Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Informasi terbaru dari Jia


Clara masih belum pergi dari sekolahan tempat biasa ia menuntut ilmu, kejadian yang terjadi hari ini berhasil membuatnya terguncang, bagaimana tidak, teman yang selama ini bersamanya baik suka maupun duka meninggal karena di lenyapkan oleh orang jahat yang tidak bertanggung jawab, motif pelaku membunuh Jia masih menjadi misteri.


Clara menatap sedih ke arah bangunan yang menjulang tinggi tak lain dan tak bukan adalah sekolahnya.


"Jia aku akan cari tau sampai titik darah penghabisan, aku gak akan berhenti sebelum dia di tangkap!" janji Clara yang memiliki dendam pada orang yang sudah berhasil melenyapkan temannya.


Clara dengan langkah gontai berjalan meninggalkan sekolahan, wajah Clara di penuhi kesedihan, namun ia masih terus melangkah meninggalkan sekolahan.


Sepanjang perjalanan Clara memikirkan siapa sekiranya orang tega yang sudah bikin Jia menghembuskan nafas terakhirnya, ia begitu ingin tau wajah orang yang sudah melenyapkan Jia.


Langkah demi langkah terus Clara lakukan, jarak rumahnya dan sekolahan lumayan jauh, biasanya pulang pergi ia selalu di antar oleh supirnya, namun kali ini ia memilih berjalan kaki menuju rumahnya.


Clara berhenti tepat di depan rumah besar yang tak lain adalah rumahnya sendiri.


"Mang buka pintunya" titah Clara dengan sedikit berteriak.


Seorang satpam dengan terburu-buru membuka pintu gerbang.


"Loh non Clara, kok jam segini udah pulang, ini kan masih jam 10" kaget mang Supri karena biasanya Clara pulang jam setengah 12.


"Urusannya panjang mang, aku gak bisa cerita sekarang" mang Supri mengerti, ia tidak lagi bertanya, dari mimik wajah Clara saja dia sudah tau bahwa hari ini Clara tidak mau di ganggu.


Clara melangkah masuk ke dalam kamarnya, ia berganti pakaian dan kembali turun ke bawah.


"Mang anterin aku ke rumah Jia, aku mau ke sana sekarang!" Clara berdiri tepat di depan mang Ujang yang lagi bersantai.


"Siap non" mang Ujang langsung bangkit dari duduk, ia bergegas mengeluarkan mobil dan mengantar Clara ke tempat yang Clara minta.


Perjalanan menuju rumah Jia memakan waktu sekitar 25 menit, rumah Jia terletak di gang kecil yang padat penduduk.


Mobil berhenti di depan rumah orang China yang lumayan besar, mang Ujang meminta izin pada pemilik rumah prihal mobilnya yang di parkir di sana.


Clara turun dari mobil, ia berjalan mendekati kerumunan warga, dari kejauhan ia sudah mendengar suara teriakan dan tangisan pihak keluarga Jia terkait anaknya yang di temukan tewas di sekolahan.


"Jia, kamu kenapa nak, kenapa kamu bisa begini nak, apa yang sudah terjadi sama kamu, kenapa masih ada orang yang tega bikin kamu seperti ini!" jerit Rahma ibu Jia yang sangat kehilangan anaknya.


Rahma dan Sumanto bergegas pulang ke tanah air setelah mendengar bahwa putri semata wayangnya telah berpulang, selama ini mereka berada di Malaysia, mereka menjadi TKW di sana, dari kecil Jia di asuh oleh kakek dan neneknya, Jia jarang berjumpa dengan orang tuanya karena jarak yang telah memisahkan mereka.


Sudah 5 tahun Jia tidak bertatap muka dengan orang tuanya dan baru kali ini mereka pulang, tapi sayangnya dia sudah tak dapat memeluk kedua orang tuanya lagi.


Clara tak kuasa menahan tangis melihat keluarga Jia yang histeris karena kematian Jia.


"Setelah sekian lama akhirnya mereka pulang juga" Jia mengukir senyum menatap kedua orang tuanya yang lagi berduka cita atas kematiannya.


Jia menjauhi kerumunan, ia berdiam diri di tempat yang bisa terbilang agak sepi.


Clara yang bisa melihat Jia mendekatinya."Jia katakan pada ku siapa yang sudah bunuh kamu, aku akan tarik paksa dia ke dalam penjara asalkan kamu bilang sama aku siapa orangnya"


Jia menatap Clara dengan wajah sedih."Clara aku tidak bisa bilang pada mu siapa yang sudah buat aku meninggal"


"Kenapa kamu gak bisa bilang sama aku, apa kamu gak mau orang yang sudah bikin kamu meninggal masuk ke dalam penjara?" tak habis pikir Clara, Jia memintanya untuk menangkap siapa yang sudah membunuhnya namun Jia tidak mau mengatakan siapa orangnya, padahal dia tau siapa yang sudah membunuhnya.


"Masalahnya panjang, aku gak bisa jelasin sama kamu, tapi aku yakin kamu bisa tangkap dia, dia bukan orang jauh, dia juga berada di sekolahan yang sama dengan kita, aku sangat yakin suatu saat nanti kamu bisa tangkap dia" Clara menggeleng dengan air mata yang berjatuhan, di sekolahan yang sebesar itu sulit baginya untuk mengungkap siapa tersangka yang tengah menjadi buronan.


"Aku gak bisa Jia, aku akan kesulitan nyari dia, kalau kamu bilang terus terang sama aku, detik ini juga aku akan tangkap dia" Clara mempunyai harapan bahwa Jia akan mengatakan terus terang prihal tersangka yang sudah melenyapkannya.


Jia menundukkan wajah, dari wajahnya dapat terlihat kalau dia memiliki masalah yang cukup rumit dan terbilang serius sehingga menyulitkannya untuk berterus terang pada Clara.


"Clara jujur saja aku tidak bisa bilang sama kamu siapa dia, tapi kalau kamu ingin temuin dia, kamu harus cari tau dulu alasan kenapa aku menjadi anak pendiam, ini ada sangkut pautnya dengan orang yang sudah bunuh aku"


"Tapi Jia...." belum sempat Clara menyelesaikan ucapannya, Jia lebih dulu menghilang dari sana.


Clara tampak kesal, ia belum nanya banyak hal namun Jia kembali ninggalin dia.


"Kenapa Jia pergi gitu aja, aku belum selesai nanya" Clara menghembuskan nafas berat.


"Tadi Jia bilang kalau aku ingin tau siapa orang yang sudah bunuh dia, aku harus cari tau dulu alasan kenapa dia jadi anak pendiam!" Clara diam sejenak mencerna baik-baik ucapan Jia.


"Apa mungkin dulu Jia gak pendiam, tapi karena ada suatu masalah yang bikin dia jadi anak pendiam + kutu buku" pikir Clara, Clara kenal Jia saat Jia sudah berubah menjadi anak pendiam, sebelum-sebelumnya dia tidak pernah tau sejak kapan Jia menjadi anak pendiam, dia mengira bahwa Jia pendiam sejak dulu.


"Aku akan tanya sama siapa masalah ini, siapa yang harus ku wawancarai?" bingung Clara sebab di sekolahan hanya dia yang dekat dengan Jia.


Clara menatap keluarga Jia yang terus menangisi kepergian Jia, Clara kembali mendekati keramaian, ia mengesampingkan itu dulu karena saat ini Jia masih belum di kebumikan.


Jenazah Jia mulai di mandikan, di rumah sakit memang sudah selesai di mandikan, namun pihak keluarga ingin Jia di mandikan lagi karena mereka mengganggap bahwa jenazah Jia belum sah untuk di sholatkan.


Setelah jenazah Jia di mandikan, lanjut di kafani kemudian di sholati.


Tak butuh waktu lama akhirnya jenazah Jia sudah siap untuk di kebumikan, para kaum Adam mengantarkan jenazah Jia ke tempat pengistirahatan terakhirnya, para kaum hawa di larang keras oleh agama untuk ikut mengantarkan jenazah.