
Lan Zhuxian mengangkat tangannya. Dari kejauhan penjaga markas yang berada di menara dapat menangkap sinyal yang diberikan Lan Zhuxian sebagai pertanda bahwa mereka bukanlah musuh.
Langsung saja lelaki itu berteriak menghentikan regu pemanah dari menyerang kelompok tersebut. Barulah saat gerombolan tersebut maju hingga hanya beberapa puluh meter dari pasukan, mereka dapat melihat Lan Zhuxian si nomor dua dari Unit Satu berjalan paling depan.
Disusul di belakangnya dengan banyak dari Empat Unit Pengintai lainnya.
Mereka terkejut bukan main saat melihat wajah-wajah yang begitu mereka kenali. Yakni Pedang Iblis dan dua anaknya yang merupakan keturunan klan Xin yang terkenal sejak perang bertamu di Lembah Para Dewa.
"Be-benarkah ini ... Apakah-"
Pasukan penjaga malah ribut sendiri. Mereka melihatnya dengan jelas. Itu benar-benar Pedang Iblis. Dan berarti bahwa perang telah berakhir dan membawa kemenangan pada Kekaisaran Shang.
Tak bisa dipungkiri lagi, para lelaki di tempat itu terharu.
Mereka bisa pulang dengan selamat ke keluarga mereka. Dua puluh satu orang itu, hampir setengah dari mereka bersimpuh di atas tanah. Tak percaya, tapi di waktu yang sama, tak bisa berkata-kata.
"Hidup Klan Xin!!!"
Satu suara menggema di tengah-tengah barisan penjaga, serempak diikuti oleh suara lainnya. Mata mereka berkaca-kaca menyambut kepulangan Xin Fai, dan kembalinya dua pemuda yang kini sudah babak belur.
Jubah Xin Zhan yang dulunya begitu putih berganti menjadi kumuh penuh robekan. Xin Chen sendiri, rambutnya sampai acak-acakan.
Sesampainya di sana, semuanya berkumpul di satu titik. Tujuan Xin Chen singgah di markas lebih dulu karena kuda yang mereka bawa tidak cukup untuk membawa rombongan ke pusat kota. Sebab itu, Lan Zhuxian memberikan usulan untuk mengambil kuda yang disediakan di Markas Empat Unit Pengintai.
Selebihnya mereka bebas mengisi perut atau beristirahat, kemungkinan musuh akan datang sangatlah kecil. Para penjaga itu segera menyebar menyiapkan segala hal.
Malam datang begitu cepat. Udara sejuk nan dingin membuat dedaunan yang tumbuh kering di tanah itu berembun.
Api unggun menyala terang, malam itu sangat sepi sehingga suara ranting-ranting pohon terdengar jelas. Padahal semua anggota Empat Unit Pengintai berada di sana. Menunduk. Merasakan duka yang amat sangat setelah perang.
"Teman-teman kita yang telah gugur pantas mendapatkan kehormatan. Mereka adalah pahlawan. Bertarung di jalan keadilan, kematian takkan memisahkan kita semua. Karena jiwa kita akan terus membara di Lembah Para Dewa."
Sesal menelusup dalam hati pemuda yang baru saja mengeluarkan suara itu, dia menghela napas dalam-dalam berharap kesedihan tidak terus-menerus menghinggapi hatinya. Hal itu hanya membuat rekannya yang lain bertambah duka.
"Senior Bai, mantan Pilar Kekaisaran Ketiga. Beliau gugur dengan kebanggaan dalam hatinya. Kita harus mengembalikan apa yang direnggut dari pahlawan kita yang tak kenal mati itu; kehormatan."
Xin Chen mengingat amat jelas, seperti dia baru saja melihatnya kemarin. Saat-saat ketika dia bertandang ke rumah lelaki itu, rumah papan yang ditinggalinya bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Tiada lagi jubah mewah kebesarannya, saat itu Bai Huang telah membuang pedangnya.
Karena insiden menyakitkan di mana laki-laki itu dipermalukan oleh keluarga bangsawan. Bekas logam panas di punggung laki-laki itu adalah luka yang tak akan pernah hilang. Tanpa sadar Xin Chen mengepalkan tangan, tak tahan membayangkan wajah-wajah Pilar Kekaisaran yang sedang ongkang-ongkang kaki di istana sedangkan orang yang dihina oleh Kekaisaran justru yang bertaruh nyawa di sini.
Dan dia pasti akan menghukum parasit elit itu dengan hukumnya. Hanya menunggu waktu.
Rasa bersalah menyelimuti hati Xin Chen, kepalan tangannya mengendur kala teringat akan seorang anak kecil tak bersalah. Bai Luo, putra satu-satunya Bai Huang kehilangan sosok ayah yang seharusnya membimbingnya. Lalu istrinya akan menjadi janda.
"Ketua, ada apa?"
"Hari ini banyak anak yang kehilangan ayahnya. Banyak istri yang kehilangan suaminya. Apa yang bisa kita kembalikan pada mereka? Aku tak memiliki muka lagi untuk meminta maaf pada mereka ..."
"Tuan Muda Kedua, Anda telah membawa kemenangan untuk kita semua. Itu sudah lebih dari cukup."
"Hanya untuk satu Ayah, banyak anak-anak kehilangan ayahnya." Xin Fai keluar dari tenda, menyingkirkan kain tersebut dari mukanya. Wajah lelaki itu tak terlihat jelas karena begitu temaram.
Tapi Xin Chen tahu ada kesedihan dalam sorot matanya.
"Itu tidak benar. Kau adalah ayah untuk semua orang," ujar Xin Chen. "Beribu orang memohon padaku agar aku bisa membawamu pulang ke Kekaisaran Shang."
Semua perkataan Xin Chen jujur apa adanya. Bukan sekali dua kali dia berbicara pada rakyatnya yang berteriak memohon agar Pedang Iblis kembali. Dan demi mereka pula, Xin Chen bertarung mati-matian.
Xin Fai duduk di sebelah Xin Chen yang duduk membentuk bulatan melingkari api unggun. Tak ada yang duduk paling tinggi atau paling rendah. Karena dalam Empat Unit Pengintai, mereka semua adalah sama.
"Apa yang bisa aku kembalikan pada anak dan istri mereka adalah kehormatan untuk orang yang telah meninggalkan mereka. Seusai aku mengurus masalah di Kota, aku akan kembali ke sini dan melakukan upacara penghormatan untuk seluruh anggota Empat Unit Pengintai yang telah tiada."
"Dan Ayah ..." Xin Chen menatapnya, memohon. "Aku akan meminta pada Kaisar Qin untuk membuatkan sebuah monumen untuk mengenang jasa Bai Huang. Orang-orang telah men-cap dirinya sebagai seorang pembunuh. Itu adalah fitnah yang disebarkan oleh bangsawan busuk."
"Kau meminta pada orang yang telah memberikan perintah untuk membunuh Ayahmu sendiri?" Suara Xin Zhan terdengar dari kejauhan, tampaknya dia baru saja selesai mengurus beberapa hal di tenda lain.
Tak ada yang berani menjawab Xin Zhan, omongannya memang terdengar menusuk. Karena memang seperti itu sifatnya dari dulu. Jika dia sedang baik-baik saja memang tak ada masalah. Lain cerita kalau pemuda bermata hitam pekat itu sedang marah, omongannya serupa silet yang menyayat hati.
"Manusia busuk sepertinya hanya tahu memberikan perintah dan melindungi dirinya sendiri bersama istrinya di dalam istana." Xin Zhan masih tak terima dengan kenyataan bahwa Kekaisaran Shang berbalik menyerangnya setelah apa yang dilakukan Xin Fai kepada Kekaisaran. Itu menyakitkan. Perjuangan Ayahnya selama berpuluh-puluh tahun lenyap hanya karena lelaki itu kehilangan ingatannya.
"Zhan'er ... Duduklah di sini," panggil Xin Fai menepuk tempat sebelahnya yang kosong. Xin Zhan menyusul masih dalam tampang kesalnya.
"Tugas seorang pemimpin adalah mengarahkan dan melindungi seluruh rakyatnya. Mengambil resiko membahayakan untuk rakyat bukanlah pilihan. Tapi menghapus ancaman dan marabahaya adalah keharusan. Terlepas dari siapa ancaman itu sendiri."
"Tapi-"
"Kali ini aku bisa menerima pemikiran ayah." Xin Chen menyela. Membuat Xin Zhan mau tak mau harus mengerti.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Ada yang punya usulan? Untuk Empat Unit Pengintai ke depannya?" Xin Chen bertanya kepada seluruh anggotanya, diskusi dimulai hingga malam larut datang. Dari enam puluh orang lebih itu, Xin Chen dapat menyimpulkan beberapa hal.
Salah satunya tempat penghormatan untuk anggota Empat Unit Pengintai yang telah tiada. Nama-nama mereka akan ditulis di sepanjang dinding yang dikhususkan untuk 'Dinding Penghormatan' Markas. Dan jika memungkinkan, barang peninggalan mereka pun akan ditempel di sana. Rencana itu tak mungkin direalisasikan sekarang karena mereka tidak punya bahan dan juga anggota yang cukup banyak.
Ketika itu sebelum semuanya tertidur, Xin Chen mengakhiri perbincangan dengan rencananya.
"Aku akan mengirimkan pasukan sesegera mungkin setelah tiba di pusat. Bangun Dinding Penghormatan ini seindah mungkin. Kita tak memiliki jasad mereka untuk dimakamkan, tapi dengan Dinding Penghormatan ini mereka akan mendapatkan peristirahatan yang lebih baik."
"Baik, Ketua!"