Pendekar Dewa Pedang

Pendekar Dewa Pedang
Ch. 233 - Tersenyum Jahat


Dua balon kembar Zhang Yang juga sedikit lebih besar dari Lin Meng, dan juga yang terbesar dari semua gadis lainnya. Fei Hung bisa merasakan kelembutan dan elastisitasnya, tetapi balon besar itu juga benar-benar mengambang dengan kokoh dan pamer dengan bangga.


Zhang Yang sedikit malu saat dia kembali mengingat bahwa leempat gadis lainnya ada di dalam rumah, tetapi dia secara bertahap kehilangan akal sehatnya karena dia terus-menerus diserang oleh Fei Hung. Tangannya melingkari leher Fei Hung sementara bibir mereka saling bergerak dan mulai mengganas.


Fei Hung seakan kehilangan dirinya sebelum dia berhenti sepenuhnya dan dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari Zhang Yang yang sudah terengah-engah serta wajah yang memerah merona.


"GURU!"


Huan Yin muncul sedetik kemudian sambil tersenyum. Dia sudah mandi dan memakai baju tidur cantiknya agar dia bisa tidur. Huan Yin lalu memandang Fei Hung, tetapi dia tidak melihat keberadaam Zhang Yang, karena sedang berbaring di kursi tanpa diketahui.


Fei Hung menghela napas pelan sebelum berkata dengan senyum yang agak tidak nyaman, "Bagus, Yiner, mengapa kau tidak pergi mencari kakak Xi? Aku akan ikut denganmu sebentar lagi." Dia merasa tidak nyaman memikirkan apakah Huan Yin telah melihatnya dan Zhang Yang melalui indra spiritualnya. Setetes keringat menyelinap dari satu sisi dahinya karena ketidaknyamanan.


"Baiklah!" Huan Yin mengangguk dengan senyum cerah sebelum berbalik dan memasuki salah satu kamar.


Fei Hung menghela nafas lega saat dia melihat reaksi Huan Yin. Tampaknya Huan tidak menggunakan indera spiritualnya di dalam rumah.


Dia telah memperhatikan dengan indra spiritualnya dan terutama oleh instingnya bahwa Huan Yin datang ke arah mereka, oleh karena itu, Fei Hung telah berhenti menyerang Zhang Yang.


Fei Hung juga memperhatikan bahwa sebelum Huan Yin muncul, dia merasa ada indera spiritual yang mengamatinya, dan satu-satunya yang bisa melakukan ini adalah Lin Meng.


Pernapasan Zhang Yang masih terus terengah-engah saat dia menatap Fei Hung dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang kau milikku!" Fei Hung tersenyum jahat lagi sebelum mencuri bibirnya dengan ganas untuk terakhir kalinya, lalu berdiri berjalan ke kamar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa di dalam rumah, karena keberadan Huan Yin, Fei Hung tidak ingin dia menyaksikan hal-hal dewasa.


Zhang Yang cemberut kesal melihat Fei Hung pergi, tetapi dia juga merasa sangat bahagia karena Fei Hung benar-benar menerimanya sebagai wanitanya juga.


 "Apa yang sedang kalian lakukan?"


"Aku sedang membantu membongkar beberapa barang dengan Saudari Wanying." Ling Xi tersenyum pada Fei Hung saat dia menempatkan beberapa barang di lemari kamar tidur.


Fei Hung mengangguk sambil tersenyum dan kemudian menatap Xin Wanying, yang masih menatapnya dan sedikit gemetar seperti anak kucing yang ketakutan sejak Fei Hung memasuki kamar.


"Apakah ini akan menjadi kamar tidurmu?" Fei Hung tersenyum cerah pada Xin Wanying.


"E-emm." Xin Wanying mengangguk sementara rona merah mulai muncul pada wajahnya. Kegugupannya juga meningkat saat Fei Hung terus menatapnya.


"Adik Xi, Yiner telah pergi tidur di kamarku, kurasa dia mencarimu." Fei Hung berkata kepada Ling Xi, "Aku akan pergi sebentar juga."


"Hah?" Ling Xi memiringkan kepalanya untuk mendengarkan Fei Hung dan kemudian mengangguk, "Kalau begitu aku akan pergi menemuinya."


Setelah selesai mengatur hal-hal lain dan kemudian menatap Xin Wanying dengan sembunyi-sembunyi, Ling Xi terkikik kecil.


Xin Wanying ingin mengatakan kepada Ling Xi untuk tidak pergi, tetapi dia hanya merasa bahwa ada aura yang menahannya dan tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia menyadari bahwa senyum Fei Hung semakin lebar.


"Kakak ..." Ling Xi berkata dengan malu-malu dengan suara rendah saat dia mendekat dan berbicara dengan Fei Hung.


"Ya?" Fei Hung berbalik untuk menatapnya.


Fei Hung sangat senang dengan tindakan Ling Xi. Xin Wanying sedikit terkejut melihat keberanian Ling Xi, tetapi dia segera melupakannya karena hanya dia dan Fei Hung yang tersisa di kamar itu sekarang.


"Biarkan aku membantumu." Fei Hung mendekat sambil tersenyum dan mulai menyingkirkan koper-koper pakaian yang tidak ada lagi di lemari. Fei Hung lalu menutup pintu sebelum bergerak dan kemudian menarik kembali auranya.


"Jika kau akan melakukan sesuatu padaku, lakukanlah ..." Xin Wanying bergumam dengan gigi terkatup sementara kulitnya wajahnya memerah dan dia melihat bahwa Fei Hung terus mengatur beberapa hal untuk waktu yang lama.


"Kenapa aku harus melakukan sesuatu padamu?" Fei Hung bertanya dengan rasa ingin tahu saat dia melihat Xin Wanying dengan ekspresi polos di wajahnya. Dia duduk di tempat tidur empuk sambil menatapnya dengan senyumnya yang biasa.


Xin Wanying mengerutkan bibirnya saat melihat tatapan polos Fei Hung. Dia tahu bahwa sekarang Fei Hung sedang menggodanya.


"Kau suka menggodaku!" Xin Wanying bergumam dengan kebencian saat melihat Fei Hung.


Fei Hung mulai tertawa ketika dia melihat Xin Wanying.


"Bukankah kau yang menggodaku sebelumnya?" Fei Hung bertanya padanya dengan main-main.


"Hmph!" Xin Wanying menggerutu. Dia bahkan tidak ragu-ragu untuk duduk di pangkuan Fei Hung saat dia melihat Fei Hung dengan tatapan kesal dan terus memukulnya beberapa kali lagi..


Fei Hung lalu memeluk pinggangnya yang lembut sambil menatap matanya.


"Jika kau main-main denganku, maka aku akan memastikan aku membalasmu." Fei Hung tersenyum jahat saat dia menarik tubuh Xin Wanying lebih dekat padanya,"Aku sudah memakan Ling Xi, oleh karena itu aku harus memakanmu juga."


Xin Wanying memasang wajah cemberut ketika dia mendengar hal pertama yang dikatakan Fei Hung, ​​​​tetapi kemudian dia membuka matanya dengan kaget ketika dia mendengar hal terakhir.


Ketika dia memikirkan apa yang terjadi, rona merah pada pipinya meningkat, menyebar hampir ke seluruh tubuhnya saat dia terus ditatap oleh Fei Hung.


Fei Hung lalumengangkat kepalanya sedikit dan mencium Xin Wanying.


Tubuh Xin Wanying menjadi kaku sesaat sebelum dia benar-benar santai dan juga mulai membalas Fei Hung tanpa ragu-ragu.


Napas Xin Wanying terengah-engah ketika dia dan Fei Hung melepaskan bibir mereka.


Dia menyadari bahwa Fei Hung sekarang menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh kasih, seolah-olah dia melihat hal yang paling penting dan berharga dalam hidupnya. Xin Wanying juga menatap Fei Hung dengan lembut, ingin membekukan momen cinta dan kebahagiaan ini dengan prianya.


Fei Hung lalu membenamkan wajahnya di antara pegunungan kembar Xin Wanying, sementara Xin Wanying memeluk kepalanya.


Ling Tian senang menghirup aroma menenangkan dari Tang Wanying, mencium aromanya dan merasakan kulitnya tepat di bawah kain tipis.


"He he he... Kau diselamatkan untuk hari ini ..."


Fei Hung berbicara setelah waktu yang lama dengan wajah terkubur di antara dua gundukan batu giok besar yang lembut, meningkatkan detak jantung Xin Wanying lagi.


"Tetapi ..." Fei Hung mendongak keatas dan melihat mata indah Xin Wanying, "Aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri dari pelukanku." Ucap Fei Hung sambil memandang Xin Wanying dengan jahat.