Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 173 - Selamat Pagi, Tuan Putri


Xin Chen tertegun dan langsung membalikkan badan, menyadari Ren Yuan sudah siuman. Dia menarik napas lega, luka luar wanita itu sudah dia sembuhkan sebelumnya.


Ye Long datang dengan segelas air, memberikannya pada Ren Yuan yang kini dibantu Xin Chen untuk duduk. Ren Yuan tersenyum lemah, menepuk pelan kepala Ye Long. Lalu meminum air itu karena memang tenggorokannya terasa kering. Masih ada rasa sakit di tubuhnya tapi Ren Yuan menahannya.


"Kau pulang membawa Tuanmu."


Ye Long semakin bahagia saat Ren Yuan mengelus-elus kepalanya. Sementara raut wajah Xin Chen masih sama khawatirnya, dia ingin bertanya apa yang telah menimpa Ren Yuan dan siapa orang yang mencelakainya. Tapi diurungkannya sementara. Dia tak mau merusak suasana bahagia Ren Yuan dan Ye Long.


"Tidak perlu khawatir, Chen'er."


"Makanlah dulu, ibu semakin kurus semenjak aku pergi. Ck, entah ke mana perginya ayah dan Xin Zhan. Membiarkan ibu sendiri, tahu begini aku yang tinggal di rumah."


Omelan Xin Chen menghadirkan senyum bahagia di wajah Ren Yuan.


Xin Chen bertanya-tanya. Apa yang telah menimpa Ren Yuan seakan-akan tak mengganggunya sama sekali. Dia tak mengerti dengan jalan pikir wanita itu. Dia mengambil makanan untuk Ren Yuan, menyuapinya sambil menunggu saat yang tepat untuk bertanya.


Sementara Ye Long kembali berkeliaran seperti biasa. Mungkin kali ini mau mengganggu kandang juragan kambing di Kota Fanlu. Atau merecoki kebun ubi orang.


"Aku tak mengerti ... Soal penyakit ibu dan apa yang terjadi hari ini. Pasti ada benang merahnya, aku mencurigai satu orang. Tapi bisakah ibu mengatakannya, siapa yang melakukan ini pada ibu? Mungkin masih teringat wajahnya?"


"Ibu tidak ingat."


Xin Chen membuang napas lemah, menyuapi Ren Yuan lagi. Dengan begini dia tak boleh meninggalkan Ren Yuan sendirian tanpa pengawasan. Ayahnya dan Xin Zhan sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Ibu pasti akan sembuh. Beristirahatlah yang banyak. Aku sudah membawa penawarnya untuk ibu."


Riak wajah Ren Yuan berubah. Seakan tak percaya, dia menyentuh tangan kiri Xin Chen sambil memastikan, "Kau ... Menemukannya?"


Terjadi jeda sejenak, Xin Chen menarik senyum tipis.


"Aku sudah menemukannya. Seorang Guru Besar di Kuil Hujan, pelosok Kekaisaran Wei telah meneliti penyakit ini dan aku menemukan bahan terakhir untuknya."


Ingatan ketika Xin Chen jatuh di depan Laboratorium A-3 dan melihat sepintas bayangan siluman bercahaya yang merupakan Rusa Keledai nyatanya benar dan bukan halusinasi. Lang saat itu segera memburu siluman itu baru menyelamatkan Xin Chen dengan membawanya segera ke Kuil Hujan. Lang hanya mengambil bagian gigi Rusa Keledai dan tanduknya untuk diberikan kepada Luo Mei.


Ren Yuan memintanya bercerita lebih banyak tentang petualangannya di Kekaisaran Wei. Dia hanya mendengarkan Xin Chen menjelaskan semua hal mengerikan dan orang-orang yang menjadi korban di sana. Wanita itu sama tak percaya dengannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kekaisaran Wei. Tempat itu telah hancur dari dalam. Namun ketika Xin Chen menjelaskan soal sosok bernama Shi Long Xu, Ren Yuan sedikit lega.


Xin Chen tak menceritakan semuanya, dia menutup-nutupi hal yang tidak perlu Ren Yuan ketahui. Salah satunya adalah kenyataan bahwa kepala Xin Chen kini telah menjadi buronan satu Kekaisaran Wei. Beruntung dia selamat dari sana.


Tapi tak menjamin bahwa dirinya benar-benar aman. Xin Chen belum memastikan langkah selanjutnya yang akan dia ambil. Dan satu hal lagi, kenyataan bahwa dia pernah tergigit terinfeksi dan masih ada kemungkinan kecil penyakit itu akan kembali. Sekarang dia hanya fokus untuk kesembuhan Ren Yuan. Selagi Ayah dan kakaknya tak berada di rumah.


Xin Chen berniat membawa piring dan gelas ke dapur, Ren Yuan segera bersuara gelisah.


"Mau ke mana, Chen'er?"


Ketakutan di wajah Ren Yuan tampak sangat kentara, dia mendekat.


"Aku ke dapur, sekalian membuat teh hangat."


Dia menambahkan, "Seluruh tempat ini dilindungi oleh perisai roh. Ibu tidak perlu takut. Kalau ada pergerakan mencurigakan aku akan tahu. Berbaringlah, aku ke dapur sebentar."


Wanita itu mengangguk.


Hanya beberapa menit Xin Chen kembali dengan minuman lain, asap panas dari cangkir itu membawa aroma obat-obatan yang tercium begitu kental. Ren Yuan melihat isi cangkir yang berwarna merah bening tersebut, mengalihkan matanya kepada Xin Chen yang langsung menjelaskan.


"Penawar Kristal Merah. Lebih cepat ibu minum, lebih baik."


Seharusnya sekarang keadaan tubuh Ren Yuan sudah membaik daripada sebelumnya. Luka luar telah ditutup, luka dalam pun sudah ditanganinya dengan obat paling ampuh. Xin Chen tak mau mengulur waktu lebih lama lagi, obat itu didapatkannya dengan susah payah. Dia ingin cepat-cepat melihat Ren Yuan sembuh.


Ren Yuan menerima cangkir itu, menikmati aroma obat yang membuat paru-parunya terasa lapang. Lalu meminum obat itu perlahan-lahan.


Dalam beberapa kali tenggak obat itu telah habis, Ren Yuan berniat meletakkannya ke atas meja namun tiba-tiba cangkir itu terlepas dari tangannya. Denyut mematikan membawa rasa sakit yang luar biasa di dadanya.


"Bertahanlah."


Ren Yuan yang menggenggam erat tangan Xin Chen, anak keduanya itu dapat membayangkan sakit yang tengah ditanggung ibunya. Dia mengelus punggung Ren Yuan, membantu mengurangi rasa sakit dengan kekuatannya.


Xin Chen memberikan satu wadah untuk Ren Yuan mengeluarkan darah dari mulutnya. Keringat dingin bermunculan di pelipis wanita itu, terkadang dia terbatuk-batuk karena napasnya seolah tertahan di kerongkongan. Mata Ren Yuan berair, sakit yang dideranya amat luar biasa sampai untuk menarik napas saja rongga dadanya sangatlah sakit.


Serpihan merah keluar bersama darah. Xin Chen tahu itu adalah Kristal Merah yang sedang hancur di dekat jantung Ren Yuan. Penawar itu ampuh bukan main, tapi bayarannya adalah rasa sakit yang kini ditanggung Ren Yuan.


Xin Chen terus menjaga Ren Yuan yang tengah menghadapi penyakit itu, hingga satu wadah itu telah penuh oleh darah. Bahkan Xin Chen memerlukan satu wadah lagi. Delapan jam berlalu dan fajar mulai datang. Satu serpihan yang ukurannya seperti jari telunjuk keluar di akhir. Ren Yuan kehabisan tenaga, matanya mulai terpejam hingga akhirnya dia pingsan.


Xin Chen menyingkirkan darah tersebut. Lalu membersihkan sisa darah yang lain. Ren Yuan masih bernapas meski lemah. Tapi setidaknya Xin Chen yakin, wanita itu akan sembuh. Melihat serpihan yang merupakan Kristal Merah telah terpecah keluar dari tubuhnya. Xin Chen hanya berharap ibunya sembuh total.


**


Pagi di Kota Fanlu menjadi ramai sebab para pelancong dan orang-orang Kota sibuk mengobrol soal kabar yang beredar di Kekaisaran Wei. Namun kini kabar itu tenggelam oleh kabar lainnya, Ren Yuan diserang di kediamannya dan anak kedua Pedang Iblis kembali terlihat di Kekaisaran Shang setelah menghilang tanpa kabar.


Di antara kebisingan yang tak pernah habis di Kota Fanlu, seorang laki-laki baru saja pulang dari perjalanan jauhnya. Dia tiba di pelabuhan dengan khawatir yang nampak jelas di garis mukanya. Beberapa kali menyenggol orang, dia meminta maaf sambil terus berlari.


Rumah tempatnya kembali kini sepi dari luar. Laki-laki itu masuk secepatnya ke rumah hingga pelindung roh tak mampu mendeteksi keberadaannya. Dan langsung tiba di dalam kamar tempat istrinya dibaringkan.


Seorang anak muda yang wajahnya memiliki banyak kesamaan dengannya tertidur di sisi ranjang. Kelihatan sangat lelah. Dan dia melihat Ren Yuan, seperti tak kenapa-kenapa seperti yang dikabarkan telah berdarah dan ditikam.


Wajah Ren Yuan yang begitu damai pagi itu sudah lama tak pernah dia lihat. Meski dia terlihat amat pucat. Xin Fai mendekat, melihat sisa wadah dan kain dibawah ranjang. Xin Chen menjaga ibunya selagi mereka tidak ada. Dia merasa bersalah. Atas banyak hal yang terjadi di luae kendalinya.


Ketika Xin Fai hendak menyentuh kepala anaknya, Xin Chen bereaksi dan langsung menarik pedang. Menyilangkan benda tajam itu di leher ayahnya, masih terperanjat kaget.


Seharusnya pelindung roh membuatnya dapat mengantisipasi serangan dari luar dan tiba-tiba saja sudah ada orang lain di sisinya. Jelas Xin Chen kaget.


"Kapten rupanya."


"Refleks yang bagus. Berhenti memanggil ayahmu sendiri kapten. Sejak kapan aku jadi perompak." Xin Fai menepikan benda tajam itu. Menepuk kepala anaknya yang hanya tertawa kecil. "Kau pulang dengan selamat, jagoan nakal. Aku sangat bersyukur kau baik-baik saja. Dan ibumu ..."


Xin Fai tak menemukan segores pun luka di tubuhnya.


"Kau menyembuhkannya?"


"Selagi aku bisa melakukannya, kenapa tidak."


"Untunglah kau ada di sini."


Xin Fai mengecek suhu tubuh dan denyut nadi Ren Yuan seperti biasa. Namun pergerakannya tiba-tiba berhenti, dia mengecek lebih jauh lagi hingga mendengar aliran darah di tubuh Ren Yuan.


"Kau ... Menyembuhkannya?"


Xin Chen hanya tersenyum sebagai jawaban. Detik yang sama pula dapat dilihatnya mata Xin Fai mulai basah. Ayahnya itu memeluknya tiba-tiba, dia telah menyembuhkan penyakit Kristal Merah yang sampai sekarang masih tak ada penawarnya di Kekaisaran Shang. Semua orang mengatakan bahwa istrinya itu tak memiliki waktu lama lagi karena Kristal Merah tak memiliki penawar.


Dan Xin Chen jauh-jauh mempertaruhkan nyawa ke Kekaisaran Wei hanya untuk mencari satu penawarnya. Xin Chen kembali dengan selamat saja sudah membuat Xin Fai bahagia, sekarang anaknya juga membawa kabar baik yang tak pernah dibayangkannya akan terjadi. Ren Yuan sembuh.


Xin Fai buru-buru menyembunyikan harunya ketika Ren Yuan mulai terbangun. Dia berdiri di sisi lain ranjang.


"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa Xin Fai seperti yang biasanya dia lakukan. Xin Chen tertawa kecil, keharmonisan di antara kedua orang tuanya tak pernah pudar meski telah menikah belasan tahun.


Ren Yuan terbangun, merasa tubuhnya lebih baik. Sambutan hangat langsung menyapanya, dia melihat ke samping menyadari Xin Fai telah pulang dari tugasnya yang memakan waktu berminggu-minggu.


"Selamat pagi juga, dayangnya Tuan Putri," canda Ren Yuan.


Xin Fai tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan langsung memeluk Ren Yuan erat-erat.


**