Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 156 - Kemalangan, Neraka, Penyiksaan


Disuruh berbicara secara tiba-tiba, Xin Chen sempat terdiam sebelum akhirnya dia bangkit. Menatap dua puluh sembilan orang di sekitarnya, merenungkan apa yang sudah dilihatnya selama berada di Kekaisaran Wei.


"Kemalangan."


Xin Chen akhirnya bicara.


"Neraka," ucapnya tertahan.


"Dan penyiksaan."


Xin Chen berhenti menatap mereka, membuang pandangannya jauh ke pepohonan gelap di belakang persembunyian. Tak menutup kemungkinan di dalam sana terdapat satu terinfeksi yang tengah mengintai mereka. Apa yang orang luar sentral rasakan sama seperti mereka. Takut jika melihat terinfeksi. Tapi tak ada sedikitpun penyelesaian yang diberikan oleh pemerintah pusat. Mereka hanya memastikan diri sendiri aman dan jauh dari ancaman. Sementara ancaman itu, di luar sana telah berteman baik dengan masyarakatnya. Merenggut nyawa mereka satu per satu.


"Jika ada sebuah Kekaisaran yang hancur, maka yang salah adalah pemimpinnya, bukan masyarakatnya."


Shi Long Xu bertepuk tangan kencang.


"Itulah yang ingin aku dengar dari anak muda sepertimu. Pemikiran yang bersih ini masih jauh dari para elit yang hanya memikirkan isi perut mereka sendiri!"


Shi Long Xu tampak berapi-api.


"Aku sudah melihat dari seluruh penjuru Kekaisaran ini, tak sedikitpun merasa bangga atas apa yang ayahku lakukan. Mukaku seperti dibakar api terpanas karena malu, bisa-bisanya dia menikmati hangatnya sup di rumah sementara orang-orang di luar sana menjerit meminta pertolongannya."


"Orang-orang sepertinya yang memberikan janji manis di awal untuk Kekaisaran ini, tapi sampai sekarang pun tak terlihat hasil kerjanya bukanlah seorang pemimpin. Tapi hanya seorang pemimpi yang hobi membual. Cuih."


Laki-laki itu tak berbohong, wajahnya merah sungguhan saat mengatakan hal itu. Menanggung malu yang amat sangat akibat perbuatan ayahnya sementara dia selalu bertemu orang di luar sentral.


"Yang kita butuhkan sekarang hanyalah seorang pembelot yang sedikit gila. Yang tidak takut untuk merubuhkan ketolo*an ini dan membangun sebuah tempat yang lebih adil. Mereka bisa meremehkan kita, kita bisa saja kalah dan mati mengenaskan, tapi setidaknya setelah melakukan pemberontakan terakhir ini, aku tak begitu malu karena telah berusaha menghentikan perbuatan ayahku."


Shi Long Xu memutari sekitarnya, api di matanya masih membara buta.


"Katakan kepadaku, atas nama orang-orang yang menderita di luar sentral dan mengharapkan keadilan. Apakah kalian bersedia bersamaku untuk menghentikan pemerintahan yang konyol ini?"


"Anda ingin membunuh Yang Mulia?" Salah satu suara terdengar ketir.


"Jika diperlukan."


Jawaban Shi Long Xu menuai kritik dan protes. Shi Long Xu telah mengetahui konsekuensi perbuatannya dan mempertimbangkan hal ini selama empat bulan lamanya. Keputusannya telah bulat dan rencananya telah matang.


"Adakah dari kalian yang bersedia?" tekannya sekali lagi.


Shi Long Xu mengharapkan antusias dari orang-orang di depannya, tapi tak kunjung terdengar suara di antara tiga puluh orang tersebut.


"Baiklah. Jika begitu, aku mengumumkan siapa pun yang ikut denganku akan kuberikan imbalan seratus juta keping emas."


Masih begitu sunyi.


Shi Long Xu menatap ke depan, mempertahankan sikap tenangnya seperti biasanya.


"Jika ada di antara kalian yang ingin mundur, aku membuka pintu keluar lebar-lebar. Dengan satu syarat, jika sampai rencanaku terbongkar maka hidup kalian tidak akan tenang!"


Tak disangka setelah mengucapkannya puluhan lelaki di depannya mundur, setelah menunduk hormat kepadanya. Biar dikata mereka adalah pengikutnya, tapi tak satu pun berani membelot kepada Kaisar. Lelaki itu adalah sosok yang mengerikan. Dari wajah mereka saja sudah jelas puluhan lelaki itu tak berani bermain api dengan Ayahanda Shi Long. Satu per satu dari mereka pergi dan tak membalikkan badan lagi, salah satunya menunduk lama sambil berkata, "Bukan kami tak mau mendukung Anda, kami sebetulnya paham betul dengan apa yang Anda rasakan. Hanya saja ... Usaha ini terlihat sangat mustahil, dan sangat berbahaya untuk kami yang sudah memiliki anak dan istri. Aku yakin Tuan paham akan keadaan kami."


"Maafkan aku, Tuanku." Yang lain memasang wajah bersalah dan akhirnya berlalu.


Shi Long Xu tersenyum, sepertinya nyaris tak ada yang tersisa selain dirinya dan Ying Xue. Dia telah mengantispasi hal ini, bertarung hanya berdua demi sesuatu yang orang lain anggap mustahil. Melengserkan Ayahandanya dari jabatan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi dia percaya tak ada yang tak mungkin. Dirinya memiliki ambisi yang kuat terhadap perubahan Kekaisaran ini.


Tapi keadaan yang terlihat sekarang orang lain tak satu suara dengannya. Mereka punya keluarga dan hal lain yang harus diperjuangkan.


Shi Long Xu hendak berbalik badan. Tapi begitu terkejutnya dia ketika melihat satu orang masih duduk manis di atas batu. Wajahnya terlihat tanpa beban.


Air muka Shi Long Xu yang semula keruh berubah menjadi cerah.


"Masih ada satu orang waras yang tidak hanya memikirkan isi perutnya sendiri ..."


"Atau mungkin dia lupa pintu keluar di mana?" Ying Xue masih ragu-ragu menganggap pemuda itu berpihak pada mereka. Mengingat begitu tak ramahnya Xin Chen saat dia ajak di lorong tadi.


"Saudara Chen, benarkah Anda bersedia ikut bersama kami?"


"Tidak."


Shi Long Xu memejamkan mata, sepertinya tak bisa berharap lebih.


"Tapi tergantung dari kalian sendiri."


Dia berdiri, menatap lurus ke arah Shi Long Xu. Ying Xue tampak waspada, dia lebih tahu seberapa berbahayanya pemuda itu. Mungkin di mata Shi Long Xu, si mata biru itu hanyalah pemuda biasa dengan sedikit keterampilan pedang.


Berulang kali Ying Xue gemetar. Insting binatang dalam darahnya seakan memaksanya takut kepada pemuda itu. Terdapat sebuah kekuatan luar biasa di dalam tubuh sosok di depan mereka.


"Aku bisa membunuh ribuan orang jika perlu serta mengotori tangan dalam masalah serius ini. Tapi ada harga yang kuminta. Bukan hanya uang, tapi sebuah kesepakatan."


Ekspresi Shi Long Xu tampak berliku, dia yakin Xin Chen ahli dalam urusan negosiasi. Terlihat dari gaya bicaranya.


"Lalu apa yang hendak Anda ajukan?"


"Anda anak dari Kaisar, bukan?"


Xin Chen menunggu waktu beberapa detik sampai Shi Long Xu menjawab ya.


"Kekaisaran Shang? Mengapa anda mengungkit soal Kekaisaran tersebut?" Shi Long Xu mengernyit, pemikirannya cukup tajam dalam melihat maksud Xin Chen.


"Atau sebenarnya anda berasal dari sana dan hendak menghentikan percobaan yang ayah kembangkan bersama para peneliti terhebatnya?"


"Tepat sekali." Xin Chen melipat kedua tangan, udara malam berhembus menggoyangkan api di sekitar mereka.


"Kau pasti tahu soal kerja samanya dengan seorang lelaki bernama Qin Yujin. Apa pun tujuan mereka, itu adalah hal buruk. Bisa kau bayangkan, orang-orang di luar sentral itu tak hanya kau temukan di sini. Melainkan di Kekaisaran lain? Sampai kau tak bisa bernapas karena melihat kematian setiap harinya."


"Tapi kita hanya bertiga. Sejauh ini belum ada yang berani mengambil keputusan untuk melawan Ayahanda."


"Kalau begitu biar aku jadi orang pertama yang melakukannya." Ucap Xin Chen sembari melanjutkan.


"Sebenarnya aku cukup muak melihat satu cecunguk yang kau sebut ayah itu mempermainkan kekaisaran ini seperti sampah. Aku memiliki seorang sahabat, dia berasal dari sini. Kau tahu, dia sampai kabur ke Kekaisaran kami karena ibunya dijadikan percobaan dan diperkosa sampai mati. Lebih parah lagi ... Mayatnya dibuang di selokan, menyedihkan."


"Aku turut berduka cita atas ibu temanmu. Tapi ..." Kalimatnya tertahan.


"Kau yakin ingin terlibat dengan masalah ini? Kau adalah orang Kekaisaran Shang. Dan kemungkinan besar, jika kau tertangkap kau tak akan dipulangkan. Mati pun mayatmu tak akan dikembalikan ke sana."


"Kematian tidak suka denganku. Tapi jika kalian meragukan ini. Aku bisa membatalkannya. Mungkin akan mencari kotak itu dengan cara lain."


Meski berkata demikian Xin Chen masih sedikit berharap, Shi Long Xu memiliki akses lebih besar untuk masuk ke istana Kaisar. Dia bisa mendapatkan benda itu atau bahkan mengetahui informasinya dari pekerja di istana. Kalau dirinya, berkeliling sampai tamat pun dipastikan tak akan ketemu.


"Tidak bisa ..."


Xin Chen membuang napas kecewa.


"Tidak bisa aku biarkan satu orang yang bersedia bertarung bersamaku pergi dengan sia-sia. Aku menyanggupi kesepakatanmu. Tapi kau harus membantuku."


"Lalu, bagaimana rencananya?"


Shi Long Xu tersenyum penuh arti.


"Kita bicarakan di dalam."


*


Ada satu malam di mana Shi Yong Gu-Ayahanda dari Shi Long Xu tak dijaga dalam pengawasan yang super ketat. Yaitu hari di mana dia melakukan ritual unik turunan klan Shi, hari untuk menghormati arwah nenek moyang mereka yang telah tiada.


Ritual itu dilakukan bersama istrinya di aliran sungai Fangzhu. Tempat di mana abu mayat keturunan klan Shi ditabur. Mereka percaya sungai Fangzhu akan membawa roh mereka ke tempat terbaik. Air sungai itu sendiri sangat jernih dan bersih. Tak jauh dari lokasi terdapat sebuah air terjun yang sangat indah. Tempat itu dijaga dan tak boleh dimasuki sembarangan orang.


Shi Long Xu tahu jalan rahasia ke tempat tersebut. Dia bisa memastikan jalan itu aman dari bahaya.


Shi Long Xu menjelaskan bahwa malam sebelum ritual dilakukan, akan ada pemeriksaan langsung yang dilakukan oleh kepala pengawal.


"Masalahnya ada di sini." Shi Long Xu yang telah menjelaskan panjang lebar menunjuk titik merah yang dibulatkan di peta istana.


"Mereka akan membersihkan tempat masuk kita, dan kupastikan orang-orang ini akan menghalangi jalan masuk. Kau tak akan bisa bergerak tanpa menyingkirkan mereka terlebih dahulu."


"Tapi kita cukup membuat keributan, buat mereka terlambat sebelum pergi ke upacara ritual. Dan itulah kesempatan kita. Pagi hari ayah sudah berdoa di sana. Dia akan bersama dua pengawal terbaiknya. Dua orang itu memiliki kemampuan khusus dalam pertarungan."


Shi Long Xu menjabarkan secara detil tentang dua orang tersebut. Dari gaya bertarungnya sampai keahlian masing-masing dari mereka.


"Dan di sekitar sungai ini, puluhan bahkan ratusan orang akan berjaga setidaknya delapan puluh meter dari lokasi. Jika kau gagal sekali saja, ratusan orang ini akan mengepungmu. Andai kita punya banyak petarung, aku yakin rencana ini lebih rapi. Kita hanya bertiga dan saling terkejar waktu."


Shi Long Xu dan Ying Xue sendiri memiliki tugas masing-masing, terlebih Shi Long Xu yang akan mencuri kotak tersebut. Ini bukan lagi rencana main-main dari seorang pemberontak yang diburu sepertinya. Semuanya sudah tentang nyawa. Mereka harus sangat serius.


"Aku akan menambahkan imbalan uang untukmu jika kau berhasil selamat hidup-hidup dari sana. Untuk sisanya, serahkan padaku. Aku akan memastikan kursi Kekaisaran itu berada di tanganku. Sehingga kekuasaan di Kekaisaran ini akan jatuh sepenuhnya kepadaku."


Xin Chen tersenyum.


"Omong-omong," katanya sedikit gantung. "Pernah mendengar sesuatu seperti Menyatukan Tiga Kekaisaran?"


Jujur Shi Long Xu bahkan tak tahu apakah ada orang tak waras yang berpikir demikian. Tapi pikirannya mulai tertarik ke makna dalam kalimat tersebut, dia mengangguk sedikit takjub.


"Belum ada orang gila yang mengatakannya."


"Sejujurnya sama saja seperti orang gila yang mengatakan hendak menjatuhkan pemimpin kekaisaran ini dan membangun Kekaisaran baru yang sesuai dengan harapannya. Sementara orang waras mengatakan hal itu mustahil."


"Ahahhaa," tawa Shi Long Xu begitu besar. Ying Xue sampai kaget, dia tak pernah melihat tuannya tertawa selepas itu. "Logika yang menarik!"


"Tapi jika suatu saat ada orang gila mengatakan ingin menyatukan tiga kekaisaran, apakah kau akan berdiri di sampingnya?"


Tampaknya Shi Long Xu mulai menangkap siapa orang gila yang dimaksudkan Xin Chen.


"Aku yakin orang gila itu bukanlah orang biasa. Dia terlahir dengan pemikiran yang hebat. Aku seratus bahkan satu miliar persen akan memastikan akan jadi orang pertama yang berdiri di sisinya."


Senyum Xin Chen melebar, dia mengulurkan tangannya disambut oleh Shi Long Xu dengan erat. Keduanya tampak akrab. Mungkin karena pembawaan Shi Long Xu hampir sama seperti Xin Zhan, Xin Chen jadi tak asing dengan sosok laki-laki itu.


"Aku akan memastikan kau sampai pada tujuanmu," ucap Xin Chen sebelum meninggalkan persembunyian itu ketika matahari mulai keluar.


"Dan aku akan memastikan kau juga akan sampai pada tujuanmu."


Pagi buta datang, Shi Long Xu menatap daun pintu sampai Xin Chen menghilang dari sana.


"Dan hanya berdoa, aku masih ada sampai hari di mana Kekaisaran ini telah membaik."