My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 95 : Ketahuan


Luna membiarkan kepala Sisca tergantung di atas tali dan mengambil pisau yang ia gunakan untuk menyayat pergelangan tangan Sisca. Membawanya ke arah Sisca kembali dan membiarkan pisau yang tadi dia pegang menggunakan sarung tangan digenggam sebentar oleh Sisca untuk menyamarkan jejaknya.


Cara yang Luna pakai merupakan cara yang baik untuk menghilangkan bukti bahwa dirinya telah membunuh Sisca Made. Dengan sebuah pisau yang memiliki sidik jari milik Sisca bukan sidik jari milik Luna dan keadaan menggantung di tali. Membuat Luna mudah dalam proses pelarian miliknya karena yang akan dilihat oleh orang-orang adalah. Kenyataan bahwa Sisca bunuh diri dikarenakan stress dengan beban yang didapatkannya.


Memberikan keuntungan yang pasti untuk Luna dalam menjalankan tugasnya. Jika ia boleh berkata jujur, maka ia akan mengatakan dengan jelas sebenarnya Luna ingin melakukan hal yang lebih untuk membalas Sisca Made. Hanya saja waktu yang dimiliknya terbatas ditambah dengan kabar bahwa Lina Luxury akan kembali ke kota Mexico.


Sehingga memberikan sedikit tekanan kepada Luna yang sedang menjalankan tugasnya. Apalagi proyek yang akan datang saat musim dingin dan merupakan rencana tambahan dari misi yang dimilikinya. Misi yang berhubungan dengan mantan bos sekaligus mantan kekasih dan seorang ayah dari kedua anak-anak nya.


'Hah, sepertinya ini sudah cukup' pikir Luna yang memasukkan barang-barangnya kembali. Jika tadi ia masuk melewati pintu utama maka sekarang dirinya akan pergi melewati jendela. Dikarenakan lampu saklar yang dia matikan dari arah depan telah dinyalakan kembali dan jelas bahwa dirinya akan ketahuan bila dia keluar dari pintu utama.


Membuat Luna menyelesaikan semuanya dan berjalan ke jendela kamar milik Sisca. Tanpa tau bahwa ada sebuah bayangan yang bersembunyi di luar jendela dan ditutupi oleh gorden panjang. Langkah kaki yang dilakukan Luna harus berhenti tepat di saat dia masuk ke teras jendela. Sebuah tangan besar menggenggamnya erat dan menariknya ke dalam. Sehingga membuat Luna terdiam seketika dan tidak sadar bahwa ada seseorang di dekatnya.


'Sial! apa aku ketahuan.' pikir Luna yang kedua tangannya Sudah digenggam erat.


Luna tidak bisa menebak orang yang telah menangkap basah dirinya. Tetapi bau mint yang menyeruak masuk ke dalam Indra penciuman. Sebuah bau mint yang mengingatkan nya dengan satu orang saja. Bau mint yang hanya dimiliki oleh laki-laki yang merupakan atasannya dulu.


'i...ini tidak mungkinkan' pikir Luna sejenak. Dia mencoba untuk berpikir positif tentang hal itu tetapi pikiran positifnya selalu berubah ke negatif. Ditambah suara orang tersebut terdengar jelas dan sangat tegas dari belakangnya.


"Aku tidak akan membiarkan mu lari, Luna Luxury" bisik laki-laki tersebut yang membuat Luna memutar tubuhnya dan membiarkan tangannya sedikit sakit.


Dia melihat nya, dirinya melihat laki-laki itu. Seorang laki-laki yang sudah seharusnya hilang di kehidupannya kembali hadir dan malah menjadi orang yang menangkap basah dirinya. Dimana dirinya bukan dipanggil dengan nama panggilan yang sekarang, melainkan nama panggilan nya dulu yaitu Luna Luxury.


"Le... Leon" gugup Luna saat memanggil nama laki-laki itu.



Rasa gugup yang dimiliki Luna memberikan sebuah senyuman penuh dengan kedinginan oleh laki-laki bernama Leon itu. Matanya yang tajam menatap mata Luna penuh dengan kedinginan yang abadi.


"Senang mendengarnya, tunangan" smirk Leon yang mencium tangan Luna penuh dengan kelembutan. Rasa gugup karena ketahuan tadi menghilang dalam seketika. Digantikan oleh rasa marah kepada Leon yang mencium tangannya tanpa izin.


"Sial! jangan mencium tanganku!" kesal Luna yang berusaha menendang Leon tapi sayangnya kaki Luna malah dipegang oleh Leon dan ditarik ke depan. Sehingga membentuk sebuah jarak yang sangat dekat dari kedua insan.


"Aku menyukai sikapmu yang sekarang, Luna Luxury" bisik Leon dan meraba kaki Luna pelan. Memberikan sebuah efek merinding di sekitaran tubuh Luna.


"Lepaskan aku, b*jing*n" tegas Luna yang ingin meninju Leon dengan tangan kanannya yang bebas. Namun semua usaha miliknya sia-sia karena Leon sudah mengunci semua gerakan yang dirinya miliknya.


"Sial! lepaskan aku b*jing*n" kesal Luna yang mencoba lepas.


"Jika aku tidak ingin melepaskan nya, bagaimana?" ucap Leon gak peduli.


"Kau..."


"Mom, apa kau ada di sana? kau baik-baik saja kan?" tanya Laura yang memotong pembicaraan milik Luna dan Leon lewat airpods miliknya.


"Ya, tidak apa-apa mom baik-baik sa....hei!" teriak Luna kepada Leon. Ia baru saja menjawab panggilan anaknya tetapi Leon dengan cepat sudah memborgol kedua tangannya.


"Benarkah mom baik-baik saja? aku tadi mendengar suara laki-laki?" tanya Laura yang tak berhenti khawatir.


"Mom baik-baik saja dan mom akan menghubungi lagi jadi matikan telpon nya, okay" ucap Luna yang langsung disetujui oleh Laura sang anak yang tidak tau apa yang terjadi dengan ibunya.


"Baiklah" ucap Laura yang mematikan telponnya. Sedangkan Luna yang mendengar suara telpon terputus menatap tajam Leon yang sudah memborgol tangan milik ya.


"Apa yang mau kau lakukan? lepaskan aku!" teriak Luna yang tiba-tiba mulutnya langsung ditutup oleh tangan Leon.


"Jika kau berteriak lagi ku pastikan rencana pembunuhanmu akan ketahuan" bisik Leon yang membuat Luna terdiam.


"Anak baik" smirk Leon yang menggendong Luna ala bridal style.


"A...apa yang kau lakukan?!" tanya Luna berbisik. Tapi suaranya malah diabaikan oleh Leon dan dirinya yang berada di dalam pelukan Leon pergi lewat jendela dengan tali. Setelah turun dari tali, Luna yang masih berada di pelukan Leon dimasukkan ke dalam mobil hitam yang bersembunyi di semak-semak.


"Apa yang kau inginkan Leon! mobilku masih ada di sana!" teriak Luna yang menolak untuk berada di dalam satu mobil yang sama dengan Leon.


"Anak buahku akan membawa mobilmu" jawab Leon dan mobil berjalan melaju menjauhi Apartemen milik Sisca.


"Sial! lepaskan aku!" teriak Luna. Dia tidak bisa memukul Leon dengan tangannya yang sedang dalam keadaan di gembong. Dan juga kakinya tidak bisa menendang Leon yang dimana sekarang Leon duduk di depan bukan di samping Luna. Membuat Luna kesusahan untuk membalas perbuatan laki-laki tersebut.


"Leon! jawab apa yang kau inginkan dariku!" teriak Luna.


"Aku menginginkan mu dan ingin meminta penjelasan" jawab Leon yang tidak tahan dengan teriakan keras milik Luna.


"Penjelasan apa lagi?!"


"Tentu saja penjelasan tentang identitas kamu yang sebenarnya" jelas Leon.


"Kau tau mungkin saja kamu salah orang dan jika kau salah orang kau hanya membuang-buang waktu ku!" ucap Luna. Dia tidak peduli dirinya tertangkap basah eh Leon yang dirinya pedulikan sekarang adalah pergi dan pergi menjauh dari laki-laki ini.


"Sayangnya bantahanmu tidak akan berguna lagi Luna karena aku memiliki bukti yang jelas" smirk Leon sambil menatap Luna dari kaca spion dalam mobil. Luna yang ditatap langsung memberikan tatapan tajamnya ke arah Leon.


'Sial-sial! aku harus lari dari laki-laki ini dan membunuh laki-laki ini secepatnya' pikir Luna kesal.



🔫Oh waw, apa yang bakal terjadi di bab berikutnya dengan kondisi Luna yang terpojok dan Leon yang mencoba menarik Luna kembali ke dalam perangkapnya!


Hmm.... pantengin aja dah. Sayonara~