Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 54 - Jangan Pergi


Pertarungan berlangsung kian sengit tiap bertambahnya waktu. Seakan-akan semua kekuatan yang telah mereka keluarkan tak ada artinya, Xin Fai justru menyerang semakin intens. Tak terlihat kelelahan atau kesakitan. Selayaknya manusia yang dipermainkan seperti boneka. Mulutnya tak berbicara. Hanya saja raganya terus bergerak mengintai, menyerbu nyawa Xin Zhan yang selalu berada di ujung tanduk.


Seraya berjalan menjauh dari Xin Fai, Xin Zhan mengeraskan ketegangan otot-ototnya, menumpunya di kepalan tangan. Tidak ada yang melihat gemetar di seluruh tubuhnya. Kemudian Xin Zhan memandang langkah kedua kakinya, merasa dirinya sebentar lagi akan tumbang dalam pertarungan yang luar biasa menguras tenaganya. Kian jauh, Xin Zhan melepas kepalan tangan dan memandangi keduanya yang juga bergetar, padahal udara sama sekali tak dingin. Ia menumpu kedua telapak itu dan menurunkannya dari pandangan.


Xin berjalan sembari mendongak menutup wajahnya, menahan tawa pedih dan air mata yang tiba-tiba menyusupi hatinya. Ia meloloskan dengkus kasar. Mencoba meraih kembali pedangnya yang kini tertancap di tanah, dari tangannya aliran darah mengalir deras. Benar, Xin Fai berhasil menyayat lengannya hingga ke tulang. Usai menancapkan pisau kecil di bagian mata terkutuk pada tubuh Xin Fai, laki-laki itu mendadak jauh lebih agresif dari sebelumnya.


Entah karena alam bawah sadar Xin Fai merasa terancam. Xin Zhan merasa tak mampu mengimbangi lagi jika Xin Fai melepaskan kekuatan aslinya saat ini.


Terengah-engah, Xin Zhan mundur tiga kali ketika lawannya meloncat tinggi ke arahnya. Pikirannya terfokus pada titik di mana mata-mata itu berada. Dari balik sakunya, Xin Zhan mengeluarkan sebuah benda berbentuk tabung kecil yang terbuat dari bambu. Itu adalah senjata rahasia lainnya yang dia siapkan sebelum tiba di Lembah Para Dewa.


Meski sudah memperhitungkan bahwa dirinya pasti akan berada di situasi terpojok seperti ini, Xin Zhan merasa tetap enggan melanggar kode etik yang telah ditanamkannya di hati selama belasan tahun. Pertarungan dan kehormatan adalah sesuatu yang tak bisa dilepaskan satu sama lainnya.


Tapi janjinya pada Ren Yuan, serta bayangan saat melihat wanita itu menangis setiap kali mengingat suami dan putra keduanya yang telah menghilang. Semua itu membuatnya terpuruk. Merasakan sakit yang teramat dalam. Sejak kecil, Xin Fai jauh lebih akrab dengan Xin Chen. Sementara dirinya lebih dekat dengan ibunya, Ren Yuan. Wanita itu adalah segala-galanya bagi Xin Zhan.


Bersama Ren Yuan hingga dirinya beranjak dewasa, tanpa sosok ayah. Dan selalu merasa bersalah akan segala hal yang menimpa keluarga mereka. Xin Zhan tak ingin lebih lama berada di posisi ketakutan itu.


Dan setelah dirinya menemukan adiknya masih hidup dan ayahnya dapat kembali ke rumah kecil mereka. Xin Zhan ingin terus berjuang. Meski harus membunuh kehormatan dan garis yang telah diikuti nya selama ini.


Jika harus melepaskan status ksatria nya menjadi seorang pencuri, Xin Zhan akan melakukan itu. Demi menjaga apa yang hendak dijaganya.


Xin Zhan meniup benda itu, jarum tajam keluar dari sana dan langsung menancap di tiga mata hitam.


Mata-mata di tubuh Xin Fai bergerak liar, kesakitan. Lalu menghilang membentuk asap tipis. Benar saja, bekas mata itu menghilang tanpa bekas.


Kini Xin Zhan tahu apa yang harus dilakukannya. Setidaknya hal itu mungkin akan membantu Xin Fai mendapatkan kembali kesadarannya. Andai Xin Fai kembali sadar, ada banyak sekali hal yang ingin dikatakannya pada laki-laki itu. Beberapa serangan Xin Zhan meleset.


Seperti sebelumnya, setiap kali satu mata menghilang Xin Fai akan jauh lebih ganas. Energi kegelapan dari tubuh Xin Fai semakin menguat, kabut-kabut hitam tersebar ke segala penjuru dalam waktu singkat. Hingga beberapa waktu kemudian, kabut kegelapan telah menguasai seperempat Lembah Para Dewa. Xin Zhan memahami sekitarnya mulai menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya.


Tak ada suara atau pergerakan yang dapat ditangkapnya. Ini sangat berbahaya. Sudah memasang mata dan telinga sebaik mungkin pun, bahkan bunyi daun yang jatuh saja tak lagi terdengar di telinga Xin Zhan.


Dia tak bisa menebak apakah ini semua pengaruh dari kekuatan kegelapan yang kini dimiliki Xin Fai. Rasanya instingnya jauh menumpul bila berada dalam lingkaran kabut hitam itu.


Xin Zhan terkesiap dan menoleh ke belakang. Ia tak menyadari sejak kapan seorang pria hadir beberapa langkah di belakangnya. Sontak tanpa berpikir panjang dia mengarahkan pedang ke belakang. Menghunuskan benda itu tepat ke arah seorang lelaki yang mengejutkannya hingga termundur beberapa meter.


Xin Zhan bertanya cepat, matanya awas. Pikirannya tak bisa menebak siapa gerangan yang tiba-tiba berada di tempat yang seharusnya sudah kosong ini. Semenjak kehadiran Xin Fai dan Naga Kegelapan, nyaris tak bersisa satu pun manusia di Lembah Para Dewa. Beberapa prajurit berhasil selamat dari pertempuran dan pastinya sedang menggelar rapat untuk menghadapi situasi yang mereka alami. Selagi itu keduanya diperintahkan untuk bertarung menghadapi musuh. Hidup atau mati.


Terdengar tak mungkin dan gila. Tapi itulah yang saat ini terjadi kepada keduanya. Lalu siapa gerangan pemuda dengan mata yang begitu kelam, hitam mengalahkan malam itu? Parasnya bisa terbilang tampan dengan alis lebat dan pandangan tajam. Xin Zhan mundur saat pemuda itu mendekat.


"Tak kusangka di zaman seperti sekarang manusia seperti mu masih hidup."


"Apa maksudmu?"


"Kau bertahan sejauh ini melawan seseorang dengan kekuatan luar biasa. Hanya dengan kekuatan seadanya dan pedang rapuh di tanganmu?"


Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya ke belakang. Di balik kabut tebal, seorang laki-laki muncul. Wajahnya tertunduk dan tak lagi menyerang seperti sebelumnya. Xin Zhan menyadari bahwa pemuda dengan mata hitam itu adalah orang yang sama dengan sosok yang ditemuinya di dimensi Hujan Darah milik ayahnya. Matanya amat menyeramkan. Sangat. Meski pemuda itu justru tersenyum kepadanya.


"Kita memiliki mata yang sama."


Xin Zhan mundur.


"Apakah menurutmu mata ini terkutuk?"


Dia memegang matanya, terlihat sendu.


"Semua orang ketakutan dengan mata ini. Bukankah warna yang begitu hitam akan menakutkan. Dalam kegelapan, matamu bahkan jauh lebih hitam."


"Ibuku tak pernah mengatakan bahwa mataku ini terkutuk. Dan aku sama sekali tak punya hubungan darah denganmu. Mata kita tak sama. Hanya itu yang bisa ku katakan."


Pemuda itu menjawab tak lama kemudian. "Tetap saja, mata kita sangat-sangat buruk. Kau tidak ketakutan? Jika tiba-tiba seseorang datang padamu, menginginkan mata itu. Dan membuatmu buta. Kau tidak bisa menjadi manusia, atau bahkan alat bertarung bagi tuanmu nanti. Lalu kau akan jadi apa selain gelandangan?"


Xin Zhan tak mengerti ke mana laki-laki berbicara. Alisnya bertemu, tak tahu harus mengatakan apa.


"Ibuku selalu mengatakan bahwa mataku sangat indah. Aku tidak ketakutan. Dan jangan samakan aku dengan mu."


Terdengar dengkusan samar dari pemuda itu. Xin Zhan merasa bahwa pemuda itu bukanlah orang seumuran nya. Sama sekali bukan. Dia justru merasa seperti berbicara dengan seorang kakek-kakek dengan tubuh remaja. Caranya menatap, berdiri dan berbicara sama sekali tak menunjukkan kepribadian naif dan labil yang biasanya dimiliki oleh orang seumurannya.


Namun Xin Zhan sama sekali tak peduli dengan apa yang ada di pikiran pemuda itu.


"Hentikan perbuatan mu. Kau sudah terlalu jauh mempermainkan Pedang Iblis. Dia adalah ayahku. Lepaskan kutukan ini."


"Atau apa-?" Kesal, pemuda itu menjawab. Nada bicaranya tenang. Kentara terlihat emosi di wajahnya yang begitu putih seperti mayat.


"Aku tak akan menyerangmu."


Pemuda itu menatapnya penuh tanda tanya.


Xin Zhan menatap ke atas, beberapa ratus meter di mana sebuah pertarungan dahsyat sedang memporak-porandakan Lembah Para Dewa. Bahkan bukit pun nyaris rata dengan tanah akibatnya.


"Manusia gila lainnya ... Dulu aku pernah mendengar cerita tentang seorang pendekar yang menghabisi Naga Es dengan tangannya. Siluman Penguasa Bumi terkuat pertama. Dan sekarang anaknya, mengikuti jejak ayahnya?" Dia berucap nyaris tak percaya.


"Keluargamu memang mengerikan hahaha."


"Lepaskan Ayah kami. Perang ini akan selesai dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah."


Nada bicara Xin Zhan menurun. Tapi apa yang didapatinya justru sesuatu yang membuatnya marah.


"Melepaskan kalian? Cih, jangan bermimpi. Kau punya tujuanmu sendiri. Maka musuhmu punya tujuan sendiri pula. Kau terlalu egois meminta mereka melepaskan tujuan mereka agar keinginan mu terpenuhi. Sekarang ini, hanya tersisa siapa yang bisa menang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bukan begitu?"


Xin Zhan mencengkram kian erat pada gagang pedang, dadanya mulai terlihat naik turun. Meski begitu dirinya tampak tenang mengendalikan dirinya.


"Baiklah kalau begitu. Dan juga apa tujuanmu menunjukkan diri? Kau tahu aku bisa saja menyerangmu."


"Aku hanya ingin mengatakan. Kalau kau terus-menerus menghancurkan mantra mata di tubuh Pedang Iblis, maka kendali ku pada orang itu akan rusak."


Xin Zhan ingin tertawa. Apakah pemuda itu takut sampai-sampai jauh-jauh pergi ke padanya dan memberitahukan keresahan hatinya secara gamblang?


Sangat tak masuk akal.


"Kau mau tertawa? Silakan. Tapi lihatnya jika segel kendaliku lepas. Tak ada yang bisa menghentikan Pedang Iblis yang mengamuk. Dia kehilangan ingatannya asal kau tahu. Karena semenjak hari pertama dirinya dibawa ke Kekaisaran Qing, Tuan Qin sudah memberikannya ramuan racikan ahli obat tersohor. Untuk membersihkan ingatannya dan menggantinya dengan ingatan baru."


"Ingatan baru?"


Pemuda itu tersenyum di balik kabut hitam yang bergerak menutupi wujudnya. Perlahan-lahan dirinya menghilang bersama sejumlah pertanyaan yang mulai muncul di kepala Xin Zhan.


Di detik selanjutnya apa yang menyerang Xin Zhan membuatnya terpental jauh puluhan meter. Xin Fai telah berada di bawah kendali laki-laki bermata hitam itu. Dan kekuatan sepuluh kali lipat jauh lebih besar dari sebelumnya.


Semua pertanyaan di kepala Xin Zhan dia tepis jauh-jauh. Saat ini jauh lebih penting memfokuskan perhatian pada pertarungan di depan mata. Salah langkah dia tak akan selamat. Meski yang di depannya adalah ayahnya sendiri, kemungkinannya mati sangatlah besar. Karena laki-laki itu sudah tak memiliki kendali atas tubuhnya sendiri. Dan apa yang tersisa darinya hanyalah sedikit ingatan yang mungkin sulit dikembalikan.


Xin Zhan sudah mencoba mengelak semampunya tapi berulang kali Xin Fai berhasil mengenai tubuhnya.


Darah mencuat tinggi di bahu Xin Zhan, pemuda itu jatuh berlutut di depan Xin Fai yang baru saja menancapkan pedang itu. Setengahnya ke dalam daging Xin Zhan, anaknya sendiri.


Saat ini, Xin Zhan nyaris tak punya kekuatan untuk memulihkan dirinya sendiri. Dia benar-benar akan tamat. Xin Fai sudah berada jauh dari jangkauannya. Bahkan untuk menghindar saja kini dia tak mampu lagi melakukannya.


"Ayah ..." Panggil Xin Zhan lemah. Mulutnya kembali mengeluarkan darah di kedua sudut bibir.


"Aku benar-benar menyesal membiarkan mu pergi hari itu." Dia menunduk, membiarkan anak rambutnya berjatuhan menutupi wajahnya yang penuh dengan darah.


"Chen'er begitu terpukul. Dia menghilang. Sedangkan ibu jatuh sakit dan terus menangisimu. Aku ingin hancur tapi aku sadar posisiku dan tak mau ikut menangisi kepergian mu."


Tak ada reaksi dari Xin Fai.


Dan untuk pertama kalinya, di bawah langit gelap dan pedang di tangan Xin Fai yang hendak menghujam ke kepala Xin Zhan. Xin Zhan menangis. Menahan semua beban dan Isak tangis yang ditahannya bertahun-tahun.


"Aku tak sekuat itu. Aku bukan kakak yang hebat untuk menahan semua beban di pundak ku. Merawat ibu, menjaga adikku, mengambil tanggung jawab besar menjadi Pilar Kekaisaran pertama, menumpu semua harapan masyarakat padaku. Aku hanya orang lemah. Hanya orang bodoh yang berusaha untuk selalu berdiri di depan yang lain. Bahkan ketika aku merasa tak mampu ..." Ucapannya berhenti, bibir Xin Zhan bergetar. Dan dia hanya berharap saat itu Xin Chen tidak melihatnya. Melihat sisi rapuh yang selalu di sembunyikan olehnya.


"Aku selalu merindukan saat-saat aku bercerita padamu tentang hari-hari ku. Rasanya sangat lega. Meski kau tak membantu apa-apa dan justru mengkhawatirkan Xin Chen yang ceroboh saat latihan. Ayah ... Bisakah kau kembali? Aku merasa tak sanggup menjadi dirimu. Padahal sejak dulu aku selalu mengagumimu dan ingin menjadi sosokmu saat dewasa. Impian itu ternyata adalah hal yang paling mengerikan."


Xin Zhan ingin berbicara lebih banyak lagi sebelum nyawanya akan melayang dalam hitungan detik lagi.


"Kau tahu, bukan hanya keluargamu. Tapi semua orang menunggumu. Perang ini sudah begitu lama terjadi. Mengapa semuanya menjadi seperti ini?"


Xin Zhan mendongakkan wajahnya. Kini mata pedang berada tepat di atas pangkal hidungnya. Dalam sesaat lagi, benda itu akan menembus tengkoraknya. Tak diragukan lagi kematiannya sudah berada di depan mata.


"Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Begitu banyak hal yang ingin ku sampaikan sebelum aku pergi. Tapi, jika Ayah tak ingin mendengarkan." Kalimatnya terpotong, dia berat hati mengatakan. Dan di saat bersamaan pula, mata kirinya mengeluarkan air mata.


"Bunuh aku."


Mata hitam itu kosong seperti tak bernyawa.


Xin Fai membuka matanya. Lantas pedang di tangannya dia lempar jauh. Laki-laki itu berlutut di depan Xin Zhan yang terdiam membisu cukup lama.


Terlihat pergerakan yang aneh. Tubuh Xin Fai menolak sesuatu yang diperintahkan padanya. Tapi pada akhirnya, tangannya tetap lolos dan kini mencekik Xin Zhan yang sama sekali tak mengelak darinya.


Cengkraman semakin erat. Xin Zhan nyaris tak bernapas dibuatnya. Tulang lehernya terasa seperti akan remuk. Mata Xin Zhan memburam, kesadarannya akan hilang. Tapi sesaat dirinya dapat melihat mulut ayahnya bergerak tanpa suara.


"Jangan pergi."