
Qin Hong masih berlutut dengan rasa sakit di dadanya saat dia berteriak pada Qin Khan, tanpa menyadari situasi kedua bawahannya itu.
Qin Khan dan rekannya tidak bisa menjawab, mereka berusaha melawan menurut kemampuan mereka untuk tidak jatuh di bawah tekanan aura yang dipancarkan oleh Fei Hung.
Fei Hung menoleh kearah Qin Hong dengan jijik. Sampah seperti ini telah dia temui ribuan kali dan akan selalu berakhir sangat buruk di hadapannya.
Karena dia tidak ingin membuang waktu lagi untuk hal yang tidak berguna ini, Fei Hung menarik tekanan auranya dan membiarkan kedua pengawal Qin Hong bebas dari tekanan. Selain itu, orang-orang mulai berdatangan dari kejauhan yang kebetulan melewati jalan itu.
Fei Hung menatap Qin Khan dengan tatapan acuh tak acuh, menyebabkan pria itu gemetar saat melihat wajah tanpa ekspresi Fei Hung, merasa seolah-olah kematian masih akan menghampirinya. Fei Hung menoleh melihat Qin Hong dan kemudian kembali ke arah Qin Khan untuk mengisyaratkan sesuatu.
Qin Khan tidak ragu-ragu dan mengangkat Qin Hong dengan cepat. Qin Hong dan dua pengawalnya pergi dengan cepat danmasih gemetar dan berkeringat di tubuh mereka karena ketakutan.
Fei Hung akan mencoba menghindari pembunuhan bocah itu untuk menghindari masalah di masa depan. Bukan karena dia pengecut dan takut pada Klan mereka. Hanya saja dia ingin terus hidup dalam damai selama dia bisa, sampai dia meninggalkan alam bawah ini. Tetapi jika seseorang benar-benar membuatnya kesal, dia akan membunuhnya tanpa ragu-ragu... Dia tidak akan keberatan melenyapkan salah satu Klan besar Kota Tianyun jika mereka membalas dendam dan mengganggunya lagi.
'Sepertinya aku sekarang menjadi seseorang berhati lembut ...' Fei Hung menghela nafas ketika dia melihat ketiga orang itu telah pergi. Tampaknya selama beberapa tahun setelah dia menjadi salah satu immortal di Alan Dewa, tidak ada yang berani menyinggung perasaannya selama itu dan membuatnya berubah dalam setiap tindakan emosial dan pembunuhan langsung.
Jika dia berada dalam dirinya yang sangat brutal sebelumnya, dia tidak akan peduli dan dia akan membunuh orang-orang ini tanpa ragu-ragu ... Sekarang dia tidak melakukannya karena sekarang dia akan pergi untuk membantu ibu temannya Xin Tian, jadi dia tidak mau untuk menimbulkan ketakutan dan keraguan pada dua wanita ini, yang bisa membuat mereka menyesal telah meminta bantuannya dan menganggapnya seorang pembunuh berdarah dingin.
Brukk..!!
Tubuh Xin Nian akhirnya jatuh ketanah, berlutut dengan satu kaki saat dia mencoba mengatur napas.
"Bibi Nian!" Xin Wanying keluar dari keterkejutannya dan berteriak ketika dia melihat Xin Nian jatuh.
Dengan cepat, dia pergi untuk membantu Xin Nian berdiri, sambil bertanya apakah dia terluka atau mengalami sesuatu yang lain.
Xin Wanying tidak tahu apa yang terjadi. Dia tenggelam dalam perasaan yang dia rasakan ketika disentuh oleh Fei Hung, jadi dia tidak merasakan atau menyaksikan apa yang terjadi dalam sekejap.
Fei Hung telah melindunginya dengan auranya sehingga tidak ada yang terjadi padanya.
"Apakah kau benar-benar baik-baik saja, Bibi Nian?" Xin Wanying bertanya dengan tatatapan mata yang prihatin.
Xin Nian mengangguk dan memberi tahu Xin Wanying bahwa dia baik-baik saja, hanya merasakan sesak di dadanya, sementara dia diam-diam menatap Fei Hung dengan ketakutan dan keterkejutan.
Xin Wanying bingung tentang apa yang terjadi. Bagaimana Qin Hong tiba-tiba pergi? Apa yang terjadi sehingga dia tidak menyadarinya?
Fei Hung memperhatikan penampilannya dan berkata kepada Xin Wanying, "Wow, Nona Xin, bibimu luar biasa ... Aku pikir aku akan dipukuli oleh kedua pengawal tetapi dia melindungi kita dengan kekuatannya". Fei Hung mengangguk acuh tak acuh kepada Xin Nian, jadi dia bisa menghindari menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Xin Wanying.
Xin Nian tidak memiliki banyak keberanian untuk melihat Fei Hung atau menjawab perkataanya.
Setelah dia mengatur napas, mereka kembali meneruskan perjalan mereka.
Dalam perjalanan, mata indah Xin Wanying diam-diam menatap Fei Hung sesering mungkin. Tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan. Fei Hung hanya menggelengkan kepalanya dengan ironis.
Xin Nian saat ini malah tidak berani melihat Fei Hung, seolah-olah itu adalah kejahatan untuk melakukan hal seperti itu. Dia masih terlihat terkejut.
Ketiga orang itu tidak berbicara saat mereka menuju kediaman klan Xin.
Kediaman Klan Xin.
Kamar ibu Xun Wanying, Xin Zhi.
"Ibu..!"
Xin Wanying berlari dengan cemas ke sisi tempat tidur tempat ibunya, Xin Zhi berada.
Xin Zhi memiliki wajah pucat dan telah terbaring di tempat tidur selama lebih dari setahun. Dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berjalan, dia hampir tidak bisa menggerakkan lengannya selama beberapa detik sebelum jatuh kelelahan. Xin Zhi tidur hampir sepanjang hari, seolah-olah dia adalah orang di usia tuanya yang perlahan sekarat, seperti lampu dengan sedikit minyak yang perlahan habis, sampai semua energinya habis.
"Putriku" suara yang agak lemah datang dari mulut Xin Zhi, saat dia mencoba menunjukkan senyum kepada putrinya.
Xin Wanying dengan lembut memeluk ibunya, takut dia akan menyakitinya dengan kekuatannya.
"Nyonya." Xin Nian membungkuk hormat saat dia menyapa Xin Zhi.
Seorang pria paruh baya berdiri di samping tempat tidur lainnya, memberikan obat kepada Xin Zhi sementara dia memeriksa kondisi tubuhnya dengan mengambil denyut nadinya.
"Tuan Mo, bagaimana kesehatan ibuku?" Xin Wanying bertanya pada pria paruh baya yang sedang memeriksa kondisi ibunya.
Tuan Mo dengan lembut melepaskan pergelangan tangan Xin Zhi sambil menghela nafas dan berkata dengan nada sedih, "Maaf, nona muda.. Tetapi penyakit Nyonya Xib sudah sangat parah dan tidak dapat disembuhkan, paling-paling kami hanya bisa mencoba memperlambat kemajuan dan meringankan rasa sakitnya, dia hanya memiliki beberapa hari lagi untuk tetap hidup ... "
Xin Wanying menangis ketika dia mendengar kondisi ibunya sambil memeluknya dengan penuh kasih. Ibunya hanya memiliki waktu yang singkat untuk hidup.
Bahkan Xin Nian tidak bisa meneteskan air mata dari matanya ketika kesedihan juga menimpanya.
Xin Zhi tersenyum hangat pada putrinya saat dia berkata dengan lemah, "Anakku, jangan sedih, ibu tidak ingin melihatmu menangis. Bahkan jika aku mati, aku akan pergi ke surga dan aku akan mengawasimu dari sana. Aku ingin melihatmu lebih dewasa lagi. Disana, aku dapat melihat ketika kau menikah, ketika kau memiliki anak dan keluarga ... Maafkan ibu karena tidak bisa menemanimu lebih banyak waktu lagi ... "
Xin Wanying mau tidak mau memeluk ibunya sedikit lebih keras, dia tidak ingin ibunya pergi.
Mencoba menenangkan tangisannya, dia berdiri dan menunjukkan senyuman padanya sambil berkata, "Ibu, aku telah menemukan Master alkemis hebat lainnya yang mungkin bisa menyembuhkanmu," suaranya yang gemetar mengkhianatinya, tetapi Xin Wanying masih memiliki sedikit rasa sakit dan harapan dalam hatinya.
Xin Wanying mencoba menyeka garis air mata dari wajahnya yang lembut dan berkata, "Bu, ini adalah master yang saya bicarakan ..." Dia berbalik untuk mencari Fei Hung untuk memperkenalkannya dan memintanya memverifikasi penyakit ibunya, tapi pemuda yang dia cari tidak ada di belakangnya.
-
-
-
Maaf cuma bisa up satu chapter, dikarenakan dalam satu minggu ini saya lagi down.
Mohon maaf untuk semuanya. 🙏🙏🙏