
Xin Zhan berhasil merebut pedang di tangan Xin Fai, tapi apa yang didapatinya dari pedang itu amat mengerikan. Benarkah Xin Fai masih memiliki kesadarannya walau hanya sedikit? Menahan kekuatan sebesar ini, serangan-serangan yang Xin Zhan terima sebelumnya yang menurutnya mematikan pada akhirnya tak setara dengan apa yang baru saja dirasakannya.
Xin Zhan mengambil kesempatan selagi Xin Fai tak berkutik. Dia memotong lengan baju Xin Fai hingga ke atas bahu. Kain itu terputus dan memperlihatkan seluruh lengan lelaki itu hingga ke atas. Mata Xin Zhan membelalak. Pemandangan yang jauh lebih mengerikan dari apa yang dibayangkannya sendiri.
Di sepanjang lengan Xin Fai, hampir di seluruh bagian kulitnya timbul mata hitam yang bergerak-gerak ke segala arah. Hitamnya mata itu seolah-olah membawa siapa pun pada kegelapan malam yang begitu sunyi. Hanya dalam satu lengan mungkin terdapat sepuluh sampai dua puluh mata sekaligus. Tak mampu berkata-kata lagi, Xin Zhan hanya diam membatu. Mata-mata hitam itu menatap ke arahnya, ke semuanya. Menunjukkan tatapan memburu dan membunuh.
"Siapa yang memberikan kutukan seperti ini ..."
Dalam hatinya Xin Zhan mulai ragu. Apakah dia harus menghancurkan semua mata itu? Layaknya penyakit kulit berbintik-bintik, jika Xin Zhan menghancurkannya 80% bagian tubuh ayahnya akan ikut terluka. Mata itu, menguasai seluruh tubuh ayahnya.
Xin Zhan mendapatkan kembali pedangnya. Pandangannya tetap awas memindai Xin Fai yang bisa saja sewaktu-waktu beraksi. Darahnya berdesir hebat ketika dirinya tersadar bahwa menatap mata itu justru akan membawanya kembali pada ilusi Hujan Darah.
Mata-mata hitam itu bergerak. Xin Fai mulai kembali menyerang. Xin Zhan melihat itu dengan seksama. Setiap kali mata itu bergerak, itu artinya si pemilik Pengendali Pikiran tengah memberikan perintah kepada tubuh Xin Fai. Dia masih belum menemukan celah. Tapi apa yang bisa dipahaminya sekarang mungkin dapat membantu.
Xin Fai mengambil pedang lain yang berada di antara tumpukan mayat. Berjalan pelan dengan tatapan mata kosongnya.
Satu tebasan meluncur miring, Xin Zhan menangkisnya dari bawah. Berhasil, dia membelokkan serangan ke samping. Mendorong paksa pedang tersebut, membuatnya kembali terlepas dari pegangan tangan Xin Fai.
Xin Fai menoleh ke sampingnya melihat pedang itu. Lalu dia menangkap pedang Xin Zhan dengan tangan kosong yang hendak mengenai dadanya. Tangan lainnya terangkat ke atas. Xin Zhan masih berusaha menekan tekanan pedangnya. Di satu sisi, matanya dapat melihat bagaimana Xin Fai menciptakan musibah baru baginya.
Tangan kanan Xin Fai berubah menjadi sebuah pedang hitam tajam bergerigi. Mata-mata hitam itu tak ubahnya ribuan permata yang dihias di tiap bagian-bagiannya. Bukannya indah, pedang yang menyatu dengan tubuh Xin Fai justru menyeramkan. Di lihat dari sisi mana pun tetap mengerikan.
Pedang hitam itu meluncur deras, berhenti tepat di depan leher Xin Zhan. Pemuda itu berhasil menahannya meski kedua tangannya tampak bergetar. Keduanya sama-sama bertahan pada pijakan masing-masing. Hingga tiba-tiba Xin Zhan melepaskan pedangnya, membiarkan serangan masuk nyaris mengambil nyawanya.
Hanya berbeda sepersekian detik sebelum pedang itu Menembus batang tenggorokannya, Xin Zhan menunduk cepat. Mengeluarkan sebuah pedang kecil dari balik jubahnya dan menancapkan benda tajam itu ke salah satu mata di tangan Xin Fai.
Seumur hidup. Xin Zhan tak pernah melakukan perbuatan yang melanggar kode etiknya sebagai seorang petarung. Membunuh lawan dengan senjata rahasia sangat tidak dibenarkan terutama ajaran dari Lembah Kabut Putih begitu lurus dan adil.
Namun saat ini pemikiran Xin Chen telah masuk ke dalam pemikirannya juga. Kadang kode etik itu sendiri yang membuat banyak pejuang mati. Mereka tak bisa memperjuangkan apa pun karena belenggu tali bernama peraturan yang membatasi tindakan mereka.
Xin Zhan yang sekarang hanya bisa berpikir bahwa dirinya harus tetap hidup bersama adiknya. Untuk memenangkan perang ini, merebut kembali tanah Lembah Para Dewa, memulangkan kembali Ayahnya pada sang ibu dan Kekaisaran Shang dan membuktikan pada adiknya bahwa dirinya akan selalu melindunginya. Apa pun yang terjadi.