Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Menyuruhnya kembali


Drrt


Drrt


Drrt


Suara telpon tiba-tiba menghentikan perbincangan mereka.


Rev menghela nafas saat melihat nama siapa yang tertera di layar hpnya.


"Siapa Rev?" tanya Steven.


"Kepala sekolah, dia palingan mau nanya tentang masalah Gina, aku harus jawab apa, gak mungkin aku bilang kalau Gina ada di rumah sakit, nanti dalangnya bisa tau keberadaan Gina" jawab Rev.


"Terus gimana ini, apa yang harus kita lakukan" gelisah Clara mulai tak bisa tenang.


"Udah tenang aja, aku nanti akan alasan kalau semisal pak Sudirman nanya tentang Gina" sahut Rev.


Mereka menyerahkan segalanya pada Rev.


Rev mengangkat panggilan itu, meskipun Rev tampak gelisah, sebisa mungkin Rev akan menutupi masalah ini meskipun pada pak Sudirman.


"Halo ada apa pak?" tanya Rev basa-basi.


"Kamu ada di mana sekarang, kenapa kamu gak ada di sekolahan?" tanya balik pak Sudirman dengan suara yang terdengar serius.


"S-saya...saya ada di luar pak, ada urusan mendadak. Jadi saya gak bisa balik lagi ke sekolahan" jawab Rev menggigit bibir bawahnya.


"Tadi saya dengar kalau kamu bawa Gina ke mobil, kamu bawa dia kemana?" tanya pak Sudirman.


"Gimana ini, pak Sudirman nanya masalah Gina, apa yang harus aku jawab" pelan Rev meminta pendapat mereka semua.


"Bilang aja kalau Gina di bawa ke rumah sakit luar negeri sama keluarganya, dengan itu pak Sudirman gak akan nanya-nanya lagi" jawab Angkasa.


"Rev, kamu dengar saya kan?" tanya pak Sudirman kembali sebab tak ada jawaban dari Rev.


"Anu pak, saya tadi emang bawa Gina ke rumah sakit, tapi sekarang Gina di bawa ke luar negeri sama papa dan mamanya, Gina di pindahkan ke rumah sakit yang ada di luar negeri pak agar Gina bisa di tangani dengan baik" jawab Rev menggunakan saran Angkasa.


"Owh begitu, sekarang kamu balik ke sekolahan lagi, bawa teman-teman kamu juga. Ada hal yang ingin kami bicarakan sama kalian semua" suruh pak Sudirman.


"Baik pak" sahut Rev kemudian mematikan sambungan telpon.


"Apa kata pak Sudirman Rev, dia ngomong apa?" penasaran Clara.


"Dia minta kita balik ke sekolahan, katanya ada hal penting yang mau dia bicarakan sama kita" jawab Rev.


"Duh apa lagi nih yang mau di omongin sama kepala sekolah gak berguna itu. Aku curiga kalau dia mau nanya masalah ini sama kita lagi" timpal Aldo tiba-tiba gelisah.


"Apapun nanti yang akan dia bicarakan, kita harus tetap tenang aja, kita harus simpan baik-baik masalah ini" balas Rev.


"Ya udah kalau kayak gitu ayo kita balik ke sekolahan lagi, sebelum pak Sudirman marah sama kita" ajak Rafael.


Mereka semua pun mengangguk setuju.


"Kita izin dulu sama papa dan mamanya Gina kalau kita mau balik ke sekolahan lagi, biar mereka gak nyariin kita" ujar Bryan.


"Iya, kita tunggu dulu papa sama mamanya Gina keluar" jawab Rev.


Pintu ruangan ICU terbuka, mereka mendekati Marissa dan juga Gunawan.


"Om Tante kami pamit pulang dulu, kami harus ke sekolahan lagi, insyaAllah nanti kami akan balik ke sini lagi sehabis pulang sekolah" pamit Rev.


"Iya gak apa-apa, sana kalian balik ke sekolahan lagi, biar om sama Tante yang akan jaga Gina di sini" jawab Gunawan.


"Terima kasih kalian udah bawa Gina ke sini, kalau sampai telat sedikit aja, Tante gak akan bisa bayangin apa yang akan terjadi sama Gina" Marissa sangat berterima kasih pada mereka semua.


"Sama-sama Tante om, kami pamit pergi dulu om Tante, assalamualaikum" salam Steven.


"Wa'alaikum salam" balas mereka.


Ketujuh orang itu melangkah meninggalkan rumah sakit dan balik ke sekolahan lagi.


Mereka masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan menuju sekolahan kembali.


Sementara di sekolahan.


"Kamu yang salah, kita gak bersalah, di sini itu kalian yang salah, kalian jangan memutar balikkan fakta yang ada!" petergas April masih cekcok dengan Reyhan dan Aryan.


"Apaan sih, jelas-jelas kalian yang salah. Kalian kan jahat, bisa aja kalian yang udah bunuh mereka semua" bantah Aryan.


Muka April merah bak udang rebus, April tak terima dengan tuduhan yang di layangkan pada grupnya.


"Enak aja, kalian yang salah, bukan kami, jangan mengkambing hitamkan kami ya. Kalau enggak kami akan laporin kalian ke polisi" ancam Shena tak mau kalah dari mereka.


"Laporin aja, kami juga gak bersalah, untuk apa kami takut" jawab Reyhan.


Shena geram, rasanya ia ingin mencakar habis muka mereka berdua yang sedari tadi melimpahkan segala kesalahan pada grupnya.


"Kalian ini emang gak bisa di biarin, lama-lama kalian ini tambah ngeselin aja. Kita gak bisa diam aja, kita harus bikin mulut busuk mereka bungkam" tutur Laras mulai naik tensi.


"Mulut kita? Mulut kalian lah yang busuk, enak aja main nuduh kita yang bukan-bukan" ujar Aryan.


"Iiiiih kalian ngeselin banget sih, sebenarnya kalian itu mau apa. Kenapa sedari tadi kalian terus aja melimpahkan segala kesalahan pada kami, apa salah kami, kami cuman menaruh kecurigaan sama kalian, tapi apa balasan kalian. Kalian malah nuduh kami yang bukan-bukan" teriak April yang kelewat kesal dengan tindakan mereka.


"Kami itu mau kalian jangan ikut campur masalah kami, kalian itu gak ada hubungannya, gak usah cari gara-gara. Kalian tinggal duduk manis aja, gak perlu pake curiga segala sama kami, karena kami itu bukan pelakunya, paham" peringatan keras Reyhan.


"Kenapa kami gak boleh ikut nyari bareng kalian, kami kan ingin bantu kalian aja?" tanya Laras bingung mengapa mereka melarang grupnya untuk berpartisipasi dalam kasus ini.


"Kalian tau gak, jadi kami itu gak enak, ada resiko yang harus kami tanggung di baliknya. Dalang dari ini semua sering neror kami yang bukan-bukan, dia mau kami berhenti. Kalau seandainya kalian ikut juga dalam kasus ini, kami hanya khawatir kalian yang akan di singkirkan oleh dalang itu. Apa kalian mau mati di tangan penjahat berseragam sekolah itu hah!" tutur Reyhan.


"Yaaah enggaklah, mana mau kami mati, kami masih mau hidup, kami gak mau mati dengan mudah, apalagi mati di tangan orang jahat" balas April.


"Ya sudah kalau kalian gak mau mati, kalian diam aja, gak usah banyak omong. Kalau kalian beneran pengen bantu kami, kalian tinggal diam aja, kalau kalian ikut juga, itu bukan malah menyelesaikan masalah, itu malah akan menambah masalah" tambah Reyhan.


"Ya udah deh, kami gak jadi ikut" jawab April pasrah karena ia tidak mau dalam bahaya.


"Nah gitu dong, kalau dari tadi kalian dengerin apa yang kita bilang, masalah ini gak akan sepanjang ini" ujar Aryan.


"Tapi awas aja kalau terbukti kalian yang jadi dalangnya, kami akan becek-becek kalian semua" kecam Shena.


"Gak mungkinlah kami dalangnya, buat apa coba kami bunuh orang-orang, itu gak ada gunanya, buang waktu pula" jawab Aryan.