Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 67 - Markas Produksi Pil


Xin Zhan tak tahu harus ke mana lagi dia mencari Yan She. Dia telah mencari ke kamp-kamp milik penjahat di tempat itu tapi nihil, tak ada yang bisa ditemukan selain sekomplotan musuh yang terus berdatangan menghampirinya. Keluar dari kamp itu, Xin Zhan memutuskan untuk mencari ke tempat lain sebelum dia dikejutkan oleh kehadiran sesosok laki-laki yang tampaknya sangat penasaran. Orang yang tadi meminta tolong padanya, wajahnya penuh harap saat berujar.


“A-apa Anda menemukan Putri dan Istri saya?” Baju lusuhnya bergerak-gerak pelan ditiup angin badai, badannya menggigil kecil. Dia mengendap-endap di tengah mata bahaya hanya untuk mendapatkan keluarga kecilnya kembali. Tapi tak berhasil, harapannya hanya ada pada Xin Zhan yang kini menatapnya penuh sesal.


“Maafkan aku.” Xin Zhan menunduk, menunjukkan duka atas kehilangan dua orang tersebut. Pemuda itu mengeluarkan sisir rambut yang dimiliki istrinya. Lalu menyerahkan pada lelaki itu. “Istri dan anakmu telah tiada. Aku hanya bisa membawa ini dari mereka.”


Lelaki itu menerimanya, dengan lutut luruh tak berdaya. Dia bersimpuh sambil menangis memeluk sisir rambut itu.


Xin Zhan diam, dia tak mungkin meninggalkan seseorang yang tengah berduka sendirian di dalam hutan yang rawan akan serangan binatang buas. Keduanya telah berada cukup jauh dari kamp musuh, tapi tak menutup kemungkinan beberapa dari musuh melewati tempat ini dan menemukan keduanya.


“Te-terima kasih, Tuanku. Setidaknya aku tahu bahwa mereka telah tiada. Bagaimana dengan jasadnya?”


“Aku tidak bisa berbuat banyak. Di luar paviliun ada banyak musuh.” Xin Zhan tak bisa meneruskan jika sebenarnya dia memiliki luka parah di dadanya yang tak memungkinkan dirinya untuk bertarung berlebihan.


“Saya mengerti."


“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Xin Zhan kemudian. Melihat lelaki itu seperti tak memiliki tujuan. “aku akan pergi ke arah kota. Mungkin kita bisa pergi bersama ke sana, lebih aman.” Dia menawarkan, lelaki itu mengangguk tak berdaya.


“saya mengikuti Anda, Tuan.” Tak lama dia kembali buka suara.


“Maaf baru memperkenalkan diri, nama saya Qiu Qi, Tuan. Sebelum menjadi seorang petani, saya sempat menjadi seorang pendekar kelana. Tapi kemampuan saya pun tak bisa diperhitungkan sebab masih amatir. Saya bisa melindungi Tuan sampai kita tiba di kota.”


Xin Zhan terdiam sejenak, lalu Qiu Qi menjelaskan. “Saya juga baru menyadari bahwa Tuan memiliki luka yang cukup parah. Jika Tuan tak berkeberatan, saya akan membantu Tuan hingga sampai ke kota. Hutan ini sangat berbahaya.”


Xin Zhan membuang napas. Ye Long pun ikut-ikutan. Tapi naga itu mengeluh karena sedari kemarin perutnya masih keroncongan tak di isi oleh makanan.


“Kau lapar, ya?” Xin Zhan bertanya lembut. Membuat naga itu mulai bertingkah manja. Sebelumnya dia berburu malah jadi buruan manusia jahat. Dibawa ke kamp sekelompok penjahat dan keluar tanpa mendapatkan apa-apa.


Tapi Xin Zhan berhasil mendapatkan sebotol pil, beberapa tulisan di mangkuk besi kecil seukuran genggaman tangan berwarna emas mencolok itu. Qiu Qi mengerutkan alis.


“Ah … sebaiknya jangan dikonsumsi pil itu. Sudah banyak kasus orang tiba-tiba meninggal karena meminum obat tersebut.”


Qiu Qi sambilan melepaskan sepatu lusuhnya yang sudah cobek di beberapa bagian. Dia tak menaruh atensi penuh karena tampaknya rumor itu sudah diketahui orang-orang, meski tak luar dan hanya diketahui oleh beberapa desa dari tempat itu.


“Kau tahu di mana obat ini dibuat?”


Qiu Qi memberhentikan aktivitasnya. Dia memerhatikan botol obat yang disodorkan Xin Zhan, terdapat nama 'Pil Bunga Matahari'.


“Mungkin aku tahu di mana pil ini berasal.”


**


Mereka tiba di salah satu tempat tak bertuan yang dipenuhi oleh bangunan produksi dengan asap-asap membumbung dari cerobong. Terlihat seperti pabrik yang dijaga ketat oleh penjaga yang berkeliaran dengan pakaian lengkap. Bahkan beberapa dari mereka adalah pendekar.


Tak jarang Xin Zhan melihat wajah-wajah orang Kekaisaran Qing yang begitu khas. Dia bisa membedakan orang Kekaisaran Qing dan Shang walau hanya melihat sekilas. Dan jelas di tempat itu, dominasi orang Kekaisaran Qing sebanyak 80% nya. Lagipula yang membuatnya tak habis pikir bagaimana bisa tempat produksi sebesar ini bisa didirikan tanpa diketahui oleh pemerintah. Antara memang pemerintah sedang tidur atau ada yang sogokan yang membuat prajurit lepas tangan akan pabrik ilegal ini.


Saat mereka sedang sibuk memantau seorang penjaga melihat keberadaan mereka dan langsung berterisk mengirimkan sinyal. Mengabarkan kawanannya yang lain telah datang penyusup ke tempat mereka.


“Bagaimana ini?”


“Kita maju."


Selayaknya gaya bertarung seorang ksatria. Xin Zhan keluar dari dinding-dinding dan langsung berdiri di gerbang depan musuh sembari mengangkat pedang di tangannya.


“Hadapi aku!”


*


Genangan air terpecah saat derap langkah kaki berlarian kencang melewati hutan. Keamanan tak serta-merta mengendur, lima puluh penjaga markas berkeliaran di sepanjang jalan. Qiu Qi-dengan berbekal ilmu berpedang yang tak seberapa baru saja menumbangkan satu penjaga markas. Kekuatan lawan laki-laki itu memang bukan main beratnya, dia sendiri kesusahan untuk melawan.


Dulu sekali, Qiu Qi pernah menjadi pembunuh bayaran di masa mudanya. Hal itulah yang membuatnya begitu ahli dalam mengendap-endap, tapi dibilang begitu kemampuannya bertarung tak begitu terlatih. Dia sering kalah jika bertarung berhadap-hadapan, kecuali menusuk lawannya dari belakang. Itu mudah baginya.


Qiu Qi menggunakan baju zirah yang seragam dengan para penjaga markas. Tidak ada yang curiga saat dia menyusup masuk, dan diam-diam mengeluarkan belati tajam. Menghunus senjata itu ke jantung lawannya yang tengah lengah, ditinggalkan teman-temannya.


Kini dia berhasil menyusup masuk, membunuh orang-orang di dalam tenda dengan diam-diam. Tujuh penjaga tumbang, tapi itu tak berlangsung lama hingga dia tepergok dan dikejar-kejar oleh pedang dan tombak. Dia kabur dan menghilang di antara kawanan mereka.


Melihat Xin Zhan sibuk meladeni pasukan musuh dari arah depan, Qiu Qi sempat berpikir untuk menyelamatkan beberapa orang yang disandera. Sama seperti dirinya yang juga disandera. Beruntung dia memiliki pisau lipat yang memungkinkannya untuk melepas tali dan kabur. Tanpa banyak berpikir lagi dia segera menuju ke arah kurungan bambu yang tak dijaga.


Qiu Qi baru saja berhasil melepaskan para budak yang ditahan di bagian terdalam markas.


Kebanyakan anak-anak dan laki dewasa, Qiu Qi segera menyuruh mereka kabur sejauh mungkin dan menunjukkan rute yang sepi dan aman untuk mereka lalui. Mereka memberitahukan di mana sisa budak lainnya dikurung. Qiu Qi hendak bergerak oe sana tapi langkahnya berhenti berjalan saat lima penjaga mencegatnya.


"Siapa namamu?"


Qiu Qi terdiam tak berkata-kata, sebagai kelompok yang terorganisir mereka sudah pasti mengenal satu sama lain. Laki-laki itu mencoba berpikir cara untuk melahirkan diri sebelum satu dari lima penjaga itu menyerangnya duluan.


Lantas dalam satu detik kemudian empat yang lain mengeroyok pria itu, Qiu Qi membalas gencar. Arus pertarungan berlangsung tak imbang, satu saja sudah tidak bisa ditahannya. Dan sekarang Qiu Qi melawan lima orang sekaligus. Nyawa Qiu Qi sudah di ujung tanduk. Sementara pedang di tangannya terbelah oleh tajamnya pedang lawan.


Qiu Qi tetap tak gentar, dengan pedang yang telah terbelah itu dia menyambut serangan lawan. Sekali dua kali langkah kakinya mundur, lalu berteriak membuat kelima musuhnya menciut.


Qiu Qi menangkis arah mata pedang yang hendak memburu pangkal lehernya, merunduk namun kepalanya mendapatkan tendangan brutal. Di sisi lain mata pedang lain hendak menembus telinganya, laki-laki itu mendecih dan berusaha melepaskan diri. Mautnya telah datang, pikir Qiu Qi saat tak ada lagi ruang untuknya melarikan diri.


Genderang bertabuh kencang, membunyikan suara besar layaknya peperangan. Penyerangan datang pada dini hari, saat gerimis hujan turun membasahi lembah dan bukit. Dalam satu jam, lima belas orang Penjaga habis oleh Xin Zhan yang menyusup. Terkadang Xin Zhan membuang harga dirinya sebagai petarung aliran putih dan membunuh diam-diam saat lawannya lengah dengan senjata rahasia. Dia tak memiliki pilihan lain.


Lawan juga tidak peduli lagi dengan berlaku curang. Lawan mereka melakukan hal yang jauh lebih keji daripada itu semua.


Seluruh penerangan di Markas padam saat angin badai datang menghantui tempat tersebut.


Gaung langit yang muram menambah ketakutan saat awan-awan tebal menutupi langit yang semula tak berawan. Lantas kejadian itu menjadi tanda tanya besar di kepala mereka.


Dua orang tersebut berdiri di atas menara bangunan tinggi, memperhatikan kekacauan yang terjadi. Melihat seorang menggunakan zirah berlarian sendirian, melemparnya dengan pedang dan membuat orang itu mati seketika. Dia adalah bawahan prnag yang bertempur di gerbang depan, Qiu Qi. Insting laki-laki itu tak pernah salah.


Sementara yang satu lagi mendecih, "Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang seru." Lalu sosok itu terpaku pada pertarungan tak imbang yang terjadi di bawah menara. Dia terjun bebas, menebaskan pedang panjangnya hingga memotong laki-laki tua itu.


Qiu Qi mengejang dan tubuhnya menyemburkan darah segar, membuat genangan banjir merah oleh darah. Pria itu meringkuk, mencoba bangun.


"Aku ingin hidup ..."


Sebelah kaki menginjak kepalanya hingga hampir terbenam ke tanah becek, penglihatan laki-laki itu kabur. "Aku harus mengantarkan Tuan ke Kota… aku sudah berjanji padanya..."


"Menjijikkan sekali manusia ini."


Jantungnya kembali dihunus, lalu dikoyak menggunakan bilah pedang. Laki-laki itu menjerit kesakitan, "Aku tak bisa mati di sini-"


Kepala laki-laki itu bocor ketika tendangan kencang membuat pelipismu berdarah, dia diinjak-injak seperti sampah yang tak ada harganya.Lelaki dengan pakaian lusuh dan pedang di tangannya itu sekarat, tangannya terlalu bergetar hanya untuk menyingkirkan kaki musuh yang meretakkan tulang tengkoraknya. Qiu Qi kehilangan kesadarannya, dalam satu kali tikaman terakhir. Nyawanya habis oleh musuh.


*


Xin Zhan baru saja kembali ke tempat di mana mereka berpisah tadi, dia sudah mengatakan bahwa sebelumnya jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan maka Qiu Qi harus kembali ke tempat itu. Tapi laki-laki itu tak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Andai mereka gagal masuk ke dalam, mereka bisa bergerak lagi saat subuh datang, karena penyerangan dua orang penyusup tak akan berarti apa-apa pada kelompok musuh ini. Mereka tak akan terlalu digubris.


Perkiraannya saat pagi buta hujan akan mengguyur tempat itu. Dan juga para penjaga itu tertidur lelap, mereka lebih sering berjaga saat tengah malam.


Waktu yang sering kali dipergunakan dalam penyergapan mendadak-atau lebih tepatnya serangan susulan, serangan pertama ini berguna agar nantinya Xin Zhan mengetahui letak semua tempat dan tahu ke mana bagian yang harus diincsrnya. Xin Zhan begitu mengingat aroma Pil Bunga Matahari dan bisa mencium jika sewaktu-waktu bau obat itu menguar dari salah satu bangunan. Dan juga hujan dapat menyembunyikan langkah kaki mereka.


Xin Zhan baru menyadari dari kejauhan dia melihat budak-budak yang disandera di markas tersebut berlari mengedap-endap di jalan yang gelap.


Sayangnya Qiu Qi terlalu tak sabaran, dia berpikir harus segera menyelamatkan nyawa budak yang mungkin saja sedang meregang nyawa saat mereka menunda penyelamatan. Xin Zhan membuang napas, bagaimana jika justru dengan ketergesa-gesaan itu mereka sama sekali tidak bisa menyelamatkan satu pun?


Benar saja, saat Xin Zhan keluar untuk mencari sesuatu ternyata Qiu Qi sudah lebih dulu maju ke medan perang dan bertempur sendirian di antara musuh-musuh yang begitu ganas menghabisinya. Ini konyol, dua orang melawan segudang penjaga yang kemampuan bertarungnya terbilang hebat, mereka terlatih.