
Matahari terbit dengan sempurna, segala aktivitas seorang vokalis band terkenal akan kembali di mulai.
Angkasa memakai sepatu putih, habis itu kakinya melangkah menuruni anak tangga.
"Aden mau kemana!" teriak bi Ipah yang melihat Angkasa akan pergi.
"Mau sekolah bi, mau kemana lagi, gak lihat kalau pakaian aku udah rapih kayak gini"
"Aden sarapan dulu, aden belum sarapan"
Angkasa melirik jam yang melingkar di tangannya."Nanti aja bi, aku akan sarapan di kantin aja, soalnya waktunya gak sempet buat sarapan, aku mau berangkat dulu"
"Eh jangan den, kalau aden gak sarapan nanti bibi yang akan di marahin sama nyonya" ketakutan bi Ipah.
"Gak akan bi, mama gak akan tau, bibi gak usah khawatir di marahin, Angkasa berangkat dulu ya bi bye"
"Deeeen!" teriak bi Ipah namun Angkasa tetap saja berlari keluar dari rumah.
Angkasa tak mendengarkan teriakan bi Ipah, ia tetap berlari pergi dari sana.
"Mang ayo cepet anterin aku ke sekolah, ini udah siang"
"Baik den" mang Asep langsung bangkit dari duduk, ia dengan cepat mengeluarkan mobil dari garasi.
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan normal menuju SMA kebangsaan, kaca mobil hitam itu tidak tembus pandang, aman bila di gunakan untuk berpergian.
"Berhenti di sini mang!" titah Angkasa yang membuat mang Asep mengerem mendadak.
"Loh tapi ini kan masih jauh dari sekolah aden?"
"Iya, aku tau, tapi aku mau berhenti di sini saja mang, aku mau jalan, udah gak jauh lagi kok"
"Beneran aden mau turun di sini?" serasa tak percaya mang Asep.
"Iya mang, aku mau turun di sini saja, aku mau jalan aja ke sana"
"Tapi den kalau ada apa-apa sama aden gimana, nanti memang yang akan di marahin sama bapak dan ibu?"
"Mamang gak usah cemas, gak akan ada yang terjadi sama aku, cepat mamang turunin aku, aku mau jalan aja"
Mang Asep terpaksa membiarkan Angkasa melakukan apa yang ia inginkan, Angkasa turun dari mobil dan berjalan kaki menuju sekolahnya yang sudah tak begitu jauh lagi.
Angkasa berjalan dengan tenang, tak ada yang mengejarnya, ia bisa bernafas lega.
Angkasa menyeberang jalan sebab sekolahannya ada di seberang jalan, kala Angkasa masuk ke dalam gerbang sekolah Angkasa merasa aneh saat anak-anak berlarian entah kemana.
"Ada apa ini, kenapa semua orang pada lari-lari ke sana, coba deh aku ikutin"
Angkasa berlari mengikuti mereka, ia sangat penasaran apa yang sudah membuat mereka berlarian seperti ini.
"Clara"
Langkah kaki Clara langsung terhenti, ia berbalik badan menghadap ke belakang.
"Kamu mau kemana kok ke arah sana?"
"Ayo ikut aku ke sana" ajak Clara dengan wajah panik.
"Ada apa di sana, kenapa semua orang lari ke sana?" heran Angkasa.
"Udah ayo kamu ikut aku aja"
Angkasa tak lagi bertanya, ia dan Clara berlari ke arah utara, sepanjang perjalanan Angkasa bertanya-tanya ada apa ini semua mengapa semua orang berlari ke sana.
Angkasa dan Clara berhenti di kerumunan siswa dan siswi, mereka berusaha menerobos ke dalam kerumunan untuk melihat apa yang tejadi.
"Ada siswi yang meninggal dunia, mangkanya aku buru-buru datang ke sini"
Angkasa dengan terkejut menatap Clara.
"Siswi yang meninggal? meninggal kenapa dia?" kaget Angkasa.
"Enggak tau juga, dugaan orang-orang sih katanya di bunuh"
"Di bunuh? siapa yang sudah bunuh dia!"
"Kita lihat dulu"
Angkasa diam di tempat menyaksikan pihak berwajib yang lagi mengevakuasi jenazah siswi yang tewas di sekolahan ini.
Angkasa melihat sosok gadis bersimbah darah di dekat jenazah yang lagi di evakuasi.
Pihak berwajib membawa jasad siswa yang di temukan meninggal itu ke rumah sakit untuk di otopsi.
Semua orang yang berada di sana masih tetap diam di tempat, mereka tidak ada yang bergerak, mereka terus membicarakan peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa di sekolah ini.
Di saat Angkasa terus menatap ke arah arwah siswa yang baru saja meninggal tiba-tiba Clara menarik tangan Angkasa untuk menjauh dari sana.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" heran Angkasa saat Clara membawanya ke kerumunan yang paling belakang.
"Aku hanya gak mau aja lihat darah terlalu lama"
"Ra itu yang meninggal barusan siapa namanya, kamu kenal gak sama dia?"
"Itu anak sebelah, namanya Jia, setiap hari biasanya dia selalu baca buku di perpustakaan bareng aku, tapi kemarin dia gak ada di sana, barusan aku dengar kalau sudah 24 jam dia gak pulang ke rumahnya" jelas Clara.
"Kok gak ada berita ada anak hilang di sini?"
"Gak tau juga, aku cuman dengar kalau Jia hilang baru-baru ini, lusa aku masih ketemu sama dia, tapi kemarin dia memang gak ada, aku juga terkejut ketika dengar kalau dia meninggal dunia di sini"
"Ini pasti ada yang gak beres ra, melihat dari jenazahnya yang penuh dengan darah, aku ngerasa dia meninggal karena di bunuh!"
"Aku juga ngerasa gitu, tapi siapa yang sudah bunuh dia?" Clara bertanya-tanya kenapa Jia bisa meninggal, setahunya Jia adalah anak pendiam yang jarang bergaul sama orang, di sekolahan ini teman Jia hanya Clara seorang.
"Tragis banget ya kematiannya Jia" tutur April yang dapat di dengar oleh mereka berdua.
"Iya, aku gak nyangka Jia yang pendiam itu bisa meninggal dengan cara yang sangat tragis" sahut Shena bergidik ngeri ketika melihat jenazah Jia.
"Tapi siapa sekiranya yang sudah bunuh Jia, gak mungkin kan Jia meninggal dengan sendirinya?" bertanya-tanya Laras, ia merasa janggal dengan kematian Jia.
"Nah itu aku masih belum tau, aku dengar dari anak-anak lainnya kalau kemarin Jia sudah gak ada di rumahnya, kakek dan neneknya Jia juga sudah mencari Jia kemana-mana, tapi tetap saja gak ketemu" sahut April.
"Pasti Jia di culik sama orang jahat, lalu orang jahat itu bunuh Jia di sini" prediksi Shena.
"Tapi orang jahat mana yang akan lakuin itu semua pada Jia, setahu aku Jia itu gak punya musuh, dia juga jarang bergaul sama orang-orang, mana mungkin anak sependiam itu masih punya musuh" tak masuk akal menurut April.
"Iya juga, Jia gak punya musuh, tapi kok bisa Jia meninggal dunia di sini" heran Laras.
"Ayo kita tanya sama pak polisi itu, aku kepo banget kenapa Jia bisa meninggal" tunjuk Shena pada pak polisi yang menyisir area sekolahan untuk mencari bukti.
"Ayo-ayo, aku juga penasaran sama kematian Jia" setuju April.
Mereka bertiga berlari mendekati pihak berwajib yang masih berada di lokasi.
"Ayo sa kita ikutin mereka, kita juga harus cari tau kenapa Jia bisa meninggal" ajak Clara yang juga sangat penasaran dengan kematian Jia.
Angkasa mengangguk setuju, mereka berdua berlari mengejar trio ondel-ondel.