
Proses pemakaman Gina telah di lakukan, ragam proses di laksanakan sesuai urutan.
Di suasana malam yang makin lama makin larut warga-warga dengan semangat mengantarkan jenazah Gina ke pemakaman umum terdekat.
Menit-menit berlalu, jam berputar dengan cepat. Proses pemakaman Gina kini telah selesai di lakukan. Para warga satu persatu membubarkan diri meninggal rumah Gina lantaran hari sudah mulai larut.
Di rumah Gina hanya tersisa beberapa orang salah satunya Clara dan kawan-kawannya.
"Ini udah malem tau, ayo kita pulang, aku masih belum kemas-kemas lagi, besok pagi-pagi kita harus berangkat ke hutan yang akan di jadikan tempat buat camping. Kita harus pulang sekarang, kita ngapain lagi di sini, Gina juga udah di makamin" resah Steven lantaran terlalu enteng dan sekarang malah kalang kabut.
"Kalau kayak gitu ayo kita pamit dulu sama papa dan mamanya Gina, baru setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing" usul Rev.
Kata setuju tak meluncur keluar dari bibir mereka, namun serempak kelapa mereka sama-sama mengangguk.
Satu demi satu kaki mereka melangkah, langkah kaki mereka terhenti di ruang tamu, di sana terdapat Tante Marissa dan om Gunawan yang lagi meratapi kepergian Gina.
"Assalamualaikum Om Tante" salam Rev sopan.
"Wa'alaikum salam" balas mereka kompak.
"Tante om kami selaku teman-temannya Gina hanya bisa mengucapkan bela sungkawa, maaf sekali lagi karena kami gak bisa melindungi Gina dengan baik hingga Gina sampai kayak gini" Rev merasa bersalah, sebagai ketua OSIS lagi-lagi ia lalai melindungi para masyarakatnya.
"Kalian gak usah minta maaf, karena ini bukan kesalahan kalian, seharusnya Tante sama om yang bilang makasih sama kalian, makasih kalian udah baik mau jaga dan lindungi Gina meski pada akhirnya Gina tutup usia. Tapi om dan Tante gak bisa nyalahin kalian semua, karena di sini bukan kalian yang udah bikin anak om meninggal" sahut om Gunawan sedih.
Guratan kesedihan om Gunawan tak dapat di sembunyikan lagi, dari sorot mata sudah terlihat bahwa terdapat kesedihan mendalam yang ia pendam.
"Tante sama om hanya bisa bilang makasih banyak kalian udah repot-repot kocar-kacir ke sana kemari hanya karena ingin menjaga Gina, sampai-sampai jam segini kalian masih ada di sini. Om sama Tante gak bisa balas kebaikan kalian secara langsung, kami hanya bisa berdoa semoga kalian di lindungi oleh orang-orang jahat" doa Tante Marissa.
"Amiiinnn" sahut mereka kompak.
"Kalau seperti itu om Tante kami mohon undur diri dulu, kami harus pulang karena sudah mulai larut takut di cariin sama orang tua" pamit Angkasa.
"Silahkan, jangan lupa hati-hati di jalan" persilahkan om Gunawan.
Kepala mereka mengangguk kompak, kata hati-hati itu sudah menjadi bahan penting di setiap kaki mereka melangkah, jika tidak hati-hati mereka tidak akan bisa berdiri hingga detik ini.
"Kami pamit pulang dulu om Tante, assalamualaikum" salam Aldo.
"Wa'alaikum salam" balas Tante Marissa dan Om Gunawan.
Dengan bersama-sama mereka meninggalkan rumah Gina. Mereka berkumpul di pinggir jalan tepat di depan rumah Gina.
"Kita ketemu besok di sekolahan ya, jangan lupa kalian harus datang lagi biar gak ketinggalan bus" peringatan Rev.
"Tenang aja, jam 4 kita pasti sudah ada di lokasi, kalian gak perlu khawatir" jawab Rafael.
"Kalau seperti itu ayo kita pulang, ini udah malem banget, kita butuh istirahat, besok kita harus bangun pagi dan melakukan perjalanan jauh, kita jangan sampai gak bisa tidur dengan teratur" ujar Clara.
Aryan mengangguk."Kita pulang dulu ya, sampai jumpa besok"
"Sampai jumpa" jawab Steven, Clara, Rev dan Aldo yang masih diam di tempat sementara personil band Amanda telah masuk ke dalam mobil Alphard berwarna hitam.
Mobil Alphard melaju kencang meninggalkan lokasi. Mereka berempat yang tadi mematung di sana satu persatu pulang ke rumah masing-masing.
Pagi harinya.
Waktu menunjukkan pukul setengah 5, personil band Amanda itu kalang kabut, mereka telat bangun lantaran kelelahan mengurus pemakaman Gina kini mereka di serang rasa panik.
Dengan tenaga ekstra mereka bersiap-siap secepat kilat, lalu setelah itu berkumpul di ruang tamu di lengkapi tas besar di punggung mereka.
"Semuanya sudah siap?" Tanya Angkasa.
"Sudah, ayo kita berangkat aja, nanti keburu ketinggalan bus" saran Rafael.
"Eh di mana Aryan, kenapa dia gak ada di sini juga" Reyhan sadar bahwa anggotanya belum 100 persen lengkap.
"Aduh, Aryan lagi, dia pasti lagi molor, kemarin malam kita udah sepakat buat bangun pagi, tapi apa yang terjadi, lagi-lagi dia yang bikin masalah" kesal sekaligus was-was Bryan lantaran khawatir ketinggalan bus.
"Kalau kayak gitu sana kalian cek Aryan di kamarnya, kami tunggu di sini" suruh Angkasa terus melihat jam yang melingkar di tangannya.
Waktu terus berputar meskipun mereka diam tanpa pergerakan, waktu tak akan bisa kembali, jika mereka menyia-nyiakan yang mereka dapatkan hanyalah penyesalan.
Rafael melangkah mendekati kamar Aryan yang kebetulan gak di kunci.
"Ya Allah ya gusti, Aryan kamu waras gak sih!" Marah Rafael mendapati tingkah sahabatnya yang satu ini.
"Ada apa sih, kenapa kamu main masuk ke kamar aku, marah-marah lagi" Aryan merasa aneh dengan Rafael yang datang-datang malah langsung memarahinya.
Aryan sibuk menatap dirinya di cermin, sembari membenarkan anak rambutnya yang ia duga kurang rapih.
"Aryan, di luar itu anak-anak udah pada nungguin kamu, tapi kamu malah diam bae di sini, gak tau orang lagi genting apa" gerutu Rafael geleng-geleng kepala.
"Yang benar, kenapa kalian gak ada yang ngabarin aku kalau kalian udah siap, aku kira kalian masih belum bangun" kaget Aryan.
"Emang kamu kira kami ini kamu apa yang bangunnya suka telat, udah ah ayo kita buruan ke depan, mereka udah pada nungguin kita, sebelum mereka berangkat duluan dan ninggalin kita" ajak Rafael tak ingin membuang-buang waktu lagi.
Aryan menggendong tas besarnya yang berisi segala keperluannya selama berada di hutan.
Dengan terburu-buru Aryan dan Rafael berlari mendekati mereka semua yang menunggu dengan tidak tenang.
"Akhirnya kalian datang juga, kalian dari mana aja sih, kenapa lama banget, terutama kamu Aryan, kamu telat lagi kan bangunnya sampai-sampai datang paling akhir" tebak Bryan karena biasanya selalu begitu.
"Enggak, aku gak telat bangun kok, malahan aku udah selesai siap-siap sejak tadi, cuman lagi beneran penampilan dikit, eh belum aja selesai Rafael malah nyamperin aku di kamar, gak jadi deh aku yang mau bangunin kalian pada" jelas Aryan membantah saat ia di tuduh yang tak benar.
"Masa, kok aku gak percaya" sedikit meragukan Reyhan.
"Beneran loh, kalau gak percaya kalian bisa tanya Bi Ipah, dia itu tau kok kalau aku bangun lebih dulu" suruh Aryan untuk meyakinkan mereka.
"Gak perlu, kelamaan jadinya. Sekarang itu kita harus berangkat ke sekolahan secepatnya, ini udah mepet banget, jangan sampai kita ketinggalan bus" ajak Angkasa was-was.
"Ayo kita berangkat, jam 5 pas kita harus sampai di sekolahan" ajak Rafael ikut panik.
Kelima pemuda itu masuk ke dalam mobil Alphard, kali ini mang Asep yang akan mengantarkan kepergian mereka.