
Rahasia yang disembunyikan dan di tutup secara rapat itu telah diketahui oleh orang yang bahkan tidak dikenal oleh Lina. Membuat tubuhnya yang tenang dan penuh percaya diri tiba-tiba bergetar ketakutan. Kaki yang tadinya melangkah tegas dan tegas mulai memundurkan langkah kakinya secara perlahan-lahan.
"A..aku..ka..kamu" gagap Lina yang ketakutan.
Langkah kakinya berlahan mundur' dan langkah kaki milik Luna malah maju. Cengkraman yang ada di bahu milik Lina tidak membuat Luna melepaskan nya secara cepat. Bahkan saat ini Luna mencubit dagu milik Lina kasar.
"Awch" ringis Lina yang merasakan dagunya akan terluka oleh tangan milik Luna.
"Jika kau pikir diriku adalah seorang j*l*ng, maka sudah ku pastikan semua perempuan yang ada di dunia ini adalah j*l*ng! kau tau kenapa?" tekan Luna.
"Ke...kenapa?" gugup Lina yang membuat Luna mengeluarkan senyuman smirknya.
"Karena kamu adalah perempuan yang paling rendah dari yang terendah. Bahkan kecoa saja memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari diriku" tegas Luna dan melepaskan cengkraman kedua tangannya.
Matanya menatap dingin Lina yang sudah ketakutan dengan dirinya. Setiap perkataan yang keluarkan oleh Luna membuat mulut Lina tidak bisa berkata-kata. Bagaimanapun juga Luna mengeluarkan kalimat yang mengartikan bahwa harga diri milik Lina tidaklah tinggi dan kecoa yang merupakan serangga paling menjijikkan saja lebih tinggi kedudukannya dari seorang manusia. Jelas membuat harga diri Lina terluka dan menjadikan Lina membeku di tempat.
"Kevin, kita pulang" jelas Luna yang menyerahkan jas hitam yang dari tadi ia gunakan. Emosi yang dia keluarkan seketika membuat dirinya kepanasan. Hingga Luna menginginkan darah Lina secepatnya. Namun sayangnya Luna harus menahan perasaan untuk membunuh perempuan itu. Karena dirinya harus menghancurkan orang-orang yang ada di dekatnya mau itu dari perusahaan, teman, ataupun orang tua.
"Nona, boleh saya tanya apa yang anda bicarakan tadi?" tanya Kevin yang tidak mendengar suara milik atasannya.
"Tidak perlu di dengar, paham" dingin Luna yang membuat Kevin langsung mengganggukkan kepalanya. Leon yang berada di depan Luna hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya. Melihat ketakutan milik Lina saja sudah membuat orang tau bahwa kalimat yang dikeluarkan oleh Luna cukup mengerikan. Dan jelas setiap gerakan ataupun aura itu cukup menjadi penghalang untuk interaksi mereka tadi.
'Luna kau lebih menarik dari dugaan ku, bahkan dirimu yang dulu maupun sekarang tidak pernah takut dengan kameramen yang ada' pikir Leon yang mengigat beberapa hal tentang sekretaris nya dulu.
"Tuan Leon, tuan" panggil asisten Leon.
"Ada apa?" tanya Leon dingin.
"Itu tuan, anda tertawa" jelas asisten tersebut sambil mengeluarkan ekspresi tidak percaya.
"Tertawa?" bingung Leon yang tidak percaya.
"Ya, bukan hanya tertawa tuan juga mengeluarkan senyuman" jelas asisten tersebut yakin dengan penglihatan miliknya.
'Apa aku tadi terlalu berlebihan?' pikir Leon yang tidak merasakan bahwa dirinya tertawa.
Ke empat orang itu berjalan keluar dari gedung dan masuk ke dalam mobil untuk menjalankan tugas yang ada. Dengan Luna yang dipaksa Leon untuk pergi bersamanya. Membuat Luna harus meninggalkan Kevin sendirian lagi di perusahaan.
Berbeda dengan Lina yang ditinggalkan di pintu keluar. Tubuhnya masih bergetar ketakutan dan bekas cengkraman milik Luna malah tersisa di kulit terawatnya. Sampai ayahnya berjalan cepat dan membawa Lina ke mobil.
"Tuan besar ini air nya" ucap pengawal yang memberikan botol air mineral.
"Minumlah, Lina" ucap Reno sambil memberikan air.
Tangan Lina yang masih bergetar membuat dirinya hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Meminum air minum itu pelan dan memuntahkannya.
"Uhh, minuman apa ini?!" teriak Lina yang merasakan minuman aneh dan tidak enak.
"Air mineral katamu? rasanya sangat-sangat murahan kau tau" marah Lina dan berjalan memeluk ayahnya. Tubuhnya masih ketakutan dan suara nafasnya terdengar terengah-engah.
"Daddy" panggil Lina.
"Ada apa Lina? apa kau berbuat masalah atau kau ingin Daddy menghabisi seseorang?" tanya Reno sambil mengelus pucuk rambut anak kesayangannya.
"A..aku ingin Daddy me.. menghabisinya" bisik Lina.
"Siapa?"
"Dia Daddy, kau tau bukan perempuan j*l*ng yang mengambil Leon ku dan juga perempuan yang menyamakan ku dengan kecoa" adu Lina sambil menangis, membiarkan air mata palsunya mengalir deras di jas milik sang ayah.
"Kecoa?"
"Hiks... iya Daddy kau tau bukan anak yang paling cantik dan tersayangmu ini disamakan dengan kecoa yang merupakan hewan menjijikkan itu" ucap Lina.
"Sudah-sudah jangan menangis" ucap Reno menenangkan.
"Tidak-tidak, Daddy harus cepat-cepat menghabisi perempuan itu. Bila tidak aku akan kabur dari rumah" manja Lina yang tidak terima permintaan nya tidak diselesaikan dengan cepat.
"Kabur? Lina jangan seperti itu, paham"
"Tidak-tidak aku tidak mau, aku ingin perempuan itu secepatnya pergi dan mengambil Leon ku kembali"
"Tuan I...itu" ucap pengawal dan membisikkan beberapa hal ke atasannya. Membuat Reno yang sudah sakit kepala hanya bisa mendengus kasar. Melihat tingkah laku manja dan cengek anaknya jelas tidak memungkinkan Reno untuk menolak permintaan anak tersayangnya itu. Apalagi dengan masalah yang selalu datang kepadanya.
"Baiklah, Daddy akan melakukan nya secepatnya jadi jangan menangis dan masuk ke dalam mobil" jelas Reno yang putus asa membuat Lina yang mendengar nya langsung menghapus air mata dan mengecup pipi ayahnya manis.
Cup***
"Daddy kau memang yang paling terbaik, hehehehe" ucap Lina yang langsung kayak ke dalam mobil dan duduk dengan tenang. Matanya menatap parkiran kosong yang tadinya berisi mobil milik Leon dan Luna. Sambil membiarkan gigi miliknya mengigit salah satu jarinya.
'Kau menyamakan ku dengan kecoa? lihat saja j*l*ng ku pastikan kau mati secepatnya dan membiarkan abu milikmu berada di ruang yang penuh dengan binatang kecoa' pikir Lina yang berhasil membuat ayahnya goyah.
Dirinya tidak peduli dengan ayahnya yang sedang kesusahan sekarang. Karena bagi Lina melihat kematian Luna secepatnya sudah cukup membuat jalan menuju kebahagiaan miliknya terbuka. Dari Leon yang akan berpaling kepadanya lagi dan mengugurkan perusahaan tersebut. Lina membenci seseorang yang mengambil miliknya dan akan membalasnya dengan kemampuan ayahnya. Membuat Lina terus-menerus mengeluarkan senyum mengerikannya.
Tanpa tau bahwa sang ayah sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan semua urusannya yang menumpuk sambil membuahi keinginan milik anak kesayangannya.
'Apa yang harus ku lakukan?' pikir Reno yang tidak bisa tenang dengan kondisinya sekarang. Dimana tangan kanannya yang juga merupakan asisten nya itu telah pergi tanpa diketahui. Ditambah saham perusahaan nya yang mulai menurun dikarenakan kerja sama dengan Martin Company telah terputus. Membuat Reno kesulitan untuk mendapatkan uang maupun keuntungan yang lebih banyak. Apalagi dengan anaknya yang tidak mengetahui kesulitannya sama sekali menambah Reno kesusahan.
'Aku harus memikirkan solusinya secepatnya' pikir Reno.
🔫Luna mau diajak Leon ke suatu tempat sedangkan Reno sedang menghadapi masalah yang mulai bermunculan. Mampukah Luna menghancurkan kehidupan milik keluarga luxury secepatnya?
Hmmm kita liat di bab 103 yaa...