My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 99 : Proyek


Hari itu dimana jam berjalan memberikan petunjuk kepada setiap orang. Di sanalah orang-orang dengan atribut maupun kelengkapan nya berdiri tepat di depan pintu besar dengan tinggi melebihi rata-rata.


Pintu yang besar itu perlahan terbuka memperlihatkan sebuah aula ruangan yang akan digunakan oleh semua pengusaha yang ingin memperebutkan sebuah kerja sama yang sangat menguntungkan. Dengan setelan kerja dan file-file penting yang mencakup. Semua orang langsung masuk dan mengambil tempat duduk yang strategis ataupun nyaman.


Hari ini adalah hari rapat untuk semua pemilik pengusaha dalam memperebutkan sebuah kontrak dengan keuntungan hampir 75%. Dimana berita ini sudah ditayangkan di televisi membuat orang-orang secepatnya membuat proposal terbaik mereka. Musim dingin pertama akan dimulai di negara Mexico.


"Nona, apa benar tidak apa-apa kita duduk di sini?" tanya Kevin yang merupakan sekretaris dari Nypole Enterprise.


"Apa kamu pikir lokasi depan merupakan tempat strategis?" dingin Luna. Hari ini mood nya sedang berada di dalam kondisi yang sedikit buruk, apalagi melihat Lina luxury sudah sembuh dan dibawa oleh Reno Luxury di rapat besar ini.


"Ya sepertinya begitu, karena saat saya ikut rapat besar tuan Rangga selalu melakukan nya" jelas Kevin jujur membuat Luna hanya bisa memutar bola matanya acuh.


'Ahhh, ternyata kakakku benar-benar bodoh dalam hal pengurusan perusahaan. Selain itu kenapa aku merasakan aura lebih dingin dari biasanya' pikir Luna yang merasakan aura dingin di sekitar nya.


"Kevin, apa kamu melihat seseorang datang atau ada seseorang yang sedang memperhatikan kita?" tanya Luna berbisik.


"Ya saya melihatnya dari tadi nona, tuan Leonex Martin dari perusahaan Martin Company sedang melihat Anda dari pintu bagian selatan" jelas Kevin membuat Luna mengganggukkan kepalanya.


Luna hanya ingin mengetahui sesosok orang yang memperhatikan nya dan jika orang itu merupakan orang yang tidak perlu dikenali maka dirinya akan mengganggap hal-hal yang terjadi sebagai angin lalu saja.


Tuk... Tuk... Tuk...


Sampai suara hentakan kaki terdengar jelas di telinga Luna yang tajam. Suara hentakan itu semakin dekat dan semakin dekat. Memberikan tekanan di setiap langkahnya dan sebuah akhir di hadapan matanya.


"Nono I...itu" gugup Kevin yang menatap ke arah belakang Luna terkejut.


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan anda bisa meninggalkan nya, tuan" usir Luna cepat.


Dia sangat malas untuk menoleh ke arah belakang tubuh tubuhnya. Apalagi melihat tatapan laki-laki yang meminta maaf maupun menyesal kepadanya. Bagaimana pun juga semua hal itu sulit dimaafkan dengan sempenuh hati dan laki-laki yang berdiri di belakang Luna sekarang merupakan salah satu orang yang dirinya benci.


"Maaf nona Luna tempat duduk yang anda duduki ini merupakan tempat duduk biasa yang digunakan oleh tuan kami" jelas seorang asisten.


Membuat Luna menolehkan kepalanya dan memberikan tatapan tidak peduli. Dengan senyuman setipis benangnya, matanya memberikan sebuah ketajaman.


"Siapa cepat dia dapat bukan?" smirk Luna.


Dirinya tau bahwa Leon juga tidak akan mencampur urusan pribadi dengan urusan pekerjaan saat ini. Karena hari ini merupakan rapat penting yang disponsori oleh pemilik batu bara terbesar di dunia. Jelas membuat setiap perusahaan akan dapat keuntungan tinggi bila proposal yang mereka bawa berkesan di hati pelanggan mereka.



Hanya saja untuk proyek kali ini terdapat peraturan yang berbeda. Dimana dari semua perusahaan yang ada hanya dipilih dua perusahaan saja untuk menjalankan proyek besar-besaran ini. Menjadikan satu tempat masih ada untuk perusahaan lain dalam bekerja sama dengan perusahaan Martin Company.


"Tapi..."


"Sudah cukup, kita akan duduk di samping sini saja" dingin Leon yang membuat asisten milikinya pasrah.


"Tunggu, kamu ingin duduk di sampingku? apa kamu berganda?" protes Luna dingin. Jelas-jelas dirinya mengusir Leon secara halus untuk pindah sejauh mungkin. Namun, entah kenapa Leon malah memilih tempat duduk kosong yang ada di dekatnya.


"Kenapa? bukankah kata anda siapa cepat dia dapat? kalau begitu kursi kosong harus di duduki bukan" dingin Leon dengan senyuman smirknya. Menarik kursi yang ada di samping Luna dan duduk dengan arrogantnya.


"Tuan, bukankah masih banyak kursi kosong" senyum Luna tipis. Dia tidak ingin duduk di samping Leon terutama kursi kosong yang telah disediakan gedung ini berjumlah angka perusahaan yang akan datang. Membuat setiap perusahaan akan memiliki tempat duduknya masing-masing.


"Tidak saya lebih baik duduk di sini saja" dingin Leon yang tidak peduli terhadap kursi kosong lainnya. Sehingga tidak terlalu lama sebuah patahan pensil terdengar di sana. Dimana tangan Luna mematahkan sebuah pensil yang sedang dia pegang secara diam-diam.


"Suara apa itu?" tanya asisten Leon.


"Mungkin anda salah dengar" jelas Kevin yang melihat isyarat tuannya.


'Memang benar aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi dan urusan pekerjaan, tapi untuk kali aku akan mencampurnya karena aku tidak akan membiarkanmu duduk bersama-sama dengan sekretaris ku itu' pikir Leon.


'Ahhhh, aku akan menarik kata-kata tentang pencampuran urusan pribadi dan perusahaan! apa dia gila? kenapa dia selalu menggangu dan membuat perasaan ku bertambah buruk!!' pikir Luna kesal.


'Apa di sini ada teh panas? kenapa hari ini dingin sekali? padahal sudah ada penghangat ruangan di sini' pikir Navin yang merasakan suhu dingin mencekam. Walaupun ini musim dingin tetap saja penghangat ruangan diaktifkan untuk menghangatkan orang-orang yang ada di dalam gedung.


Namun tubuhnya terasa akan membeku saat merasakan aura yang semakin dingin dan semakin tajam hari ini. Membuatnya ingin cepat keluar dari tempat duduk tapi kewajibannya sebagai sekretaris masih ada.



🔫Fumu-fumu sepertinya Leon jadi posesif banget, ditambah Luna tambah kesal? bagaimana masa depan mereka yaa??.


Dan juga maaf terlambat saya ketiduran hari ini karena tugas dunia nyata banyak sekali°^°