
Luna dan Rangga yang telah menyelesaikan adegan kecil mereka, mulai berangkat ke wilayah militer tepatnya rumah sakit pusat yang dimiliki kota ini dan merupakan satu-satunya rumah sakit aman untuk mendiagnosis suatu penyakit yang dialami oleh para tentara yang menjaga perbatasan maupun wilayah mereka sampai para tentara yang menjadi pertukaran antar negara.
Sehingga kedua orang itu melaju ke lokasi rumah sakit militer berada, diiringi para tentara yang terluka yang telah diangkut menuju tempat pengobatan utama. Dengan suara mesin yang menderu, beberapa mobil itu meninggalkan lokasi kejadian.
Dengan mata hitam yang gelap Lunna menatap reruntuhan mansion milik kakaknya sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika dia menahan kepala pelayan itu dan apakah sahabat nya akan terluka seperti kecelakaan kali ini.
Membuat perasaan Luna yang tenang kembali dalam kondisi kesal dan memasukkan permen lolipop yang terbuat dari herbal yang berharga itu. Dan tidak lama kemudian, jalanan beraspal itu kini mulai berganti menjadi jalan bebatuan yang tertata rapi tanpa lubang sedikitpun.
Sehingga para tentara yang terluka tetap stabil sampai di depan bangunan berwarna putih dengan gaya eropanya yang anggun. Membuat Luna yang melirik bangunan itu merasakan perasaan yang tidak nyaman.
Seakan-akan mengingatkannya tentang bangunan milik seorang bangsawan yang baru-baru ini ia kunjungi.
‘Tidak, itu pasti hanya khayalanku saja.’ Ucap Luna dalam hati yang dengan cepat ditampar oleh kalimat yang baru saja ia katakan.
Dimana saat ini Luna dengan mudah melihat sepasang mata yang ia kenali dan telah ia lihat tidak lama ini. Dengan rambut kecoklatan nya yang indah dan juga mencolok, Luna tidak perlu memberitahu siapa lagi orang yang baru saja ia temukan saat ini.
‘Sial, apa jalan memang sesempit ini? Kenapa aku harus bertemu dengan bajingan ini sebanyak 3 kali.’ Gumam Luna kesal yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan tubuhnya dan ditugaskan untuk menunggu hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit.
Yang mana kakak yang biasanya dia andalkan untuk mengalihkan pihak yang malas ia beri respon baru saja pergi untuk menunggu hasil pemeriksaan adiknya di ruangan sebelah.
Dan dengan rasa kesal yang membara, Leon yang melihat kekasihnya berada di rumah sakit yang ia datangi mulai menyunggingkan senyumnya dan berjalan ke tempat wanitanya berada sambil menatap wanita itu dalam.
Karena saat ini Leon yang melihatnya juga menyadari bahwa wanitanya sedang dalam kondisi kesal. Terutama saat melihat wajahnya yang tampan.
“Ah, bukankah itu kau Luna.” Goda Leon yang mulai mengganti strateginya saat mengetahui bahwa strategi yang ia gunakan tadi tidaklah berhasil.
Luna yang ingin berpaling dan meninggalkan tempat ini, mau tidak mau melayani bajingan itu di tempat. Terutama saat ini Luna merasakan banyak pasang mata sedang melihatnya ke arahnya. Yang membuat Luna yang merasakannya dengan jelas mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang ini.
‘Dasar orang gila, kenapa kau harus memanggilku di sini?! Apa dia tidak pernah jera dengan apa yang kamu lakukan kepadanya atau dia sama sekali tidak menyadari penghindaranku darinya.’ Pikir Luna kenal saat merasakan mata panas sedang melihatnya.
Apalagi saat ini dia bukan berada di wilayahnya sendiri melainkan wilayah milik orang lain yang mengharuskan dirinya untuk bersabar dan menghargai pemilik wilayah ini yang tidak lain adalah Leon dan merupakan orang yang ia benci selama ini.
“Hahaha, lama tidak bertemu tuan Martin.” Balas Luna yang mencoba membuat nadanya terdengar selembut mungkin.
“Ya, memang tidak lama kita tidak bertemu hanya dua setengah jam setelah pertemuan kedua kita. Bukankah ini takdir yang menarik, Luna.” Jelas Leon yang telah menghitung dengan tepat waktu pertemuan terakhirnya dengan Luna.
Yang membuat Luna yang mendengarnya kesal dan hampir membunuh laki-laki yang ada di hadapannya. Terutama sikap laki-laki ini yang bertambah tidak tau malu dengannya.
Sebelum Luna bisa menyelesaikan pikirannya, dia dengan cepat terperangkap di dalam sebuah pelukan seseorang. Dengan bau aroma tembakau dan mint yang dingin, Luna bisa merasakan hormon pria yang kuat dari pelukan itu.
Membuat Luna yang merasakannya ingin memukul wajah pelaku tersebut. Namun tangannya yang terkepal dengan mudah ditahan dengan tangannya yang dingin dan juga besar. Dengan suara yang berat berhembuskan aroma mint yang familiar.
Luna mendengar suara orang tersebut yang berbisik di dalam telinganya dengan dingin dan juga penuh obsesi. Sehingga Luna yang tadinya berpikir bahwa lelaki yang ia jumpai tadi telah mengubah jati dirinya berubah pikiran dengan cepat.
Apalagi saat merasakan tindakannya yang penuh hasrat dan momentum, membuat Luna yang mendengarnya hampir melunakkan dirinya.
“Ssst, Apa kau merindukanku Luna? Kau tau apa yang ku pikirkan saat ini saat melihatmu berada di hadapanku saat ini?” Bisik Leon lembut tanpa bisa menahan rasa keinginannya yang kuat.
“?”
“Rasanya aku ingin menguncimu di dalam suatu ruangan dan memakanmu tanpa menyisakan sedikitpun tulang untuk orang lain. Sehingga hanya aku yang bisa mencicipi jiwa dan juga ragamu yang cantik ini.” Bisik Leon sambil menggigit telinga kecil berwarna putih nan lembut itu.
Tanpa rasa malu sedikitpun, Leon mengungkapkan sifat gelapnya dan membiarkan wanita bertubuh kecil itu meringkuk di dalam pelukannya. Sambil menggigit telinga kecil wanita itu, Leon tidak lupa untuk menggenggam pergelangan tangan wanitanya.
Dimana Leon tahu betul bahwa saat ini wanita yang berada di pelukannya akan memukulnya dan menjatuhkan dirinya di depan umum. Bahkan jika banyak saksi mata yang melihat di sekelilingnya, wanita di dalam pelukannya akan menghabisinya hari ini juga.
Tapi sayangnya dia adalah seorang jenderal yang telah duduk di posisi teraar sejak ia berumur 16 tahun dan lebih banyak memiliki pengalaman dari wanita yang ada di dalam pelukannya.
Dimana banyak pengalaman yang didapatkan juga tidak hanya di posisi itu saja, melainkan posisi yang diberikan ayahnya sebagai ahli waris. Sehingga di umur 17 tahun, ia telah memasuki perusahaan dan telah merasakan bagaimana medan perang yang terjadi di dalam bisnis yang ia jalani.
Entai itu dalam kehidapan dia atas perjoataan maupun di dalam kegelapan yang telah tersembunyi di balik bayangan kota malam.
Dengan hembusan nafas yang dingin, Leon mencoba memeluk wanita itu lebih erat dan membiarkan seluruh nafas wanita itu masuk ke dalam dirinya
Seolah-olah mencoba menelan seluruh tubuh wanita itu ke dalam dirinya dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam dirinya. Sehingga tidak akan ada yang bisa membawa wanitanya pergi jauh dari dirinya dan membiarkan orang-orang tahu bahwa wanita ini ditakdirkan hanya untuk dirinya.
“Lepaskan adikku, dasar kau sialan!”
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~