My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 36 : Misi baru


Setelah makan siang bersama Joe dan membicarakan beberapa hal yang penting, Luna melangkahkan kakinya menuju basecamp miliknya. Auranya terasa lebih kuat dari sebelumnya apalagi mengingat ayahnya dan tetua dari klan Joe merencanakan sesuatu.


'Siap apa lagi yang direncanakan mereka' frustasi Luna dan mengebrak meja berbentuk bundar itu.


"Apa ada seseorang yang membuatmu marah hingga mengebrak meja yang tidak bersalah itu" ucap seorang laki-laki yang berada di dekat Luna. Mata Luna menatap tajam laki-laki yang sedang duduk berselonjoran di tandu yang selalu dibawa oleh kemiliteran untuk bagian kesehatan.


"apa aku harus peduli" dingin Luna yang membuat laki-laki itu hanya tertawa renyah.


"Baiklah nona Luna saya di sini bukan sebagai bawahan Anda tapi menjadi teman dari kakak anda" bangga laki-laki itu dan membenarkan posisinya.


"Hoho sepetinya kau ingin cepat mati William" tajam Luna yang membuat laki-laki itu langsung berhenti tertawa.


"Ok..ok santai aku juga masih menyayangi nyawaku" bela William laki-laki yang masuk ke dalam anggota kemiliteran milik London dan juga merupakan teman baik dari sang kakak.


"Karena kau menyayangi nyawamu itu artinya kau menang bukan" senyum Luna yang membuat tubuh William merasa merinding.


"Tentu saja aku memang jika.. aku tidak melakukan tembakan yang meleset" cicit William yang membuat langkah kaki Luna mendekat arah laki-laki itu dan menekan bahu milik laki-laki yang sedikit bergetar.


"Sepertinya kau memang harus mati" ucap Luna yang membuat William berteriak sekeras mungkin meminta pertolongan.


"Tidak lepaskan!" teriak William, inilah yang dirinya tidak suka dengan Luna yang merupakan adik dari temannya itu karena Luna dan Rangga memiliki sikap yang berbeda jika Rangga akan membunuh untuk seseorang yang memang bersalah karena jiwa kemiliteran yaitu keadilan sudah mendarah daging berbeda dengan adiknya Luna yang mengangap nyawa adalah hal bisa dan membunuh tanpa pandang bulu.


"Sepertinya kalian sangat suka bercanda" ucap Rangga yang bergegas masuk ke dalam basecamp saat mendengar teriakan yang ternyata bukan hal serius.


"Bercanda kau gila bantu aku lepas dari cengkeraman adikmu ini, kau tidak akan membiarkan nyawa temanmu cepat melayangkan" ucap William mencoba meminta pertolongan karena jujur walau dirinya laki-laki tapi kekuatan milik Luna seperti Hulk ya laki-laki sebesar 3× lipat.


"Hmmmm sepertinya bukan ide yang buruk dan juga aku akan membantu pemakaman mu" Jawab Rangga yang membuat William hanya bisa mendengus kesal.


"Rangga kamu jahat" ucap William yang hanya membuat Rangga memutar matanya malas.


"Luna lepaskan tangan mu nanti tubuhnya hancur" ujar Rangga sambil menatap adiknya yang membuat Luna langsung melepaskan cengkramannya dan menatap ejek William


"Ahh aku lupa dia adalah remahan keripik" ejek Luna dan berbalik duduk. William hanya bisa bernafas lega, dirinya sudah lelah mengikuti pertandingan dalam senjata senapan dan membuat tangannya sedikit keram dan sekarang mungkin akan bengkak karena Cengkraman erat milik Luna.


"baru datang" ucap Luna dingin.


"Ya dan juga Luna aktifkan telpon milikmu" ucap Rangga.


"Buat apa?" tanya Luna.


"tetua ingin memberikan sesuatu hal dan akan memberitahu mu di telpon" jelas Rangga dan mengistirahatkan tubuhnya di kursi.


"Baiklah aku akan keluar sebentar" ucap Luna dan mengambil backpack miliknya, dikarenakan dirinya tidak mungkin selalu membawa handphone nya kemana-mana dan juga anggota kemiliteran di saat pertandingan tidak mungkin membawa handphone karena mereka bukan orang yang harus dilindungi tetapi melindungi dan batang yang dibawa tentunya senjata.



Ingatlah peribahasa sedikit demi sedikit menjadi bukit bukankah itu adalah peribahasa yang cocok untuknya apalagi dirinya akan membalas kan dendamnya secara bertahap. Bukan maksud apa tetapi pembalasan dendam secara langsung atau brutal sungguh tidak efisien dan terlalu banyak meninggalkan jejak. Tetapi jika dirinya mulai dari perlahan hingga kepuncak maka semua cara licik maupun bengis tidak akan meninggalkan banyak jejak dan tentu saja akan sulit dicari. Tetapi keuntungan yang akan didapatkan adalah bisa merasakan semua kesakitan orang-orang yang telah membuatnya terluka hingga terpuruk.


'Aku akan membalas semua kejahatan yang kalian lakukan' pikir Luna


Kring** Kring**


Suara deringan panggilan terdengar di telinga Luna, tangganya menggeser tombol hijau di handphone miliknya saat minat username bertuliskan Dad.


"Ada apa dad?" tanya Luna saat mengangkat panggilan itu. Dirinya bisa mendengar hembusan nafas tidak kepastian sebelum ayahnya itu berbicara


"Ayah tidak tau apa ini bisa dibicarakan denganmu atau tidak dan juga bisa melukai hatimu atau tidak" tukas Henry di sebrang sana.


"Langsung intinya saja dad" ucap Luna jujur dirinya juga tidak terlalu suka berbasa-basi karena inti pembicaraan mereka antara lain mungkin misi atau kendala.


"Baiklah, apa kau sudah diberi tau oleh Joe tentang sesuatu hal" ucap Henry singkat.


"Ya, rencana yang merupakan misi bukan" jawab Luna pasti.


"Ya misi yang harus membuatmu turun langsung ke lapangan" lanjut Henry.


"tempat apalagi yang harus ku musnahkan untuk misi ini" tanya Luna sambil memegang pagar besi di dekatnya.


"Bukan memusnahkan tapi melindunginya dan menjaga tempat itu agar aman tanpa bahaya" ungkap Henry yang membuat Luna mendekat kan volume panggilan miliknya tepat di dekat daerah telinganya.


"Maksudnya" bingung Luna jujur ini pertama kalinya dirinya mendapatkan misi untuk menjaga atau melindungi karena yang biasa dia lakukan adalah membasmi atau memusnahkan sesuatu yang merupakan ancaman bagi negaranya.


"Kau akan menjaga dan melindungi sesuatu barang yang hanya diketahui oleh klan Singa" ucap Henry, helaan nafas panjang dan tarikan nafas dia atur senormal mungkin. Jika bukan demi menjaga dunia ini untuk aman dirinya tidak akan pernah mengorbankan anak perempuan nya ke dalam misi yang akan membuat anaknya itu bimbang.


"Dan misi ini akan membuatmu harus berhubungan dengan klan singa tepatnya keluarga Martin, ayah dari kedua anakmu itu" lanjut Henry. Bagai disambar petir di siang bolong, pikiran Luna seakan Blang saat mendengar nya. Jika misi ini untuk melindungi baiklah dirinya terima tali tidak dengan melindungi laki-laki yang merupakan ayah dari anaknya itu, Leonex Martin.


"Apa dad bercanda" ucap Luna tidak percaya suaranya dingin dan datar.


"Dad tidak bercanda Luna dan juga ini misi hanya khusus di untukan dirimu" jawab Henry.


"Kenapa? bukannya masih banyak anggota di Kemiliteran" ucap Luna tidak terima.


"Karena ini taruhannya nyawa seluruh orang di dunia" jelas Henry cepat.


"Apa!"



🔫 Ingat konflik bakal banyak terjadi di novel ini karena ini bukan Novel biasa yang alurnya santai kayak dipantai, jadi mohon tahan emosi.