
Rapat yang dilakukan oleh keluarga Nypole, pengobatan dan pelatihan yang diberikan oleh Leon kepada anak buahnya yaitu klan Singa. Untuk memperkuat dan membiarkan otaknya memberikan ide untuk menarik Luna Nypole ke dirinya sendiri. Yang dari mana semua keinginan memiliki seseorang mulai kembali dari diri Leon.
Namun di suatu tempat di salah satu negara yang memiliki pengobatan terbaik untuk menyembuhkan penyakit apapun. Memiliki satu tamu yang berteriak-teriak keras dan mencengkram selimut bewarna putih.
"Ahhhhhh! pergi! pergi! ahhhhhh!" teriak perempuan tersebut. Seorang wanita paruh baya yang berada di dalam ruangan tersebut terbangun dan dengan cepat berjalan ke arah tempat tidur pasien.
Menekan tombol panggilan darurat yang ada di dekat tempat tidur sambil menenangkan anak perempuan nya.
"Lina, Lina bangun, Lina nak!" panggil Melli menyadarkan anaknya yang terpejam sambil berteriak keras. Langkah kaki dengan cepat berdatangan memasuki ruangan tersebut. Membawa beberapa alat yang salah satunya adalah obat penenang. Obat penenang itu dimasukkan ke dalam suntikan.
Teriakan dan guncangan membuat tempat tidur tersebut terus bergetar dan bergoyang. Para suster yang sudah ahli dalam melakukan tugasnya dengan cepat mengikat tangan dan kaki dari ujung ke ujung. Dokter yang bertugas langsung menyuntikkan obat penenang ke dalam tubuh pasien dan membiarkannya tenang.
"Tenang saja nyonya, nona Lina akan tidur sebentar dan tidak akan mengeluarkan teriakan seperti itu untuk ke sekian kalinya" jelas Dokter.
"Be.. benarkah" tanya Melli mempastikan. Anak perempuan nya tertidur kembali karena obat penenang. Mereka baru tiba ke negara Kanada dimana negara ini memiliki sistem perawatan kesehatan terbaik nomor 1 di seluruh dunia dan peringkat keseluruhan negara terbaik ke dua.
Lina dipindahkan ke rumah sakit yang ada di Kanada dan ditempatkan di ruangan pasien khusus. Lina dibiarkan tidur oleh kedua Melli yang sekarang sedang menjaga Lina sendirian. Karena suaminya pergi ke tempat lain untuk menyelesaikan beberapa masalah. Membuat Melli menjaga anak perempuan nya dan membiarkan nya beristirahat sebelum menjalani pengobatan.
Namun tidur Lina selalu terganggu oleh sesuatu hal dari teriakan dan cengkraman kuat yang dihasilkan oleh Lina. Sudah keberapa kalinya Lina disuntikkan dengan obat penenang agar pikiran dan tubuhnya tenang. Hanya saja di saat Lina mulai kembali ke alam sadar teriak muncul kembali. Membuat Melli sering menelan tombol darurat untuk anaknya.
"Tenang saja nyonya pengobatan nona Lina akan dilakukan besok dan mungkin besok akan ada perubahan untuk anak anda" ucap Dokter yang mencoba menenangkan kecemasan Melli yang selalu bertambah.
"Tapi apa mimpi buruknya akan berhenti, aku tidak ingin anak perempuan ku menjadi seperti orang gila" ucap Melli yang masih tidak bisa mengendalikan kekhawatiran miliknya.
"Tenang saja nyonya mimpi buruk nona Lina mungkin akan kita hilangkan untuk membantunya melupakan hal-hal yang mengerikan" jawab Dokter.
"Baiklah" pasrah Melli dan membiarkan para suster, dokter pergi dari ruangan. Melli menarik kursi yang ada di depan tempat tidur Lina. Duduk sambil menggenggam tangan kiri anaknya yang sedikit terluka tetapi tidak untuk tangan kanannya yang terluka parah. Bahkan perban yang ada di tangan kanan Lina sudah diganti beberapa kali.
"Siapa yang melakukan hal kejam ini kepadamu Lina, apa arwah saudarimu itu mendoakan mu mati?" tanya Melli sambil menggenggam erat tangan anaknya. Tanpa tau bahwa anaknya yang lain masih hidup dan anak yang dia abaikan itu adalah anak yang telah mulai menghancurkan kebahagiaan anak kesayangan nya yaitu, Lina.
Suara Isak milik Melli tidak terdengar oleh Lina yang berada di bawah alam sadar. Hanya sebuah katanyang dia dengar 'saudari' dan suara pengulangan bernama 'Luna' mengikuti jejaknya di dalam tidurnya.
'Kau yang membunuhnya'
'Kau yang memfitnah nya'
'Kau tampak buruk'
'Kau monster'
'Karmamu datang'
Dan banyak lagi ucapan dari orang-orang. ucapan yang selalu terngiang-ngiang di telinga dan tidak membiarkan nya untuk tidak mendengar semua pendapat orang. Kakinya berlari menjauhi suara-suara yang terus berdatangan. Berlari ke arah cahaya terang yang ada di tengah-tengah kegelapan.
Tangannya menggapai cahaya yang mungkin menyelamatkan nya dari mimpi buruk ini. Tapi tidak, bukan cahaya menuju jalan pulang. Cahaya yang dia gapai adalah api dan beberapa mayat yang terbakar di sampingnya.
Tubuhnya ketakutan, matanya mencari jalan keluar tetapi semua jalan tertutup oleh kobaran api. Kakinya yang tadinya ringan terasa berat, matanya menatap ke arah kaki miliknya sendiri. Teriakan dan getaran ketakutan keluar dari tubuhnya. Di saat beberapa tangan menggenggam kakinya erat dan tidak membiarkan nya kemana-mana.
"Tidak! tidak! lepaskan!" teriak Lina ketakutan.
'Kau yang mengirim kami'
'Kau yang mengirim kami ke jalan kematian!'
'Kau harus ikut kami'
'ikut kami ke neraka'
teriakan datang dari seluruh penjuru dan menarik tubuh Lina masuk ke dalam kobaran api. Tubuh Lina bergejolak, kepanasan dan merasa semua tubuhnya mulai terbakar.
"Ahhh! tidak! lepas! ahhh! biarkan aku mengambil milikku semuanya! ahhh!" teriak Lina kesakitan. Lantai yang dia pinjaki mulai rentak dan membuatnya terjatuh ke dalam jurang gelap yang dalam. Panggilan, sebuah panggilan terdengar lagi dan menyebut kan namanya.
"Lina! Lina! dokter! dokter! anakku Lina!" teriak Melli yang melihat mata Lina terbuka. Mengakhiri semua teriakan yang membuat Melli menjauh dari tempat tidur milik anaknya.
"Lina.." panggil pelan Melli.
"Aku.. akan mengambil milikku" ucap Lina pelan dan tertidur kembali di saat dokter memasukkan obat penenang dengan dosis yang berbeda ke dalam tubuh dan infusnya.
"Nyonya" panggil dokter ke arah Melli yang terbengong.
"Apa pengobatan nya tidak bisa dilakukan dengan cepat" ucap Melli yang tidak sanggup membayangkan anaknya seperti ini.
"Maksud anda?" bingung dokter.
"Pengobatan nya apa tidak bisa dilakukan pagi ini? jangan malam karena anakku mungkin tidak bisa menahannya lagi" ucap Melli.
"Baiklah kami akan mengusahakan keinginan anda, kalau begitu saya permisi" jawab dokter. Sekali lagi Melli memanggil dokter dan dia melihat anaknya hancur.
"Kenapa kamu bisa seperti ini Lina" gumam Melli. Tanpa tau bahwa orang yang telah melakukan perbuatan kepada anak tersayang nya sedang membahas pembalasan yang selanjutnya, setelah membahas masalah Leon.
"Jadi Lina di pindahkan ke Kanada" ucap Luna santai dan meminum wine yang di sajikan.
"Iya ketua dan sepertinya perempuan itu disuntikkan obat penenang terus menerus untuk menenangkan nya" jawab K yang merupakan penyusup di rumah sakit.
"Ehh"
"Apa itu sudah cukup memuaskan mu, Luna?" tanya Henry yang meletakkan rokoknya di asbak.
"Tentu saja tidak itu hanya permulaan yang paling kecil" dingin Luna.
"Baguslah" puji Henry singkat.
"Saya akan membantu ketua apapun yang terjadi" ucap Edwin tegas yang diberikan anggukan oleh Luna. Matanya menatap ke arah jendelanya yang ada di belakang ayahnya. Ini hanya permulaan walau Lina gila atau apapun. Semua hal tersebut tidak akan memuaskan Luna. Karena yang dia inginkan kehancuran dan membuat Lina hanya bisa memilih jalan menuju neraka kegelapan.
'Ini baru permulaan, saudariku' Smirk Luna.
🔫Ada yang mau jadi korban balas dendam Luna? seperti biasa 300 like update besok.