My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 89 : Rambut


Leon menepatkan Luna di atas tempat tidur, menyalakan lampu dan mengambil gunting yang ada di dalam laci. Beberapa bukti sudah ia temukan tapi dia membutuhkan bukti yang lebih akurat untuk wanita yang ada di hadapannya ini.


Aroma bunga Lily yang harum membuat Leon merasakan rasa nostalgia. Leon beruntung memasukkan dua kapsul obat yang akan menidurkan Luna berjam-jam. Mencari bukti sambil mendapatkan keuntungan dari tubuh Luna yang sedang tertidur.


Mencium aroma yang khas dari wanita yang tertidur dan menyentuh pelan tangannya yang putih. Bau lembut dari bunga Lily menyeruak ke hidung miliknya. Bau yang sangat dia sukai dan sangat mengingatkan nya kepada Lunanya dulu.


"Bau yang sama" ucap Leon sambil menyentuh tubuh Luna pelan ada sebuah sengatan ke tubuhnya. Padahal hanya sedikit dia menyentuh kulit tangan Luna sudah mampu membuat jantungnya berdetak kencang.


"Fokus Leon, kamu harus mendapatkan rambutnya terlebih dahulu" ucap Leon mengingatkan dirinya sendiri. Mengingatkan tujuan utamanya membuat Luna tertidur di tempat tidur hotel ini dan menggunakan obat tidur di dalam minuman miliknya.


Tangan Leon memotong dua helai rambut milik Luna, mengeluarkan kantung plastik yang sudah ia siapkan untuk memasukan rambut milik Luna. Setelah mendapatkan Sempel rambut milik Luna, Leon mengeluarkan handphone miliknya dan memfoto ekspresi tenang Luna yang tertidur.


Kemudian meninggalkan kotak yang berisi senjata yang tadi menjadi bahan taruhan dengan selembar kertas, Leon meninggalkan pesannya untuk Luna yang masih tertidur. Meninggalkan wanita itu di dalam ruangan hotel dan pergi dari Austin BarC menuju ke rumah sakit kemiliteran miliknya.


"Tuan langsung ke rumah sakit atau ke tempat lain?" tanya ajudannya.


"Tidak langsung ke rumah sakit saja dan beri tau Febri untuk menyiapkan ruangan itu" perintah Leon dingin dan menatap dua kantung plastik yang ada di tangannya. Satu kantung plastik itu berisi rambut Luna Nypole sedangkan yang satunya adalah kantung plastik yang berisi rambut milik Luna Luxury yang pernah perempuan itu tinggalkan di sisir di tempat apartemen pribadinya.


Bagaimanapun juga Luna dan Leon pernah menginap di apartemen yang sama dan mengakhirinya dengan hubungan yang candu. Hubungan yang penuh gairah dan kalimat yang manis. Jika Leon mengingat semua hal-hal yang ia lakukan bersama Luna, rasanya ada sebuah gejolak dari bagian bawah tubuhnya.


'Sial, jika memikirkan itu membuat libido ku menjadi tidak terkendali lagi' pikir Leon kesal.


Sesampainya di rumah sakit kemiliteran~


Leon yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit melewati orang-orang yang memberi hormat kepadanya seperti biasa. Sikap acuh tak acuh Leon memang sudah bertahun-tahun terlihat dan bagi bawahan yang mendapatkan sikap acuh tak acuh dari atasannya jelas itu merupakan makanan setiap hari mereka.


"Hormat kepada komandan Leon" ucap penjaga yang menjaga pintu masuk ruangan tes.


"Febri?" tanya Leon singkat.


"Tuan Febri sudah berada di dalam menunggu kedatangan komandan" jawab penjaga tersebut dan memasukkan kartunya ke dalam pintu. Untuk membuka pintu yang terkunci, membiarkan atasannya memasukkan ruangan dan ditutup kembali.



Di sana Leon sudah melihat Febri tangan kanannya dan dokter yang siap melakukan tugas yang diberikan. Biasanya rumah sakit kemiliteran digunakan untuk menangani korban-korban yang berasal dari bencana atau saat pelatihan terdapat luka yang parah.


Tetapi kali ini untuk pertama kalinya rumah sakit kemiliteran untuk melakukan tes sampel secara rahasia yaitu Ilegal.


"Tes kedua rambut yang ada di kedua plastik ini, paling lambat malam ini hasil tesnya" perintah Leon dingin.


"Kerjakan atau angkat kaki dari sini" dingin Leon dan pergi ke luar dari ruangan membuat dokter yang ada di dalam ruangan hanya bisa pasrah.


"Pak, bagaimana ini?" tanya dokter kepada Febri.


"Tidak ada yang bisa menolaknya bukan, seharusnya kau tau komandan sedang dalam mood yang kurang baik" ucap Febri mencoba sebaik mungkin untuk menenangkan dokter yang ada di kemiliteran. Mereka semua sangat takut apalagi dengan ekspresi dan aura yang dikeluarkan oleh Leon.


Aura yang mampu membuat seseorang langsung buang air kecil di celana karena merasakan aura mematikannya dan lebih parahnya lagi. Aura Leon selalu meningkat setelah kepergian Luna Luxury.


"Hah baiklah saya akan berusaha pak" parah Dokter dan memasang perlengkapan nya. Dia harus berusaha keras untuk tes ini dengan cepat dan tanpa kesalahan. Jelasnya dia harus berusahalah semaksimal mungkin untuk tidak berhenti dari pekerjaan yang ia capai dengan susah payah.


Dokter yang memulai tes sampel dari rambut yang diberikan atasan dan Febri yang sudah keluar menyusul Leon ke ruangan latihan.


"Tunggu... Le.."


"Apa kamu memiliki wewenang memanggil namaku di area ini?" dingin Leon. Dia memotong ucapan Febri secepatnyalah. Walau dia mendapatkan foto Luna saat tidur itu tidak cukup membuat gairah yang bangkit karena mengingat tindakannya dulu terselesaikan.


Mood nya bertambah buruk karena gairah miliknya hampir memuncak dan jelas Leon harus menyelesaikan semuanya sendirian di dalam ruangannya.


"Febri jaga ruangan milikku dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam. Bahkan jika itu merupakan orang yang membawa kanar bencana sekalipun" perintah Leon dan masuk ke dalam ruangannya. Dengan cepat melepas bajunya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Ruangannya memiliki fasilitas kamar mandi pribadi yang membuatnya mudah untuk menuntaskan gairah yang ada di tubuhnya.


'Sial kenapa saat ini aku malah mengingat semua lekuk tubuh miliknya, padahal sudah lama aku tidak menyentuhnya tetapi kenapa aku masih mengingatnya' pikir Leon kesal sambil memukul dinding yang ada di sana.


Hanya air dinginlah yang mampu membuat gairahnya terselesaikan karena dirinya tidak ingin bersama perempuan atau wanita j*l*ng manapun untuk menuntaskan gairah miliknya. Jujur saja yang ada bukan dia yang bermain tetapi orang-orang yang selalu mengemis di hadapannya.


Di Tempat Lain~


Luna yang sudah terbangun dari tidurnya menatap kamar hotel yang kosong. Kepalanya yang pusing mencoba mengingat-ingat apa yang dia lakukan. Sehingga tangannya mengepal keras karena amarah.


'Leon, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu' ucap Luna dalam hati mengutuk Leon tanpa henti



🔫Leon yang mencoba menenangkan bagian bawahnya dan Luna yang mengutuk Leon. Hmmmmmmmm sepertinya ini akan tambah seru jika hal itu ketahuan.


#MaafkemaringakupdateInfoMyIg


Sayonara~