Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 224 - Sebuah Dosa


'Jika ada yang lebih busuk daripada sampah, maka itu adalah kau.'


"Diam."


'Kau tak pantas untuk hidup. Bahkan untuk mati pun, bumi tak sudi menerima mayatmu.'


"Aku katakan diam!"


'Kau telah dibuang oleh keluargamu, kau dikutuk semua manusia, kau diasingkan, tak ada yang mengharapkan keberadaan mu. Kau adalah manusia paling hina di dunia.'


"Hentikan! Sialan! Arghhh!!"


Kedua lutut kakinya jatuh di atas permukaan sungai yang dangkal, dia memegang kepalanya dengan kedua tangan. Menutup telinga meski suara itu makin keras di pikirannya.


"Jika tak ada yang mau menerimaku, maka akan kupaksa mereka menerimaku. Benar ... Menjadi seorang pemimpin baru ... Aku sudah begitu dekat dengan itu. Kubuat mereka hancur dan harus berpaling kepadaku. Bahkan si cecunguk Xin itu. Akan kubuat dia menyembahku. Matilah ... Matilah kalian semua, sialan!"


Tangannya mencoba menghancurkan bayangan wajahnya yang terpantul di permukaan air.


Lelaki itu tak tahu mengapa semuanya menjadi sehancur itu.


Semuanya berawal ketika kudeta yang dilakukannya kepada Ayahandanya. Pada akhirnya saudaranya lah yang diangkat menjadi Kaisar selanjutnya. Caranya yang salah dengan menyewa Kultus Iblis untuk membantunya memenangkan perang itu merupakan malapetaka besar yang mengubah seluruh hidupnya.


Berawal dari situ, dia dipenjarakan.


Dihina, di maki-maki dan kehilangan kepercayaan semua orang-bahkan keluarganya sendiri. Kerabatnya tak lagi memandangnya sebagai manusia melainkan iblis. Saudara-saudaranya memperlakukan selayaknya kriminal.


Dia tak diberikan ampun.


Air matanya yang telah kering berubah menjadi amarah yang membakar jiwanya hingga ke akar. Dia hanya menginginkan semua orang melihatnya, bukan saudaranya.


Saat ini matanya dapat melihat pantulan wajah, wajah yang enggan dilihat semua orang. Wajah yang selalu dihadiahi tatapan benci. Kesedihan di wajahnya semakin membesar.


Mengingat seorang yang selama ini berada di sisinya, Qin Yujin kembali berduka atas kepergian Fu Qinshan. Dia baru menyadari bahwa selama ini wanita itu selalu mengutamakannya di atas segalanya. Fu Qinshan bukanlah alat untuk bertempur, wanita itu terkadang terlihat letih dengan semua ambisi yang dikejarnya.


Namun Fu Qinshan tak pernah mengeluh.


Meski dia harus membunuh adiknya sendiri, demi dirinya.


"Tak apa." Tetesan air jatuh dari wajahnya, membuat gelombang kecil di atas air.


Dia mengeluarkan sebuah jam kecil seperti kompas yang di dalamnya dimasukkan setitik darah. Darah itu menunjukkan petunjuk arah, tempat ke mana seharusnya Qin Yujin mengejar. Lelaki itu mengetahuinya, cara menemukan Air Mata Iblis. Darah milik sang iblis akan menunjukkan itu kepadanya.


Seringai mengerikan terpampang di wajahnya, kembali menemukan jati dirinya yang sebenarnya.


"Yah ... Mau bagaimana lagi. Semua orang membenciku. Bahkan malaikat pencabut nyawa pun begitu. Neraka atau surga mungkin menolakku. Maka satu-satunya tempatku adalah di sini dan melanjutkan Era Kemusnahan ini untuk Era Baru."


Dia bangkit sembari menatap lurus ke depan.


"Bagi mereka aku adalah sebuah Dosa seperti orang-orang terdahulu yang menyebut sang anak iblis sebagai Dosa. Maka aku tak keberatan untuk menjadi itu selamanya." Tatapannya berubah bengis, selama ini dirinya telah dikenal sebagai iblis tanpa hati. "Aku akan kembali, Xin Chen. Untuk menghancurkan mu dan mengambil jasad Fu Hua. Membangkitkannya dengan kekuatan iblis, dia adalah anakku. Sampai saat itu, kau tak akan bisa menghentikanku."


"Apa yang telah terjadi?"


Xin Chen tak berkutik saat melihat ke bawah, ribuan rumah terbakar oleh api. Bertumpuk-tumpuk mayat hidup membanjiri seluruh desa, perkotaan dan bahkan wilayah pinggiran. Ledakan terjadi dari kejauhan, tumbangnya bangunan tinggi dan raungan yang tak kunjung mereda. Semua ini bercampur aduk menjadi satu bencana paling mematikan.


Kiamat yang direncakan telah terjadi. Tangannya bergetar, seumur hidup tak pernah melihat kehancuran sebesar ini. Rasa sakit menyelinap di dalam hatinya, melihat anak-anak di bawah sana berlarian menyelematkan diri, ketakutan.


Sekarang apa yang dilihatnya sama seperti yang terjadi di Kekaisaran Wei. Bencana yang membuat siapa pun akan ketakutan. Xin Chen mengepalkan tangannya, percuma jika dia turun. Semua orang di sana telah menjadi terinfeksi. Selain itu sisanya telah tergigit.


"Jangan melihatnya jika kau tak sanggup."


Rubah di depannya menyadari hal itu. Ye Long terbang lebih tinggi, menyeimbangkan sayapnya dan terbang stabil di atas awan. Xin Chen tak menggubris dan masih menatapnya.


"Aku membiarkan ini semua terjadi."


"Pahami lah dengan otakmu yang hanya sebutir beras itu," celutuk Rubah Petir. "Hal buruk yang terjadi di luar kendalimu bukanlah kesalahanmu. Kau hanya belum siap untuk itu, jadikan itu sebagai pembelajaran bukan penyesalan."


Ucapan Rubah Petir membuatnya terdiam.


"Pembelajaran .." Xin Chen mencoba memahami maksud Rubah Petir. Siluman itu tak pernah mengatakan sesuatu sesederhana kata-katanya, selalu ada makna di dalamnya. Namun di tengah kekalutannya Xin Chen nyaris tak dapat berpikir. Cemas menghantuinya. Keadaan keluarganya dia sendiri tidak tahu.


Namun Ye Long mengatakan bahwa saat bencana terjadi dia tak ada di rumah dan saat melihat rumah telah kosong. Semua terjadi begitu cepat. Beruntung Ye Long bisa terbang dan selamat. Para siluman biasa bahkan menjadi santapan terinfeksi itu.


"Tapi rasa bersalah ini tak pernah berhenti. Aku tahu aku bisa menghentikannya."


"Lalu kau menaruh harapan terlalu tinggi pada dirimu sendiri."


Terdengar suara rubah itu. "Jika kau percaya kau bisa mengatasinya, maka kau harus percaya kau bisa mengakhiri ini semua."


Rubah Petir tak lagi mendengar muridnya itu bicara selain diam.


Dentuman selanjutnya membuat badai yang begitu dahsyat, Ye Long sampai kehilangan keseimbangan akibat angin kencang di bawah. Salah satu kilang minyak meledak, beberapa prajurit yang berada di sana tewas di tempat. Lalu kemudian tumpahan minyak menjalar dan terbakar.


Ledakan demi ledakan membakar perumahan, api itu terus menjalar hingga ke puluhan rumah. Dalam waktu cepat desa itu dipenuhi bara api. Xin Chen hendak turun tapi Rubah Petir tak mengizinkan. Mereka harus membawa Feng Yong dan Fu Hua cepat. Tak ada waktu untuk mengurus semua hal di bawah, karena jika melakukannya mereka tak akan pernah sampai ke tempat tujuan.


"Ini benar-benar gawat. Apakah seluruh Kekaisaran begini?"


"Rraghh! Aku sempat melihat di perbatasan Kekaisaran Qing. Mereka juga mengalami hal yang sama," timpal Ye Long.


"Lebih parah?"


"Mungkin sekarang sudah setengah lebih dari mereka berubah menjadi terinfeksi."


Mereka tiba di sebuah kota yang telah dipenuhi kabut, tampaknya dalam dua hari yang lalu telah dibakar habis oleh api. Tak ada satu pun hawa keberadaan yang dirasakan. Tempat itu jauh berbeda dari Kota Fanlu sebelumnya.


Ye Long melanjutkan bicaranya, "Kita sampai."


Dia menurunkan sayap, mendarat di atas sebuah jalan yang familiar. Xin Chen turun dan memperhatikan ke depannya tak percaya.