Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 32 - Tombak Merah


"Tidak ... Ini bukan kekalahan ku ..."


Sudut bibir Li Baixuan mengeluarkan aliran darah hitam. Cacing keabadian di tubuhnya hancur luar dalam.


"TUAN LI!"


Sebelum Xin Zhan dan Xin Chen dapat menyadarinya, tali dari sebuah tombak berputar lalu melilit tubuh Li Baixuan serta menariknya menjauh dari sana. Wanita itu Ming Che, berdiri di peringkat delapan dari Sepuluh Terkuat. Tubuhnya babak belur di seluruh bagian tapi dia bergerak sangat lincah.


Xin Chen tak mengejar karena dia yakin luka separah itu tak akan mampu disembuhkan oleh Li Baixuan sekalipun. Dia telah rusak serusak-rusaknya. Jika ada yang bisa menyelamatkannya dari kematian, rasanya sangat mustahil.


Ming Che yang telah menjauh menurunkan tubuh Li Baixuan di atas sebuah batu. Laki-laki itu nyaris kehabisan napas, dia menepis kasar tangan wanita itu seraya memaki-maki tak berhenti.


Kekalahan tadi benar-benar mimpi buruk yang telah lama tak dilihatnya. Harga dirinya seakan koyak. Kembali pun rasanya sia-sia, semua orang telah melihat bahwa dirinya lemah.


"Pada akhirnya semua orang akan membuangku."


"Tuan Li, tolong jangan berbicara seperti itu ... Di sini ada aku yang rela mati untukmu ..."


Mata Li Baixuan kosong. Pandangannya mengarah pada Ming Che. Wanita yang begitu mendambakan dirinya, Li Baixuan tak habis pikir mengapa Ming Che bertindak sebodoh tadi. Namun jika dipikir-pikir sekalipun, Ming Che bahkan pernah mengambil hukuman 100 kali cambuk untuk menggantikan dirinya yang seharusnya dihukum.


Melihat keadaan Li Baixuan yang semakin parah, wajah Ming Che bertambah kian buruk.


"Aku berhutang banyak untukmu, Tuan Li. Mungkin sudah waktuku untuk membalas semua kebaikan mu."


Setengah berjongkok wanita itu sembari menatap Li Baixuan dengan mata yang nanar. "Aku harap sedikit bantuan ku bisa membantumu mencapai impianmu. Aku benar-benar ingin melihat kau berada di puncak peradaban manusia. Meski hanya sebagai sebuah tongkat ..."


Li Baixuan tak sempat mencerna apa perkataan Ming Che, dia nyaris tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar selain luka tubuhnya yang semakin sakit dan luka di hatinya yang mustahil akan sembuh.


Ming Che mengeluarkan sebuah tombak kecil dengan sebuah ukiran namanya yang dirangkai indah, hadiah yang diberikan ayahnya ketika menginjak usia 14 tahun. Sekaligus hadiah terakhir sebelum dia mendengar kabar bahwa ayahnya telah tiada usai melaksanakan misi berbahaya. Banyak yang mengatakan bahwa klan mereka memiliki sebuah kekuatan rahasia. Terlebih saat beredarnya kabar sebuah makam salah satu klan Ming dengan sebuah tombak menancap di atasnya. Tombak itu seolah memiliki nyawa dan kekuatan. Sehingga banyak orang-orang melakukan ritual untuk meminta kekayaan, dan hal-hal lain yang tidak masuk akal.


Ming Che mengangkat tongkat itu sejajar dengan dadanya, sebelah tangannya menggenggam tangan Li Baixuan yang telah menghitam. Lalu terdengar rapalan merdu dari wanita itu.


Xin Chen baru menemukan ke mana Ming Che membawa Li Baixuan pergi, wanita itu pandai sekali mencari tempat bersembunyi. Sebuah kekuatan keluar, di detik itu Xin Chen hanya bisa melihat bagaimana seorang manusia utuh menawarkan nyawanya dan menjadi sebuah tombak yang langsung mengeluarkan kekuatan besar di sekujur tubuh Li Baixuan.


Li Baixuan sampai menjerit oleh ledakan kekuatan itu, matanya melotot hebat. Lalu tak berselang lama terdengar tawa terbahak-bahak, begitu keras dan puas. Ming Che telah tak ada di sana, telah menjadi tombak besar yang kini berada di tangan Li Baixuan. Tubuhnya yang semula kekar bersinar kini dipenuhi oleh kekuatan merah pekat. Salah satu kekuatan terkutuk dari Klan Ming, pemilik salah satu Ahli Tongkat terhebat di Kekaisaran Qing.


"Sepertinya kita akan bermain adil sekarang. Kau menggunakan semua kekuatanmu untuk membunuhku. Maka aku melakukan hal yang sama."


Seekor laba-laba raksasa hitam mengejar Li Baixuan dari belakang, laki-laki itu tak perlu bergerak dari tempatnya. Tombak merah di tangannya terbang jauh menyerang laba-laba raksasa. Memotongnya tanpa kesulitan berarti lalu kembali ke tangan Li Baixuan.


Meski kepercayaan dirinya telah kembali, Li Baixuan dapat melihat Xin Chen sama sekali tak menunjukkan ekspresi serius saat melihat dirinya telah pulih dan memiliki kekuatan besar dari Ming Che.


"Kau yakin aku telah menggunakan seluruh kekuatan ku?"


Lalu Li Baixuan terdiam. Wajah Xin Chen sama sekali tak terlihat mengecam tapi entah mengapa dirinya merasa diintimidasi.


"Jika aku sendiri tak cukup untuk menghabisimu, biarkan langit yang menghakimimu."


***


Author note: dah lama gak update pasti kena omel readers:))


Kemarin author niatnya libur lebaran cuma 4 harian.


Kakak author kecelakaan alias tabrak lari dan harus dibawa ke rumah sakit. Benar-benar kacau banget, diri sendiri aja udh gak ke urus. Mohon maklum yaaa, namanya musibah semua manusia pasti bakal lgsg down. Jangankan menulis, mau berpikir aja udah kalang kabut banget:)))


Mohon maaf lahir batin semua walaupun telat:D