
Di Restaurant~
Luna sedang memesan makanan untuk kedua anaknya di Restauran Kings Dining Chicago Lincoln Pan atau sering disebut Kings dining and entertainment heim.
"Mom, Laura ingin ke toilet" izin Laura sambil menahan.
"Navin temani adikmu" ucap Luna sambil melihat menu makanan yang cocok untuk dikonsumsi mereka. Laura dan Navin pergi bergegas ke toilet.
"Kak tungguin jangan tinggalin" ucap Laura sebelum menutup pintu toilet.
"Iya, cepatlah" tukas Navin. Tidak berapa lama kemudian Navin dan Laura keluar dari toilet, saat mereka berbicara untuk senjata apa yang akan mereka gunakan tanpa sadar Laura menabrak seseorang yang membuat dirinya terjatuh.
"AK 90 bagus loh kak" ucap Laura sambil berjalan mundur.
"Hati-ha.." Ucapan Navin terpotong saat melihat Laura terjatuh karena tertabrak kaki jejak seseorang.
"Awch" ringis Laura.
"Sudah ku bilang berhati-hati"arah Navin sambil menjulurkan tangannya membantu sang adik. Navin langsung menunduk hormat meminta maaf karena adiknya telah mengatakan seseorang hingga dirinya terkejut saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Saya minta maaf tu.." ucap Navin sambil menatap tak percaya ke arah depannya.
"Daddy " ucap Laura tanpa sadar. Ya lelaki itu menatap heran kepada kedua anak yang ditatapnya itu. Lelaki yang merupakan ayah kandung mereka yang bahkan tidak tau mereka ada.
"Apa kalian tidak papa" tanya lelaki itu sambil berjongkok mengikuti tinggi tubuh kedua anak itu.
"Kami tidak apa-apa tuan, saya minta maaf telah menabrak anda kalau begitu kami begitu" sarkas Navin dan langsung memegang tangan sang adik untuk pergi dari tempat itu. Walau dirinya sangat ingin bersama ayahnya lama tapi sayang sang ayah adalah musuh terbesar yang merusak sang ibu tercinta.
"Tapi kak, awch" ringis Laura terjatuh.
"dimana meja kalian biar paman antarkan" ucap lelaki itu yang langsung menggendong Laura yang sedang kesakitan. Navin melotot tidak percaya dan menatap tajam sang adik. 'Apa yang kau lakukan' isyarat Navin sambil menatap tajam sang adiknya. 'Maaf kak aku hanya ingin merasakannya walau hanya sekali' senyum Laura dan memeluk leher lelaki itu.
Mereka bertiga berjalan ke arah meja makan yang diberi tahukan oleh Navin. Sesampainya dimeja itu, Luna yang sedang meminum minumannya tersedak saat melihat kedua anaknya bersama seseorang yang sangat dia benci.
"Uhuk uhuk" batuk Luna kaget saat melihat lelaki itu sedang ada di hadapannya dan menggendong anaknya.
"Mom, hati-hati" ucap Navin yang langsung mengambil tisu yang disimpan di sakunya dan memberikan kepada sang ibu.
'Kenapa dari semua tempat aku bisa bertemu dengan Leonex' batin Luna. Ya lelaki itu adalah Leonex Martin, lelaki yang mengira dirinya adalah orang yang mencuri data perusahaan yang sebenarnya adalah sang kakak yang berpenampilan seperti dirinya.
" Biar saya saja Tuan" ucap Luna yang ingin mengambil Laura dari pelukan Leon. Tapi dengan refleks entah kenapa Leon malah menjauhkan Laura dari genggaman Luna. Membuat Luna mengernyit bingung.'ada apa lagi ini' kesal Luna.
"Tuan bisa tolong berikan anak saya" senyum Luna. membuat Leon mau tidak mau memberikan anak perempuan itu.
"Maaf" ucapnya sambil memberikan Laura ke arah Luna.
"Terima kasih" senyum Luna yang langsung mengambil cepat Laura. Leon langsung menganguk dan pergi ke lantai kedua dari restaurant itu.
Leon Pov~
Dan juga apa-apaan senyumnya itu membuatku terasa familiar dengan Lunaku dulu, tapi ah tidak mungkin Luna adalah perempuan yang polos bukan perempuan yang seperti itu.
Author Pov~
Luna langsung mendudukan Laura di samping Navin dan menarik nafas lega saat perginya Leon dari hadapannya.
"Ada apa ini?" tanya Luna was wasan.
"Mom itu.. tadi" jawab Laura sambil memiliki jarinya pelan.
"Laura kamu diam dulu lebih baik Navin yang jelaskan" ucap Luna kepada sang anak perempuan.
"Setelah kami dari toilet Laura berjalan mundur sambil mengobrol denganku dan akhirnya kami menabrak Daddy, setelah itu Laura tiba-tiba terjatuh lalu digendong dan yang seperti mom lihat" jawab Navin secara jelas dan cepat. Luna menarik nafas pelan dan menunduk ke arah lantai.
"Mom, Laura minta maaf" pelan Laura sambil menatap sang ibu sendu. Jujur sepintar dan sekuat apapun dia tidak mampu menahan keinginan untuk bersama sang ayah walau dia tau konsekuensinya ibunya mungkin akan kecewa.
"huft.. Laura Mom tau kamu sangat menginginkan Daddy mu ada selalu disampingmu. Tapi kita harus memikirkan awal tujuan kita ada disini dan awal tujuan kenapa kalian ingin kuat." ucap Luna sambil menatap sang anak perempuan. Jujur dia sedikit kecewa tapi sekecewa apapun dia tidak bisa memarahi kedua anaknya ini. Dia tidak mampu mengucapkan kata kata yang sering dia lontarkan kepada orang orang diluar. Karena dia tau anak-anak akan meniru apa yang dilihat, didengar dan dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Dan kesalahannya terbesarnya adalah mengajarkan mereka sebuah senjata berbahaya karena dia berpikir bila anak-anaknya ikut bersamanya mungkin itu berbahaya. Penolakan selalu dia lakukan hingga saat ulang tahun mereka hanya ingin diajarkan senjata berbahaya oleh sang ibu sebagai kado ulang tahun mereka.
Ibu mana yang tega menolak, mematahkan semangat kedua anak yang merupakan karunia sang maha kuasa untuk dibesarkan dan dilindungi.
Luna tersenyum lembut ke arah kedua anaknya dan mengelus puncak rambut kedua anak yang merupakan Sarah daging dari miliknya dan Leon.
"Sudah jangan murung lebih baik kita makan-makanan ini sebelum dingin. Dan Laura jangan menangis mom tidak memarahimu Kan." ucap Luna yang membuat kedua anaknya itu menatap Luna manis.
"Kalau kalian merasa bersalah terus kapan kalian akan belajar Senapan peluru tunggal kaliber itu" lanjut Luna membuat mata kedua anaknya langsung berbinar dan bersemangat.
"Tentu, kami makan" jawab keduanya serempak membuat Luna tersenyum. Makanan dan obrolan hangat terjalin di meja makan itu.
"Bagaimana rasanya dipeluk Daddymu?" tanya Luna sambil memotong steaknya.
"Apa aku harus jujur" ucap Laura sambil memasukkan cheesecake nya.
"Jujur saja" ucap Navin yang masih senantiasa memainkan handphone milik sang ibu.
"Hangat dan tentu saja menyenangkan" jujur Laura apalagi mengingat pelukan sang ayah.
"Kalau kamu Navin" tanya Luna.
"Aku tidak digendong karena cukup gendongan dari ibu yang sangat empuk tidak seperti orang yang disampingku ini" sindir Navin membuat Laura langsung menyedokkan cheese cake miliknya kepada mulut sang kakak. Luna terkekeh kecil saat melihat kedua tingkah laku anaknya itu. Hingga suara teriakan terdengar membuat semua yang ada sana menatap dan terdiam saat melihat adegan itu.
"Leon, Aku cuma minta kau menemaniku saja" teriak wanita itu.