
"Fin, tidak!!" teriak Qarin. Ia membuka matanya dengan cepat lalu melihat sekeliling nya. Nafasnya terengah-engah, keringat dingin menghampiri tubuhnya. Dia ketakutan dan gemetaran karena mengingat kejadian delapan setengah tahun lalu.
Kejadian yang sangat menyeramkan, dimana tali pengikat, suara tembakan dan juga darah terjadi secara bersamaan di hari itu.
"Hah... hah, air... dimana air?" ucap Qarin sambil mencari air di sekelilingnya. Samapi sebuah gelas air diberikan tepat dihadapannya.
"Minumlah" ucap Luan dingin. Tangannya memberikan air putih yang ada di atas meja ke arah Qarin. Ia masih berada di sini untuk menyelesaikan beberapa hal sebelum pergi dan tentunya menunggu Qarin bangun.
"Ehmm, terimakasih" ucap Qarin dan dengan cepat meneguk air putih yang ada di tangannya. Memberikan gelas kosong kepada Luna lalu mengambil kain bersih yang ada di bawah bantalnya. Membersihkan keringat dingin yang ada di luar tubuhnya.
"Ada yang ingin saya tanyakan kepada anda" ucap Luna dingin. Ia berjalan melangkah ke arah meja, meletakkan gelas kosong lalu mengambil map bewarna merah yang dari tadi ia letakkan di atas meja.
"Saya ingin anda mengatakan kebenaran saat melihat foto orang-orang yang ada di dalam ini" dingin Luna dan menyerahkan map merah ke arah Qarin. Sebuah map yang berisikan orang-orang yang mungkin diantara salah satunya adalah supir yang pernah melakukan penculikan terhadap Qarin delapan setengah tahun lalu.
'Maaf jika ini keterlaluan, tapi ini merupakan salah satu cara untuk membungkam mulut Reno Luxury' ucap Luna dalam hati.
"Apa i..ini akan membantumu Luna?" tanya Qarin gugup.
"Jika anda bisa mengatakan dengan jujur mungkin itu bisa membantu, terutama jika anda menjadi saksi suatu saat" dingin Luna yang tidak ingin menunjukkan sama sekali kehangatan miliknya.
"Ba..baiklah" gugup Qarin.
Tangan Qarin mulai membuka map merah yang diberikan oleh Luna. Di dalam map itu ia bisa melihat identitas seseorang ditemani foto wajahnya. Membuat Qarin semakin gugup dan menelan salivanya pelan.
Perasaan gugupnya berubah menjadi ketidaknyamanan. Di saat tangannya membuka lembar demi lembar kertas yang ada di map tersebut. Sampai di mana kertas nomor ke 12, tangan yang tadinya biasanya saja kini menjadi bergetar ketakutan.
Nafasnya tercekat tiba-tiba saat melihat wajah laki-laki yang ada di lembar kertas tersebut. Membuat Luna yang dari tadi melihatnya mengeluarkan senyum smirknya.
"Apa ini orang yang ada di dalam mobil saat itu?" tanya Luna dingin. Dia akan memancing emosi Qarin itu agar bisa ia rekam secepatnya. Agar bisa membuat kecelakaan itu berubah menjadi keuntungannya untuk membalaskan dendam terhadap keluarga kandungnya.
'Katalanlah apa yang kau ingat, nyonya Qarin' smirk Luna.
"I..ini benar, dia... dia... yang.... arghhhhh" teriak Qarin ketakutan dia dengan cepat melempar kertas tersebut menjauh dari tubuhnya. Memeluk tubuhnya yang ketakutan, kepalanya kembali sakit saat melihat foto yang ada di map bewarna merah itu.
Luna yang melihat wajah ketakutan milik Qarin menyembunyikan senyum mengerikan miliknya. Mengambil map yang di lempar dan menarik salah satu kertas yang ada. Sebuah kertas yang menunjukkan data dan informasi orang yang pernah menculik Qarin dulu.
'Heh....seperti yang ku duga bahwa foto yang kedua belas ini merupakan orang yang pernah menculik ibunya Leon, heh.. tidak sia-sia aku mengasah otakku dari kecil' smirk Luna dan mengambil kertas tersebut. Melipatnya menjadi kecil lalu memasukkan nya ke dalam kantung pakaiannya.
Kemudian merapikan sisa-sisa data yang ada, dia akan membakar semua kertas yang tidak dia butuhkan. Karena kertas itu berisi nama-nama anak buah klan harimau yang pernah dibinasakan oleh Luna di sela-sela misi yang diberikan ayahnya.
Membuat Luna tidak membutuhkan 24 lembar kertas informasi lagi. Berjalan menuju ke arah Qarin yang ketakutan dan memeluknya lembut. Menenangkan nya dan menutupinya dengan selimut putih bersih yang ada di rumah sakit.
"Saya akan pulang, jadi saya harap anda bisa beristirahat dan terimakasih atas bantuannya" lembut Luna yang sudah mendapatkan rekaman suara milik Qarin.
"A..apa kamu akan pergi sekarang?" tanya Qarin yang merasakan rasa nyaman di dalam pelukan Luna.
"Saya harus pergi sekarang dan juga anak anda sudah berada di luar dari tadi" jelas Luna dan melepaskan pelukan miliknya. Menundukkan kepalanya lalu mengambil tas yang dia letakkan di kursi.
"I..itu"
"Permisi" pamit Luna dan dengan cepat berjalan ke arah pintu, meninggalkan Qarin yang menatapnya sedih. Menutup pintu ruangan dan menatap Leon dingin.
"Karena urusan saya sudah selesai, saya akan pergi sekarang" dingin Luna.
"tunggu..." ucap Leon sambil menahan tangan milik Luna.
"Apa yang kamu bicarakan dengan ibuku?" tanya Leon dingin. Ia menunggu di luar ruangan selama hampir satu setengah jam, karena pintu ruangan ibunya dikunci dari dalam. Membuatnya tidak bisa masuk ke dalam.dan mendengar apa yang dibicarakan oleh tunangannya bersama dengan ibunya.
"Apa saya wajib menjawab pertanyaan anda? tidak bukan? kalau tidak, tidak perlu bertanya hal yang jelas sangat merepotkan saya" dingin Luna dan dengan cepat menepis tangan Leon.
"Permisi" dingin Luna. Ia melangkah kan kakinya pergi dari hadapan Leon dan juga rumah sakit yang dipimpin oleh Leon. Menyembunyikan senyum mengerikan seperti iblis nya di balik wajah dinginnya.
'Maaf Leon, aku tidak ingin membuang waktuku untuk bersamamu lebih lama karena ada orang yang harus ku bunuh malam ini' smirk Luna. Dia melangkahkan kakinya penuh percaya diri tanpa tau bahwa Leon saat ini sedang menatapnya tajam.
"Apa itu Luna yang kamu maksud?" tanya Febri yang muncul dari samping Leon tiba-tiba. Membuat Leon yang ada di dekat Leon, menatap tangan kanannya itu dingin.
"Apa aku mengizinkan mu memanggil wanitaku dengan nama depan?" dingin Leon yang membuat tubuh Febri merinding seketika.
"Baik-baik" pasrah Febri yang melihat sikap dingin atasannya.
"Kamu jaga di luar, aku akan masuk dan membahas sesuatu bersama ibuku semasih dia bangun" perintah Leon dan membuka pintu ruangan ibunya. Meninggalkan Febri yang baru saja datang dan hanya bisa pasrah menerima tugas yang baru.
Leon membuka pintu ruangan milik ibunya, berjalan masuk dan mendekat ke arah perempuan paruh baya yang sedang meringkuk dengan selimut putih rumah sakit. Tatapan penuh kasih sayang itu kini berubah menjadi tatapan ketakutan. Ketakutan yang hanya pernah terjadi delapan setengah tahun lalu.
"Apa yang Luna bicarakan dengan mu, Bu?" tanya Leon dingin. Membuat wajah yang tadinya menunduk bergerak menoleh ke arah anak laki-laki nya.
"Hanya membicarakan kejadian delapan setengah tahun lalu" ucap Qarin pelan. Dia menatap Leon dengan mata penuh harap, ada sebuah pertanyaan yang terus-menerus ada di dalam pikirannya. Tetapi ia takut anak laki-lakinya akan marah kepada dirinya di sini.
"Jika ada yang ingin ibu tanyakan, tanyakan lah sekarang" dingin Leon yang memahami tatapan harap dari ibunya. Membuat wajah yang tadinya tidak berekreasi memberikan sebuah senyum tipisnya.
"Leon, ibu ingin bertanya apa benar Luna Nypole yang tadi ada di sini itu adalah Luna Luxury yang merupakan sektretaris mu dulu?" tanya Qarin dengan satu tarikan nafas. Membuat wajah Leon yang dingin berubah menjadi membeku.
"Kenapa ibu bertanya seperti itu?" dingin Leon curiga.
'I..itu karena ibu merasakan rasa yang sama dengan rasa yang dulu pernah ibu rasakan saat bersamaan dengan Luna Luxury, terutama pelukannya itu sama dengan pelukan yang pernah ibu rasakan delapan setengah tahun yang lalu" jelas Qarin yang merasakan rasa yang sama dengan rasa yang pernah dia rasakan dulu.
"Tunggu, apa jangan bilang ibu mengingat kejadian delapan setengah tahun lalu?" dingin Leon membuat Qarin mengganggukan kepalanya pelan.
"Hah, jika ibu berkata seperti itu sepertinya aku harus menceritakan semuanya" ucap Leon menghela nafas. Dimana saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membongkar identitas sebenarnya milik Luna dan membuat hubungannya bersama Luna bisa direstui.
"aku akan menjelaskan nya bahwa......... dia..... kebenaran...." jelas Leon sesingkat mungkin. Qarin yang mendengar penjelasan dari anaknya hanya bisa mengepalkan tangannya sambil mengigit bibir bawahnya.
"Jadi, Luna Nypole merupakan orang yang sama dengan Luna Luxury" ucap Qarin yang mendengar jelas penjelasan milik Leon.
"Ya seperti itulah"
"Leon, bi..bisakah ibu meminta sesuatu kepadamu?" tanya Qarin takut-takut.
"Katakanlah"
"Ibu akan merestui hubunganmu tapi jangan biarkan Luna mengulang, tolong i..ibu tidak ingin kehilangan orang yang melindungi ibu lagi" minta Qarin membuat wajah Leon yang dingin mengeluarkan senyumnya yang tipis.
"Akan ku usahakan" senyum tipis Leon.
🔫Huwaaa keren banget yaa Luna, bab berikutnya mati kita penuhi dengan darah dan darah! dan buat Leon selamat kamu mendapatkan SIM L yaitu surat izin mencintai Luna!!!
Mari kita ucapkan selamat \^•^/ untuk Leon.
Sekian terimakasih, Mata Ne~