Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Tiba-tiba menghilang


Di sisi lain.


Angkasa dan yang mengangkat keranda Emilia dan membawanya ke liang lahat, meskipun hari ini mereka gagal menolong Emilia, tetapi mereka harus tetap semangat menolong orang lain lagi yang namanya tercantum di buku misterius.


Setelah tiba di liang lahat, warga langsung memulai menguburkan jenazah Emilia agar tak memberatkan Emilia.


Di tengah kerumunan orang-orang pandangan Angkasa hanya tertuju pada seorang perempuan yang berwajah pucat, banyak darah yang memenuhi wajah dan tubuhnya.


"Emilia, itu Emilia, gimana caranya aku harus temuin dia, di sekitar sini ada banyak orang, aku gak mungkin mendekatinya, mereka semua akan menganggap ku aneh" batin Angkasa diam di tempat karena tidak ada celah untuknya mendekati Emilia.


Proses pemakaman Emilia telah selesai, satu persatu orang membubarkan diri dari sana, di sana hanya tersisa personil band Amanda dan Rev, Aldo serta Steven.


"Kok kayak ada yang kurang ya" Aldo merasa ada sesuatu yang kurang menurutnya.


"Iya, apa ya yang kurang, aku ngerasa ada yang kurang gitu" sahut Steven.


Mereka semua mikir keras untuk menemukan kekurangan yang ada pada mereka semua.


"Angkasa, dia gak ada di mari, kemana dia, apa dia gak ikut ke sini sama kita" setelah lama berpikir akhirnya Steven menemukan bahwa yang kurang di antara mereka adalah hilangnya Angkasa.


"Enggak, tadi dia ikutan bareng sama kita, gak mungkin dia gak ikut" jawab Aldo.


"Terus pergi kemana dia, kenapa dia tiba-tiba hilang begini?" bertanya-tanya Rev kala tak menemukan batang hidung Angkasa di sana.


"Kayaknya dia ada di sekitar sini, ayo coba kita cari tau dia, kalau gak ketemu juga, kumpul di parkiran, kita atur rencana lagi" ujar Bryan.


Mereka semua pun bergegas mencari keberadaan Angkasa yang hilang, mereka akan berusaha untuk menemukan Angkasa yang tiba-tiba hilang di kuburan.


Angkasa berada di dekat pohon besar yang berada di pinggir kuburan.


"Emil, kamu jangan lari lagi, aku gak akan bunuh kamu kok, aku cuman ingin nanya sesuatu sana kamu doang" ujar Angkasa lantaran sedari tadi ia terus mengejar Emilia dari belakang.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Emilia tidak berlari lagi, ia tidak akan berusaha untuk kabur dari Angkasa.


"Kalau mengenai siapa yang nabrak aku, aku gak tau, aku gak tau siapa dia sampai detik ini, tapi yang jelas dia adalah orang yang benci berat pada ku, soalnya kemarin aku di teror sama dia, dia ngancem akan bunuh aku, aku udah berusaha buat hati-hati, tapi dia sudah tau waktu dan tempat yang tepat untuk membunuh ku" sambung Emilia.


Angkasa diam, Emilia saja tidak tau siapa yang sudah membunuhnya apalagi dirinya.


"Apa kamu beneran tidak tau siapa dia?" Angkasa setengah tidak percaya akan apa yang barusan ia dengar.


"Tidak, aku tidak tau siapa dia" Emilia menjawab dengan menatap ke arah lain tak berani menatap ke arah Angkasa.


Angkasa memperhatikan wajah Emilia yang tanpa ekspresi.


"Kenapa aku gak percaya kalau Emilia gak tau sama siapa yang udah bunuh dia, aku rasa dia memang gak mau kasih tau aku, lagian mana ada orang yang bunuh dirinya sendiri tapi dia gak tau" batin Angkasa curiga pada Emilia.


"Jangan bertanya pada ku tentang dia, aku tidak tau apapun" tutur Emilia kemudian menghilang dari sana.


"Tapi kamu gak...."


Perkataaan Angkasa terhenti saat Emilia tiba-tiba menghilang meninggalkannya dari sana.


"Aaaaah kenapa dia pergi, aku kan belum selesai nanya, kenapa dia main pergi aja" geram Angkasa frustasi akibat di tinggal pergi oleh Emilia.


"Kenapa dia main ninggalin aku, kenapa begitu sulit untuk ku mencari tau tentang dia" Angkasa masih diam di sana, perasaannya masih belum bisa tenang.


"Sa kamu ngapain di sini" seseorang menyapa Angkasa dari belakang.


Angkasa menatap ke arahnya."Kamu ngapain kemari?"


Angkasa terkejut saat di belakangnya terdapat Aryan.


"Aku nyariin kamu, kenapa kamu tiba-tiba pergi dari sana, anak-anak pada nyariin kamu" jelas Aryan.


"Ayo kita ke parkiran, ku rasa anak-anak pada nungguin kita di sana" ajak Aryan.


Angkasa setuju, keduanya berjalan keluar dari pemakaman umum.


Sepanjang perjalanan Angkasa hanya menundukkan pandangannya lantaran di sana banyak sekali makhluk halus dengan ragam jenis.


"Semoga mereka gak ikutin aku pulang" batin Angkasa dengan terus berjalan.


Angkasa merasa lega saat berhasil keluar dari sana, di luar sudah ada banyak teman-temannya yang menunggunya dengan gelisah.


"Sa kamu kemana aja, kenapa kamu pergi gitu aja" cemas Rafael.


"Aku tadi ikutin Emil, mangkanya aku pergi sana sebelum pemakaman Emilia selesai di lakukan" jelas Angkasa.


"Seharusnya kamu bilang, biar di antara kita gak ada yang cemas sana kamu" tutur Rev.


"Iya, lain kali aku akan bilang sama kalian" jawab Angkasa.


Wajah Angkasa begitu kusut, seharian ini ia banyak melewati momen-momen penuh dengan bawang yang terus menerus menguras air mata.


"Ayo kata balik ke rumah Emilia, kita jemput Clara di sana, dia pasti lagi nungguin kita" ajak Aldo.


Mereka semua setuju, mereka balik ke rumah Emilia yang lumayan jauh dari pemakaman umum.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di rumah Emilia, mereka menatap Clara yang duduk bersama seorang pria asing.


"Siapa pria itu, kenapa Clara sama dia" Aldo menajamkan pengelihatannya menatap laki-laki yang berada di dekat Clara.


"Ayo kita samperin dia, tanyain aja langsung sama dia" jawab Rev.


Mereka semua mendekati Clara, mereka penasaran dengan siapa pria yang berada di dekat Clara, mereka merasa asing dengan pria itu.


"Clara" panggil Rev.


Clara yang merasa dirinya terpanggil menatap ke arah mereka semua yang baru balik dari pemakaman umum.


"Gimana, apa udah selesai?" tanya Clara.


"Sudah, Emil udah selesai di makamin" jawab Steven.


"Kalau seperti itu aku pamit dulu ya mas, soalnya ini udah mulai sore" pamit Clara pada Vero.


"Iya, hati-hati di jalan" balas Revo.


Clara membalasnya dengan senyuman, lalu kemudian mereka meninggalkan Vero menatap kepergian mereka.


"Clara siapa pria itu, kenapa kamu sama dia, kamu emangnya kenal sama dia?" Rev langsung menanyakan hal itu.


"Itu kakak Emilia, saat kalian pergi, aku di temani sama dia" jawab Clara.


"Dia ngomong apa aja sama kamu?" penasaran Rev.


"Dia gak ngomong apa-apa kok, dia cuman nanya kronologi kematian Emilia sama aku" sahut Clara.


Mereka membalas dengan kata oh.


"Ini udah sore, kalian sekarang boleh pulang ke rumah masing-masing, tapi ingat besok kita harus kumpul lagi di sekolahan" perintah Rev.


"Iya, besok pagi-pagi sekali kita akan berada di sekolahan" jawab Aldo.


Mereka semua pun bergegas pulang ke rumah masing-masing.