Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 144 - Kerjasama atau Berkhianat


Ruangan putih dan penerangan yang tak kalah putihnya. Matanya menutup berulang kali, ingatannya belum sepenuhnya kembali. Xin Chen sadar dia sedang berada di tempat asing, kakinya langsung turun dari pembaringan yang terbuat dari besi. Ikatan rantai telah dilepas darinya. Langkah gontainya perlahan menyusuri sepanjang jalan, melihat beberapa pria berseragam sama tertuju padanya. Tapi tak mengucapkan apa pun.


Xin Chen dikejutkan oleh sapaan yang terlontar ke arahnya, pria berkulit hitam itu memasang wajah ramah, deretan giginya putihnya begitu mencolok ketika tersenyum lebar. "Hai, bung. Habis main lompat karet sampai patah pinggang begini?" Matanya menatap Xin Chen, sedikit membuatnya cemas.


Xin Chen sampai tidak bisa mencerna lelucon tersebut, pria itu masih tersenyum sama lebarnya. "Komandan menyelamatkanmu. Dia ingin menemuimu di lantai dua. Kau sanggup berjalan? "


"Main lompat tali pun aku sanggup."


"Hahaha, aku serius. Sini, sini, biar aku memapahmu. Nanti kau jatuh."


Teman lelaki itu yang melihat perhatian Wen terhadap Xin Chen dibuat lucu.


"Jatuh dari kayangan, Wen." Temannya yang lain menyambut Wen. Nama lelaki itu.


"Ahaha, siapa yang mencuri selendangnya. Dia ingin kembali ke kayangan sekarang. Kembalikan." Wen memapahnya diselingi canda tawa yang terus menyahut. Xin Chen sedikit kesal, tapi dia juga tak begitu terganggu. Orang-orang ini menerimanya dengan ramah, meski dia belum memastikan sepenuhnya di mana dirinya sekarang berada.


Di lain sisi Xin Chen sedikit kesal dengan laki-laki itu, dia memang bercanda tapi sama sekali tidak peka dengan keadaan Xin Chen yang ibaratnya sudah sekarat malah dijadikan bahan lelucon.


Mereka tiba di lantai dua, ruangan paling pojok sebelah kanan. Di sana, terdapat bendera dan beberapa lencana yang disangkutkan di depan ruangan. Xin Chen berhenti berjalan diikuti oleh Wen. Memandang satu dinding dengan sebuah gambar berisi lambang dan tulisan.


Fraksi Militer Pusat.


Kekhawatiran menelusup di dalam dirinya mengingat tangisan Tiga dan sumpah mati lelaki itu setelah membunuh anak istrinya sendiri. Siapa pun di Perkemahan Tenggara membenci Fraksi Militer Pusat termasuk Pelindung Malam sendiri. Mereka memandang kelompok ini sebagai pembunuh dan hanya ingin menyelamatkan diri sendiri dari wabah yang melanda Kekaisaran Wei.


"Kau bangun juga akhirnya."


Satu suara menyambut dari dalam ruangan usai pintu dibuka oleh Wen. Pria itu, pria yang sempat ditolongnya ketika selesai mengamankan sumber air. Lelaki yang sekarat sebelumnya kini terlihat sehat bugar, air mukanya begitu cerah saat mengajak Xin Chen berbicara.


"Duduklah."


Wen pamit pergi ketika Xin Chen telah duduk berhadapan dengan komandan Fraksi Militer Pusat. Pria itu tak menyebutkan namanya, sama sekali tidak. Dia hanya menyodorkan secangkir minuman sambil berbicara


"Kau terkena gigitan 'itu' ?"


"Maksudmu?"


Komandan tersebut menaikturunkan alisnya, berpikir Xin Chen sedang berpura-pura tidak tahu atau memang tak tahu sama sekali.


"Terinfeksi tipe A." Dia menyerahkan sebuah kertas, berisi data dan informasi terinfeksi tipe A yang tempo hari menggigit Xin Chen. Beberapa kali membuka lembaran, mata Xin Chen terkunci dengan ilustrasi makhluk dengan tubuh dan muka manusia, sementara kaki dan pergelangan tangannya berbulu membentuk wujud binatang raksasa.


"Tidak ada satu pun yang mampu bertahan dari gigitannya. pernah ada kasus, seorang saudagar kaya raya dari Kekaisaran ini yang tak takut mati. Dia mampu membeli sebuah pil keabadian. Tidak takut sama sekali dengan gigitan." Dia berhenti sejenak, melanjutkan dengan miris. "Sayangnya setelah terkena gigitan itu, lima menit saja dia tak sanggup menahan."


"Inti permasalahanmu apa?"


Lelaki itu terhenyak dalam kebingungan, tak menyangka Xin Chen terganggu.


"Tunggu, aku bukannya mengatakan kau sama seperti terinfeksi itu. Aku ingin mengatakan, kau mungkin satu-satunya manusia yang mampu bertahan dari gigitan terinfeksi tipe A."


Xin Chen menyadari pembicaraan ini akan membawanya terlibat dalam permasalahan serius atau bahkan menyeretnya menjadi objek penelitian alkemis gila. Menyadari ancaman itu, Xin Chen tak bisa bersikap ramah seperti sebelumnya. Meski lelaki itu telah menyelamatkannya sekalipun. Wajahnya berubah serius, atmosfer di sekitar ruangan berubah.


"Kau sadar dengan apa yang telah terjadi padamu?"


"Aku sempat menangkap samar. Tubuhku kehilangan kendali, Yu mengantarkanku dengan seorang pria. Tapi kami terjebak kawanan terinfeksi. Sampai di sana, aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Selain seorang pria yang memasukkan sebuah cairan ke dalam tanganku."


"Ingatan yang bagus. Berarti infeksi itu tak begitu mengganggu jaringan di otakmu? Atau memang sama sekali tak mempan."


Xin Chen teringat kata-kata Xin Fai terhadapnya; Kepala Batu. Sepertinya istilah itu berlaku untuk situasi seperti ini. Racun tersebut tak akan mampu mengubah isi kepalanya.


"Tapi," sangkalnya sambil menutup lembaran. "Kau tetap pernah tergigit. Peneliti kami mengatakan bahwa keadaanmu saat ini sedikit membingungkan."


"Katakan." Xin Chen sudah siap dengan semua jawaban yang akan keluar dari mulut laki-laki itu.


"Kau adalah terinfeksi."


Telah siap dengan kenyataan pun, Xin Chen masih terpukul. Bagaimana bisa dia mencari obat untuk Ren Yuan jika keadaannya sudah seperti ini. Tak percaya, Xin Chen menggeleng.


"Kau bercanda."


"Tapi kami punya asumsi lain." Komandan itu mengangkat tangannya, di sebelah ruangan masih ada ruangan lainnya. Satu lelaki berjalan di depan pintu dengan kurungan tebal tersebut.


"Bawa mereka. Tapi jangan buka pintunya," perintahnya. Terdengar suara seretan di dalam ruangan yang terkunci itu. Xin Chen menyadari sesuatu yang berubah dengan pandangannya dan juga indera penciumannya.


"Berapa jumlah mayat dan terinfeksi di dalam ruangan yang tertutup itu?" Komandan Fraksi Militer Pusat langsung ke intinya.


"Dua terinfeksi, dua mayat."


Xin Chen bisa merasakannya, dia tak bisa menjelaskan dari mana dia mengetahui hal itu. Hawa kehadiran terinfeksi yang selama ini terasa nol kini terasa amat kuat. Dia dapat membedakan bau manusia dan mayat.


"Satu informasi lagi yang belum kau ketahui, saat kau tak sadar kau sempat membunuh rekan kami. Dan kekuatanmu nyaris melebihi kekuatan Terinfeksi tipe A."


Komandan Fraksi Militer Pusat mendekatkan wajahnya dengan kedua tangan bertumpu di atas meja.


"Sebelum ke sini, kau sempat menjadi objek percobaan?"


Xin Chen yang belum bisa menerima keadaannya masih sempat-sempatnya teringat akan kejadian di terowongan bawah tanah. Saat itu dia sedang menghadapi sekawanan siluman serangga dan didatangi sekelompok manusia berseragam aneh disertai topeng masker yang mengeluarkan asap.


'Yang terakhir ini ... Mungkin akan menjadi objek yang menarik. Bawa mereka.' kata itu terngiang-ngiang di telinga Xin Chen.


"Aku dilempar ke dalam Labirin Kematian saat tertangkap oleh sekelompok peneliti."


"Dan kau selamat dari sana-?" Lelaki itu tercekat, tak percaya. Xin Chen tak terlihat sedang membual atau mengada-ada.


"Ah, sepertinya aku tak usah terkejut lagi. Terkena gigitan Terinfeksi tipe A saja kau masih berdiri. Apalagi Labirin Kematian."


"Sebelumnya aku tak menyangka kau akan sekuat ini. Tapi sejak awal aku tertarik untuk bekerjasama denganmu"


"Jangan pernah katakan kau menginginkan Jamur Api ini. Aku tak akan memberikannya." Xin Chen sama sekali tak toleransi terhadap hal itu. Komandan Fraksi Militer Pusat tertawa.


"Aku tak menginginkannya, sama sekali."


"Tak ada untungnya bekerja sama dengan kalian. Aku bagian dari Pelindung Malam, bekerjasama denganmu sama halnya dengan mengkhianati kepercayaan mereka. Aku tak bisa menerimanya."


"Tidak usah terburu-buru." Lelaki itu terlihat tenang. "Kau akan membutuhkan vaksin. Percaya padaku. Sewaktu-waktu perilaku abnormal mu akan keluar dan kau akan membunuh teman-teman mu sendiri. Pikirkan itu baik-baik. Kami memiliki satu yang ampuh untukmu."


"Kau punya keinginan lain? Aku tahu kau datang ke Kekaisaran ini dengan satu tujuan."


Satu pernyataan yang penuh makna. Dari gerak-geriknya, Komandan Fraksi Militer Pusat seakan mengatakan bahwa dirinya sudah tahu banyak soal Xin Chen.


Mereka begitu pintar dalam mengenali kawan dan lawan. Xin Chen harus lebih waspada dengan orang-orang Kekaisaran Wei.


"Kenapa kau begitu anti? Terpengaruh pemikiran radikal mreka? Biar aku beritahu padamu. Mereka selalu merasa menjadi korban dan pihak yang tersakiti, asal kau tahu. Berulang kali persediaan makanan, lokasi mata air dan senjata kami mereka curi. Saat kami membunuh mereka, mereka bersikap seolah-olah kami pelakunya. Padahal itu kesalahan mereka sendiri."


"Kau memaksaku untuk berpihak padamu?"


"Tak berpihak pada siapa-siapa. Tapi aku membutuhkanmu untuk sesuatu hal."


"Apa yang kau inginkan?"


"Kunci untuk mengaktifkan Laboratorium B-1. Tempat itu dikelilingi kawanan terinfeksi dan mahluk mengerikan. Tak ada yang kembali hidup-hidup dari sana." Dia menyatukan jari-jarinya di atas meja, berpikir kritis.


"Anak buahku mengatakan kau mengalahkan tiga puluh pembelot sendirian, menghabisi tiga ratus terinfeksi di sebuah jalan sampai nyarie bersih. Manusia sepertimu adalah satu-satunya harapan kami. Kami membutuhkan kunci itu untuk mendapatkan sampel yang terkubur dalam laboratorium lama. Ini mungkin akan menjadi obat untuk wabah yang melanda Kekaisaran ini, meski belum begitu sempurna ..."


"Lalu kalian akan gunakan obat itu untuk diri kalian sendiri?"


Xin Chen apatis. Lelaki itu menggeleng.


"Pemikiran seperti inilah yang membuat warga membenci kami." Helaan napas berat mengiringi ucapannya. "Kami menggunakan dua puluh persennya kepada orang-orang kami. Kau bayangkan, seorang pelindung harus sehat tanpa cacat untuk melindungi orang di belakangnya."


"Kami memiliki kewajiban untuk bertarung sementara orang itu tidak. Sepanjang hari, ribuan terinfeksi di luar sana berusaha masuk ke daerah ini dan kami menghabisi mereka. Sampai satu per satu rekan kami mati. Tapi masih banyak yang tak bersyukur dan melemparkan kesalahan."


"Sebelumnya, aku sempat menolongmu dan kau juga telah menolongku. Kita impas."


Xin Chen sempat berpikir sejenak. Dia tak sepenuhnya terpengaruh, tapi di sisi lain dia ingin menerima kerja sama ini. Tiga dan Yu tak tahu cara untuk melewati penjagaan yang membatasi Sentral Pusat. Sementara laki-laki ini pasti memiliki akses untuk pergi ke sana.