
Mematung. Hanya itu yang dilakukan Kaisar Qin sejak tiga detik yang lalu, ketika Xin Chen mengatakan padanya langsung kebenaran yang menyakitkan.
"Chen'er ... Kau tahu akibat perbuatanmu, bukan?"
Xin Chen menundukkan wajahnya. Mencoba berpikir, "Aku paham betul. Tapi Yang Mulia belum tahu lebih banyak hal lain yang lebih mengejutkan dari ini."
Kaisar Qin kini benar-benar serius. Dia tak bisa menganggap enteng permasalahan tersebut. Bukan lagi permasalahan pribadi, masalah ini akan membawa kehancuran untuk kedua belah pihak Kekaisaran.
"Qin Yujin, saudara Yang Mulia. Dia telah menjadi musuh bebuyutan ayah sejak dulu. Dan rencana gilanya terus berlanjut. Kali ini dia bekerja sama dengan Kaisar Shi dan para peneliti di Kekaisaran Wei. Menciptakan makhluk ciptaan yang gila. Mereka menularkan penyakit mematikan lewat gigitan. Jika terkena gigitan orang itu akan berubah ganas. Mereka hanyalah mayat hidup."
"Tapi percaya padaku, dengan wabah ini, tidak perlu tiga ratus ribu prajurit atau Naga Kegelapan atau bahkan Pedang Iblis untuk menghancurkan Kekaisaran Shang. Cukup satu botol virus itu dan disebarkan ke satu desa, maka tak lebih dari seminggu Kota Fanlu akan dipenuhi oleh mayat hidup yang berjalan."
"Kekaisaran Shang akan berubah menjadi neraka."
"Lalu kau menemukan cara untuk menghentikan mereka?"
"Satu-satunya penelitian mereka yang berhasil berada di Laboratorium B-1. Aku nyaris mendapatkan benda itu dan hendak melenyapkannya tapi Qin Yujin lebih dulu merebut."
"Lalu?"
"Aku tak akan mendapatkan kotak itu. Kecuali dengan satu cara."
Kaisar Qin memintanya menjelaskan. Xin Chen tahu Kaisar Qin adalah orang yang bisa dipercaya. Dan di sisi lain dia tidak bisa membiarkan pemimpin Kekaisaran ini sama sekali tak tahu bahaya yang sedang mengancam Kekaisaran Shang.
"Bekerja sama dengan anak Kaisar Shi. Yaitu Shi Long Xu. Dia membuat kudeta dan selalu gagal. Aku membantunya mencapai perubahan besar untuk orang-orang Kekaisaran Wei dan dia membantuku mendapatkan kotak itu."
Kedua tangan Kaisar Qin saling bertaut di atas meja, bergerak-gerak gelisah. Mempertimbangkan situasi yang dihadapinya sekarang ternyata lebih gawat daripada yang terlihat di dalam Kekaisaran. Laki-laki itu menarik napas sedalam mungkin, menetralkan pikiran yang mulai kacau.
"Ini permasalahan yang serius."
"Semua orang berkata begitu."
Hening di halaman belakang semakin menambah kesunyian yang ada. Xin Chen menunggu Kaisar Qin memberikan tanggapan di tengah keterkejutannya, tahu pasti laki-laki itu tak setuju dengan tindakan yang diambilnya.
"Tapi akhirnya kau mendapatkan kotak itu?"
Kaisar Qin memastikan.
"Tentu saja, aku sudah memastikannya terbakar habis tanpa sisa."
"Apa kau melihat segelnya masih utuh?" Pertanyaan Kaisar Qin membuat kepala Xin Chen mulai berputar-putar, dia berusaha mengingat sebaik mungkin. Hanya teringat bentuk kunci yang mengikat kotak itu saat sudah bersama Fraksi Militer Pusat.
Saat di Laboratorium B-1, ingatannya tak begitu jelas karena saat itu penyakitnya sedang kambuh. Yang dapat diingatnya adalah dirinya berubah ganas dan mencabik-cabik terinfeksi seperti binatang.
"Ingat sekali lagi."
Mata Xin Chen terbuka. Ingatan ketika tangan Qin Yujin mengangkat kotak tersebut dan sebuah segel kertas berwarna biru dengan tulisan nama Badan Penelitian Pusat. Segel asli itu, sama sekali tidak dilihatnya ketika dikembalikan oleh Shi Long Xu.
" ... Segelnya tidak ada."
"Ini adalah kemungkinan terburuknya. Shi Long Xu tidak bisa dipercaya. Dan kemungkinan besar, virus itu sedang dikembangkan di tempat dengan alat yang lebih lengkap. Aku sedikit tahu banyak tentang Kekaisaran mereka. Dan Xin Chen, setidaknya kau berani mengatakan ini padaku. Kita harus mulai mencari cara untuk mengatasinya."
"Dengan pergi ke Kekaisaran Wei."
"Lalu lakukan tugasmu sampai tuntas, Pilar Bayangan."
"Tunggu, Yang Mulia tidak marah dengan apa yang baru saja ku katakan? Maksudku, ini semua tentang keselamatan nyawa seluruh kekaisaran ini. Dan aku berpotensi membawa ancaman besar."
Kaisar Qin tersenyum tipis. Memang sedikit ketir dan risau mulai timbul di riak air mukanya, tapi lelaki itu tak memandangnya dengan kemarahan. "Chen'er, aku mengenalmu dan ayahmu sudah seperti keluargaku sendiri. Ketika sayembara itu dimulai, aku langsung tahu siapa orang yang dicari mereka. Karena satu-satunya yang membuatmu beda bukan hanya mata birumu itu. Tapi juga tekad dan keputusan gilanu itu."
Kaisar Qin bangun dari duduknya, berdiri membelakangi sambil menatap kolam di depan.
"Aku sendiri yang telah menunjuk mu menjadi Pilar Bayangan. Apa pun hasil yang kau bawa untukku, akan menjadi pertanggungjawaban ku."
Xin Chen tak pernah menyangka Kaisar Qin memahami apa yang dihadapinya sekarang. Dan sebenarnya sama terhadap Xin Fai dan Xin Zhan.
Apa pun yang terjadi, ayah dan kakaknya itu akan melindunginya.
"Karena kami tahu. Kau berjuang untuk sesuatu yang benar."
Matahari telah muncul jelas di atas langit, Xin Chen bangun. Kaisar Qin menepuk pundaknya. Dan sedikit kaget karena tembus begitu saja. Dia berusaha memaklumi itu.
"Suatu saat jika kabar ini menyebar. Aku akan menangani permasalahan yang timbul di sini. Dan sebagai gantinya. Hentikan adikku dari percobaan gila yang bisa merenggut nyawa jutaan manusia. Kita harus menghindari neraka yang kau katakan itu."
"Era Kemusnahan." Kaisar Qin mengakhiri kata-katanya, pamit lalu pergi untuk menjalankan perannya sebagai seorang Kaisar.
Xin Chen memejamkan mata. Menengadahkan kepalanya menatap langit yang begitu cerah. Damai dan tenang. Bayangan keadaan kota di Kekaisaran Wei, mendung dan kumuh dipenuhi para terinfeksi. Xin Chen tak bisa membandingkan dua tempat itu. Sama sekali berbeda.
Pikirannya terkunci pada Shi Long Xu.
Dan mulai bertanya-tanya, "Apakah orang itu bisa dipercaya?"
Dia begitu ingat tekad besar dan kemauan hebat untuk mengubah Kekaisaran Wei menjadi tempat yang lebih baik. Bagaimana para Pembelot segan kepadanya dan bahkan Kuil Hujan sendiri.
Xin Chen hanya berharap bahwa semua masih berjalan di dalam kendalinya.
Sekembalinya ke rumah, Xin Chen didatangi oleh seorang Pejuang Kota Fanlu, sangat terburu-buru saat menghampiri.
"Tuan Muda Xin kedua!" Tangan laki-laki itu hanya menepuk angin karena Xin Chen langsung menghindar.
"Ada apa?"
Xin Chen mengerutkan keningnya. "Sepagi ini?"
"Dia mengatakan bahwa orang yang tahu petunjuk pelaku yang mencelakai Nyonya Ren Yuan berhasil disekap dan mereka berada di salah satu menara kota. Ikutlah dengan saya."
Xin Chen segera mengikuti langkah laki-laki itu, membaur di tengah keramaian menuju satu tempat terbuang dan telah lama tak beroperasi. Setibanya di sana Xin Chen mendapati Xin Zhan berdiri di hadapan seseorang yang diikat diatas kursi kayu.
Orang itu babak belur dibuat Xin Zhan. Lebam merah-biru mewarnai pipi, hidung, dahi hingga ke bibir lelaki itu bagai hendak ikut parade seni rupa. Xin Chen mendekat, memperhatikan lebih jelas wajah tersenyum.
Laki-laki berandal, agak kumuh dan dekil. Tak terlihat seperti pelayan atau pengawal Ren Su.
"Sudah mendapatkan sesuatu?"
Xin Zhan menyahut, mengebaskan tinjunya yang mulai kram. "Oh, ada." Dia mengepalkan tinju lagi,
"Sesuatu yang tak berguna."
Pukulan menghantam perut orang tersebut, dia memuntahkan darah sangat banyak. Tak terlihat ingin melawan sama sekali. Xin Chen mengambil alih ketika melihat Xin Zhan sudah kelelahan menghadapi orang itu.
"Aku tak mau berbasa-basi."
Xin Chen membuat lingkaran Api Keabadian di sekitar pria itu, dia hanya bergeming. Tertawa lemah dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Namun tak lama kepalanya kembali terangkat, sesosok hitam berjalan ke arahnya. Wujud roh yang terlihat seperti malaikat pencabut nyawa itu berhenti di depannya. Laki-laki itu memundurkan badan reflek.
Dia tak melihat wajah sama sekali di wajah itu.
Tangannya di paksa terlepas dari ikatan di belakang kursi. Roh itu memaksa dia membuka telapak tangannya. Lalu tangan roh itu yang satunya berada di atas.
Kekuatan Api Keabadian membara membakar tanah dan rumput yang tumbuh di sekitarnya. Roh itu meneteskan cairan biru panas dari tangan yang jatuh tepat di telapak tangan laki-laki itu.
"Arrghhhh!"
Erangnya kesakitan bukan main. Tetesan itu tak ubahnya seperti lelehan baja yang dibakar dengan api dengan tekanan begitu tinggi. Satu per satu tetesan itu jatuh lagi, membuat telapak tangannya bolong.
Mata lelaki itu memerah, menahan perih dan sakit yang melanda seluruh badannya. "He-hentikan, aku bisa bicara. Kumohon."
"Seharusnya kau bisa mengatakannya langsung tanpa menunggu tanganmu jadi korban." Xin Chen menyindirnya kesal. Xin Zhan menautkan alis, susah payah dia menghajar orang itu tapi nyatanya cara Xin Chen lebih sadis daripada caranya.
"Siapa yang telah mencelakai ibuku?"
"Nyonya Ren Su, be-beliau yang melakukannya." Dia bergidik ngeri, takut anak buah wanita itu datang menguping apa yang baru saja diungkapkannya. Dadanya naik turun, antara ketakutan dan masih kesakitan.
"Atas dasar apa?"
"Aku kurang tahu. Tapi dia hanya mengatakan soal balas dendam dan balas dendam. Kumohon Tuan, selebihnya aku tidak tahu. Tolong lepaskan aku!"
Dia menunduk berkali-kali, Xin Chen menolaknya.
"Enak saja langsung pulang. Kau sendiri, apa kaitanmu dengan dia?"
"Aku hanya pengantar barang Nyonya Ren."
"Pengantar barang punya pakaian formalnya sendiri." Xin Chen ternyata satu suara dengan kakaknya.
"Aku juga bertanya hal yang sama. Jika dia pengantar barang, kenapa pakaiannya tak ubahnya preman di pasar."
"Kecuali ...."
Tatapan Xin Chen membuat laki-laki itu kikuk.
"Pengantar barang terlarang."
"Ini masuk akal."
"Ti-tidak tuan, aku tidak tahu apa-apa soal itu-"
"Kau lebih takut pada Ren Su daripada apiku? Dengan wanita itu mungkin kau masih bisa selamat. Kalau denganku, kau hanya bisa selamat tergantung omonganmu sekarang."
Terdiam, laki-laki itu menggigil di tempat.
"Katakan kebenarannya atau katakan selamat tinggal pada dunia."
Roh itu masih berdiri di belakangnya. Siap datang kapan saja untuk menyiksanya lagi. Dia tak mau berurusan dengan lelehan api yang bisa membunuhnya seperti disengat racun itu. Laki-laki itu membuka suara.
"Aku pengantar barang untuk Nyonya Ren Su, dia membawa obat-obatan dan bahan penelitian yang didapatnya dari Kekaisaran Wei. Melakukan uji coba di kediamannya dan menciptakan herbal yang berbahaya. Sumber pemasok bahan penelitiannya itu berasal dari para peneliti di salah satu Laboratorium di Kekaisaran Wei yang masih aktif. Selebih dari itu, aku tak tahu apa-apa."
"Di mana Ren Su sekarang?"
"Aku tidak tahu, Tuan-"
"Katakan!" Xin Zhan menggertak.
"Aku bersumpah aku tidak tahu. Tapi jika Tuan-tuan ingin tahu, kemungkinan besarnya sekarang dia sudah pergi ke Kekaisaran Wei. Untuk melanjutkan apa yang ditelitinya."
"Sial, dia melarikan diri?"
Lagi dan lagi mereka ketinggalan selangkah di belakang Ren Su. Xin Zhan memejamkan mata sambil memijit keningnya, "Dia tahu dia akan dipenjara setelah saksi dan bukti kita dapatkan. Pilihan terbagusnya pergi Ke Kekaisaran Wei. Tempat yang paling sulit untuk dimasuki oleh siapa pun. "