
Ye Long menghancurkan semua tenda dan bangunan, membakar satu tempat menjadi lautan api. Amukannya membuat kehancuran yang tak kira-kira, tong berisi minyak meledak di gudang penyimpanan. Menyemburkan api hingga ke hutan-hutan. Kebakaran menyebar semakin cepat karena angin badai bertiup kencang, membangkitkan gejolak api kian ganas.
Di tengah pertempuran malam itu, seorang pemuda dengan mata hitam kelam berdiri menenteng pedangnya. Bagaikan Yin dan Yang. Matanya hitam kelam bagaikan seorang pembunuh yang baru saja terbangun. Kilau cahaya dari jubah dan kekuatannya berbanding terbalik dari sosoknya.
Selama ini, dirinya selalu diikuti oleh cahaya. Bahkan seseorang pernah berkata bahwa langkahnya nyaris tanpa bayangan. Pendiriannya yang lurus dan bersih adalah panutan para pendekar aliran putih.
Putih itu telah ditetesi tinta hitam. Hingga akhirnya, sosok Xin Zhan yang begitu dikagumi akan pendirian teguhnya berubah.
Penyesalan sempat tersirat di sorot matanya. Tapi semua itu hilang ketika dia membayangkan adiknya bertarung sendirian di neraka bernama Lembah Para Dewa. Dia sudah gagal mendapatkan Yan She. Setidaknya dia harus menghancurkan kepala sang dalang dari perang ini.
Seluruh tempat telah disusuri tanpa sedikitpun kesilapan. Tapi apa yang didapatkannya hanya pendekar-pendekar kelas teri, berserakan menghalangi jalan. Dan ketika Xin Zhan menyadari, di tanah yang berlumpur dia melihat bekas tapak kaki kuda. Dari langkah kaki kuda yang begitu lebar itu, sudah menjelaskan bagaimana mereka tergesa-gesa pergi dari markas.
Xin Zhan terlambat. Lagi. kecewa di wajahnya nampak jelas, tubuhnya benar-benar lelah bertarung untuk sesuatu yang selalu lepas dari genggaman tangannya.
Pada akhirnya, Xin Zhan tak mendapatkan apa-apa.
Selain kehancuran para Empat Unit Pengintai dari Kekaisaran Qing. Kehancuran total, bukan hanya nyawa melainkan sekaligus tempat-tempat nya rata dengan tanah.
Ye Long kembali. Melihat Xin Zhan berjongkok dengan kepala bersandar pada pedang yang dia tancapkan di tanah. Menyedihkan dan larut dalam keputusasaan.
Bahkan dia tak ingat lagi, apakah dia ke sini sendirian atau membawa teman. Pikirannya hancur. Membayangkan api di Lembah Para Dewa akan melenyapkan adiknya.
Mata hitam yang sebelumnya penuh akan hasrat pembunuh itu mulai berkaca-kaca, terdengar suara kecil dari Xin Zhan.
"Ayolah, kawan. Bukan waktunya merengek. Lakukan itu ketika digendong ibumu." Ye Long berusaha menghibur meski leluconnya terdengar menyakitkan di telinga Xin Zhan.
"Bagaimana aku bisa kembali tanpa membawa apa-apa?"
Ye Long memang tak begitu memahami perasaan manusia. Dia memikirkan beberapa kata sambil memutar mata.
"Tubuhmu sudah lebih baik. Kau sudah siap untuk bertarung di sisi Majikan. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk majikan sialan itu."
Tiga detik berpikir, Xin Zhan mencabut pedangnya sambil berdiri tegap.
"Kita kembali. Dengan atau tanpa hasil. Aku tak bisa menunggu lebih lama untuk kembali kepada adikku."
"Kau rindu, ya?"
Xin Zhan tak menjawab sekalipun Ye Long mengejek-ejeknya di belakang. Keresahan di hatinya jauh lebih penting daripada menghiraukan naga jelek itu.
"Mengumpulkan orang-orang Empat Unit Pengintai yang tersisa mungkin akan lebih baik daripada mengharapkan pasukan yang dikirimkan Kekaisaran."
Ye Long mengangguk. "Sangat setuju."
Keduanya saling menatap.
"Sekarang apa?"
Terdiam sejenak. Xin Zhan seperti ingat sesuatu tapi entah karena sewaktu pertempuran kepalanya sempat terbentur, "Kita berangkat sekarang."
"Kau lupa kau membawa dua ikan asin kemari. Mau kau telantarkan dua orang itu agar terkubur sekalian mayat-mayat musuh?"
"Benarkah?"
"Kan. Hilang ingatan. Kau seperti baru saja kesurupan, membunuh seperti majikanku. Sekarang linglung. Ah sudahlah, lupakan saja dua ikan asin itu."
Sayap Ye Long terkepak lebar dan mereka segera pergi meninggalkan markas. Dua orang di dalam hutan yang masih mencari-cari terkejut melihat bayangan hitam yang mereka ketahui adalah Ye Long melintas.
"HOIII! KENAPA JADI DITINGGAL BEGINI!? HEIIIII!"
***
Cahaya terang yang terbentuk menyerupai tabung dan memancar dari bumi hingga ke langit seketika dialiri kekuatan hitam raksasa. Sekilas, terlihat seperti gurita yang terjebak dalam sebuah cangkang dan berusaha keluar dengan kaki-kaki nya. Begitu pula dengan apa yang terlihat kala itu.
Tali-tali hitam berusaha keluar tapi cahaya tersebut membunuh kegelapan sampai musnah menjadi debu. Terus terjadi berulang-ulang hingga kekuatan hitam di dalam tubuh lelaki itu habis.
Namun semua berjalan tak semulus itu. Tali-tali hitam itu begitu kuat sehingga beberapa darinya mampu menjangkau tempat Xin Chen berada dan menyerangnya dari berbagai sisi. Ujung tali itu tajam, mampu melukai Xin Chen. Lebih gawat lagi jika dia sampai terlilit.
Sementara dia menahan Xin Fai dari penjara cahaya, Roh Dewa Perang kembali keluar menampakkan dirinya ketika merasa kekuatan di tubuh Xin Chen mulai stabil. Benar saja, Bunga Api biru di keningnya menyala menyerap seluruh energi di Lembah Para Dewa.
Terutama dari api biru milik Naga Kegelapan yang memancarkan kekuatan besar. Dia dapat menyerapnya dan menjadikan itu kekuatan miliknya. Namun tidak dengan Naga Kegelapan.
Naga Kegelapan yang hendak menyerang Xin Chen dihadang begitu saja oleh Roh Dewa Perang yang saat itu memasang cengiran puas.
"Hah, baru berapa menit aku sudah kangen padamu."
Sesaat Roh Dewa Perang menoleh ke belakang. "Kita hampir sampai, Nak. Bertahanlah."
Secercah harapan muncul. Jika bukan karena Fu Hua mungkin keadaan sudah tak tertolong sama sekali. Dia tak menduga gadis yang terlihat seperti bocah manja itu bahkan berani-beraninya berjalan di atas api dan menentang iblis yang mengamuk di dalamnya.
"Benar-benar gadis yang gila. Sama seperti anak itu. Sebelas dua belas."
Fu Hua mundur ketika Xin Chen menyuruhnya pergi sejauh mungkin atau jika tidak tali hitam itu akan melenyapkannya.
Tak ingin diam, Fu Hua berjalan menjauh menuju satu tempat di mana dari kejauhan dirinya dapat melihat sosok naga biru yang terdampar begitu saja di atas daratan. Air yang melindungi tubuhnya telah mendidih oleh panasnya suhu. Dan sebenarnya saat itu pun, Fu Hua hanya punya waktu 2 menit sebelum armornya meleleh seperti lilin yang dibakar api.
Perutnya terasa sakit. Sepanjang jalan darah tumpah dari perutnya hingga jejak darah bertambah banyak seiring berjalannya waktu. Fu Hua tak menghiraukan dan bersikeras untuk pergi ke tempat Shui.
Tapi rasanya perjalanan sejauh itu tak akan sempat untuk dua menitnya yang begitu singkat. Fu Hua terengah-engah, tangannya masih menekan bagian perutnya yang bocor oleh tusukan tadi. Matanya nanar menatap ke depan.
Hingga tubuhnya hendak ambruk. Dia menyadari sesuatu menahannya. Tapi kali ini berbeda. Tangan tersebut selayaknya tangan siluman dengan bulu merah.
"A-anda-? Huo Rong ...?"
"Kau membawa sesuatu untuk temanku, bukan?"
"Bagaimana dengan pertempuran di belakang?"
"Tenanglah. Si Kakek bau tanah sedang mengurus kadal gosong itu. Percayakan pada dia."
"Baiklah. Aku tak punya waktu banyak. Bisa tolong antarkan aku pada Naga Air? Dan aku juga membawa sebuah pesan untuk mu."
"Aku sudah menduganya."
Huo Rong membawa Fu Hua dengan langkah yang sepuluh kali lebih cepat dari manusia biasa. Hingga mereka tiba pada jasad Shui yang sama sekali tak bergerak.
"Si Sepuh Yan She sejak dulu sangat tertarik dengan dunia para siluman. Tak heran ramuan yang diciptakannya sebagian besar berhubungan dengan ramuan untuk para siluman." Huo Rong mengatakan itu ketika Fu Hua meneteskan ramuan yang diberikan Yan She dalam kendi ke mulut Shui.
"Kalian berdua kelihatannya begitu dekat."
"Benar. Kalau kami berdua dekat. Kematian juga dekat. Kau tahu, kami sering bertengkar. Bahkan hanya karena aku membunuh semut."
Fu Hua mundur, melihat reaksi Shui sambil merespon. "Ahli obat Yan She meminta maaf karena saat kau terpuruk dia justru pergi dan tidak ada di sisimu. Hanya itu pesannya sebelum dia tiada."