My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 103 : Keterkejutan


Di dalam mobil, keheningan tercipta diantara mereka berdua. Dengan wajah yang dingin tanpa senyuman, keduanya tidak ada yang ingin berbicara satu sama lain. Sampai dimana kendaraan itu membawa mereka ke sebuah jalan yang berbeda dengan harapan milik sang wanita.


"Hentikan mobilnya" dingin Luna yang melihat bahwa jalan yang membawanya ke perusahaan bukan jalan yang seharusnya.


"....."


"Kataku hentikan mobilnya!" tegas Luna kembali dan mengeluarkan aura dingin yang mencekamnya. Bukan hanya aura dingin saja namun didalam auranya terdapat aura membunuh yang mencekam. Membuat ajudan yang sedang berada menyetir smerasakan ketakutan dan menghasilkan bulu kuduk yang berdiri.


"Tu..tuan" gugup ajudan tersebut.


"Hentikan!" tegas Luna kembali yang tidak ingin berjalan kembali ke tempat yang sudah hampir dia lupakan.


"Tu...tuan" gugup ajudan.


"Teruskan saja" dingin Leon yang membuat ajudan tersebut menelan salivanya pelan dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Leonex Martin, jangan main-main" tajam Luna yang mengeluarkan tinju miliknya. Tangan kanan yang mengepal itu dihentikan oleh tangan kiri milik Leon. Matanya yang bewarna kelam menatap Luna santai.


"Sudah ku katakan bukan aku tidak pernah bermain-main denganmu, dan juga aku tidak akan pernah membiarkan mu hilang dariku" ucap Leon menekan setiap katanya.


Tangan kanan milik Luna ia genggam erat dengan tangan miliknya. Membiarkan rasa romantis hadir di sela-sela permusuhan yang sedang ada. Mengecup tangan kanan itu lembut dan meletakkan nya ditengah-tengah mereka.


"Lepaskan" dingin Luna yang merasakan rasa jijik di tangannya. Setiap kecupan yang diberikan Leon membuatnya ingin pergi ke toilet. Dimana sekarang cinta bahkan tidak melekat di tubuhnya, kecuali perasaan untuk membunuh menjauhkan orang-orang berharga miliknya dari bahaya.


"Tuan Leonex Ma....."


Cup***


Kecupan itu lembut, menghasilkan bunyi manis di sela-sela ketidaksukaan milik Luna. Rasa manis yang diberikan oleh Leon membuat wajah milik Luna menjadi merah. Bukan karena dia merona atau tersipu malu tetapi wajahnya yang memerah itu dikarenakan dia marah.


"Hmmm, apa kau malu?" goda Leon yang tidak tau bahwa Luna mencoba menahan emosi miliknya.


"Kau gila!" teriak Luna yang memutar tangan kanan miliknya dan membiarkan tangan kiri milik Leon berada di belakang punggungnya. Dia memutar tangan Leon secara bersamaan dan menekan punggung Leon dengan kaki miliknya. Emosi yang dia coba untuk bawa tenang tidak bisa kembali. Godaan yang seharusnya menenangkan menjadi Boomerang untuk Leon. Membuat tubuh yang tadinya duduk tenang sekarang berada di posisi bertarung.


"Tuan, kita sampai" jelas ajudan dan membalikkan tubuhnya. Mulutnya terbuka sepenuhnya saat melihat posisi tuannya yang sedang kesulitan. Dimana Luna berada di atas punggung milik Leon dan mengunci setiap gerakan milik Leon seperti seorang polisi.


"Sudah ku katakan jangan pernah menggodaku" dingin Luna yang masih menekan area vital milik Leon.


"Aw...aw..." ringis Leon bercanda.


Suara pintu belakang yang terbuka membuat semua orang yang berada di luar mobil terkejut. Dimana para pelayan maupun pengawal bisa melihat secara langsung tuan muda mereka sedang diancam oleh seorang perempuan yang bahkan belum mereka pernah lihat.


"Tu...tuan" panggil kepala pelayan yang melihat sebuah kejadian yang tidak pernah dia lihat seumur hidupnya.


"Hei lepaskan, apa kau ingin memperlihatkan keromantisan kita?" goda Leon sambil menatap ke arah pintu miliknya yang terbuka.



Di sana Luna bisa melihat para pelayan yang berjajar rapi untuk menyambut tuan mereka ditemani oleh para pengawal yang siap menjaga keamanan. Matanya menatap tajam ke arah Leon dan melepaskan setiap gerakan miliknya. Dari kaki yang menekan bagian punggung Leon sampai tangan kanan yang sedang digenggam oleh Leon, ia hempaskan kasar.


"Cih..." sedih Luna yang mengambil tas miliknya dan membuka pintunya sendiri. Dirinya terlalu malas untuk satu pintu dengan Leon dan dengan cepat keluar dari mobil yang membawanya ke sebuah mansion.


Mansion bewarna putih bercampur gold itu merupakan mansion ternama yang sangat dikenal orang-orang. Dimana mansion ini merupakan mansion tempat tinggal keluarga Martin berada. Dengan bangunan yang memilik ukuran megah dan indah, memperlihatkan kekayaan dan juga harta yang dimiliki oleh Martin Company.


Arsitektur yang memiliki tema Mediterania, memilik struktur yang besar dengan bebatuan maupun pepohonan yang menghiasi lingkungan itu menjadi hidup. Sudah 8 tahun lamanya Luna tidak menginjakkan kakinya lagi ke mansion besar ini. Mansion yang dulunya penuh dengan kedinginan itu ia ubah menjadi kehangatan keluarga.


Namun sayangnya dia harus berakhir dengan ganas. Dimana dia meninggalkan kasih sayang dan kebaikan yang dia buat dengan usaha yang sulit. Kemudian diambil oleh saudarinya semudah membalikkan telapak tangan. Jika mengingat kembali semua hal yang dia lakukan selama bekerja dengan Leon dulu, dia harus menahan badai yang selalu menerpa kehidupan nya. Bahkan jika sekarang dia diperbolehkan tertawa miris maka dirinya akan menertawakan dirinya yang mudah dibodohi dan mudah pula dimanfaatkan.


'Sial, aku jadi ingin tertawa bila melihat tempat ini' pikir Luna yang mengigit bibir bawahnya.


Dia berjalan masuk ke dalam mansion mengikuti Leon yang membawanya ke dalam. Tempat yang sama, letak yang sama, tetapi pelayan yang berbeda. Sama dengan diri Luna yang sekarang orang yang sama namun jiwa yang berbeda, itulah dirinya sekarang. Skenario yang dirinya siapkan maupun skenario yang mulai berubah tidak akan membuatnya menyesal untuk melakukan pembalasan dendam miliknya.


Mengambil semua yang harusnya menjadi miliknya dan mengembalikan setiap penghinaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Dimana mata dibalas mata dan nyawa dibalas oleh nyawa. Sehingga menciptakan dunia yang dipenuhi oleh darah yang segar. Bahkan Luna tidak akan segan untuk membunuh orang-orang yang dulunya merupakan orang terdekatnya. Karena orang-orang terdekat itu sudah menjadi pengkhianat yang menusuk dirinya dari belakang.


Membiarkan dirinya yang terluka mendapatkan luka baru yang tidak akan pernah hilang dari jiwanya. Bahkan jika saat ini dia harus mengingatkan setiap orang yang ada di mansion tentang siapa Lina yang sebenarnya. Maka Luna tidak akan segan-segan untuk menghancurkan dan membakar naskah milik Lina yang seharusnya menjadi miliknya.


'Aku akan mengembalikan nya ke tempat yang semula Lina, mau itu kebaikan yang kulakukan tapi kau karang dengan mudahnya. Aku akan mengambil nya kembali dan membiarkan orang-orang membencimu seperti dirimu melakukannya kepadaku' pikir Luna yang masih berjalan memasuki ruangan yang sama yang pernah dia masuki.


Pintu besar dihadapannya itu terbuka dan memperlihatkan ruangan luas dengan karpet dan kursi sofa lembut. Di sanalah tempat dimana kedinginan pernah terjadi, ia ubah menjadi kehangatan dan penuh dengan cinta. Kesalahpahaman yang terjadi akan Luna selesaikan di mansion ini. Semua hal yang seharusnya berada di tempat mereka akan Luna kembalikan. Membiarkan hal-hal yang seharusnya bukan milik Lina kembali ke asal mereka.



🔫 Bab 104 akan berhubungan dengan keluarga Leon yaitu Levi dan Qarin. Kehidupan ini seperti air bening, dimana jika dikotori dengan sesuatu zat akan sulit untuk dibersihkan. Seperti perasaan yang dulunya penuh dengan kemanisan dan dilukai akan sulit untuk dilupakan.


Saya DNA_2005 mengucapkan terimakasih atas saran, kritik dan kesabarannya. Dan juga selamat memulai awal bulan yaitu welcome October and Sayonara September^^