Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 57 - Membawanya Kembali


Mata laki-laki itu berkilat terang, dia melihat jelas saat Xin Zhan menyayat mata di tangan Xin Fai hingga mata itu menghilang.


Tujuan Xin Zhan adalah menghapuskan tanda mata itu. Dengan cepat pendekar sesepuh itu berteriak.


"Habisi mata hitam di tubuh Pedang Iblis!"


Dua puluh orang di antara pasukan itu adalah pemanah handal. Mereka semua melepaskan anak panah yang hampir kesemuanya menancap di tubuh Xin Fai.


"Tidak ... Tidak, ini terlalu kasar. Ayah bisa tewas." Xin Zhan menyuruh berhenti tapi laki-laki tua itu menggerakkan tangannya memerintahkan bawahannya untuk terus memanah.


Tubuh Xin Fai terdorong beberapa kali akibat anak panah yang terus menancap di tubuhnya. Dia mengayunkan pedang ke segala arah tapi tetap saja ratusan anak panah itu masih mengenai tubuhnya.


Darah mengucur deras dari tubuhnya. Xin Zhan nyaris tak percaya. melihat punggung ayahnya penuh dengan anak panah. Matanya panas. Laki-laki itu memuntahkan darah. Saat Xin Zhan melihat, di beberapa anak panah itu mengandung racun kelabang mematikan.


"Hentikan!"


"Kalian bukan lagi menghapuskan mata hitam itu! Kalian justru ingin membunuh ayahku!"


Lalu jawaban selanjutnya yang dia dapatkan justru membuat Xin Zhan mati rasa. Tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Saat ini Pedang Iblis telah menjadi bencana besar. Jika memungkinkan untuk menghapuskannya sebelum menghancurkan Kekaisaran Shang, maka kami akan membunuhnya. Ini adalah perintah."


Masih tertegun, Xin Zhan kemudian bertanya lagi. Namun kini suaranya justru terdengar seperti gumaman. Apa yang ada di pikirannya hanyalah, perintah itu tak mungkin dikeluarkan oleh Kaisar Qin. Karena bagaimanapun laki-laki itu begitu dekat dengannya. Bahkan sebelum perang ini terjadi keduanya tak ubahnya sahabat yang akrab. Bukan hanya itu saja, Kaisar Qin pernah mengatakan bahwa dia berhutang nyawa pada Xin Fai. Pada insiden di mana Qin Yujin melakukan kudeta yang berakibat fatal. Penyerangan di istana hari itu dapat teratasi karena adanya sang Pedang Iblis.


Lalu apa yang laki-laki itu lakukan sekarang? Mengapa kita ayahnya melakukan kesalahan, mereka justru berpaling, melupakan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan ayahnya dan berbalik melakukan penyerangan. Itu semua tak adil. Sungguh tak adil.


"Siapa ... Yang memerintahkan kalian?"


"Kaisar Qin atas saran dari penasehat Kekaisaran."


Nyaris tak percaya.


Xin Zhan mengepalkan tangannya erat-erat. Bahkan, penasehat Kekaisaran yang dulunya begitu menghormati ayahnya kini ingin melenyapkan laki-laki itu. Sekarang Xin Zhan paham, tak ada manusia yang benar-benar bisa dipercaya di dunia ini. Mereka yang menaruh hormat dan sikap baik kepada mereka dulu, akan berlari ketakutan saat nyawa mereka terancam. Dan memilih membunuh satu sama lain saat tak ada pilihan.


Itu benar. Ayahnya hanya diperalat ketika dia masih dianggap berguna. Cukup sampai di situ. Kesabaran Xin Zhan habis. Namun dia tak langsung marah dan menggebu-gebu, bibirnya bergetar pelan saat berucap pada pendekar-pendekar di depannya.


"Biar aku yang membawanya kembali. Dia adalah tanggung jawab ku. Atas perintah ku sebagai Pilar Pertama Kekaisaran, kalian dipulangkan. Misi kalian telah selesai. Sampaikan kepada Kaisar Qin dan penasehat Kekaisaran bahwa aku sendiri yang akan menghadapi Pedang Iblis."


Bisik-bisik terdengar di sekitarnya. Selagi Pedang Iblis masih belum bereaksi semenjak tadi, Xin Zhan berpikir dia masih punya waktu untuk berbicara pada mereka. Meski hatinya terasa hancur saat mengutarakan kalimatnya.


"Dan katakan pada Kaisar Qin aku akan mengundurkan diri dari bangku Pilar Kekaisaran setelah perang ini selesai."


"Tu-Tuan-!? Ma-maafkan kami, kami tidak bermaksud menyingkirkan ayah Tuan Muda. Bahkan kami saja mustahil untuk melakukan itu--"


"Niat kalian sudah menjelaskan semuanya."


Puluhan dari mereka bertekuk lutut dan bersujud memohon ampun. Kata mengundurkan diri dari Pilar Kekaisaran adalah sesuatu yang amat menyakiti hati mereka. Semua perintah dari Kaisar Qin pastinya sudah dipertimbangkan sematang-matangnya. Sulit menerima keputusan yang diambil Kaisar Qin, membunuh Pedang Iblis yang selama ini melindungi Kekaisaran Shang dengan nyawanya sendiri.


"Keputusan ku sudah bulat. Kembalilah ke pusat kota. Dan sampaikan pada Kaisar Qin. Kalian tidak punya waktu lagi."


"Tapi Tuan Muda-! Pikirkan kembali keputusan Anda! Kami tidak bisa kehilangan Anda setelah Pedang Iblis, tidak ada yang lebih berhak dari pada Anda ..."


"Benar, Tuan Muda. Kami mohon. Kami tak sanggup melihat anda turun dari jabatannya itu."


Terdengar sahutan yang terus bersambung. Xin Zhan mengangkat tangan kanannya, membuat mereka berhenti memprotes. Lelaki tua yang memimpin mereka memejamkan mata, hatinya kecewa dengan keputusan Xin Zhan. Entah itu benar-benar akan terjadi atau tidak. Yang pasti, setelah Xin Zhan lengser dari jabatannya, satu-satunya harapan yang paling memungkinkan adalah Xin Chen.


Lan An tak mungkin lagi diharapkan. Xin Fai, laki-laki itu telah kehilangan ingatannya dan peluang harapan dirinya sadar terlalu kecil. Sementara itu, tak ada kandidat lain yang memenuhi syarat menjadi seorang Pilar Kekaisaran pertama.


Mereka berdiri tegak, memberikan hormat kepada Xin Zhan dan berjalan mengikuti arahan pemimpin rombongan. Meninggalkan Xin Zhan yang hanya bisa mencengkram pedang di tangannya sangat erat. Jarinya bergetar kecil, lalu saat dia menatap wajah ayahnya, senyum pedihnya mengembang. Mata Xin Zhan tak mampu melihat bagaimana Ayahnya saat ini. Rasanya semua orang sedang mengkhianati mereka. Semua itu menyakitkan, berpuluh-puluh tahun mengabdi dan kini akhirnya, semua orang mencampakkan.


"Aku tahu kau pasti sedang sedih, Ayah ... Tidak apa-apa. Ingat pada tujuanmu dulu, kau ingin menjamin semua orang hidup dengan aman. Tanpa ketakutan akan kelaparan, kematian, dan mata bahaya. Kau sudah menepati janjimu selama bertahun-tahun. Jadi, jangan sedih lagi."


Xin Fai masih bertekuk lutut, kedua tangannya menumpu pada tanah. Dengan punggung penuh oleh anak panah beracun.


Xin Zhan mendekat. Laki-laki itu masih tak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang hingga tangannya meraih salah satu anak panah dan mencabutnya.


"Ayo, kita pulang."


Kedua sudut bibir Xin Fai mengalirkan aliran darah hitam. Dia mencengkram pergelangan tangan anaknya. Terdiam tanpa suara selain mata keduanya yang saling bertemu.


Sekilas, di mata Xin Fai. Dia melihat seorang anak laki-laki kecil dalam balutan jubah kecil yang begitu indah. Ren Yuan, istrinya menenun kain itu sendiri dengan tangannya. Bocah laki-laki itu tidak seceria saudara laki-lakinya yang lain, dia justru lebih sering marah dan merajuk padanya. Tapi, jika bersama ibunya justru dia jadi lebih banyak bicara.


Binar mata hitam yang begitu lucu itu kini berganti menjadi tatapan teduh yang sendu. Sosok anak kecil itu berganti menjadi sesosok pemuda yang sedang beranjak dewasa, rupanya menawan. Raut wajahnya yang dulu polos, kini menjadi raut yang penuh tekanan dan ketakutan.


Xin Fai ingin selalu memeluknya dan mengatakan bahwa 'semuanya akan baik-baik saja.' Dia tahu putra pertamanya itu selalu ketakutan menghadapi segala sesuatu hal baru, dan cenderung menyembunyikan perasaannya dari orang lain. Bertingkah seolah-olah dirinya mampu. Hal itu membuatnya terlihat superior di kalangan semua orang.


Xin Fai melihatnya. Saat Xin Zhan menangis ketakutan setelah menghadapi kawanan siluman serigala sendirian. Xin Fai ingin memeluknya, tapi selalu saja dia kehabisan waktu untuk sekedar berbicara. Misi dan tugasnya menyedot semua waktu yang dia miliki.


Dan sekarang, saat Xin Zhan telah dewasa. Pemuda itu menangis putus asa. Xin Fai tak mampu melakukan apa-apa. Bahkan terhadap dirinya sendiri yang kini telah dikendalikan. Tangannya ingin memeluk pundak anaknya, tapi yang justru terjadi dia mencekik Xin Zhan. Tak bisa dilepaskan sama sekali.


Sebelah tangan Xin Zhan bergerak, mencabut anak-anak panah lainnya yang menancap di tubuh Xin Fai. Perlawanan terus terjadi hingga berulang kali Xin Zhan terpental. Dia terus menerus melakukannya hingga akhirnya, tak bersisa satu pun anak panah di tubuh ayahnya.


"Ayo bertarung lagi. Dengan lebih serius. Karena sekarang bukanlah latihan yang seperti biasa kau ajarkan."


Xin Zhan melanjutkan. "Ini adalah ujian pedang ku yang tak pernah terlaksanakan karena kau terlalu sibuk."


Xin Fai mengangkat pedang sejajar dengan wajah Xin Zhan di depannya.


Detik demi detik Xin Fai memulihkan diri. Membakar racun di tubuhnya hingga titik terakhir sehingga tubuhnya kembali bergerak tanpa adanya hambatan. Bukan tanpa sebab, seharusnya Xin Fai memiliki kekebalan tubuh yang cukup untuk menetralisir racun sehebat apa pun.


Namun racun yang dibawa oleh pasukan sebelumnya adalah racun yang dipersiapkan ahli obat Kekaisaran Shang khusus untuk menghadapi Pedang Iblis. Racun paling mematikan yang pernah diciptakannya, dengan sumber daya tak main-main. Tak heran mengapa banyak bangsawan mendonasikan uang mereka demi menangkal perang ini.


Lelaki itu tahu seluk-beluk Pedang Iblis dan kemampuan tubuhnya menetralisir racun. Oleh sebab itu, dalam satu hari dia meracik satu racun khusus yang mampu melumpuhkan Xin Fai walau hanya sementara. Racun itu tak langsung membunuh. Namun efek jangka panjangnya amat berbahaya.


Xin Zhan tahu akan hal itu. Racun tersebut bisa menggagalkan organ dalam targetnya hingga gagal fungsi. Secara terus-menerus, bahkan setelah diobati dengan penawar. Dia tak ingin Xin Fai mati oleh racun itu. Berpikir bahwa Kekaisaran memang benar-benar hendak melenyapkan Pedang Iblis setelah melihat perbuatan mereka, hal itu membuat hatinya kembali panas.


Beberapa teknik yang pernah diajarkan Xin Fai masih melekat erat di ingatannya. Satu gerakan terlihat, Xin Zhan menghindar sebelum lawan menjatuhkan satu serangan bertubi-tubi yang amat beresiko. Sekali tidak bisa menghindar, dia bisa jadi bulan-bulanan pedang lawan yang kini tajamnya mengalahkan silet setipis kertas. Dan kokohnya jauh melebihi besi.


Gagal mengenai Xin Zhan, Xin Fai memiringkan pedangnya, mengincar celah di bagian lengan Xin Zhan yang terbuka lebar.


Sementara Xin Zhan tahu laki-laki itu akan berpikir menyerang lengannya, dia menghentamkan ujung gagang pedang miliknya ke tangan Xin Fai. Nyaris membuat senjata di tangan lawan terlepas.


Bukannya membuat keseimbangan Xin Fai roboh, Xin Zhan justru dikejutkan oleh jurus tiba-tiba yang dikeluarkan ayahnya. Lagi dan lagi, Xin Zhan menjauh sejauh mungkin. Dia cukup sadar menghadapi beberapa teknik mematikan itu justru akan mengantarkan nyawanya ke akhirat.


Napas Xin Zhan ngos-ngosan, keringat bercucuran hebat di pelipisnya. Pertarungan yang baru memasuki lima menit pertama saja sudah seintens itu. Dia khawatir salah langkah di menit kesepuluh dan membuat dirinya babak belur seperti sebelumnya


Ditambah lagi sekarang suhu di Lembah Para Dewa meningkat. Tampaknya pertarungan di seberang membara kian ganas sehingga apa pun yang berada di tanah ini terbakar menjadi debu. Hanya menunggu waktu hingga Naga Kegelapan sampai ke tempat pertaruhan mereka dan ikut membuat kulit Xin Zhan terbakar menjadi lelehan.


Tikaman pedang lurus bergerak sejajar ke arah dada Xin Zhan, dia mengelak cepat dengan membelokkan serangan menggunakan ujung bilah pedang ke senjata lawan yang langsung bergerak ke sisi kanan. Suara gesekan pedang terdengar disertai bunga api yang timbul antara kedua besi, kaki Xin Zhan sempat tergeser beberapa tapak karena lawannya mendorong senjatanya amat kuat.


Hanya dalam sekejap saja, kekuatan Xin Fai kembali seperti semula-atau bahkan bertambah kian besar dari sebelumnya. Benar kata Dou Jin, semakin banyak mata yang dihapuskan, semakin kehilangan kendali Pedang Iblis. Dan itu artinya, kekuatan dalam tubuhnya akan semakin tak terkendali. Bisa saja tanpa kendali Dou Jin, saat ini Lembah Para Dewa telah menyatu dengan tanah.


Sudah bukan hal mustahil lagi hal itu akan terjadi mengingat seberapa hebat kekuatan Xin Fai sebelumnya.


Xin Zhan menepis satu serangan, menendang kaki Xin Fai ke samping hingga keseimbangan laki-laki itu runtuh. Setelah berhasil membuat lawan terkecoh, dia langsung mengunci pergerakan laki-laki itu.


Dan tanpa diduga, dirinya benar-benar berhasil membuat Xin Fai tak berkutik. Pedang di tangannya berada tepat di bagian leher Xin Fai. Bergerak sedikit saja, Xin Zhan dapat membunuhnya dengan mudah. Meski begitu Xin Zhan tak akan mungkin melakukan hal tersebut.


Mengingat Dou Jin adalah pengendali pikiran ayahnya, kini Xin Zhan dapat mengambil kesimpulan bahwa kini laki-laki itu benar-benar telah kehilangan kendali sepenuhnya atas Xin Fai. Andai saat ini Dou Jin masih mengendalikan Xin Fai, tentu Xin Fai tak akan diam seperti sekarang. Karena Dou Jin tahu Xin Zhan tak akan mungkin membunuh ayahnya sendiri.


Satu kesimpulan yang dapat Xin Zhan ambil, kemungkinan 65% Xin Fai telah mendapatkan kendali atas tubuhnya melihat dari jumlah mata yang berhasil dimusnahkan. Dan, Xin Fai hilang ingatan. Dia bertarung karena merasa Xin Zhan adalah musuhnya. Dan sedikit pengaruh dari kendali Dou Jin yang tak begitu dominan membuatnya terus bertarung seperti sekarang.


Sempat terpikirkan seberapa persen ingatan Xin Fai yang tersisa? Atau kadang ingatan itu kembali di waktu tertentu dan menghilang layaknya debu? Xin Zhan tak tahu jenis ramuan apa yang diberikan pada ayahnya sampai hilang ingatan.


Amukan kekuatan kegelapan memuncak. Xin Zhan terhenyak saat mendapati Naga Kegelapan tiba-tiba mengarah ke tempat mereka. Tubuhnya terpental dan terseret ke arah keduanya.


Tanpa banyak pikir Xin Zhan segera membawa Xin Fai ke tempat lain dan justru karena perbuatannya itu, Xin Fai terlepas dan berbalik menyerang dirinya.


Tak punya waktu banyak bagi Xin Zhan untuk mengelak, Xin Fai tak mengerti Api Keabadian dari tubuh Naga Kegelapan bisa memusnahkan mereka dalam sekejap. Panik, Xin Zhan mencengkram baju ayahnya. Memusatkan kekuatannya di tangan dan mendorong laki-laki itu sejauh mungkin sebelum tubuh raksasa Naga Kegelapan menghantam mereka berdua.