Pendekar Dewa Pedang

Pendekar Dewa Pedang
Ch. 50 - Pertemuan Kedua


Obat mujarab yang normal, atau obat mujarab duniawi spritual di Alam Bawah ini, adalah ramuan obat yang paling dasar untuk seniman bela diri mereka


Fei Hung tersenyum tak berdaya ketika kedua orang bersaudara ini berbalik untuk melihatnya.


Mengamati bahwa Ling Xi ingin mengembalikan ramuan itu dengan tangannya yang masih gemetaran, Fei Hung berbicara.


"Mengapa kau tidak mengkonsumsinya saja, Adik Ling Xi? Tingkat kekuatanmu pasti akan meningkat bahkan naik ke tingkat Surga setidaknya."


Ling Xi berdiri bodoh dengan mata terbuka lebar, dan bwrpikir. 'Meminum ramuan ini sendiri? Obat Soritual surgawi tingkat tinggi yang berharga ini, apakah benar aku yang menggunakannya?'


Ling Yan di sebelahnya juga mengangguk dan berkata kepadanya "Ayo, adik, kau akan memiliki lebih banyak kekuatan dan kau tidak perlu khawatir tentang masalah apa pun ketika kami berdua tidak ada di dekatmu."


Ling Xi ragu-ragu untuk mengambil ramuan surgawi ini untuk dirinya sendiri, tetapi ketika dia melihat senyum lembut Fei Hung, ​​​​dia akhirnya menerima dan memjawab.


"Terima kasih, Kakak!" Dia berkata dengan suara lembut dengan senyum yang indah terpatri di wajahnya.


Fei Hung mengangguk sebagai penghargaan ketika dia berkata, "Ayo, kita akan terus berlatih alkimia, mungkin kau juga bisa membuat ramuan surgawi untukku."


Ling Xi menggelengkan kepalanya untuk menerima permintaan Fei Hung, dengan sedikit rona merah dan kekaguman di matanya.


Ling Yan agak iri ketika dia melihat interaksi keduanya, sekarang mereka melupakannya? Dia kembali untuk melanjutkan latihan dengan kepala tertunduk.


Fei Hung dan Ling Xi menyaksikan perilaku Ling Yan, dan keduanya tidak bisa melepaskan tawa saat mereka melihatnya berjalan kembali ke ruangan.


Fei Hung terus menginstruksikan dan mengajari Ling Xi dalam banyak hal. Pembuatan ramuan tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan pil, dengan pengetahuan yang baik tentang tanaman obat dan penanganan yang tepat dalam urutan dan pengendalian api, Ling Xi sekarang bahkan dapat membuat ramuan spiritual.


Seiring berjalannya waktu, Fei Hung terus mengajari Ling Xi dalam segala hal yang masih wanita itu ragukan.


Kekaguman Ling Xi terus tumbuh dengan setiap nasihat dan tindakan yang diajarkan Fei Hung padanya. 


'Siapa dia sebenarnya? Apakah dia benar-benar masrer alkimia yang hebat? Berapa banyak pengetahuan yang dia miliki?'


Pada awalnya, dia bingung tentang apa yang sedang terjadi, tetapi seiring berjalannya waktu, kekagumannya tumbuh pada Fei Hung sampai dia melihatnya sebagai master alkimia yang hebat. Dia bertanya-tanya apakah Fei Hung bisa menjadi seseorang yang penting dalam asosiasi alkimia.


Melihat punggung Fei Hung seperti gunung yang tidak bisa ditembus yang membuatnya merasa aman ketika dia menyelamatkannya dari pukulan Luo Feng, dan kemudian meletakkan kepalanya di pangkuannya, Ling Xi hanya bisa tersipu malu. 


Jantungnya berdebar tak henti-henti, dan terlebih lagi, ketika dia mengamati ekspresi serius Fei Hung saat melihatnya menjelaskan alkimia kepadanya sementara dia berkonsentrasi pada proses pemurnian herbal, perasaannya di dalam menjadi kacau. 


Dia tahu bahwa jantungnya berdetak kencang ketika dia melihat Fei Hung dan dekat dengannya. Rasa kekaguman berantakan di dalam hatinya, jadi dia mencoba mengesampingkan perasaan itu sejenak dan fokus pada pengajaran Fei Hung.


Tetap saja, dia tidak bisa tidak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melihat wajah Fei Hung. Jantungnya terus berdetak kencang sepanjang waktu.


Menjelang malam, Fei Hung telah selesai mengajari Ling Xi beberapa hal, sementara Ling Yan juga telah menyelesaikan pelatihannya.


Fei Hung lalu bangkit dan berbaring ketika dia berkata, "Aku akan keluar sebentar, kau tidak perlu menungguku." 


Fei Hung mengambil botol porselen berisi cairan obat yang dia buat saat dia mengajari Ling Xi


Ling Yan terkejut dan berkata, "Fei Hung, ​​​​apakah kau keluar pada waktu sudah mau malam seperti ini?"


Bahkan Ling Xi menatap Fei Hung, ​​ingin pemuda ini menjelaskan ke mana dia akan pergi.


Ling Yan mengangguk ketika dia bertanya dengan nada menggoda, "Jangan bilang kau akan berkencan di malam hari seperti ini, kan?"


Fei Hung mengangkat alisnya ketika dia tersenyum tipis sebagai tanggapan. Dia agak kabur dalam menjelaskan kepada mereka apa yang akan dia lakukan.


Ling Yan sedikit terkejut melihat ekspresi Fei Hung, ​​sepertinya dia benar.


Ling Xi yang berada di dekat Fei Hung dan tanpa sadar mengangkat tangannya untuk menarik jubah Fei Hung, ​​​​seolah-olah memintanya untuk tidak pergi, tetapi berhenti di tengah jalan. 


Namun, hatinya merasa agak gelisah dan cemas.


Fei Hung mengangguk kepada kedua bersaudara itu tanpa memperhatikan ekspresi cemas Ling Xi ketika dia meninggalkan rumah mereka.


Saat itu hari sudah malam, jadi Fei Hung memiliki beberapa urusan yang belum selesai untuk diselesaikan.


Fei Hung meninggalkan rumah dengan perasaan damai, Dia berjalan jauh sebelum mengeluarkan pedangnya dan terbang ke langit.


Dalam perjalanan dia tidak bisa tidak memikirkan semua yang telah dia pelajari tentang tempat ini.


Orang-orang disini tidak tahu apakah memang ada kota lain selain kota tianyun. Fei Hung juga tidak melihat tanda-tanda kota atau pemukiman manusia lain ketika dia terbang di siang hari mencari area teleportasi.


Tampaknya benua ini sangat kecil dan kota tianyun adalah satu-satunya pemukiman manusia yang dia tahu. Kecuali mungkin masih ada kota lain di mana Fei Hung belum datangi di luar sana, Kota Tianyun akan menjadi satu-satunya kota yang dia ketahui saat ini.


Fei Hung tidak tahu sudah berapa lama sejak dia berada di Alam bawah ini. Mungkin beberapa dekade, abad, atau bahkan ribuan tahun telah berlalu di Alam Atas. Hukum ruang dan waktu berbeda di dunia mana pun.


Untuk mengabaikan pikiran-pikiran itu dan fokus pada saat ini, Fei Hung menggelengkan kepalanya untuk berhenti memikirkan masalah itu. Suatu hari, dia akan menemukan jalan kembali ke Alam Dewa.


Fei Hung terbang di sekitar Kota Tianyun sebelum menuju ke hutan.


Dia turun diam-diam di dekat dedaunan yang ada pohon dan mulai berjalan.


Setelah melepaskan indera spiritualnya, dia berjalan ke arah tempat tertentu.


KRETAKKK....!!


Dia membuat suara saat dia menginjak berbagai cabang kayu kering untuk memberitahu kehadirannya.


Begitu dia tiba, seorang wanita melihatnya.


Wanita ini cantik dan membawa sikap dingin yang ada di depannya, sedang menunggu kedatangannya.


Wanita dingin itu menyipitkan matanya saat dia mengambil pedang di tangannya dan bersiap untuk menghadapi situasi apa pun yang mungkin terjadi. 


Begitu dia tahu itu Fei Hung, dia mengendurkan kewaspadaannya dan menurunkan pedangnya.


Fei Hung tersenyum lembut ketika dia melihat wajahnya yang indah berpadu dengan keanggunan sinar malam, sementara cahaya bulan menambahkan pesona yang dingin dan anggun. Bahkan sepertinya malam ini wanita itu mengenakan jubah yang membuat kecantikannya semakin terlihat.


Fei Hung mendekat beberapa meter darinya dan berkata."Eh, Dewi cantik, maaf jika aku sudah membuatmu menungguku untuk waktu yang lama, alu sedang sibuk melakukan beberapa hal tadi, hehe"


Kebingungan sebentar muncul di mata wanita dingin itu ketika dia mendengar Fei Hung memanggilnya Dewi cantik. Semburat rona merah yang hampir tidak terlihat muncul di pipinya ketika dia dengan cepat menjawab, "J-jangan khawatir, aku tidak menunggumu lama di sini..."