Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 53 - Retakan


Garis hitam terlepas seluruhnya, retakan besar terdengar di beberapa bagian tubuh Naga Kegelapan. Terdengar amat nyaring diiringi suara lengkingan naga tersebut yang semakin mengamuk.


Roh Dewa Perang melepaskan kekuatannya, matanya menengok ke atas. Membiarkan manusia yang sejak beberapa waktu lalu mulai dipercayainya itu, menghabisi Naga Kegelapan dengan tangannya sendiri.


Pedang di tangan Xin Chen bersinar begitu indah, kilat dari bilah pedang terlihat sangat menawan. Memantulkan wajah Xin Chen yang kini mengarahkan senjata tajam itu lurus di atas kepala Naga Kegelapan. Benda itu menusuk tajam, menukik dan menancap kemudian di tubuh siluman itu. Tiga detik tak terjadi apa pun hingga akhirnya cahaya terang muncul di seluruh tubuh Naga Kegelapan.


Xin Chen sama sekali tak melepaskan tangannya dari pedang tersebut, sementara kekuatan cahaya dan kekuatan iblis yang berpadu di dalam pedang tersebut kini tengah menggerogoti sang naga. Kulit luar Naga Kegelapan rontok seluruhnya, nyaris tanpa sisa. Retakan dari kulit luar yang serupa perisai bagi Naga Kegelapan itu jatuh berhamburan di atas tanah, menimbulkan getaran dan gempa kecil di Lembah Para Dewa.


Erangan Naga Kegelapan semakin terdengar riuh. Xin Chen memperdalam tancapan pedang itu, mengalirkan seluruh kekuatan yang dia punya. Namun bukannya justru kekuatannya yang tersedot habis, Xin Chen merasakan seperti pedang tersebut justru mengalirkan nya kekuatan. Hal itu sama sekali tak diketahuinya, Xin Fai tak pernah menyinggung tentang pedang ini. Pun, tak banyak yang tahu bahwa kedua pedang pusaka langit yang diincar oleh seluruh pendekar ini telah menyatu saat pertarungan melawan Naga Es. Sang Pengendali Waktu.


Cahaya masih bersinar terang melewati celah-celah retakan kulit luar Naga Kegelapan. Hingga akhirnya serangan mulai mereda, dan kini Naga Kegelapan menjauh. Terlihat wujudnya yang jauh berbeda dari apa yang biasa Xin Chen lihat. Tubuh raksasa yang sekeras batu, sehitam jelaga dan tebal mengalahkan besi berton-ton itu kini tak lebih dari seekor naga dengan lapisan kulit luar yang tak jauh berbeda dengan kulit gajah.


Mata keduanya bertemu. Naga Kegelapan memancarkan aura pembunuh, tampaknya dia memang tengah dilanda kemarahan yang hebat, tapi di sisi lain naga itu juga tak berani menyerang langsung seperti sebelumnya. Dia jauh lebih waspada. Atensinya beberapa kali tertarik ke arah Roh Dewa Perang yang kini memainkan jarinya dengan sikap mengejek.


"Kerja bagus. Sekarang kita sedang melihat seekor kadal jelek telanjang. Hahahaha lucu sekali dia, menjadi lebih imut. Aku jadi ingin memeliharanya."


Xin Chen tak menggubris celotehan itu. Dibandingkan itu, dia justru menatap lama pedang di tangannya. Pedang itu seperti mengikuti apa maunya. Begitu cocok. Tapi mengapa dirinya hanya mampu menghancurkan kulit luar naga itu?


Detik-detik dirinya menghancurkan kulit naga itu, Xin Chen menyadari bahwa dia sama sekali tak melukai tubuh Naga Kegelapan. Segores pun tidak. Pikirannya terus bertanya-tanya mengapa, padahal Xin Chen yakin kekuatan yang dia keluarkan cukup untuk melukai Naga Kegelapan walau hanya satu sayatan.