
"Sialan kau, Qin Yujin! Jangan lari seperti pengecut!"
Qin Yujin berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu, lima terinfeksi di belakangnya mengikuti sambil terus melindunginya. Lelaki itu memalingkan wajah sedikit ke belakang, matanya menyorot penuh arti.
"Sudah ku katakan. Kita sama. Aku Kehancuran, kau Bencana. Aku pengecut, kau pecundang."
Qin Yujin menghilang bersama tawanya yang seakan-akan merobek telinga Xin Chen. Dia terpaksa harus menghadapi mahluk aneh mengerikan itu. Dan semuanya sangat sulit dikalahkan, Xin Chen membakar mereka dengan Api Keabadian dan benar saja kekuatan itu tak mempan membakar mereka.
Kobaran api menyala semakin terang sehingga dari kejauhan akan terlihat bias cahaya biru dari kota tersebut. Mereka yang berada di pusat Kekaisaran Wei mulai bertanya-tanya soal cahaya tersebut. Diiringi oleh dentuman lainnya yang datang, terinfeksi dari Labirin Kematian kembali dilepaskan.
Penjara Api Keabadian yang begitu tinggi bersinar terang selama tiga detik, membakar puluhan terinfeksi itu satu per satu. Namun serangan terus turun menyerang dirinya, Xin Chen mengambil jarak sejauh mungkin dengan menaiki atap bangunan lain. Mencari-cari keberadaan Qin Yujin meski nihil, sementara di bawahnya terinfeksi mulai memanjat dan menyusulnya begitu cepat.
Mereka dapat merangkak di dinding seperti serangga, beberapa melompat ganas. Menjadi bulan-bulanan terinfeksi berbahaya dan ditambah lagi mereka masing-masing memiliki tipe yang berbeda. Xin Chen menghindari segala jenis serangan, tapi beberapa cairan beracun sempat mengenai lengannya.
Keadaannya semakin terpojok, ledakan demi ledakan beracun sampai tak bisa dihindarinya. Xin Chen menebaskan pedang ke segala sisi, mengenai kepala mereka. Beberapa yang kena fatal di kepala mati seketika, tapi tidak dengan mereka yang lehernya tak sempurna terpotong.
Dengan kepala bergantungan, mahluk itu bahkan masih bisa berdiri. Xin Chen mundur. Segala cara yang dilakukannya tak akan membuatnya selamat, kecuali dengan menggunakan kekuatan roh.
Mendapatkan tempat yang lebih aman untuk mengontrol kekuatan, Xin Chen langsung mengalirkan sang kekuatan kegelapan ke seluruh tubuhnya. Beberapa terinfeksi yang berhasil mencapai tempatnya hanya mencakar udara. Xin Chen tersentak, sebuah kekuatan mengerikan membuat seluruh tubuhnya sakit luar biasa meski tubuhnya sekarang hanyalah tubuh tanpa wujud.
Namun sakit itu terasa begitu nyata. Lalu denyutan yang tidak ada ampun mulai terasa di kepalanya, Xin Chen berusaha menstabilkan kekuatan itu. Memaksa para roh untuk jinak dan mengikuti perintahnya, tapi yang terjadi justru kekuatan itu semakin membludak. Ratusan ribu roh bergejolak hebat, hendak keluar dari Kitab Pengendali Roh yang saat itu pula melayang di udara.
Lembar demi lembar terbuka sangat cepat, Xin Chen mencengkram sebelah tangan kanannya. Menahan kekuatan itu agar tak keluar tanpa kendali.
Tapi semua bergerak di luar kendalinya. Urat-urat di tangannya kembali bermunculan hingga ke wajah, penyakit itu kembali dan berusaha merenggut kesadarannya lagi. Itu adalah pertanda buruk. Xin Chen tak bisa menghentikan kekuatan roh saat ini dan kesadarannya sedang ditekan habis-habisan. Jika dia tak sadarkan diri para roh itu akan menyerang para manusia dan memakan ratusan ribu nyawa di Kekaisaran ini.
Gemetar di tangannya bukan lagi karena sakit yang ditanggungnya, Xin Chen mulai merasakan satu hal yang tak pernah dirasakannya lagi selama bertahun-tahun. Terasa begitu dekat dengannya, seolah-olah sang pencabut nyawa sedang berdiri di depannya.
Wajah keluarganya terlintas saat itu juga, dia berteriak berusaha menghentikan kekuatan roh yang semakin menggila.
Cahaya biru yang semula menerangi seisi kota tersebut kini berganti dengan kekuatan yang hitam pekat, berputar-putar membentuk pusaran angin dahsyat. Beberapa barang mulai berterbangan ketika kekuatan roh menguasai tempat tersebut. Xin Chen mulai tak mampu mengendalikan tubuhnya, matanya mulai memburam. Namun hasrat pembunuh mulai menjalari otaknya, melihat ratusan terinfeksi tipe S yang bergerombolan hendak menyerangnya.
Insting mempertahankan diri menguasai otaknya. Kesadarannya yang hanya tersisa satu persen berusaha menolak itu. Dia tahu, jika dia menyerang para terinfeksi itu maka penyakit itu berhasil merenggut dirinya.
Pusaran angin yang digelayuti oleh kabut hitam tampak begitu mengerikan, Lian mundur semakin jauh. Ketakutan hebat melanda seluruh tubuhnya hingga menggigil. Dia tak pernah menyaksikan fenomena mengerikan itu, seumur hidupnya. Dentuman lain terus berdatangan dan bagai disambar petir, Lian terpaku mati di atas jalanan. Kakinya membeku begitu pun darahnya. Dia memucat, ketakutan semakin merajalela.
Di hadapannya kini, bukan hanya seratus ribu terinfeksi berdatangan ke arahnya. Mereka menyebar dan mulai mengejarnya bersama suara raungan yang begitu menakutkan.
Lian berusaha lari secepat yang dia bisa, karena tenggelam di antara lautan mayat hidup itu tak akan memberikannya kesempatan hidup sepeserpun. Dia menjerit. Tak percaya apa yang mereka hadapi akan semenakutkan ini. Shuo telah tiada, Xin Chen mungkin telah terbunuh dan sekarang giliran dirinya.
Ketika Lian menoleh ke belakang, dia tak merasakan ada kesempatan hidup untuknya. Terinfeksi itu terlalu cepat. Di depannya sekarang kekuatan roh semakin membesar, ibaratnya sebuah topan yang mengelilingi sesuatu di tengah-tengahnya yaitu Xin Chen sendiri. Lian sadar, terinfeksi itu bukan hanya mengejarnya melainkan berlari ke arah Xin Chen saat ini.
Angin membawa lari harapannya untuk kembali pada Yu dan memberikan makanan kepada orang-orang Perkemahan Tenggara. Lian meneteskan air mata, melihat di depannya bagaikan lautan dengan gelombang yang amat dahsyat hingga bumi bergetar, berusaha menenggelamkannya sampai mati. Dia berhenti berlari dan berdiri di hadapan para terinfeksi itu. Jantungnya berdetak begitu kencang, Lian tak begitu siap menerima kematiannya tapi tak ada yang bisa dilakukannya lagi.
Menunggu kematiannya.
Kekuatan hitam semakin tak terkendali. Garis Hitam bermunculan, muncul dari bawah tanah hingga membuat tanah itu retak. Seperti sebuah gurita raksasa yang sedang mencengkram satu bangunan tempat Xin Chen berada. Garis Hitam itu menghajar ke segala arah. Membunuh ribuan terinfeksi yang berdatangan dari pusat kota tempat Labirin Kematian berada.
Topan hitam pekat menggulung mayat-mayat yang terus berdatangan tanpa sebab yang jelas. Dalam sekali waktu, suara raungan dari kejauhan terdengar. Seakan-akan para terinfeksi itu tertarik menuju ke tempat Xin Chen berada.
Rubah Petir yang telah menyadari ada yang salah sejak di persembunyian datang ke tempat Xin Chen. Melihat kehancuran mulai trjadi saat Xin Chen kehilangan keseimbangannya. Tanah retak sampai berkilo meter akibat Garis Hitam.
"Xin Chen, berhenti! Kau kehilangan kesadaranmu, kau dengar aku?!"
Fu Hua yang memaksa ikut bersama Rubah tertegun. Tak pernah melihat kehancuran separah ini yang disebabkan oleh manusia. Jika itu siluman penguasa bumi, maka tak akan membuatnya terkejut. Roh itu mulai memakan para terinfeksi. Wajah Rubah Petir berubah gawat.
"Mereka memanggilku ..." Suara Xin Chen terdengar sayup-sayup, Rubah Petir semakin kalut. Dia berusaha tenang memikirkan jalan keluar. Itu sudah bukan Xin Chen lagi, melainkan penyakit yang mengendalikan pikirannya. Semakin ganas beringas merenggut tubuh dan otaknya.
Fu Hua berteriak.
"Terinfeksi ini memanggilmu?"
Tidak ada jawaban. Namun sekali lagi sesuatu bergerak di bawah tanah, seperti sesuatu yang begitu besar dan raksasa.
"Kitab Pengendali Roh - Sang Iblis Pembantai."
"Bagaimana bisa Xin Chen menggunakan kekuatannya sementara dia kehilangan kesadaran?!" Fu Hua tampak panik ketika Xin Chen memanggil roh-roh kuat berikutnya. Ukuran mereka nyaris menyaingi satu bangunan, bentuknya menyerupai setan dengan jubah besar serta sabit. Fu Hua merinding bukan main. Mereka tak hanya satu atau dua, melainkan enam sekaligus. Melayang melewati para mayat hidup dan membunuh mereka dengan senjata besar yang mulai menghancurkan rumah serta bangunan kota.
"Berlindung!" Rubah Petir menggunakan perisai petir untuk menahan reruntuhan yang berjatuhan.
"Ini tak boleh terjadi, tubuh terinfeksi itu mungkin saja masih memiliki roh di dalamnya. Semakin banyak roh milik Xin Chen mengambil roh dari terinfeksi itu, semakin besar kekuatan itu ..."
"Apa yang akan terjadi?"
Rubah terlihat sangat prihatin untuk pertama kalinya bagi Fu Hua.
"Dia akan jauh lebih mengerikan, bahkan daripada Pedang Iblis sendiri."
Fu Hua berjalan, berusaha mendekati Xin Chen. Roh jenis lainnya terus dipanggil Xin Chen, Setan Pengamuk membantai ratusan terinfeksi dalam waktu cepat, memaakn jiwa-jiwa tersebut seperti mahluk kelaparan. Tarian Dua Belas Roh menguasai wilayah barat, satu per satu roh itu menari dan membunuh apa pun yang dilewatinya.
Lalu terdengar suara permainan suling yang begitu mengganggu pikiran. Berawal dari Roh lainnya yang duduk di atas atap rumah yang sebagian hancur. Setan Peniup Seruling membangkitkan para roh lainnya, membuat pergerakan jauh lebih ganas.
Rubah bahkan tak dapat melihat di mana muridnya saat ini. Fu Hua menepuk jubahnya, lalu menunjuk ke atas.
"Lihatlah ..."
Rubah Petir terdiam cukup lama. Awan yang semula hanya kelabu kini telah berganti menjadi awan hitam pekat. Tapi sebenarnya itu bukanlah awan, melainkan kekuatan Xin Chen dan para roh milik Terinfeksi yang telah direnggutnya. Berkumpul di atas membentuk gumpalan kabut hitam mengerikan.
"Ini akan menjadi malapetaka jika dia tidak dihentikan."