Pendekar Dewa Pedang

Pendekar Dewa Pedang
Ch. 222 - Potret Keluarga


"Selain itu, kalian baru saja menghilangkan kekuatan seni beladiri yang kalian miliki sebelumnya, jadi sesuatu mungkin akan bisa terjadi pada kaia di jalan jika pulang sendirian." Sambung Fei Hung.


Meskipun Fei Hung tahu bahwa tidak ada yang berani menyentuh gadis-gadis ini dan juga putri Penguasa Kota, akan selalu ada satu atau dua pria berkepala panas yang akan melakukan sesuatu hal nekad.


Zhang Yang tidak bisa menahan senyum sedikit pada perhatian Fei Hung.


"Kalian berdua, itu sudah cukup." Fei Hung lalu melangkah mendekati Ling Yan dan Xin Tian, yang masih saling bertarung.


Dengan napas yang terengah-engah, keduanya samgat kelelahan begitu mereka berhenti.


"Saudara Fei, tidak bisakah aku terus berkultivasi di rumahku sendiri?" Xin Tian bertanya, "Dengan cara ini aku bisa maju lebih cepat, hehe."


Fei Hung memutar matanya saat dia menghela nafas tanpa daya, "Jika kau ingin berkultivasi dengan cepat, lakukanlah, tetapi ketika tubuhmu meledak, aku tidak dapat membantumu." Jawab Fei Hung.


Xin Tian merasa tubuhnya kedinginan dan tidak lagi mengatakan apa-apa. Jika dia meledak, itu akan memalukan.


"Kakak Fei Hung." Ling Xi juga mendekati Fei Hung dengan Huan Yin yang sedang tidur di pelukannya.


Fei Hung lalu tersenyum dan memeluk Huan Yin, "Apakah kau ikut denganku?"


Ling Xi menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku akan tinggal di sini dan mulai mengatur kamar tidur lainnya."


Fei Hung memiringkan kepalanya dengan bingung tetapi tidak mengajukan pertanyaan apa pun padanya. Rumah Ling Xi memiliki beberapa kamar tidur yang sudah lama tidak digunakan. Lin Meng tersenyum sedikit ketika dia melihat Fei Hung tetapi tidak mengatakan apa-apa.


"Hehe, kalau begitu aku akan kembali dengan cepat nanti." Fei Hung mencium kening Ling Xi, membuat wajahnya memerah tetapi juga tersenyum bahagia.


Ling Xi mengangguk dengan gembira dan mengucapkan selamat tinggal kepada gadis lainnya dan kemudian memasuki rumah.


"Mari kita pergi." Fei Hung meraih tangan Lin Meng dan berkata kepada ketiga wanita lainnya.


Mereka semua mengangguk dan segera mulai berjalan. Fei Hung mengikuti di belakang, dengan Lin Meng berada di sisinya dan Huan Yin di lengannya yang lain. Fei Hung berencana untuk meninggalkan Huan Yin tidur di kamar tetapi gadis kecil itu tanpa sadar memegang erat Fei Hung begitu dia menggendongnya.


Xin Tian dan Ling Yan berjalan sambil melanjutkan bertarung satu sama lain.


Saat sampai di kediaman Klan Xin, Xin Wanying berhasil mengambil Huan Yin dari pelukan Fei Hung dan berkata, "Kau sebaiknya segera kembali dan membantu Saudari Ling Xi."


Xin Wanying lalu mencium pipi Fei Hung dan mengucapkan selamat tinggal, memasuki rumahnya. Xin Tian dan Ling Yan juga masuk ke dalam rumah itu, yang memberi tahu Fei Hung bahwa dia akan tinggal di kediaman Xin.


"Kalau begitu sampai jumpa besok." Lin Meng dengan lembut mencium bibir Fei Hung dan berkata, "Jangan biarkan adik Xi sendirian terlalu lama di rumah."


Lin Meng alu mengeluarkan pedangnya dan terbang ke kediaman merek, meninggalkan Fei Hung dan Zhang Yang dan Wang Ying.


Kedua wanita itu memasang wajah cemberut pada pertunjukan ciuman antara Fei Hung dan Lin Meng.


Ling Tian tersenyum ironis pada ekspresi kedua gadis itu dan bertanya, "Apakah kalian berdua ingin memberi ciuman ucapan selamat tinggal juga?" Sambil tersenyum main-main.


Wang Ying sedikit tersipu malu atas pertanyaan Fei Hung, sedngkan Zhang Yang tidak mengatakan apa-apa. 


Fei Hung tertawa dan mulai berjalan dengan kedua wanita itu. Dia menemani mereka berdua sampai ke rumah mereka masing-masing, lalu kembali ke rumah Ling Xi.


"Hah?"


Ketika Fei Hung melihat rumah dengan indra spiritualnya, dia dapat melihat bahwa Ling Xi berada di kamarnya sendiri sambil melihat beberapa hal yang tampak seperti potret.


Tok.. Tok.. Tok...!


Fei Hung mengetuk beberapa kali berturut-turut, tetapi Ling Xi masih tidak menjawab.


Fei Hung diam-diam membuka pintu dan mendekati Ling Xi, yang masih melihat potret lukisan di tangannya.


"Apakah mereka orang tuamu?" Fei Hung bertanya dengan suara rendah saat dia mendekat dan duduk di sebelah Ling Xi di bawah lantai di samping tempat tidur.


Ling Xi terkejut dan ketakutan, jadi dia dengan cepat menoleh untuk melihat siapa itu.


Ketika dia menyadari bahwa Fei Hung yang duduk di sebelahnya, dia menghela nafas lega.


"Mm." Ling Xi mengangguk sambil tersenyum dan menyerahkan potret itu kepada Fei Hung.


Dalam potret itu terlihat seluruh anggota keluarga Ling, di tengahnya ada Ling Yan dan Ling Xi, yang dipeluk oleh orang tua mereka.


"Dia adalah ibuku, dan dia adalah ayahku. Ada juga kakek-nenek kami dan beberapa paman dan bibi kami ..." Ling Xi dengan riang menunjuk ke setiap orang didalam potret dan menyebutkan siapa mereka, agar Fei Hung tahu sedikit tentang keluarganya.


Fei Hung mendengarkan dengan penuh perhatian, mengamati senyum bahagia Ling Xi, tetapi dengan sedikit nostalgia. Wajah manisnya yang cantik begitu bersih sehingga Fei Hung tidak akan pernah bosan melihatnya, merekam setiap detail kecil wajahnya.


"Xi'er." Fei Hung menunjukkan padanya senyum lembut dan penuh kasih saat meraih tangannya dan berkata, "Sekarang kau tidak akan sendirian lagi, kau memiliki aku dan yang lainnya. Aku akan menjadi suamimu dan juga keluargamu, jadi aku akan mencoba yang terbaik. untuk membuatmu sangat bahagia di sisiku."


Ling Xi tersenyum penuh kebahagiaan saat dia bersandar pada tubuh Fei Hung.


Dia ingat apa yang Fei Hung katakan tentang orang tua dan keluarganya, jadi dia tahu bahwa Fei Hung juga pernah mengalami situasi seperti yang mereka alami, di mana seluruh keluarga mereka meninggal dan hanya mereka yang tersisa.


Fei Hung lalu mengambil tangan lembut Ling Xi dan meletakkan cincin di jarinya.


Ling Xi membuka matanya dengan tidak percaya saat melihat cincin yang begitu indah yang terbuat dari kristal berkilau indah. Senyum bahagia terlihat di wajahnya, bahkan air mata kecil mengancam akan keluar dari matanya.


"Kau akan selalu ada di hatiku apapun yang terjadi. Aku akan mencintaimu setiap detik dan memanjakanmu di setiap saat dalam hidup, membuatmu sangat bahagia. Cintaku padamu akan sebesar dan tak berujung seperti lautan itu sendiri, tidak pernah berhenti mencintaimu. Ini adalah janjiku padamu!."


Fei Hung kemudian dengan lembut mencium kening Ling Xi, lalu menyatukan keningnya mereka berdua.


Ling Xi seakan merasakan sengatan listrik mengaliri tubuhnya. Jantungnya berdetak tak henti-hentinya sementara perasaan kebahagiaan yang mendalam memenuhi seluruh tubuhya.


Fei Hung lalu memeluk tubuh Ling Xi di antara lengannya, menatapnya dalam-dalam tanpa pernah bosan dengan matanya yang indah dan tak bernoda.


Ling Xi bernapas dengan cepat saat dia melihat Fei Hung. Wajahnya benar-benar sudah memerah.


Fei Hung lalu tersenyum saat dia berdiri dan berjalan beberapa langkah, mencapai tempat tidur dan dengan lembut menempatkan Ling Xi di atasnya.


Detak jantung Ling Xi yang tak henti-hentinya bisa terdengar pada saat ini.


"Xier." Fei Hung berbisik pelan saat dia bisa mendengar dan merasakan detak jantung Ling Xi.


"K-kakak Fei" Ling Xi menjawab karena sangat gugup dan malu saat ini karena ini pertama kalinya mereka berdua, jadi dia yakin dengan apa yang akan terjadi dalam beberapa menit kemudian.


Fei Hung terus membisikkan kata-kata manis, penuh perasaan lembut saat mencium pipinya yang memerah, dahinya, matanya dan akhirnya bibirnya. Fei Hung bertindak dengan lembut untuk menurunkan semua pertahanan Ling Xi..


Mata Ling Xi menjadi berkaca-kaca dan kebahagiaan luar biasa jelas terlihat di wajahnya yang cantik dan polos. Dia merasa seolah-olah sedang melayang di antara awan. Tubuhnya yang lembut bergoyang tanpa sadar sementara napas yang lemah dan hangat serta mulai tidak teratur mulai keluar dari mulutnya.