
Tujuan terakhirnya adalah menemukan cara untuk membuka segel surgawi pada Dantiannya dengan mengintegrasikannya kembali dengan Hukum Surgawi. Jika dia mampu naik ke alam tertinggi dengan merasakan dengan Hukum Surgawi, mungkin ada hasil jika dia bisa merasakan dan menggabungkan sekali lagi kekuatanya dengan Dao Surgawi.
Fei Hung merasa ada penghalang yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Penghalang ini sangat tipis, sangat halus sehingga, dengan sentuhan sederhana, penghalang itu bisa rusak. Tapi tidak peduli seberapa keras Fei Hung mencoba, dia tidak bisa menghancurkan penghalang itu. Dia merasa bahwa jika dia menerobos penghalang itu, dia bisa melampaui kekuatannya dan merasakan hukum di sekitarnya. Mungkin dia bahkan bisa memecahkan segel surgawi dan membuat kekuatannya kembali lagi.
Fei Hung terjebak di dinding tipis penghalang ini. Dia menjadi tidak sabar.
Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang lain.
Fei Hung merasa ada panggilan dari dalam dirinya, seolah mencoba memberitahunya sesuatu, sama seperti sebelumnya.
Fei Hung melepaskan usahanya untuk memecahkan penghalang dan mencoba mendengar panggilan dari dalam jiwanya.
Wushhh..!
Angin menerpa tubuh Fei Hung, bahkan membuat pakaiannya bergerak. Dia merasa bahwa panggilan dari lubuk hatinya ini, menyuruhnya untuk meninggalkan tempat itu, seolah menyuruhnya pergi ke tempat lain.
Fei Hung segera membuka matanya, masih dengan perasaan misterius yang berasal dari dirinya. Dia menyadari bahwa hari sudah mulai gelap, dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hari ini untuk merasakan sekelilingnya.
Dia bisa mendeteksi keberadaan Ling Yan dan Ling Xi agak jauh tempatnya, dengan kekhawatiran di wajah mereka. Fei Hung tahu bahwa dia telah melupakan sekitarnya dalam keadaan tadi dan tidak tahu apakah tubuhnya mengalami kelainan yang akan membuat mereka berdua khawatir.
Fei Hung berdiri dengan cepat, memberitahu mereka untuk tidak khawatir bahwa dia baik-baik saja. Dia juga memberi tahu mereka bahwa dia harus melakukan sesuatu yang sangat penting dan harus pergi, tetapi dia tidak tahu apakah dia akan kembali atau keesokan harinya. Mungkin itu akan memakan waktu lebih lama.
"Kakak! Apakah kau akan pergi? Apakah kau tidak kembali nanti?" Jantung Ling Xi berdetak kencang ketika dia mendengar Fei Hung mengatakan dia akan pergi, jadi dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya dengan cemas di wajahnya.
Fei Hung tahu perasaannya, jadi dia memberinya senyum tak berdaya sambil menepuk kepalanya, "Adik Xi, jangan khawatir, aku akan kembali. Ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan dan jika urusanku sudah selesai, aku mungkin akan kembali...."
Ling Xi dengan berani menangkap lengan baju Fei Hung, takut dia tidak akan pernah melihatnya lagi.
Ling Yan mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang penting, seperti yang dikatakan Fei Hung.
Fei Hung merasakan gelombang panggilan dalam jiwanya, jadi dia segera pergi, dengan cepat menghilang dari pandangan mereka berdua.
Ling Xi menggenggam tangannya ke dadanya yang montok, sambil mencengkeram batu delima kecil yang dia pegang. Dia ingin memberikannya pada Fei Hung pada saat ini, tetapi Fei Hung pergi dengan cepat, mencegahnya memberikannya kepadanya.
Fei Hung melemparkan pedangnya dan melompat diatasnya, lalu tebang ke langit dengan cepat.
Panggilan dari dalam jiwanya mendesaknya untuk mengikuti nalurinya dan pergi dengan cepat ke suatu tempat di luar kota, jauh dari kota tianyun. Dia merasa, jika dia ragu-ragu atau memilih untuk tidak mengikutinya sekarang, panggilan itu akan hilang. Dia mengerti bahwa karena butuh beberapa saat untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kedua saudara itu, oleh karena itu, panggilan itu menjadi lebih lemah.
Fei Hung tiba-tiba teringat Lin Meng dan meminta maaf padanya di dalam hatinya, karena dia mungkin tidak bisa bertemu dengannya malam ini.
Fei Hung telah melepaskan indera spiritualnya dan memindai tempat yang dia tuju, tetapi dia menemukan sesuatu yang tidak dia harapkan.
Ragu-ragu sejenak apakah akan mengikuti panggilan yang secara bertahap melemah saat dia terus terbang. Kecepatan terbangnya menjadi lebih cepat.
...
Keluarga Lin.
Lin Meng telah meninggalkan kediaman klan, untuk menemui Fei Hung.
Lin Cuin mengamati hal ini, lalunsegera pergi memberitahu Luo Zheng.
...
"Haha" Luo Zheng tertawa terbahak-bahak ketika dia diberitahu bahwa Lin Meng telah pergi dan tampaknya tidak akan kembali ke rumahnya selama satu atau dua hari dan dia berkata, "Itu berarti aku akan bisa bersenang-senang dengannya tanpa memberi tahu siapa pun selama beberapa hari.."
Luo Zheng juga bersiap dan pergi, dengan petunjuk rute yang diberikan kepadanya oleh salah satu pelayannya saat dia diam-diam mengikuti Lin Meng.
Hari ini akan menjadi hari dimana dia bisa mewujudkan keinginanya yang selama ini tertunda.
...
Kediaman Klan Qing.
Qing Zen juga menerima laporan bahwa Lin Meng telah pergi dan tampaknya membawa perbekalan. Dia menyimpulkan bahwa dia berencana untuk pergi dari rumah selama beberapa hari.
"Haih, Lin Meng, siapa bajingan yang ingin mengambilmu dariku? Tawaran lamaran yang aku berikan padamu apakah masih belum cukup?" Qing Zen mengepalkan tinjunya. Dia akan mengikutinya dan melihat siapa bajingan itu yang merebut calon istrinya.
Qing Zen bersiap-siap pergi juga. Dia mendapatkan kabar bahwa Lin Meng telah pergi, jadi dia yakin dia akan mengambil jalan yang sama.
...
Di pinggir Kota Tianyun. Lin Meng saat ini sedang berjalan ke tempat di mana dia akan bertemu Fei Hung. Dia berjalan cepat, berharap untuk mempersingkat perjalanannya dan bertemu dengan Fei Hung segera. Dia juga tidak menyadari bahwa beberapa orang mengikuti di belakangnya.
Ratusan meter dari Lin Meng.
"Kau bajingan! Apa yang kau lakukan di sini ?!"
"Aku menanyakan hal yang sama padamu!"
Luo Zheng dan Qing Zen bertemu di tengah jalan, ketika mereka akan mengikuti Lin Meng.
Luo Zheng kesal karena bertemu orang ini, jadi dia memutuskan untuk menghadapinya dan mengalahkannya dengan cepat dengan kekuatannya.
Swoshh...a
Luo Zheng mengeluarkan auranya dan mengarahkan tangannya ke arah Qing Zen, untuk memukul tepat di wajah Qing Zen.
Qing Zen berhasil bereaksi tepat waktu dan menutupi wajahnya menggunakan lengan kirinya, sambil langsung memukul dengan lengan kanannya ke arah Luo Zheng.
Luo Zheng juga berusaha memblokir pukulan Qing Zen.
Duarrr...!
Mereka berdua tercengang ketika mereka baru saja bertukar pukulan.
Luo Zheng lalu berteriak marah, "Sialan! Bagaimana kau bisa naik ke ranah Kaisar juga?!"
"Aku yang seharusnya bertanya padamu!" Qing Zen tidak menjawab pertanyaannya. Dia juga tercengang bahwa dia pikir dia bisa mengalahkan Luo Zheng dengan mudah saat mereka bertemu, tapi sekarang, sepertinya mereka masih sama dalam hal kekuatan.
Luo Zheng marah dan melemparkan pukulan lagi ke arah Qing Zen, menyebabkan lawannya mundur beberapa langkah, dan kemudian dia belari, menuju jalan yang dilewati Lin Meng, untuk bisa terlebih dahulu menangkap Lin Meng sebelum Qing Zen.