Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Bersembunyi di sana


"Tapi Gina, kalau kamu diam aja, itu juga percuma, karena dia pasti akan terus melakukan aksinya, lebih baik kamu bilang sama kami siapa dia sebenarnya, biar kami tau dan kami akan laporkan dia ke pihak berwajib, dia pasti akan di tangkap dan tidak akan ada lagi orang yang bakalan tumbang cuman gara-gara dia" Clara tak mengerti mengapa Gina sangat tidak mau untuk menyebutkan nama orang yang menjadi dalang utama dari peristiwa ini.


Harapan terakhir mereka ada pada Gina, mereka berharap Gina bisa berubah pikiran dan berbalik mendukung mereka.


"Percuma Clara aku bilang sama kalian siapa dia, kalaupun nanti dia di penjara, setelah dia bebas dia pasti akan kembali balas dendam, dia tidak akan tinggal diam sebelum semua orang yang ia benci mati, aku rela nyawa ku melayang karena dari awal dia memang menginginkan nyawa mu, dia ingin kematian ku" jawab Gina.


Tak ada yang mau mati, Gina hanya tak mau ada orang yang tak berdosa menjadi imbas dari kasus ini.


"Kenapa dia sangat menginginkan nyawa mu?" tanya Reyhan.


"K-karena kesalahan yang sudah aku perbuat tahun lalu, dia marah dan sekarang dia ingin balas dendam, aku tau kesalahan ku memang besar dan aku rela mati agar balas dendamnya tercapai" jelas Gina.


Sesak dada Gina, satu kesalahan yang sempat ia remehkan ternyata mengancam nyawanya saat ini.


Aldo menggelengkan kepala tak habis pikir dengan jalan pikiran Gina."Gina, kamu jangan nyerah gitu aja dong, kamu jangan pasrah saat dia mau bunuh kamu, iya aku tau dia psikopat, tapi kamu gak boleh putus asa kayak gini, kamu harus tetap hidup, kamu jangan berikan nyawa kamu dengan mudah sama dia"


"Aku ini gak berdaya, aku juga tersangka, aku penjahat, sekarang orang yang pernah aku jahatin balas dendam, dia kayak gini gara-gara aku dan kawan-kawan ku, aku harus tanggung jawab atas apa yang sudah aku perbuat" teriak Gina biar mereka mengerti keadaannya.


"Oke kalau itu masalahnya, tapi pertanyaannya kenapa banyak sekali nama-nama orang yang dia jadikan target, kalau dia cuman dendam sama geng kalian masih wajar, tapi apa ini, gak cuma kalian aja yang ingin dia habisi, tapi orang lain juga dan jumlahnya itu gak satu" Angkasa merasa heran mengapa dalangnya ingin membunuh orang-orang lain juga selain geng itu.


"Dia balas dendam hanya pada orang yang udah pernah jahat sama dia, udah pernah bikin dia sakit hati, tidak harus dari segi fisik, tapi juga lisan" tutur Gina.


"Jadi bukan orang yang terang-terangan jahat sama dia?" terkejut Steven.


Gina mengangguk."Dia akan bunuh orang yang udah pernah bikin dia sakit hati, dia tidak harus membunuh orang yang jahat kayak aku dan kawan-kawan ku, dia sudah menyiapkan segalanya dari awal, mulai dari siapa saja yang akan dia bunuh, dia sudah membuat persiapan dengan sebaik mungkin"


"Bahaya ini, dia kalau kita biarkan malah akan bikin orang lain celaka" gelisah Bryan.


"Sudah sepatutnya dia mencelakai orang, itu adalah resiko orang-orang yang udah nyakitin dia. Saran aku kalian jangan ikut campur masalah ini, sayangi nyawa kalian, karena dia bisa saja bunuh kalian karena kalian udah ngebahayain dirinya" peringatan Gina.


"Tapi gin kalau kita diam aja, dia akan leluasa bergerak bebas tanpa takut sama siapapun, dengan adanya kita, dia pasti akan sedikit merasa terancam dan akan mikir-mikir lagi buat bunuh orang lain" bantah Clara keras, ia tak akan berhenti walaupun Gina langsung yang telah berusaha buat menghentikannya.


"Aku hanya bisa meringatin kalian, masalah kalian mau nurutin atau enggak itu terserah kalian" jawab Gina dengan tersenyum paksa.


"Apa kamu gak bisa bilang sama kami siapa dia?" pertanyaan itu di ajukan oleh Rev.


Lagi-lagi kepala Gina menggeleng."Aku gak bisa bilang, karena jika sampai aku ingkar dan ngasih tau salah satu di antara kalian, aku jamin dalam 1 menit kalian tidak akan ada yang bisa melihat dunia lagi"


Terbungkam, itu yang terjadi, kesembilan orang itu diam tanpa menyahut.


Bahaya semakin menghadang, semakin lama semakin membesar, ragam peringatan berdatangan, namun mereka tetap maju pantang mundur.


Suara bel itu membuat segalanya berakhir, keheningan seketika menghilang.


"Udah bel, kita harus balik ke kelas" ujar Aldo mengalihkan topik agar tidak terlalu tegang.


Mereka semua mengangguk kecuali Gina, Gina masih diam di tempat dengan wajar datar.


"Kamu mau kemana Gina, apa kamu masih mau diam di sini atau balik ke kelas kamu saja?" Clara berani bertanya untuk memastikan arah tujuan Gina.


"Aku mau di sini aja, aku gak mau kembali ke kelas, aku takut, aku yakin di sini aman, dia pasti ngira kalau aku gak masuk sekolah" jawab Gina.


"Kamu yakin di sini aman?" Rev tak yakin 100% jika gedung anak IPA ini aman bagi Gina yang nyawanya tengah terancam.


Gina menganggukkan kepalanya."Iya, aku mau di sini saja, aku yakin di sini aman, kalian baliklah ke kelas, kalian jangan mikirin aku, aku akan baik-baik saja sembunyi di sini"


"Baiklah, kalau ada masalah sama kamu, kamu langsung beri tau kami, kami akan segera mungkin nolongin kamu" perintah Aldo sangat khawatir meninggalkan Gina di sini sendirian di tangan terancamnya nyawanya.


"Iya, aku pasti akan beritahu kalian" senyuman terukir dan menghiasi wajah Gina.


Dalam keadaan terancam, Gina masih sempat-sempatnya tersenyum.


"Kita pergi dulu Gina, kamu kalau butuh apa-apa bisa hubungi kami" suruh Clara.


Gina hanya mengangguk sembari tersenyum, mereka kemudian melangkah meninggalkan Gina di sana sendirian.


Gina menatap punggung mereka sampai tak terlihat lagi, seketika raut wajahnya menjadi panik, tegang, takut, cemas serta gelisah.


"Semoga kalian bisa tangkap dia, aku juga ingin dia di tangkap, tapi aku gak bisa bilang sama kalian siapa dia sebenarnya" setetes air mata mengalir di wajah Gina.


Gina menaruh harapan besar pada mereka semua, hanya mereka kelompok yang nekat menyusut kasus ini sampai ke titik ini.


Mereka yang berjumlah 9 orang meninggalkan gedung IPA, kelas mereka bukan di sana.


"Ini udah bel, kalian masuk ke kelas masing-masing, nanti kala istirahat kita ke sini lagi, kita kudu pastiin bahwa Gina baik-baik aja" perintah Rev.


"Iya, kita akan langsung ke sini nanti" jawab Clara.


Mereka satu persatu membubarkan diri, kelas mereka berbeda-beda, namun itu bukan sebuah penghalang bagi pertemanan mereka.