
Saat Xin Zhan sibuk meladeni sekumpulan pendekar di luar, seseorang datang menenteng pedang besar di tangan. Sebagai salah satu petinggi Empat Unit Pengintai saat ini, kekuatannya sama sekali tak bisa diremehkan. Dia memiliki tipe elemen api yang kekuatannya dapat membakar apa pun tanpa keraguan. Jenis elemen yang cukup berbahaya secara fisik, karena salah-salah nyawa bisa berada dalam ancaman jika terkena serangannya.
Sosok itu, Xuan Bi. Dia sempat berbicara di markas sebelumnya bersama Fu Qinshan. Menjadi salah satu saingan Fu Qinshan, kerja kerasnya untuk mendapatkan kepercayaan Tuan mereka membuatnya lebih dikenal sebagai Tangan Kiri, sementara Fu Qinshan adalah Tangan Kanannya.
Sebuah serangan kejutan datang menyerbu Xin Zhan yang kini dikelilingi oleh putaran api merah miliknya yang naik ke atas, memerangkap target di satu titik dan membiarkannya mati di tengah suhu panas yang membakar. Ye Long datang menghadang tapi dia telat sepersekian detik karena kini Xin Zhan sudah terperangkap sepenuhnya. Dia mengeluarkan suara keras yang cukup untuk membuat musuhnya gentar. Walau sebenarnya itu sama sekali tak berefek apa-apa bagi Xuan Bi.
Xuan Bi berpaling dari kobaran api yang mengamuk di belakangnya, di sisi lain pikirannya mengatakan hal lain. Dia dapat merasakan seseorang sedang berdiri di balik badannya.
Xuan Bi menoleh ke belakang dan benar saja, terlihat sebuah bayangan di balik api yang semakin lama semakin menipis.
Kekuatannya seharusnya akan berhenti membakar setelah berhasil membunuh orang di dalamnya atau dengan satu pengecualian lain, di mana ada satu kekuatan yang lebih besar dari teknik Tarian Api tersebut.
Dari terangnya api itu terlihat mata hitam yang pekatnya mengalahkan gelapnya malam, disertai tanda Bunga Api yang berkedip berganti warna secara samar menjadi merah dan biru.
"Ti... Tidak mungkin ...." Xuan Bi tak bisa membohongi penglihatannya sendiri, dia tidak ingin percaya bahwa kini seseorang tengah berjalan tenang melewati lingkaran api yang dikatakan setara dengan panasnya api neraka tersebut.
Bayangan Xin Zhan samar-samar semakin kuat hingga tubuhnya muncul di hadapan Xuan Bi, menatapnya lekat-lekat dengan tatapan membunuh, namun dia tetap berusaha tenang.
"Barusan kau melakukan apa?"
Xuan Bi tertohok, melihat Xin Zhan mengusap belakang lehernya sambil melirik ke kobaran api di belakangnya yang telah padam. Senyum menusuk diiringi lontaran tajam lainnya menyambut Xuan Bi sesudahnya.
"Menyerang di saat lawan tak menyadari kehadiran mu? Cukup menarik, aku juga sedang menyukai cara bertarung seperti itu. Bukankah menyenangkan ?"
"Ch, aku kekuatan mu yang sebenarnya, tapi sepertinya kau lawan yang cukup tangguh juga." Kini Xuan Bi terlihat antusias, dia menarik pedangnya secara cepat.
"Sepertinya kau memang senang bermain api. Kalau begitu dengan senang hati aku akan mengikuti permainan mu."
Di tengah suasana mendung, dengan awan hitam melingkupi seisi Desa SangXu sebuah cahaya biru berkilat, Ye Long mulai melakukan perlawanan terhadap Xuan Bi. Secara mendadak api biru membara mengedari sekujur tubuh naga itu, membuat dirinya bersinar begitu terang di bandingkan api merah Xuan Bi. Suhu di permukaan tanah mendadak naik begitu drastis, angin panas tersebut seolah melubangi paru-parunya setiap kali Xuan Bi menarik napas.
"Heh, naga macam apa lagi ini? Aku tidak menyangka di jaman sekarang masih ada peliharaan sepertinya, cukup menarik juga." Xuan Bi masih terlihat biasa saja, bukan kali pertamanya melihat sesuatu seperti ini hanya saja lawannya itu sedikit lebih muda daripada musuh yang pernah ditemuinya dulu.
Dibandingkan itu tidak ada hawa membunuh yang menggebu-gebu dari Xin Zhan, dia tetap fokus dan tenang setiap waktu. Dengan cara seperti itu tampaknya menghadapi Xuan Bi yang agresif dan sangat buru-buru dalam pertarungan membuatnya sedikit lebih unggul daripada Xuan Bi.
Naga itu mengeluarkan kembali Api Keabadian yang menyusul tepat setelah Xuan Bi menyelesaikan kalimatnya, dia mundur secara cepat dan menjaga jarak sejauh mungkin.
Tak membiarkan Ye Long bertarung sendirian, Xin Zhan serta Merta menyerang Xuan Bi yang tertawa senang meladeni keduanya. Bukan permasalahan besar baginya, lelaki itu dapat menghindar sempurna setiap kali serangan menyerbunya.
Xin Zhan dapat menguasai kekuatan cahaya dengan cepat, dia menciptakan wujud siluman ular yang begitu terang serta gesit. Mengendalikan ular itu, merayap di tanah dan mengincar kaki Xuan Bi.
Pertarungan sengit terus berlangsung di antara merska bertiga, Xin Zhan tetap tak bisa menghantamkan pukulan telak pada Xuan Bi. Kecepatan menghindarnya jauh di atas rata-rata dan juga pertahanan diri manusia itu memang seperti batu logam yang sulit ditembus.
*
Sementara itu pertarungan di Lembah Para Dewa mulai tak berimbang, meskipun melawan keduanya sekaligus Naga Kegelapan jauh tetap bisa menghindari serangan dan membalasnya beberapa kali lipat lebih mengerikan daripada mereka berdua. Roh Dewa Perang terluka parah, dia sebelumnya berhasil memotong ekor Naga Kegelapan dengan pedang roh dan luka itu tidak akan mengalami regenerasi.
Sampai detik itu Roh Dewa Perang telah menggunakan lima puluh persen kekuatannya untuk memutuskan ekor Naga Kegelapan itu. Walaupun hanya lima puluh persen namun untuk mengumpulkan kekuatan itu Roh Dewa Perang membutuhkan waktu lama, belum lagi ketika Xin Chen tiba-tiba menghentikan aliran kekuatan roh miliknya.
Kepala Naga Kegelapan berhasil mengenai Roh Dewa Perang, membuatnya terpental begitu kuat. Huo Rong mencoba menolongnya tapi Naga Kegelapan lebih dulu menghantamkan ekornya pada tubuh Huo Rong. Keduanya terperosok cukup jauh.
Di saat-saat seperti itu bisa dikatakan Huo Rong telah kehabisan daya, dia memang tkkan pernah berekspektasi akan menang melawan Naga Kegelapan dan hanya berharap temannya Xin Chen dan Roh Dewa Perang memiliki cara untuk mengatasi hal tersebut.
Tapi kenyataan berkata lain, selain Naga Kegelapan kini muncul Xin Fai yang sama-sama mimpi buruk, keduanya adalah manusia dan siluman terkuat di muka bumi. Xin Chen sudah kewalahan menghadapi Xin Fai yang kekuatannya seperti tanpa batas. Laki-laki itu menyerap energi alam di sekitarnya, melepaskan jurus tingkat tinggi yang seharusnya memakan banyak tenaga dalam dan melakukannya berulang kali.
Sementara setiap serangan yang Xin Fai keluarkan, biarpun mampu melukai tubuh Xin Fai namun tak mempengaruhi pergerakan pria itu sama sekali. Dia tidak melamban akibat kekurangan darah, atau merasakan sakit karena goresan luka.
Xin Fai berucap tenang, namun kekuatan di sekitarnya membludak layaknya api yang sedang membakar kertas-kertas. "Kitab Tujuh Kunci," ucapnya.
"Seribu Pedang Purnama!"
Xin Chen baru menyadari betapa hebatnya jurus itu jika digunakan oleh Xin Fai, tebasan tanpa henti memburu setelahnya. Jika benda terkuat pun dihadapkan pada serangan tersebut dipastikan akan patah dan hancur berkeping-keping, diakibatkan oleh aliran kekuatan begitu besar yang sepertinya tidak sanggup lagi ditampung oleh sebilah pedang di tangannya.
Xin Fai tak berhenti sampai di situ, dia terus melepaskan serangan beruntunnya. Tak memiliki pilihan lain Xin Chen mengeluarkan sebuah pedang yang sebelumnya disimpannya karena takut benda itu akan berpindah tangan. Pedang terhebat yang menjadi awal kehancuran peradaban manusia.
Resiko terberatnya adalah jika pedang itu jatuh ke tangan Xin Fai, sementara itu Xin Chen tak memiliki pedang lainnya yang cukup bagus untuk menahan serangan lelaki itu.
Di tempat lain seseorang dengan mata kelam nan hitam terus menonton pertarungan tersebut hanya bisa mendecih sebal, dia melihat sang putra dan ayahnya yang masih terus bertahan hingga akhir. Sementara itu di tempatnya bersembunyi, terlihat sebuah mantra yang akan terus melemah dari waktu ke waktu.
Jika pertarungan ini tak kunjung berhenti dalam kurun beberapa hari ke depan, maka sebagai ganti dirinya harus mati mengenaskan.
"Cih, sepertinya tidak ada cara lain lagi. Pedang Iblis sudah hilang kendali. Kendaliku hanya tersisa lima persen atasnya." Sosok itu mengenakan topeng gagak itu menghentakkan kakinya gelisah, jemarinya menekuk mejanya berisik.
"Tuan, sudah saya bawa Petinggi Hu kemari. Kondisinya parah karena dihabisi oleh Anak Pertama Pedang Iblis, namun masih bisa diselamatkan."
Sosok itu tersenyum di balik topeng nya, "Hm? Kebetulan aku memiliki dendam kesumat padanya, daripada mati sia-sia bukankah lebih baik dia menjadi tumbal kutukanku? Dia tak punya masa depan untuk menjadi bagia Empat Unit Pengintai di masa depan yahg sudah dijamin oleh Kaisar Yin, Dibandingkan itu semua dia telah mengabdikan dirinya bertahun-tahun untuk tiba diposisi petinggi. Saat ini waktunya untuk menunjukkan kesetiaan pada Tuan. Bawa dia ke tempat ku ."
"Apakah ...." Sosok gadis yang menggunakan topeng yang suaranya nyaris sama seperti Fu Qinshan menebak dengan napas seakan berhenti, membayangkan apa yang akan terjadi.
"Diam dan lakukan sesuai perintah ku."
"Baik, saya mengerti." Gadis itu membungkuk sebelum akhirnya hilang di balik kegelapan, dia kembali fokus menatap di balik persembunyian di mana seluruh pertarungan terlihat dari kejauhan.
Tempat yang sangat-sangat Terpencil itu aman untuk membangun markas dan dibuat dengan hati-hati serta memikirkan beberapa alasan strategis.
Serangan jenis mana pun takkan mampu merobohkan persembunyiannya, dan para pejuang ataupun prajurit tidak ada yang curiga karena bentuknya kecil.
Sosok gadis tadi telah kembali begitu cepat, setelah dipersilahkan untuk berbicara baru dia berucap. "Petinggi Hu sudah sadarkan diri. Dia akan dibawa ke tempat anda, Petinggi Dou Jin.
"Bawa dia ke ruangan kutukan."
"Baik," ujar wanita itu dan kembali menghilang seperti sebelumnya. Lelaki bertopeng itu berbalik badan, menyibak jubah hitamnya dan masuk ke dalam ruangan tanpa cahaya. Sosoknya menghilang dalam kegelapan.
Penerangan yang menempel di dinding bergoyang ditiup angin, udara pengap terasa panas saat Hu Xingye menarik napas. Entah bagaimana dia bisa selamat dari pembunuhan keji yang sempat menimpanya saat menghadapi Xin Zhan. Tapi bukan hal mustahil lagi rekan-rekannya menyelamatkannya, bahkan untuk menyatukan seratus siluman dlaam satu tubuh saja bukan masalah besar. Apalagi menghidupkan mayat yang tubuh nya telah terpotong-potong.
Markas itu telah dipersiapkan di Lembah Para Dewa untuk melakukan kutukan pemanggilan. Lelaki bermata hitam pekat itu membentur tangannya pada dinding secara tiba-tiba, gadis yang berdiri di belakangnya tak mengerti apa-apa selain menunduk ketakutan.
Sementara Hu xingye yang sudah sadarkan diri melihat luka sayat dan bakar yang diterimanya setelah pertarungan tadi. Dia tidak begitu ingat apa yang terjadi namun satu hal yang pasti, orang yang melakukannya adalah Xin Zhan.
"Kau kesal? Marah? Atau putus asa?"
"A-hah, sialan. Orang itu, jika bertemu lagi akan kupastikan untuk memutar lehernya. Benar-benar..." Hu Xingye tak melanjutkan gerutuannya, di dekat sosok tersebut dia tak berani banyak berbicara lagi. Ada masalah di antara keduanya yang membuat canggung.
Mengingat apa yang akan dia pernah lakukan kepada Dou Jin sangat mengerikan, membayangkan saja Hu Xingye ingin segera lari dari kamar tersebut.
"Sepertinya dalam pertarungan kau memiliki kekuatan besar. Bagaimana jika menjadi bonekaku? Kupastikan kau akan berguna untuk Empat Unit Pengintai seperti yang kau inginkan. Hei, bukan ide buruk kan?”
Dou Jin adalah orang yang penuh dengan tipu muslihat.
Suara tenggorokan lelaki itu seperti suara monster yang sudah seminggu tidak makan, Hu Xingye menelan ludah kasar. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Entah itu pujian atau sekedar kata penyemangat, namun dirinya merasa ada marabahaya di balik omongan manis tersebut.
"Kau sudah babak belur sampai sejauh ini dan meminta menyerah di hari penentuanmu. Ku pastikan akan memberitahu Tuan seberapa besar pengorbanan mu untuknya. Dan kau harus membalaskan kebaikan ku ini dengan menjadi kekuatan untuk mewujudkan kemenangan yang dia inginkan."
Hu Xingye mengepalkan tangannya erat, urat di tangannya terlihat jelas.
"Dia memang telah memberikan segalanya untuk ku...." Tanpa sadar lelaki itu menitikkan air mata, "Tapi hari ini aku baru teringat apa yang dikatakannya hari itu, hari di mana dia datang dengan kebaikan yang sama seperti yang kurasakan kali ini.
Dia mengatakan 'Aku begitu berharga’ dan menyelamatkan ku dari rasa sakit yang kualami dari semua orang, kurasa ini satu-satunya adalah kesempatan untuk membayar kebaikan untuknya."
“Tapi tidak bisakah aku bertemu dengan Tuan dan bicara langsung padanya …?”
Nada bicara Dou Jin dengan topeng gagak mulai terdengar lebih dingin, "Jadi kau tak percaya padaku sekarang?"
Hu Xingye menengadah, mendapati kengerian telah menyambutnya. Andai dia dapat melihat ekspresi di balik topeng itu mungkin Hu Xingye akan pingsan.
"Bukan begitui Hanya saja ...." Hu Xingye lagi-lagi hanya bisa menelan ludah. Punggungnya terasa dingin dan bahunya bergetar hebat. Aura membunuh terasa begitu dekat hingga dirinya tak bisa menarik napas. Dia memiliki firasat buruk, nyawanya tak akan terampuni. Dan dugaan lain, Dou Jin memang ingin membalas dendam padanya.
"Kalau begitu jadilah berguna untuk Tuan."
Hawa pembunuh kembali ditarik oleh Dou Jin. Hu Xingye bahkan sampai sekarang tak mengerti jalan berpikir pria itu dan hanya mampu mengikuti perintahnya.
"Dengan apa? Menjadi bonekamu? Lalu hancur mengenaskan? Bahkan Pedang Iblis saja tak mampu menjatuhkan dua orang itu."
"Kaisar Yin telah mempercayakan kita untuk hal ini. Jika kita gagal mendapatkan Pedang Manusia Iblis dan Pedang Kaisar Langit maka dia hanya akan menahan malu. Kau tidak tahu berapa ratus ribu prajurit telah disiapkannya untuk membunuh mereka?"
Hu Xingye tahu benar adanya, secara militer Kekaisaran Qing tak bisa diragukan lagi. Mereka memiliki ratusan ribu prajurit yang cukup untuk menjatuhkan Kekaisaran Shang. Namun peperangan ini smaa sekali mencengangkan, Kekaisaran Shang sama sekali tak rubuh dan masih terus bertahan hanya dengan pundak dua anak Pedang Iblis.
Hu Xingye mulai merasakan ancaman saat pria itu berbicara sembari menatapnya.
“Daripada mengharapkan kemungkinan nol, menambah lebih banyak musuh kepada mereka secara berkala akan membuat Putra Kedua nya itu kehabisan kekuatan rohnya. Kau akan menjadi pengguna roh selanjutnya-“
“Hei kau bahkan sudah mengeluarkan satu dan hanya mati dalam satu tebasan di tangan orang itu?!”
“setidaknya aku berhasil mengurangi 0.001 kekuatannya. Anggap saja kau pion kecil untuk menghancurkan pertahanan lawan.”
“Tunggu-“ dia terxekat.
"Tu-tunggu, tidak! Aku tidak mau ditumbalkan seperti ini-! Apa maksudnya ini, aku telah mengabdikan seluruh hidupku pada Tuan, sepenuh hati! Tapi mengapa-"
"Kau telah bersumpah untuk menuruti segala perintah Tuanmu. Ini semua demi meraih apa yang dikehendakinya, bukankah kau berhutang nyawa padanya. Sekarang kembalikan nyawa yang sempat diselamatkan oleh Tuan padanya."
Hu Xingye jatuh dari tempat tidur tersebut dan merangkak terseret-seret, namun Dou Jin segera menarik kerahnya dan membawa Hu Xingye ke ruangan paling terdalam dari markas tersebut. Dinding-dinding tanah di dalamnya terasa bergetar akibat pertarungan yang sedang terjadi di luar sana.
Melihat Hu Xingye layaknya seorang budak yang sedang dipermainkan, dan dua orang misterius serta pria berjubah menatap serius.
*
Mereka akhirnya tiba di sebuah tempat luas yang dikelilingi oleh gambar mata disertai gulungan berisi keturunan klaan Dou. Di tengah ruangan temaram tersebut terdapat sebuah tonggak dengan rantai yang siap mengikat orang di tengahnya. Tempat tersebut agak tinggi dan harus dinaiki oleh lima anak tangga.
Hu Xingye diseret ke depan tonggak itu, kedua tangannya ditarik ke belakang dan dirantai di kayu yang menahan tubuhnya agar tak melarikan diri. Lehernya ditahan oleh sebuah besi tebal yang tidak biasa. Semua rantai yang mengikatnya seolah mahkluk hidup yang sedang memerangkapnya di sarang mereka. Besi tebal di leher Hu Xingye akan memerah seperti logam yang sedang di tempa jika dia bergerak sedikit saja. Dan rantai yang mengikatnya akan semakin kuat membelenggunya dari segala sisi.
"Apakah kutukan ini benar-benar akan berguna? " gadis dibelakang nya perlahan membalikkan badannya ke samping, tepat berhadap-hadapan dengan Dou Jin.
"Ku jamin ini akan berhasil. Kau bisa memegang kata-kataku, kita hanya perlu lebih banyak korban. Hanya saja kutukan ini akam tak berguna jika aku kehilangan kendali seperti yang terjadi pada Pedang Iblis. Selagi menunggu mungkin kendali di luar sana akan kacau balau, jika mereka berhasil mengalahkan dua senjata utama kita maka bisa kupastikan kita akan kalah."
"Untuk itu apakah harus aku mengirimkan permintaan tumbal?"
"Katakan saja begitu. Buat kekacauan ini terlihat sangat besar sehingga orang-orang dari Kekaisaran Shang semakin ketakutan. Aku yakin Kaisar mereka sednag mengigit jari ketakutan di kamarnya ahahah.”
"Benar-benar orang yang berbahaya."
Lima petingi dari Empat Unit Pengintai memasuki markas, kelimanya adalah pendekar dengan kekuatan hebat dari Kekaisaran Qing. Rencana yang dipersiapkan sejauh ini akan berjalan mulus sesuai dengan yang ditetapkan. Ditambah lagi, sedikit berbincang meraka menatap Hu Xingye yang ketakutan di tengah ruangan.
"Tenang saja, dengan kutukan ini kau akan menjadi bagian dari para utusan dewa. Kau menyelamatkan manusia dari dunia penuh kebohongan ini. Aku akan menempatkan meminta pada Tuan untuk posisi tertinggi padamu.”
Hu Xingye bergetar, sebelum akhirnya dia merasakan kerongkongannya tercekat.
Hu Xingye membuka matanya paksa, dia tak tahu apa yang membuatnya melakukan demikian. Baru beberapa detik setelah menatap mata hitam Dou Jin, jantungnya terasa ingin meledak di dalam sana. Matanya melotot seakan ingin menggelinding di tanah disertai dengan tulang-tulangnya yang berbunyi gemeretak. Hu Xingye menjerit sejadi-jadinya, dia menangis.
Terlihat sangat menyedihkan, namun pemandangan itu hanya membuat orang di depannya tertawa semakin lebar. Mata Terkutuk mulai aktif, kali ini pengaruhnya menjadi kuat karena sekitar tempat itu juga dipenuhi mata-mata hitam yang dilukis. Mereka bergerak-gerak, dan keluar menjadi cahaya hitam, menempel di tubuh Hu Xingye yang menggelinjang kesakitan.
Petinggi yang sempat melihat kinerjanya cukup puas, Dou Jin memang bisa diandalkan. Sementara panggilan lain memaksa mereka untuk segera pergi. Menyisakan Hu Xingye, Dou Jin dan seorang gadis bertopeng gagak.
"Hahahaha sangat-sangat lucu, bahkan manusia yang terkenal jahat sepertimu memiliki wajah menyedihkan seperti itu!" Dia memegang perutnya, dendam terbalaskan. mempermainkan emosi manusia adalah hal paling menyenangkan. Rasa kehilangan dan putus asa yang membuat Hu Xingye jatuh terperosok begitu dalam, dia membutuhkan seseorang untuk membalaskan amarah tersebut.
Sementara di luar sana banyak sekali manusia-manusia yang jauh lebih jahat yang ingin memanfaatkan rasa kehilangan tersebut untuk kehancuran yang bahkan tak pernah diinginkannya terjadi. Awalnya Hu Xingye hanya ingin membalaskan kebaikan tuannya, namun sesuatu yang direncanakan Tuannya tersebut jauh lebih besar dari apa yang dia tau.
Kehancuran seluruh umat manusia dan sebuah tempat di mana dirinya memiliki kendali penuh atas kehidupan orang-orang. Saat melihatnya, Hu Xingye sadar dia sedang melihat dirinya sendiri. Dia berusaha memberitahu namun tampaknya omongannya tak mengubah apapun.
Seandainya saat ini Hu Xingye dapat melepaskan diri maka dia ingin lari, mengatakan pada dunia bahwa lelaki yang dianggapnya sebagai Tuan itu tidak berada di sisi manusia lemah maupun kuat, dia ingin menjadi penguasa yang menginjak semua orang. Dia akan menghancurkan ketiga Kekaisaran ini dan menjadi penguasa di atas penguasa.
Namun semuanya terlambat, Hu Xingye tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri lagi. Hanya air mata yang masih menitik di kedua matanya,
Segel di sekitar Hu Xingye mengeluarkan kabut hitam, kabut mengisi setiap sudut ruangan. Hingga detik itu tiba, Hu Xingye telah kehilangan nyawanya. Digantikan dengan tubuh sosok pengguna roh yang kekuatannya lebih baik dari rubuh aslinya sendiri.
“Bayangkan jika aku menciptakan seribu orang sepertinya, orang itu pasti akan tumbang tanpa perlawanan.”
Gadis di sebelahnya menunduk. Matanya terasa panas dan dia berusaha menyembunyikan ketakutannya. Di balik jubahnya, gadis itu mengeluarkan pisau. Dan langsung menusuk Dou Jin dari belakang.
Mata Dou Jin terbelalak lebar-lebar, tak percaya. Gadis itu berulang kali menusuknya hingga organ dalam nya terluka amat parah.
Gadis itu membuka topeng di wajahnya, melihat Dou Jin terkapar tak bernyawa dengan mata melotot.
“Maaf, Kak. Hanya sampai di sini aku mengikuti katamu.”