
Dengan suara teriakan yang keras, Rangga yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan untuk mengambil hasil test adiknya marah saat melihat adiknya yang cantik dan juga imut telah dipeluk oleh seorang pria dan bahkan lebih parah lagi mereka melakukannya di depan umum.
Membuat Rangga yang khawatir isi di dalam tes laporan tidak bisa khawatir lagi saat melihat adiknya dipeluk oleh seorang pria.
“Sialan kau, berani-beraninya kau memeluk adikku yang manis. Apa kau benar-benar seorang pria, jadi kau berani memeluk adikku tanpa rasa malu sedikitpun?!” Ucap Rangga keras sambil memerahi bajingan yang sama sekali tidak ia lihat wajahnya.
Dimana saat ini tepatnya di koridor rumah sakit, orang-orang yang sedang melihat sebuah hiburan atau pertunjukan ditemani makanan ringan sembari berbagi sesama penonton terkejut bahkan tidak sempat menutup mulut mereka yang hampir terbuka 360 derajat.
Terutama saat melihat seorang pemuda tampan dengan beraninya menjauhkan pemimpin mereka dari seorang wanita yang baru saja kapten mereka peluk.
Bayangan saja seorang kapten yang mereka telah kenal dengan lama dan memiliki citra dingin yang selalu menjaga kebersihannya dari seorang makhluk berjenis kelamin wanita akan memeluk suatu makhluk hidup yang jelas-jelas berjenis kelamin wanita.
Bahkan bisa dianggap rapuh seperti kaca. Dengan penampilannya yang jelas-jelas lemah, lihat wajah cantik nan putih itu, lihat tubuh proporsional itu dan lihat penampilan sempurna wanita yang memiliki rambut panjang itu.
Jika itu bukan perempuan, apakah dia seorang perempuan jadi-jadian? Maka hanya satu kalimat dipikiran mereka semua saat ini, 'Pemimpin mereka ternyata juga seorang pria normal yang bisa melakukan hubungan dengan lawan jenisnya!'
Sehingga setiap orang menyadari di dalam pikiran maupun hati mereka, bahwa pemimpin yang mereka hormati dan memiliki segala jenis rumor tentang seksualitasnya yang aneh ternyata adalah seorang pria normal yang bisa berinteraksi dengan seorang wanita.
Bahkan bisa memeluk wanita itu sambil berbisik di telinganya. Sehingga koridor rumah sakit yang mereka pikir akan dingin penuh salju akan berubah menjadi koridor yang penuh dengan hati merah muda dengan rasa manis berbunga-bunga.
Namun sayangnya koridor yang memiliki nuansa merah jambu itu seketika berubah saat sebuah bayangan dengan cepat melewati tubuh mereka yang sedang menonton aksi selama beberapa menit itu.
Dimana bayangan yang lewat itu dengan cepat menghancurkan nuansa yang dihasilkan oleh pemimpin mereka dan mendorong pemimpin mereka dengan jauh. Hingga tak lama kemudian sebuah jarak memisahkan kedua insan berjenis kelamin berbeda itu.
Dengan gerakan yang kasar dan juga teriakan yang keras, mereka semua merasakan bahwa koridor rumah sakit yang tadinya berbunga-bunga telah ditimbun dengan salju yang sangat tebal. Bahkan mereka yang hanya berniat untuk menjenguk rekan mereka tidak bisa bergerak sedikitpun dari posisi mereka saat ini.
[Membeku.]
Rangga yang tidak mengetahui pikiran orang-orang di koridor itu dengan cepat menjauhkan adiknya dari bajinga tersebut dan mengecek kondisi adiknya dari atas sampai bahwa. Melihat bahwa semuanya aman tanpa luka sedikitpun, membuat Rangga yang melihatnya menghela nafas lega dan menarik adiknya ke dalam pelukannya.
Agar cepat menghilangkan aroma sampah yang melekat di tubuh adiknya yang cantik.
Luna yang baru saja melepaskan pelukan Leon, dengan cepat masuk ke pelukan yang lainnya. Dimana pelukan itu membawanya sebuah rasa aman, terutama bau debu dan juga kayu kering yang mengingatkannya dengan aroma yang dimiliki ayah angkatnya.
Seorang penyelamat yang membuatnya menyadari apa arti hidup sesungguhnya.
Leon yang telah di dorong jauh, melihat ke arah orang yang telah memperbesar jarak dirinya dengan wanita nya. Terutama mata berwarna biru itu dengan jelas menangkap bahwa wanita yang dari tadi melawannya saat berada di dalam pelukannya.
Kini dengan mudah menerima pelukan milik lelaki lain, yang tentunya Leon sendiri pun juga tau siapa orang yang memeluk wanita nya saat ini.
Membuat emosi gelap yang ada di hatinya bertambah dan membiarkan aura dingin yang ia miliki menyiksa orang-orang di koridor tempatnya berada.
Bahkan jika suara detikan jarum pun terdengar, Leon yang melihat gerakan mereka masih mengeluarkan auranya dan berhenti saat suara orang itu kembali memanggilnya.
"Ah, apa kau baru tau? Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya seekor lebah yang mencoba mendapatkan madu yang manis dari bunga yang ada di sekitarku. Tidak mungkin aku tidak tergoda bukan?" Jelas Leon ringan, membuat orang-orang yang mendengar nya tambah terkejut dan memiliki sebuah pemikiran baru tentang pemimpin mereka.
'Tidak Tau Malu.' Pikir mereka semua terkejut.
Tidak hanya mereka saja yang berpikir seperti itu, Rangga yang saat ini menyembunyikan Luna di balik tubuhnya bahkan terkejut dan hampir saja memukul wajah orang yang ada di hadapannya saat ini.
Jika bukan karena wilayah orang ini, sudah dipastikan Leon telah dipukuli sebanyak dua kali orang mereka berdua.
Rangga yang ingin menghajar dan memarahinya dengan cepat dihentikan oleh adik perempuan. Dimana saat ini Rangga dengan jelas melihat menahan di mata adiknya yang biasanya tenang dan juga bias itu.
"?" Hmm, Tanya Leon saat tidak mendengarkan reaksi apapun dari lawannya.
Namun sayangnya bukan lawan yang diinginkan nya yang terdengar berbicara di telinganya. Melainkan wanita yang ingin ia kunci dalam sangkar emas yang ia buat yang berbicara dengannya.
Dengan nada yang dingin yang mencoba memaksimalkan suaranya setenang mungkin. Luna menatap Leon penuh kekesalan dan juga ketidakpastian.
Terutama sikapnya yang tidak tau malu, membuat Luna yang melihatnya hampir tidak mengenali orang di hadapannya. Jika dia mengabaikan mata gelap yang membara itu.
"Maaf atas kekasaran yang dilakukan oleh kakak saya kepada anda tuan Martin, saya harap anda bisa memaafkan kekasaran kami dan maaf kami harus pergi ke tempat lain untuk memeriksakan beberapa hal yang penting. Oleh karena, permisi tuan." Ucap Luna cepat sambil menarik kakaknya menjauh dari tempat itu.
Terutama mata yang melihatnya terlalu panas, membuat Luna yang merasakan nya tidak tahan dan ingin cepat pergi dari tempat ini.
Dan Leon yang melihat tindakannya sama sekali tidak menghentikan kepergian mereka. Hanya menatap kepergian mereka dengan mata tenang dan menjentikkan jarinya saat melihat bahwa bayangan mereka tidak terlihat lagi di matanya.
Dimana dengan suara jentikan sebanyak dua kali. Dua buah bayangan dengan cepat berdiri di belakang Leon dan menunggu perintah atasan mereka.
"Cari tau apa yang dilakukan wanita itu tadi dan pastikan semua orang yang ada di koridor ini tutup mulut atas kejadian tadi." Perintah Leon dingin.
"Baik, tuan."
Dengan jawaban yang diberikan, kedua bayangan itu dengan cepat mengerjakan perintah yang diberikan pemilik mereka dan meninggalkan Leon yang saat itu juga melangkahkan kaki ke ruangan pribadinya.
Dengan bau cairan infus dan juga obat-obatan, Leon disambut langsung oleh orang kepercayaannya.
"Selamat datang tuan, peralatan yang anda minta telah sampai dan siap untuk digunakan hari ini juga." Ucap orang itu menyambut Leon dengan penuh kesenangan.
🔫 Jangan lupa berikan like, komen, vote dan juga TIP sebagai bentuk dukungan kalian kepada author.
🔫Sekian terimakasih, and Sayonara~