
Luka Luna yang terbuka dengan cepat di perban oleh Leon. Tangannya yang lembut membuat Luna merasakan perasaan aneh dan tidak nyaman.
'Kenapa sentuhan ini membuatku bernostalgia?' pikir Luna yang merasakan kelembutan tangan memegang milik Leon pernah ia rasakan dulu.
'Kulitnya lebih lembut daripada yang ku duga dan baunya tetap sama seperti dulu' pikir Leon nyaman.
Mereka berdua merasakan rasa yang dulu pernah hadir dan tidak menyadari bahwa kedua anak yang sedang ada di sekitar mereka sedang berusaha mencari petunjuk tentang orang yang mencelakai mereka. Hingga suara lantang milik Laura membuat orang-orang yang ada di sekitarnya tertuju kepadanya.
"Ketemu, aku menemukan nya" lantang Laura yang berhasil melacak keberadaan dan menyusup ke markas orang yang melukai mereka dengan kamera kecil miliknya.
"Apa kau benar-benar menemukan nya?" tanya Navin yang mengalihkan laptopnya dan mendekati adiknya. Luna yang mendengarnya dengan cepat menarik tangan dan juga kakinya dari Leon dan mendekat ke arah anaknya tanpa mempedulikan Leon yang saat ini mendengus kesal.
'Kenapa dia harus pergi saat bau tubuhnya sudah menyamankan pikiranku' dengus Leon kesal yang langsung berdiri dan berjalan mengikuti Luna.
Mereka bertiga memandang ke arah layar laptop milik Laura. Di sana mereka bisa melihat banyak orang berkumpul dengan pakaian gelap mereka ditambah senjata-senjata tembak tergelatak di atas meja.
"Apa kita tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dari sini?" tanya Navin yang membutuhkan petunjuk dari suara.
"Uhh... sayangnya tidak bisa kamera ini di desain hanya untuk mengamati bukan untuk mengamat dan merekam" jelas Laura yang tau betul fungsi kamera yang diberikan oleh neneknya saat ulang tahunnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan jika kita tidak bisa mendengar suara mereka? bukankah itu sama saja dengan kita tidak mendapatkan petunjuk sama sekali" jelas Leon yang sama-sama tidak mendapatkan petunjuk dari kamera pengamat ini.
"Uhhh kau benar dad.."
"Laura, apa kau diizinkan untuk memanggil orang lain dengan sebutan itu" potong Navin yang telinganya hampir mendengar sebutan Daddy (ayah) secara langsung.
"I..itu'"
"Sepertinya kau masih harus banyak belajar" senyum dingin Navin membuat Laura yang melihatnya hanya bisa menelan salivanya pelan dan memainkan mouse nya kembali.
'Cih, kakak sangat-sangat tidak seru. Padahal aku sudah memanggil sebutan Ayah beberapa kali tapi sekarang aku dilarang. Dasar anak kesayangan mom' gerutu Laura.
"Sepertinya sulit jika kita tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan mereka" ucap Navin yang dari tadi menatap lingkungan tersebut.
"Sulit? apa itu benar-benar sulit untukmu Navin?" tanya Luna sambil menatapnya dingin.
"Tentu saja tidak jika aku menemukan petunjuk di wilayah itu, tapi aku sama sekali tidak menemukannya mom" jelas Navin.
"Jadi kamu ingin berkata misi ini akan sulit jika kamu tidak bisa mendengar suara sama sekali?"
"Tapi mom aku juga tidak bisa menemukan satupun ciri-ciri musuh bahkan tuan Martin juga, bukankah begitu tuan Martin?" timpal Laura sambil memandang ayahnya yang ada di belakangnya.
"Entahlah tapi jika kita bisa masuk ke dalam sebuah ruangan mungkin kita menemukan sebuah petunjuk" jelas Leon yang memikirkan cara terbaik untuk menemukan petunjuk orang yang telah mencelakai Luna.
"Ruangan yaa??"
"Tidak perlu masuk ruangan Laura cukup kamu dekati saja kamera mu ke pohon yang ada di sebrang sana" dingin Luna sambil menatap layar laptop itu sengit.
"Pohon?"
"Pohon yang ada di dekat sungai itukah?" tanya Navin yang dengan pelan diangguki oleh Luna. Membuat Laura yang mendengarnya mengerakkan mouse miliknya dan menjalankan kamera kecil miliknya.
Kamera itu mendekat ke arah pohon yang dikatakan oleh Luna dan di saat itulah mereka menyadari ada sebuah petunjuk besar yang dapat mereka temukan dari luar ruangan itu.
Sebuah petunjuk yang memiliki bentuk ukuran yang besar dengan warna dan juga sebuah lambang yang sangat jelas milik sebuah klan besar.
"I...ini bukannya milik"
"Benar apa yang kamu pikirkan Navin" smirk Luna yang matanya tidak akan pernah salah.
"Bohong, tidak mungkin klan harimau yang melakukannya, I..ini tidak mungkin" terkejut Laura yang tidak menyangka petunjuk yang mereka dapatkan merupakan sebuah bendera dengan lambang harimau.
"Memang kenapa tidak mungkin?" bingung Leon yang tidak mengerti sama sekali dengan obrolan yang ketiga orang ini ucapkan.
"Maksudmu?"
"Klan Harimau merupakan klan yang dipimpin langsung oleh keluarga Luxury yaitu keluarga mantan tunangan mu" jelas Luna yang membuat Leon yang mendengarnya mengernyit kan dahinya.
"Keluarga Luxury? maksudmu keluarga Luxury yang itu?"
"Siapa lagi keluarga Luxury yang ada di kota dan negara ini kecuali mereka"
"Jadi mereka, mereka yang melukaimu" dingin Leon yang menyadari maksud Luna. Tangannya mengepal kuat, ia tidak membayangkan bahwa orang yang pernah dekat dengannya itu melukai orang yang sangat dicintainya.
'Jadi mereka benar-benar tidak takut mati' pikir Leon dengan aura membunuhnya. Ia sudah berbaik hati melepaskan mereka dan saat ini ia tidak akan berbaik hati lagi. Apalagi melihat kondisi Luna yang diakibatkan langsung oleh orang-orang tersebut.
"Nuklir mana yang harus ku luncurkan ke perusahaan mereka?" gumam Navin yang ingin cepat-cepat menghancurkan keluarga luxury.
"Tsar Bomba ku dengar bagus untuk menghancurkan perusahaan" timpal Leon yang menyukai cara pikir milik Navin.
"Kalau begitu..."
"Tidak-tidak jika kita mengirim Tsar Bomba itu akan berbahaya" potong Laura yang membuat kedua orang itu langsung menatapnya dingin.
"Jadi kamu ingin kami berbaik hati?" tanya Leon dan Navin bersamaan. Tanpa tau bahwa anak perempuan yang menyela ucapan mereka saat ini juga memikirkan cara yang berbahaya.
"Bukan berbaik hati hanya saja bukannya racun lebih baik? karena bagaimanapun juga itu merupakan perusahaan milik mom" jelas Laura yang pikirannya sedikit terbuka.
Mereka bertiga memikirkan cara terbaik untuk memusnahkan keluarga Luxury secepatnya hingga membuat Luna yang mendengarnya hanya bisa tertawa dengan kalimat kejam yang diucapkan oleh orang-orang yang ada di dekatnya.
"Apa yang kamu ketawa kan Luna?" bingung Leon saat melihat Luna sudah tertawa di samping mereka.
"Benar, apa yang lucu mom?"
"Apa mom demam?"
"Hahahaha tidak-tidak hanya saja kalian tidak perlu memikirkan cara apa yang diperlukan untuk memusnahkan mereka" tawa Luna yang mengakhirinya dengan senyum dinginnya.
"Maksudnya?"
"Maksud mom kalian hanya perlu tenang dan tenang, karena bagaimanapun juga rencana yang mom siapkan sudah berjalan dan kita hanya perlu menunggu waktu untuk menghancurkan mereka" smirk Luna yang membuat kedua anak itu sadar bahwa ibu mereka merencanakan hal lebih kejam daripada mereka berdua.
Sedangkan Leon yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas lega dan merasakan bahwa kantong celana miliknya bergetar.
"Angkat saja tuan Martin mungkin itu penting" senyum Luna yang mendengar suara telpon dari arah Leon. Membuat Leon yang tadinya tidak ingin mengangkat jadi menjawab panggilan tersebut.
"Katakan ada apa?" dingin Leon yang sama sekali tidak menghilangkan suara tegas dan mengancamnya.
"...................."
"Tunggu apa maksudmu?"
"............."
"Ini..."
mata Leon menoleh dengan cepat ke arah Luna dan menyadari bahwa rencana yang dimaksud itu merupakan rencana yang menyangkut kedua buah pihak. Dimana kedua buah pihak ini akan membuah musuh menjadi hancur secara perlahan namun menyakitkan.
Luna yang merasakan tatapan milik Leon hanya bisa tersenyum dingin. Tenaganya sudah berjalan sesuai yang dia inginkan. Bahkan kecelakaan yang datang tidak membuatnya putus aja untuk tetap menjalankan rencananya.
'Sepertinya rekaman itu sudah sampai ke tangan mereka' smirk Luna.
🔫Oh yeah kita akan mulai lagi kelicikan dan kedengkian kita, dan juga maaf saya tidak update kemarin dikarenakan saya sedang dalam kondisi yang tidak Fit (sakit).
Sekian terimakasih, Mata Ne~