roh dan menembus ke seluruh ruangan yang ada, sosok tadi sudah menghilang seperti di telan bumi.
Sementara pencariannya harus ditunda sebab acara lelang akan dimulai, mereka diarahkan ke satu tempat dengan sebuah panggung di depan. Terdapat satu orang lelaki berkumis yang pembawaannya sangat narsis, menyambut seluruh tamu dengan kata-kata manisnya.
Xin Chen mau tak mau melepaskan orang tersebut, masuk ke satu ruangan yang gelap dengan satu penerangan di panggung. Berharap salah satu dari barang yang akan dijual di sana adalah obat untuk penyakit Kristal Merah. Dengan begitu Lang tak perlu susah payah membuat obat sekaligus mencari Guru Luo Li, mereka hanya perlu mengantarkan Jamur Api dan kembali Ke kekaisaran.
Tapi sepertinya jalan semudah itu adalah satu jalan langka yang sulit sekali muncul. Xin Chen tersenyum getir.
Acara sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu, dibuka dengan meriah dengan pertunjukan seni dan sebuah pertunjukan drama kecil-kecilan. Xin Chen terus mengernyit, tak mengerti dengan tontonan para orang kaya itu. Di depan sana, mereka menertawai sebuah tontonan berisi para manusia dekil yang sedang bertarung melawan terinfeksi bohongan.
"Orang-orang ini, coba mereka disuruh menonton hal ini langsung di luar sentral, langsung kering pasti giginya tertawa sambil dicabik-cabik."
Ucapan Xin Chen membuat orang-orang di sekitarnya diam. Dia menyadari omongannya barusan, berdeham sambil lanjut melihat pertunjukan. Di dekatnya tak terdengar lagi tawa seperti sebelumnya.
Mungkin saat ini Xin Chen tahu dia memiliki bakat lain dalam dirinya; Perusak Suasana.
Lelang telah dimulai dengan harga yang tak main-main, Xin Chen sampai menahan napas mendengar nominal pertama yang keluar. Belum lagi angka itu terus bertambah.
Sepertinya benar, di Kekaisaran Wei uang begitu mudah didapatkan. Semua orang di dalam ruangan ini sangat-sangat kaya, bahkan melebihi harta kekayaan milik bangsawan elit di Kekaisaran Shang.
Padahal mereka hanya memperebutkan sebuah cangkir dengan khasiat awet muda, tapi harga yang mereka pasang nyaris menyentuh delapan puluh miliyar.
Barang kedua keluar. Kali ini kalung, terbuat dari kulit kura-kura putih yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Bentuk dari kalung itu sangat indah, selain memiliki estetika kalung itu bisa mengobati secara bertahap segala penyakit di dalam tubuh pemiliknya jika selalu memakai kalung tersebut.
Harga yang tak main-main mulai terdengar dari bangku-bangku para elit. Xin Chen hanya menyimak, menunggu kapan satu benda saja yang berkaitan dengan vaksin atau obat untuk penyakit Kristal Merah.
Dan sedikit berharap uangnya cukup untuk membeli barang itu.
Bahkan sampai barang kesembilan dia tak kunjung mendengar soal obat. Hanya benda tak berguna yang kebetulan 'langka' dan memiliki khasiat luar biasa. Dia membuang napas, kesal minta ampun.
Dua ratus juta melayang hanya untuk ikut melihat pertunjukan konyol dan barang-barang tak berguna. Xin Chen menyesali perbuatannya, dia sudah boros. Tahu begini dia akan menyimpan uang itu untuk kebutuhan lain.
Barang terakhir baru saja dikeluarkan, karena dianggap tak begitu spesial seperti yang sudah-sudah. Lelaki di hadapan panggung menawarkannya seperti setengah hati.
"Ah, benda terakhir ini ... Sepertinya ada kesalahan," lelaki itu menoleh ke belakang, sedikit berbisik, "hei siapa yang menaruh permata busuk ini kemari?"
Seorang wanita maju dan berbisik di telinga lelaki itu. Xin Chen sengaja menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar percakapan mereka.
"Tapi bos menyuruh menjualnya, jual saja berapa pun harganya. Untung berapa saja yang penting laku. Benda itu membawa bala."
"Bala bagaimana?"
"Orang yang membawanya kemari mati tersambar petir tempo hari, lalu teman kita yang mengemasnya mendadak kejang-kejang dan entah ada kaitannya mendung selalu ikut ke mana pun benda ini berada. Kau jual saja, kita sudah membelinya pakai uang. Berapa pun laku terserah."
Wanita itu mundur. Lelaki di depan panggung batuk kecil sembari memamerkan senyumannya yang tampak lebih canggung.
"Barang yang kami tawarkan terakhir ini sedikit spesial."
Terjadi jeda dalam sejenak. Dia seperti sedang merangkai kata manis untuk mendeskripsikan benda di atas meja. Berkilau tidak, membuat suasana menakutkan ada. Lelaki itu tak berani menyentuhnya, takut dia mati berdiri.
Dia melanjutkan. "Permata yang kami temukan dari pelosok Kekaisaran Wei, warnanya kelabu dan penuh dengan misteri. Tak ada yang tahu dari mana benda ini berada tapi diyakini kekuatan di dalamnya sangat besar."
"Hei, tapi bukankah permata yang sudah tak berkilau itu sama seperti permata milik siluman liar? Kenapa barang sejelek itu ikut dipamerkan?"
"Pantas saja acara lelang di sini mulai sepi, begini mereka menjual barang."
"Ah, aku mau pulang saja. Ditawarkan barang rongsokan seperti itu. Lebih baik aku mendengar ocehan para pengemis di luar sentral."
Lelaki di panggung menyatukan tangannya harap-harap cemas. Bangku penonton mulai ribut, tak tertarik sama sekali dengan barang di sebelahnya.
"Harap tenang ..."
Dia menatap sekeliling, "Kami akan memulai memasang harga sebanyak delapan ratus juta."
Hening. Tak ada suara. Canggung di wajah lelaki itu kian menjadi. Di sebelahnya hawa mengerikan mulai terasa, menyentuh permukaan kulitnya. Dia mulai tidak tahan karena tak satupun dari ratusan orang di depannya tertarik. Jantungnya berdegup kencang ketika sengatan kecil terasa membakar kakinya.
"Tidak ada?"
Seseorang akhirnya mengangkat tangan.
"Dua juta keping emas. Aku bawa atau tidak sama sekali."
"Apa-apaan? Rugi besar ini namanya-" Lelaki itu tak sadar menggumam. Dia baru tahu ada hal seperti ini, orang pasang harga berapa dia pasang harganya sendiri.
Wanita di belakang panggung seakan-akan menyuruhnya menawar. Tapi sudah hampir setengah jam dibujuk pun Xin Chen masih kekeh tak mau, malah menurunkan harga menjadi satu juta keping emas. Kepala lelaki itu pusing berkunang-kunang. Dia sampai berulang kali menanyakan ke orang di belakangnya.
"Memang boleh seperti ini?"
"Terima saja tawarannya. Ini sudah makin memburuk. Aku baru mendengar kabar seseorang hanyut karena arus sungai yang tinggi di dekat sini. Bos juga sudah menyetujuinya."
Orang lain tak mau menawar sebab si pembawa acara sudah mengatakan langsung kalau benda itu mungkin akan membawa kesialan. Jelas makin tak ada yang mau membelinya.
Dan Xin Chen berakhir membeli barang seharga delapan ratus juta keping emas itu dengan penawaran terbaik: satu juta keping emas saja. Sontak saja hal ini langsung jadi perbincangan para elit yang terus berbisik-bisik sambil sesekali menatap Xin Chen. Antara aneh dan kasihan. Semiskin apa pemuda itu sampai membeli barang dengan harga yang terbilang sangat-sangat murah.